Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL TAMU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL TAMU. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 April 2016

Amnesia Buku

Amnesia Buku
 
Hasil studi deskriptif yang dilaksanakan Central Connecticut State University, AS, yang diumumkan belum lama ini, telah menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara yang diteliti dalam hal literasi para warganya.
 
Orang bisa saja memperdebatkan validitas penelitian ini. Namun, sesungguhnya hal ini tak terlalu mengagetkan kita. Sebelum ada penelitian ini pun kita sudah merasakan banyak indikasi yang mengarah ke sana. Misalnya, dalam angka proporsi jumlah judul buku yang terbit terhadap jumlah penduduk.
 
Belum lagi jika kita lihat fenomena “kutukan 3.000 eksemplar” -yakni jumlah rata-rata buku terjual untuk setiap judul buku yang terbit. Jangan bandingkan dengan Jepang yang penduduknya memang gila baca, apalagi negara-negara maju dan berbudaya baca tinggi, seperti Finlandia. Turki saja, yang jumlah penduduknya hanya sedikit di atas sepertiga penduduk negara kita, jumlah rata-rata cetak-pertama setiap judul buku bisa mencapai 10.000 eksemplar. Lebih parahnya lagi, seperti dengan tepat diungkapkan oleh Tajuk Rencana Kompas (21/4/2016), tantangan peningkatan minat baca kita lebih besar daripada yang dialami negara-negara maju.
 
Meningkatkan minat baca
 
Ketika kita belum lagi berhasil dalam mengembangkan budaya baca yang merata, dan negeri kita masih didominasi oleh budaya tutur, masyarakat kita sudah masuk ke budaya audio-visual (radio dan TV) yang lebih mudah menyedot perhatian masyarakat. Tambahan lagi, dalam pergulatan penuh susah payah dengan budaya audio-visual itu, kita sudah “terpaksa” larut dalam budaya digital. Sebenarnya, teknologi digital sampai batas tertentu juga mengembalikan budaya baca kepada masyarakat, baik lewat akses kepada berbagai tulisan di internet melalui search engine yang ada maupun melalui berbagai sarana media sosial, seperti situs web,blog, Facebook, dan Twitter.
 
Akan tetapi, di sisi lain, tantangannya justru menjadi makin besar. Di satu sisi, tantangan peningkatan minat baca secara umum masih menghantui. Di sisi lain, besarnya pasokan informasi yang menerpa serta sifat sebagian besar tulisan yang tersedia di media digital telah menyebabkan para pengguna internet mengakses lebih banyak tulisan-tulisan pendek yang kurang keluasan dan kedalaman.
Yang lebih mengkhawatirkan, alasan praktis pemilihan bahan bacaan ini dalam waktu panjang bisa mempermanenkan habit keengganan membaca buku, dalam makna bahan bacaan yang memiliki keluasan dan kedalaman yang memadai. Dengan kata lain, yang diminati para konsumen bahan-bahan bacaan digital hanyalah yang memiliki tingkat “ketuntasan” yang rendah, khususnya anggota generasi muda yang termasuk dalam golongan “digital natives” (penduduk pribumi dunia digital).
 
Bukan saja mereka kehilangan ketelatenan membaca buku yang memiliki keluasan dan kedalaman yang cukup akibat dimanjakan oleh teknologi komputer yang menawarkan kecepatan tinggi untuk mengakses banjir informasi yang ada di internet, gaya mereka mencari informasi yang bersifat multi-tasking juga telah memperparah gejala ini. Hal ini kiranya juga didorong sifat sarana digital yang belum sepenuhnya senyaman medium buku cetak sehingga lebih cepat mengakibatkan rasa capai (fatigue).
 
Hal yang terakhir ini lebih terasa khususnya bagi generasi “digital migrant” (penduduk imigran dunia digital) yang tak seterbiasa generasi yang lebih belakangan dalam menggunakan perangkat pembaca (reader) elektronik. Apalagi di waktu-waktu belakangan ini, ketika telepon pintar berlayar kecil telah mulai merampas fungsi PC/laptop ataupun tablet sebagai reader. Maka, faktor fatigue dan ketaktelatenan akibat kekurangnyamanan dalam membaca pun memberikan dampak lebih besar dalam hal penurunan daya baca masyarakat.
 
Lalu terciptalah suatu lingkaran setan yang makin memperburuk keadaan: produsen informasi mulai terdorong untuk menerbitkan bahan-bahan bacaan–mereka sebut buku juga–dengan panjang tulisan yang jauh lebih pendek demi memuaskan tuntutan gaya baru membaca buku (digital) ini. Sering kali bahkan hanya terdiri dari belasan halaman. Jika sebelumnya Neil Postman, melalui bukunya yang berjudul Amusing Yourself to Death, mengkhawatirkan generasi yang tak tahan kesusahpayahan belajar dan mencari ilmu akibat terpaan teknologi audio-visual, kini apa yang ditakutkan Nicholas G Carr tentang akan lahirnya generasi “orang-orang dangkal” (the shallows) makin tampak di depan mata.
 
Nasib industri penerbitan
 
Ada ancaman besar bahwa generasi muda kita, meski memiliki keragaman informasi, akan menderita kekurangan besar dalam hal kedalaman dan keluasan ilmu (bukan sekadar informasi). Dan hal ini membawa kita kepada diskusi tentang masa depan industri penerbitan di masa digital.
Akan tetapi, sebelum sampai ke sana, penting kita pahami sentralnya peran industri penerbitan dalam peningkatan literasi masyarakat. Industri penerbitan pada dasarnya menjalankan beberapa fungsi sekaligus. Pertama, fungsi kurasi, yakni penyeleksian bahan-bahan bacaan yang dipandang layak untuk dilempar ke pasar bebas gagasan. Dan di dunia digital masa depan, fungsi ini justru akan menjadi makin krusial mengingat besarnya pasokan bahan bacaan, meskipun itu hanya kita batasi dalam bentuk buku, yang akan membanjiri kita.
 
Seperti ditulis Michael Bhaskar dalam kolomnya yang berjudul “The Real Problem” (Publishers Weekly, 14 April, 2016), jumlah buku yang diterbitkan- dan ini hanya mencakup buku cetak, jadi tak termasuk buku yang khusus diterbitkan dalam bentuk digital, apalagi artikel-artikel yang bertebaran di internet -tak pernah sebesar sekarang.
 
Di Inggris diterbitkan tak kurang dari 200.000 judul buku per tahun. Di Tiongkok malah dua kali lipatnya, yakni 400.000 judul buku. Inilah benar-benar suatu masa yang di dalamnya terjadi apa yang seperti dinubuatkan Marshall Mc Luhan setengah abad lalu, disebut information spill-over (peluberan informasi), bahkan banjir informasi. Masih terkait dengan itu, industri penerbitan juga melakukan fungsi distribusi buku. Akan ada lubang besar jika industri penerbitan di suatu negara mengalami kolaps.
 
Self publishing, yang menjadi jauh lebih mudah oleh teknologi aplikasi digital, tak akan bisa melakukan tugas ini. Yang akan terjadi nantinya adalah konvergensi antara penerbit buku yang secara alami juga melakukan fungsi distribusi, seperti sekarang ini, dengan platform-platform digital penjualan buku yang sekaligus melakukan fungsi kurasi dengan cara memperkenalkan fasilitas rating produk dan display buku- buku dengan rating tertinggi di halaman muka (home) mereka. Bahkan, seperti yang dilakukan Amazon, platform-platform penjualan online malah masuk ke fungsi penerbitan.
 
Persoalannya, dengan adanya transformasi dari bentuk cetak ke bentuk digital ini–meski saat ini dampaknya baru amat terasa pada pengurangan kebutuhan (demand) terhadap media massa cetak, lebih khususnya majalah–banyak orang percaya bahwa industri buku pun tinggal menunggu waktu untuk mati. Kegairahan yang saat ini terkesan tetap terpelihara terhadap industri buku cetak terjadi berkat masih adanya lag antara konsumen buku cetak sekarang dan generasi pembaca buku digital yang saat ini masih berumur muda, khususnya para digital natives itu.
 
Namun, hal ini pun tak urung sudah menghantam banyak penerbit relatif kecil yang sudah mulai berguguran pada tahun-tahun terakhir ini. Toko-toko buku, dengan alasan yang masuk akal, juga sudah mulai mengurangi ruang display bagi buku dan memperbesar ruang bagi stationery dan produk-produk lain. Dan dengan transformasi industri penerbitan ke era digital, dalam persaingannya dengan artikel-artikel yang bertebaran di internet–buku dalam makna aslinya akan musnah.
 
Kolapsnya industri penerbitan buku ini akan menjadi kenyataan jika industri penerbitan tak mau berubah, lebih-lebih jika tak ada cukup dukungan dari pemerintah yang menyandang peran pengembangan strategi pendidikan dan budaya yang kondusif bagi peningkatan literasi-yakni literasi buku, dalam makna aslinya- di tengah masyarakat. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengembangkan kurikulum baca-tulis-secara khusus, dan bukan hanya sebagai bagian (lebih sering tidak serius) dari pelajaran bahasa Indonesia-di sekolah-sekolah, mulai tingkat paling dasar hingga perguruan tinggi. Juga melalui kampanye-kampanye gencar dan besar-besaran melalui media massa ataupun pemanfaatan/pengembangan berbagai lembaga pendukung literasi di tengah masyarakat, seperti perpustakaan-perpustakaan, taman-taman bacaan, dan komunitas-komunitas baca-tulis. Gerakan literasi yang baru-baru ini dilancarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kiranya bisa menjadi awal yang baik bagi upaya-upaya lebih strategis dan masif ke arah ini.
 
Sumber: Harian KOMPAS, 28 April 2016

Senin, 01 September 2014

Emha Ainun Najib - Ketika Kita Berselisih Faham

Ketika Kita Berselisih Faham

Emha Ainun Najib

Kita semua, Saudaraku, seaqidah. Selalu bersatu dalam tauhidillah dan tak sebuah macam makhluk pun yang mampu memisahkan kesatuan kita itu kecuali kekeruhan rokhani kita sendiri: ‘marodhun fii quluubina’.

Tapi mungkin kita tak sefaham. Tak sepengertian pemikiran. Tak sependapat. Tak seanutan. Saudaraku menganut ini dan aku menganut itu, sementara saudara kita yang lain barangkali suatu unikum tertentu dari kepribadiannya berdasarkan kodrat kelahiran dan mungkin latar belakang kebudayaannya. Kita kemudian saling bisa bermusyawarah, dan hasil musyawarah itu sebagian bisa kita putuskan menjadi suatu kesepakatan tunggal, tetapi sebagian yang lain mungkin harus kita biarkan berbeda-beda. Kita juga bisa saling menilai, saling mengkritik, bahkan saling menghakimi: tetapi yang terpenting harus kita ingat ialah tindak penghakiman itu selayaknyalah dilandasi oleh keinsyafan kita akan keterbatasan dan relativitas kemampuan kemakhlukan kita. Selebihnya keyakinan yang tak bisa ditawar-tawar bahwa Allah-lah yang Maha Kuasa dan Maha Mampu untuk menyelenggarakan penilaian yang sehakiki-hakikinya.

Demikianlah, Saudaraku, bahwa mungkin saja kita tak sefaham, hal itu tidaklah perlu dirisaukan benar. Pertama, kata Pak Guru: seribu kepala punya seribu pendapat. Ketika Allah berfirman wa ja’alnaakum syu’uuban wa qobaa-ila, lita’aarofuu…., kukira yang dimaksud, Insya Allah, bukan sekedar perbedaan bangsa-bangsa dan suku-suku saja, melainkan lengkap dengan analoginya, dan konotasinya. Yakni bahwa disamping bangsa-bangsa dan suku-suku selalu memiliki unikum-unikum tersendiri yang membedakan alam hidup mereka, cara berpikir mereka atau kebiasaan psikologis tertentu mereka; juga tentulah ada pengertian yang lebih meluas, ada syu’uub dan qobaa-il pemikiran yang mencerminkan tipologi internalisasi keagamaan yang berbeda-beda. Dan diantara yang berbeda-beda itu dianjurkan untuk ta’aarofu, saling kenal-mengenal, saling mengerti, saling memberi ruang, saling toleran, sepanjang tak sampai menyangkut perbedaan prinsipil tentang aqidah. Sebagian dari perbedaan itu bisa kita runding untuk membawa kita ke kondisi ‘sepengertian’, tapi sebagian yang lain mungkin tidak. Kemudian kalau toh tetap juga timbul keruwetan dari proporsi yang demikian, toh kita masing-masing tetap bisa berserah diri kepadaNya, kaanal-ilahu bi-kulli syai-in ‘aliimaa. Ini sebab kedua kenapa perbedaan-perbedaan faham diantara kita tak selalu harus kita risaukan. Berulangkali aku mengatakan kepada saudaraku bahwa kita memang harus berusaha agar perbedaan diantara kita bisa menjadi seperti yang dikehendaki Allah, yakni menjadi rahmat, bukan malapetaka.

Bukan Musyawarah, tapi Konsensus

Namun betapa susahnya hal itu kita capai, Saudaraku, kita telah mengalami bersama.

Kita ini bukan masyarakat musyawarah, tapi masyarakat konsensus. Bukan masyarakat diskusi, tapi masyarakat kompromi. Tentu saja tidak sepenuhnya demikian, tapi itulah frekuensi terbesar dari praktek komunikasi sosial kita. Kalau kita bermusyawarah, kita telorkan kebijaksanaan — itu seringkali berarti ‘tahu sama tahu’ yang tak jarang disifati kemungkaran-kemungkaran tertentu. Kita suka damai, tapi itu acapkali berarti kita mengkompromikan, atau menganggap klop apa yang sesungguhnya bertentangan. Kita menyogok dengan sejumlah uang untuk kelancaran suatu urusan, dan kita sebut itu perdamaian. Kita putuskan sesuatu yang tak bijaksana untuk rakyat banyak dan kita sebut ketidakbijaksanaan itu sebagai kebijaksanaan. Kita bisa menganggap kekejaman-kekejaman tertentu sebagai tindakan luhur yang menegakkan hukum dan harkat kemanusiaan. Kita membiasakan diri untuk sedemikian luwes dan retoris untuk mendorong diri beranggapan, bahwa sesuatu hal itu ma’ruf, bukan mungkar. Dalam praktek urusan kenegaraan dan kemasyarakatan seringkali kita menjumpai kenyataan seperti itu.

Kita tak membiasakan diri untuk melihat dan memahami perbedaan dalam proporsi yang wajar. Sistim politik negeri kita jelas mendorong suatu keadaan untuk ‘tunggal’ seperti kehendak Pemerintah. Mafhumlah kita terhadap perilaku kaum establishment itu. Namun lebih menyedihkan hati jika dalam praktek kehidupan beragama kita juga menjumpai kecenderungan sikap otoriter yang secara sadar atau tak sadar cenderung memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Ummat sukar akan berangkat dewasa dalam iklim seperti itu. Tentulah Saudaraku tak usah memintaku untuk menyebut-nyebut contoh kongkrit itu, sebab kita sudah sama-sama mengetahui dan mangalami.

Aku meyakini sepenuhnya bahwa kecenderungan itu tidak muncul dari niatan sengaja untuk bersikap otoriter. Paling jauh itu adalah ungkapan naluri manusia untuk senantiasa mempertahankan diri. Diri harus selalu dipertahankan, termasuk semua keyakinan dan pengertian-pengertian pikirannya, sebab seseorang tak bisa hidup jika tidak dengan keyakinan dan pengertian pikirannya sendiri. Namun persoalannya bahwa ia tak harus ‘menyuruh’ semua orang untuk berpendapat seperti ia, dan hendaknya ia yakin juga bahwa tanpa seorang pun yang lain yang sependapat dengannya: ia tetap syah untuk menghidupi keyakinan dan pengertiannya. Saudaraku mengalami, terkadang ada saudara kita merasa ‘gugur’ gara-gara orang lain tak sependapat dengannya, lantas ‘gugur diri’nya itu memanifestasi liwat kata-katanya bahwa yang gugur seakan-akan adalah kebenaran Islam. Ia hanya bisa hidup dengan mengidentifikasikan dirinya dengan kebenaran Islam, sehingga siapa saja yang tak sependapat dengan dia, maka ia anggap melanggar Islam. Ia memperlakukan seolah-olah agama Islam hanyalah sebuah benda mati bagaikan seonggok batu yang ‘verbal’ dan miskin. Ia tidak menyediakan ruang dan tenaga untuk membayangkan bahwa pribadi-pribadi manusia yang berbeda-beda, kondisi kehidupan yang berbeda-beda, jika ditumbuhkan dengan Islam, maka ia akan memunculkan mozaik kekayaan-kekayaan yang tiada batasnya, bagaikan percikan dari kekayaan Allah yang tak bisa diperkirakan. Ia juga tak bersiap, karena itu, untuk bersikap tawadldlu’, rendah hati, sadar akan keterbatasan kita bersama, ditengah mozaik yang hanya sedikit saja mampu kita lihat dan rumuskan itu.

Kukira, Saudaraku, hakekat dari kesemuanya itu ialah kesadaran kita bersama, bahwa hidup kita ialah bergerak mengidentifikasi diri dengan kebenaran Islam. Akan tetapi sosok tubuh kebenaran diri kita tidaklah identik dengan sosok tubuh kebenaran kita. Sebab kebenaran Islam sangat luas dan besar, seluas alam semesta yang Ia ciptakan, dan kita sekedar bergabung kepadanya. Ya, kita yang amat kecil ini, hanya bergabung kepadanya. Mengolah pribadi kemusliman tidaklah berarti membangkitkan egosentrisism dimana seseorang menyerap ‘seluruh Islam’ dan ia menganggap diri persis dengan kebenaran Islam itu sepenuhnya. Itu suatu takabbur. Padahal kita tidak lebih berarti dari dzarrah: jika kita dilahirkan untuk menjadi khalifah dimuka bumi, maka kekhalifahan itu mustilah dengan penuh tawadldlu’; kesadaran akan kefaqiran dihadapan Allah.

Hal ini, Saudaraku, persis dengan kenyataan bahwa tak seorangpun mampu menguasai Al Qur’an. Paling jauh ia hanya menguasai penguasaaanya sendiri atas Al Qur’an. Cakrawala Al Qur’an tak akan selesai ditempuh, jalah lurusnya tak bakal habis dikembarai. Segala yang mampu diucapkan oleh pikiran dan hati kita dari dan tentang Al Qur’an, hanyalah sebatas relativitas pengetahuan dan pengalaman pribadi kita, dan Al Qur’an tak bisa engkau hitung berapa kali lipat kekayaannya dibanding kekecilan kita yang sering sombong ini. Maka tak ada pilihan lain kecuali tawadldlu’. Dan memang itu yang terbaik.

Cepat Berburuk Sangka

Saudaraku, kita tak jarang mengalami betapa kita terjebak untuk bersikap mutlak-mutlakan ditengah perbedaan pendapat. Ini karena kita amat possesif terhadap pemilikan kita atas pengertian-pengertian kita sendiri. Bagai seorang perawan yang tak mau secuil pun lelaki pujaannya dijelek-jelekkan oleh orang lain. Kita begitu romatik, karena memang pada dasarnya kita begitu mencintai dan bahagia dengan Islam kita. Begitu rupa romantiknya sehingga dalam beberapa hal kita menjadi buta. Kita jadi cepat tersinggung, cepat mangkel, cepat berang dan naik pitam jika sedikit saja hal tentang ‘pacar’ kita itu disentuh orang. Secara rasional kita menjadi tidak objektif. Dan secara spiritual-psikologis kita menjadi tidak dewasa, tidak rendah hati. Keduanya bergabung dan menghasilkan suatu sikap yang tak menyiapkan untuk membuka diri dan menerima kemungkinan-kemungkinan kebenaran baru atas diri kita.

Dalam keadaan begitu kita tanpa sadar, sering melangkahi peringatan Allah, ijtanibuu katsiiron minazh zhonni, inna ba’dhodh zhonni istmun, walaa tajassasuu walaa yaghtab ba’dhukum ba’dhoo. Kita sering cepat berburuk sangka, cepat cenderung mencari hanya kesalahan-kesalahan saudara kita ynag lain. Bahkan ada prototype mentalitas kita yang kurang biasa berbeda dalam berhadapan ini, mendorong kita mengungkapkan perbedaan itu dengan cara ‘yaghtab ba’dhukum ba’dhoo’. Dengan begitu akan gampang terjerumus pula kita untuk tergolong dalam kata-kata Allah ‘yashkor qoumun minqoumin’, sedangkan bisa-bisa saja kaum yang dicerca itu yakuunuu khoiron minhum.

Lebih ‘lucu’ lagi, Saudaraku, didalam saling mencerca itu, masing-masing kita merasa benar, dan sungguh-sungguh dengan khusyu’ menyandarkan kebenaran masing-masing itu ke hadirat Allah, sehingga masing-masing meras innalloha ma’anna. Tidakkah, Saudaraku, engkau pernah menangkap dan merasakan getaran keadaan yang seperti itu ditengah perselisihan faham diantara kita semua? Bahkan ada Saudara kita yang dalam keadaan itu lantas saling mengemukakan kata-kata seperti yang diungkapkan Al Qur’an: …i’maluu ‘alaa makaanatikum innii ‘aamil, wantadhiru inni muntazhirun…, atau …lanaa a’malunaa wa lakum a’maalukum, salamun ‘alaikum laa nabtaghil-jaahilin… atau fanistakbaruu fal-ladziina ‘inda robbika yusabbihuuna bil lili wan-nahaari wa hum laa yas-amuun…, bahkan …idz ja’alalladziina kafaruu fii qulubihimul-hamiyyata hamiyyatal-jaahiliyati fa-anzalallahu sakinatahu ‘alaa rosuulihi wa ‘alal mukminina wa alzamahum kalimatat-taqwa.

Tentu saja, Saudaraku, itu benar. Dan mungkin saja memang diantara beribu pikiran kita atau diantara sikap-sikap hidup kita terdapat unsur kekufuran tertentu (seperti juga silau mata kita yang berlebihan terhadap keduniawian dewasa ini bisa dianggap meng-ilah-kan yang selain Allah); akan tetapi, tentu akan lebih afdhol, apabila kita mengusahakan suatu keterbukaan dan kedewasaan komunikasi, justru untuk membuka kedok kemungkina kekufuran pribadi kita masing-masing dan melenyapkannya. Saudaraku mungkin pernah mendengar aku beberapa kali mengalami berbagai perselisihan faham dengan berbagai kalangan Muslim dalam pentas-pentas atau pembicaraan-pembicaraanku diberbagai tempat, dan aku gagal menemui keinginanku akan keterbukaan dan kedewasaan komunikasi seperti itu. Aku sering berkata kepada saudara-saudara kita: “Jika Saudaraku melihat aku sesat, dan bersedia mengishlah membawaku kepada jalan yang benar, maka alangkah besar rasa syukurku”. Namun, aku justru sering menghadapi berbagai sikap tertutup seperti kuungkapkan diatas: sikap tertutup itu bukan karena Islam, tetapi karena faktor mentalitas, keterbatasan-keterbatasan psikologis. Sampai pada suatu saat aku berkata kepada diriku sendiri: Kalau saja aku ini seorang muallaf, maka dengan menghadapi sikap jumud seperti itu, tak mustahil aku terlempar kembali ke luar Islam. Namun, Alhamdulillah, justru karena itu maka Allah berkenan menganugerahiku tenaga untuk makin mencintai-Nya serta lebih dalam meyelami samudera nilai Islam yang demikian luas dan dalam.

Saudaraku tahu mungkin kemusliman kita ini belum apa-apa dan sungguh masih amat jauh dari yang dikehendaki Allah, karena itu betapa kita semua harus senantiasa siap terbuka atas nilai-nilai kebenaran Islam yang mungkin saja kemarin masih belum kita insyafi. Banyak hal kita ketahui, namun jauh lebih banyak lagi yang belum kita ketahui. Allah telah memaparkan segalanya, tapi barangkali mata kita masih cukup buta dan telinga kita masih agak tuli. Segala yang ‘kita kuasai’ itu pastilah sedzurroh saja dibanding realitas dan nilai yang sesungguhnya yang disediakan oleh Allah Yang Maha Kaya.

Kita semua adalah khalifah fil-ardh, tetapi engkau atau aku bukanlah satu-satunya khalifah. Dan aku kira tidak benarlah apabila kita mempunyai sikap seperti itu: seakan-akan kita adalah langsung mewakili Allah dimana setiap orang musti sependapat dengan kita, betapapun secara subjektif kita amat meyakini dan menganggap luhur keyakinan serta kebenaran pikiran kita sendiri itu. Saudaraku Insya Allah sudah membaca buku Dialog Sunnah Syi’ah: surat-menyurat antara ‘Kyai Sunnah’ asy-Syaikh al-Bisri al-maliki dengan ‘Ulama Jumhur’ as-Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-‘Amili itu amat memberi informasi berharga kepada kita tentang percaturan faham yang berbeda antara Sunnah yang mayoritas dan Syi’ah yang minoritas. Akan tetapi yang tak kalah bermaknanya dibanding informasi itu ialah bagamana cara dan watak mereka didalam berdialog. Bagaimana keterbukaan sikap pribadi mereka, seberapa kematangan dan kedewasaan yang menjadi ruh komunikasi antara mereka, betapa tawadhu’ dan rendah hati mereka, serta betapa besar gairah murni untuk sungguh-sungguh mencari kebenaran: tanpa sikap defensif dalam arti emosional, tanpa menonjolkan ‘gengsi’ atau ‘harga diri’ pada proporsi yang tak wajar, atau tanpa etos ‘mempertahankan pendapat secara membabi- buta’ seperti yang sering menjadi watak dari dialog-dialog moderen dewasa ini, yang acapkali terkotak pada dimensi ‘intelektual’ belaka. Semua perwatakan dialog itu tentu saja merupakan ‘dimensi tersembunyi’ dibalik formalitas informasi yang dipaparkan oleh buku tersebut.

Demikianlah, Saudaraku, kita yang masih faqir ini semoga dibimbing oleh Allah untuk menumbuhkan kekayaan-kekayaan seperti itu. Kita Kaum Muslimin Insya Allah akan menyongsong kemenangan, tetapi itu tak bisa tidak harus dimulai dari kesediaan kita semua untuk memerangi berbagai marodhun didalam diri kita sendiri. In dholaltu fainnamaa adhillu ‘alaa nafsii, wa-inihtadaitu fabimaa yuuniya ilayya robbil innahu samii’un qorlib.

Menturo Jombang, Agustus 1983.

Sumber: http://chirpstory.com/li/189677

Rabu, 27 Agustus 2014

Gede Prama - PUISI BELAS KASIH



PUISI BELAS KASIH
Gede Prama

Tidak semua kesedihan berujung pada kehancuran. Asal membekali diri dengan ketulusan dan keikhlasan, sebagian kesedihan bisa menghantar seseorang pada gerbang pencerahan sempurna. Pesan ini yang mau disampaikan kehidupan melalui cerita seorang wanita dengan hati menawan bernama Kinh.

Suatu hari Kinh dinikahkan dengan seorang pria pilihan orang tuanya. Hanya karena bakti mendalam pada orang tua, ia menyanggupi niat baik ini. Kendati baru ia kenal, ia rawat dan sayangi suaminya lebih baik dari wanita mana pun yang menikahi suami pilihannya sendiri. Tapi keberuntungan tidak bisa dikejar, kesialan tidak bisa dihindari. Saat ia datang, tetap saja ia datang.

Di suatu sore tatkala Kinh menyulam di depan rumah, suaminya tertidur di pangkuannya. Melihat kumis suaminya tidak rapi, dia ambil gunting untuk merapikan. Tapi tiba-tiba ibu mertuanya datang, mengira ia akan membunuh suaminya. Tanpa memberikan kesempatan berargumen, Kinh langsung diusir tanpa ampun dari rumah suaminya.

Takut melukai perasaan orang tuanya, tidak mau baktinya kepada orang tua penuh noda, Kinh kemudian menyamar sebagai seorang pria dengan menggunduli rambutnya, dan menjadi murid sekaligus pelayan di jalan meditasi. Dan ketulusan, kejujuran, keikhlasan tidak selalu membuat seseorang damai. Kadang malah membuat seseorang sangat menderita.

Di suatu pagi, putri tunggal anak orang terkaya di desa tempat pusat meditasi di mana Kinh belajar meditasi ngotot sekali minta agar dia dinikahi. Tentu saja Kinh menolak karena ia sendiri seorang wanita. Tapi begitu ditolak, putri orang kaya ini tambah ngotot. Ia berhubungan intim dengan pembantunya, setelah hamil mengumumkan bahwa ia dihamili oleh Kinh. Setelah lahir anaknya diserahkan secara paksa pada Kinh.
Lagi-lagi musibah menimpa Kinh. Dan sebagaimana musibah terdahulu, dia terima bayi yang diberikan. Padahal, untuk membongkar skandal kebohongan ini mudah sekali. Cukup Kinh membuka rahasia dirinya bahwa ia seorang wanita, maka berakhirlah cerita sampai di sini. Tapi dasar penekun spiritual tingkat tinggi, ia kupas kesedihan selapis demi selapis.

Setelah anak yang ia asuh dewasa, Kinh mulai menua, kemudian ia menitipkan surat wasiat pada kepala pusat meditasi yang hanya boleh dibuka tatkala Kinh meninggal. Dan benar saja, tatkala Kinh wafat, surat wasiat dibuka, di sana terbongkar rahasianya ternyata Kinh seorang penekun meditasi yang dalam sekaligus mengagumkan.

Hanya ia yang penggalian meditasinya demikian dalam yang bisa melewati lapisan-lapisan kesedihan secara demikian mengagumkan. Dan indahnya kesedihan mendalam, ia menjadi gerbang terbukanya pintu belas kasih (compassion) yang indah tidak terbayang. Dan meminjam ajaran suci Tantra, bila orang seperti ini wafat maka langit menghormat melalui munculnya pelangi, bumi menghormat dengan gempa kecil.
Dan benar saja, tatkala Kinh dikremasi semua orang menangis sangat kehilangan. Tidak sedikit yang mengira Kinh adalah reinkarnasi Dewi Kuan Im. Dewi belas kasih yang dikagumi dunia. Seperti membenarkan isi buku suci, pelangi juga muncul di langit, bumi juga bergerak dengan gempa kecil. Pesan cerita ini sederhana, jalan spiritualitas mendalam bukan jalan senang-senang.

Meminjam pendapat psikolog Carl G. Jung, sebelum pencerahan seseorang akan melewati malam-malam gelap bagi sang jiwa. Isinya adalah kesedihan yang tidak terbayang beratnya. Mungkin cerita ini yang mau diungkapkan di zaman kita tatkala menyaksikan Nelson Mandela dipenjara selama 27 tahun, Martin Luther King Jr. serta Mahatma Gandhi wafat ditembak, YM Dalai Lama kehilangan negerinya di umur 15 tahun. Bimbingannya sederhana, siapa saja yang tekun membuka lapisan-lapisan kesedihan, ia tidak saja bisa memasuki gerbang pencerahan, tapi juga bisa menemukan wajah kehidupan sebagai puisi belas kasih.

Gede Prama - BAMBU KEDAMAIAN



BAMBU KEDAMAIAN
Gede Prama

Suatu hari bambu di pinggir hutan protes keras sama seruling. Terutama karena merasa diperlakukan tidak adil oleh kehidupan. Seruling dihargai demikian tinggi, sementara bambu di pinggir hutan tidak ada yang memperhatikan. Dengan tersenyum lembut seruling menjawab pelan. Dulunya, demikian seruling memulai cerita, kami juga bambu seperti kalian semua. Dan sebelum jadi seruling, kaki kami dipotong dengan kapak, badan kami dihaluskan dengan pisau. Dan yang paling menyakitkan, dada kami dilubangi.

Cerita ini adalah cerita klasik sekaligus legendaris di dunia pertumbuhan jiwa. Ia sama klasiknya dengan cerita kepompong yang harus berjuang dengan rasa sakitnya agar bisa terbang indah menjadi kupu-kupu yang mewakili keindahan. Pesan intinya sederhana, agar jiwa bertumbuh dewasa, apa lagi pulang ke rumah pencerahan, is harus melewati banyak sekali tangga kesedihan.

Sedihnya, entah siapa yang memulainya, kesedihan sering ditempatkan sebagai hukuman, kesalahan dan bahkan dosa. Sebagai akibatnya, kebanyakan manusia lari menjauh dari kesedihan sehingga kehilangan kesempatan untuk bertumbuh menjadi dewasa, kehilangan peluang untuk menempuh jalan pulang ke rumah pencerahan. Itu sebabnya, ada yang memberi judul karyanya dengan judul indah: “Pain, the gift that no body want”. Rasa sakit adalah berkah yang dikira musibah.

Siapa saja yang tekun dan tulus mendekap rasa sakit mengerti, awalnya semua membenci kesedihan dan kepedihan. Begitu kesedihan didekap dengan lembut, seseorang belajar tersenyum pada tiap dualitas. Tersenyum baik pada kesedihan dan kesenangan, berpelukan baik pada duka cita maupun suka cita. Dan sebagaimana cahaya listrik yang memancar terang karena memadukan negatif-positif, jiwa yang sudah mendekap lembut kesedihan juga memancarkan cahaya terang.

Salah satu sahabat spiritual yang jiwanya sudah memancar terang pernah “bercakap-cakap” dengan bambu. Bambu, demikian ia mengawali hasil percakapannya, bisa kuat dan kokoh karena berakar kuat ke dalam. Demikian juga dengan jiwa manusia, bila mau kuat dan kokoh, belajar berakar kuat ke dalam, ke dalam persahabatan, rasa syukur dan terima kasih mendalam pada kehidupan.

Sebagai hasil dari akar yang kuat, bambu bertumbuh meyakinkan menuju cahaya. Begitu ia dekat dengan cahaya, secara alamiah bambu merunduk rendah hati. Dan puncak perjalanan bambu indah sekali, tatkala ia dibelah di dalamnya kosong. Serangkaian simbol-simbol yang dekat sekali dengan pengalaman pencerahan.
Ia dimulai dengan tekad kuat untuk bergantung pada akar-akar kokoh di dalam seperti rasa syukur dan terimakasih pada kehidupan. Keikhlasan kemudian membimbingnya menuju cahaya. Dan ciri jiwa yang sudah dekat dengan cahaya, ia merunduk rendah hati. Kenapa bisa merunduk rendah hati, terutama karena sudah mengalami secara langsung (bukan mengerti secara intelek), semuanya ternyata kosong.

Kata kosong kerap disalah artikan sebagai tidak ada apa-apa. Sederhananya, kosong dari keakuan, kesombongan, kecongkakan. Tatkala seseorang kosong dari keakuan, ia langsung berpisah dengan tubuh personal yang membuat jiwa menderita, sekaligus tergabung dengan tubuh kosmik yang indah menawan.
Di tingkatan tubuh kosmik, seseorang mengalami langsung, ternyata kita semua terhubung. Meminjam ungkapan sebuah buku suci: “Anda adalah saya, saya adalah Anda”. Dalam keterhubungan seperti inilah kemudian mekar bunga-bunga cinta. Sebagai akibatnya, seluruh pertempuran ke dalam maupun ke luar berhenti.

Tatkala semua pertempuran ke dalam maupun ke luar berhenti, hidup kemudian berubah total menjadi puisi kedamaian. Ia memang kosong dan tidak menyisakan apa-apa. Sebagaimana ruang kosong yang memberikan tempat pada apa saja dan siapa saja untuk bertumbuh, kekosongan jenis ini menjadi simbol dari cinta dan belas kasih yang sempurna. Inilah kesimpulan cerita tentang bambu kedamaian.

Gede Prama - NYANYIAN SAKRAL HARMONI



NYANYIAN SAKRAL HARMONI
Gede Prama

Seorang murid meditasi pintar yang sudah belajar meditasi kesana dan kemari ragu akan pendekatan “terima, mengalir, senyum”, kemudian bertanya: “apakah kebodohan avidya juga diterima?”. Sayang sekali tidak boleh membuka rahasia Tantra di sembarang tempat dan waktu. Sehingga murid ini hanya bisa disarankan mencari Guru yang cocok untuk dirinya.

Kepintaran Sebagai Halangan

Bila di perguruan tinggi kepintaran diberi nilai sangat tinggi, di dunia spiritual mendalam kepintaran adalah serangkaian halangan yang sulit ditembus. Kebodohan jauh lebih mudah untuk ditembus, terutama karena perasaan bodoh kemudian membuat seseorang mau belajar dan mendengar. Kepintaran sebaliknya, ia duduk di kursi lebih tinggi, kemudian menolak untuk belajar.

Itu sebabnya, di dunia kebijaksanaan sudah lama dipesankan seperti ini: “Pikiran manusia serupa parasut. Ia hanya berguna kalau dibuka”. Dalam beberapa tingkatan pertumbuhan spiritual terjadi, seseorang seperti diminta “terjun” dari sebuah ketinggian. Tanpa parasut pikiran yang terbuka, dipastikan seseorang akan jatuh di tempat yang sangat berbahaya. Itu sebabnya, sejumlah Guru dan murid spiritual hidupnya menjadi sangat berbahaya.

Ini juga alasannya kenapa sejumlah murid seperti Milarepa, dihancurkan habis-habisan kepintarannya dengan pendekatan yang sangat keras oleh Gurunya Marpa. Naropa adalah murid yang sangat pintar. Ia bahkan berhasil menjadi Guru besar di universitas terkenal bernama Nalanda. Dan oleh Gurunya bernama Tilopa, Naropa juga juga disakiti dan dilukai, semata-mata agar ia keluar dari sangkar burung kepintaran.

Kepintaran Sebagai Jembatan

Suatu hari ada anak muda pintar yang banyak protesnya datang ke seorang Guru. Dengan lembut Guru ini meminta agar murid pintar ini mengambil gelas kecil, air, garam dan sendok. Setelah semuanya diaduk, kemudian murid ini diminta merasakan rasanya air. Dan tentu rasanya asin.

Kemudian percobaan dilanjutkan ke kolam besar dan luas. Di kolam besar dan luas ini, lagi-lagi murid pintar tadi diminta memasukkan jumlah garam yang sama serta diaduk. Setelah dirasakan airnya, ternyata rasanya tidak asin.

Pelajarannya sederhana, kepintaran serupa gelas yang kecil. Begitu ada garam perbedaan sedikit saja, maka seseorang kemudian merasa asin dan protes. Untuk itulah ia memerlukan kebijaksanaan yang luas. Kebijaksanaan (wisdom) inilah yang kerap disebut sebagai kepintaran yang menjembatani. Cirinya sederhana, tatkala ada orang yang kelihatannya berbeda, belum tentu salah dan jahat. Bisa jadi karena pikiran kita masih terlalu sempit untuk bisa mengerti.

Kehidupan Sebagai Nyanyian

Dengan bekal pikiran yang terbuka, lebih mudah seseorang melahirkan hati yang indah di dalam. Itu sebabnya kerap dipesankan pada banyak sekali sahabat di jalan meditasi: “Pikiran yang mengalir serta hati yang indah, itulah surga di bumi”. Pikiran menderita mirip dengan salju yang membeku, pikiran yang damai serupa air yang mengalir.

Dan kita semua tahu, semua air yang mengalir menuju samudra. Dengan cara yang sama, semua pikiran yang mengalir serta hati yang indah mengalir ke keindahan yang sama. Cinta, kebajikan, belas kasih adalah keindahan-keindahan yang dituju oleh pikiran mengalir dan hati yang indah.

Ini yang bisa menerangkan kenapa banyak orang suci di semua agama mewartakan pesan-pesan cinta, kebajikan, belas kasih. Dan ia baru bisa dimengerti kalau pikiran dibuka terlebih dahulu. Lebih dari itu, siapa saja yang sudah mengerti dan membadankan cinta, kebajikan, belas kasih, ia secara alamiah bisa melihat kehidupan sebagian nyanyian harmoni. Cirinya sederhana, semua yang ada di alam ini dari matahari, bulan, bunga, burung, anak-anak menyanyikan nyanyian harmoni.

Gede Prama - LANGIT KEDAMAIAN



LANGIT KEDAMAIAN
Gede Prama

Seorang murid meditasi yang penuh bakti bertanya, kenapa pikirannya sering dipenuhi awan? Ada awan keraguan, ketakutan, kemarahan. Dan semakin keras ia mengusir awan-awan itu, semakin sering ia datang dalam keseharian.

Mawar Tanpa Duri

Setiap sahabat yang kerap berjumpa jiwa-jiwa dalam bahaya mengerti, selalu ada aroma perkelahian di sana. Buruk melawan baik, salah melawan benar, kotor melawan suci. Seorang peserta meditasi remaja yang berteriak di tengah keheningan meditasi bersama-sama bercerita, di dalam dirinya ada setan.

Sejujurnya, semua pertempuran di dalam adalah bikinan kita sendiri. Persisnya, ia adalah buah pengkondisian yang berumur sangat tua. Pendidikan orang tua, lingkungan, sekolah hanya sebagian sumber pengkondisian ini. Dalam bahasa sederhana, pengkondisian yang membuat jiwa sakit ini mirip dengan berharap ada mawar tanpa duri. Ada kebahagiaan tanpa kesedihan, ada pujian tanpa cacian.

Dan meditasi mengajarkan untuk tersenyum pada setiap berkah kekinian. Tersenyum baik pada duri maupun mawar. Tersenyum baik pada duka cita maupun suka cita. Sebagai hasilnya, cengkeraman pengkondisian melonggar dari hari ke hari. Sampai suatu hari pencerahan membuat cengkeraman pengkondisian ini lepas sama sekali.

Mawar Kesempurnaan

Di meditasi mendalam sering terungkap rahasianya, kita semua adalah ramuan antara duri dan mawar yang sangat unik. Ada yang unsur durinya lebih banyak, ada yang unsur mawarnya lebih banyak. Dan meditasi adalah senyuman penuh pengertian baik kepada mawar maupun duri mana pun.

Itu sebabnya banyak pembimbing meditasi sepakat, meditasi merubah Anda dengan cara menerima diri Anda apa adanya. Kedengarannya aneh bagi telinga orang biasa, tapi yang sudah disentuh meditasi mendalam akan mengerti hal ini penuh permakluman.

Di tingkatan ini, mawar adalah wakil kesempurnaan. Tidak ada mawar tanpa duri. Dengan cara yang sama, tidak ada jiwa tanpa noda sama sekali. Dan kesempurnaan bukanlah keadaan tanpa noda, kesempurnaan adalah senyuman indah pada semua noda.

Matahari Indah Dalam Diri

Siapa saja yang tekun melatih diri seperti ini tidak perlu sedih dikunjungi oleh awan-awan kehidupan. Semua langit pernah dikunjungi awan, dengan cara yang sama semua jiwa pernah disentuh oleh noda.
Itu sebabnya, setiap jiwa yang luka selalu diminta menerima dirinya apa adanya. Penerimaan diri akan dalam jika seseorang mengerti kesempurnaan mawar. Terima duri-duri di dalam diri Anda. Dalam bahasa meditasi, Anda bukan mawar yang dibuat cacat karena ada duri, Anda adalah mawar yang dilindungi duri.

Dengan cara pandang seperti ini, mudah sekali bagi seseorang untuk melihat matahari terbit di dalam diri. Cirinya sederhana, semua ada waktunya, semua ada tempatnya. Musim hujan langit penuh awan. Musim kemarau langit berisi sedikit awan. Tersenyum pada kedua jenis langit ini, itulah langit kedamaian

Gede Prama - BERLIAN KASIH SAYANG



BERLIAN KASIH SAYANG
Gede Prama

Suatu hari di sebuah kawasan Afrika yang terpencil, ada seorang pria miskin yang tiap hari berdoa agar bisa memiliki berlian. Dan berapa kali pun ia berdoa, tetap tidak menemukan berlian di tanahnya yang kering. Frustrasi keinginannya tidak terpenuhi, ia kemudian menjual tanahnya, kemudian mencari berlian di negeri yang jauh.

Di negeri yang jauh pun nasib pria ini sama. Ia tidak bisa menemukan berlian yang ia cari. Kelelahan mencari, ia kemudian pulang ke kampung halamannya membawa rasa kecewa. Dan betapa terkejutnya ia sesampai di kampung halamannya menyaksikan, ternyata tanah yang ia jual sekarang sudah menjadi milik perusahaan tambang yang menambang berlian di sana.

Kisah ini adalah kisah tua. Ia setua pencarian manusia. Awalnya, banyak manusia tidak puas dengan apa yang ia miliki. Sebagai akibatnya, ia mencarinya di tempat yang sangat jauh. Dan di tempat yang sangat jauh, ia semakin tidak menemukan apa yang ia cari. Selalu ujungnya sama, di mana seseorang memulainya di sanalah sang rahasia disembunyikan.

Perjalanan spiritual banyak orang menemukan rumah (home) juga seperti ini. Tidak puas dengan tempat suci di negeri sendiri, banyak yang pergi ke India, Nepal, Tibet, Lourdes, Arab, Yerusalem, Peru, dll. Dengan sedih harus diungkapkan di sini, semua yang mencarinya di tempat jauh harus kecewa pada akhirnya.

Kesedihan, kemalangan, penderitaan datang lagi dan lagi sebagaimana pada awalnya.
Dan siapa saja yang tidak lari dari kesedihan, sujud hormat pada kesedihan seperti menghormati Guru suci, membaca rahasia yang disembunyikan di balik kesedihan, kemudian ada kemungkinan bisa menemukan berlian di dalam diri. Dan berlian itu bernama belas kasih (compassion).

Di zaman kita, dunia mengagumi Jalaludin Rumi, Kahlil Gibran, Nelson Mandela, Bunda Teresa, Mahatma Gandhi, YM Dalai Lama, Thich Nhat Hanh, Martin Luther King Jr., Lady Diana. Semuanya lahir di negeri berbeda, tumbuh dalam tradisi yang berbeda, tapi semuanya dibuka pintunya melalui kesedihan mendalam.

Ia seperti bercerita kisah yang sama, kebanyakan manusia lari dari kesedihan sebagai “tempat lahir” spiritualnya jiwa-jiwa di zaman ini. Setelah pergi jauh, mencarinya di tanah kesenangan, kebahagiaan, sukacita, kemudian jiwa-jiwa merasa terasing dalam tubuhnya sendiri. Keadaan terasing inilah yang membuat mereka kemudian pulang.

Dan di tempat asal, lagi-lagi jiwa disambut oleh kesedihan. Bukan karena dihukum, bukan karena banyak dosa, bukan karena punya banyak kesalahan. Sekali lagi bukan. Tapi karena kesedihan adalah bab penting dalam buku di dalam. Tanpa membaca bab kesedihan, semua bab lain dalam buku kehidupan tidak akan bisa dimengerti.

Rasa sakit, demikian cerita jiwa-jiwa yang sudah pulang, serupa pisau tajam yang menghaluskan jiwa dari berbagai bentuk baju palsu. Dari baju badan, pikiran, perasaan hingga kecerdasan. Tatkala semua baju palsu ini dikuliti oleh pisau tajam kesedihan, di sana ada kemungkinan jiwa bisa menemukan rumahnya.

Dan sesampai rumah, banyak yang terkejut, ternyata apa yang dicari juga mencari, apa yang dicari semuanya sudah tersedia di dalam. Makanya ada yang berpesan, berhenti mencari kemudian Anda langsung sampai. Sesampai di rumah, tidak ada apa-apa yang tersisa, terkecuali belas kasih (compassion) agar semua makhluk bisa menemukan berliannya di dalam.
Penulis: Gede Prama

Gede Prama - CINTA MEMPERCANTIK JIWA



CINTA MEMPERCANTIK JIWA
Gede Prama

Tatkala Nelson Mandela wafat beberapa tahun lalu, sulit membantah kalau dunia sedang kehilangan sebuah cahaya. Saat Lady Diana meninggal sekian tahun lalu, miliaran pasang mata di dunia meneteskan air mata. Tidak ada cerita lain di balik ini terkecuali cerita tentang jiwa yang indah.

Bagi setiap hati yang dihiasi bunga kepekaan, perjumpaan dengan jiwa-jiwa indah mudah membuat air mata menetes. Dalam bahasa Karen Armstrong, kapan saja hadir sesosok jiwa yang penuh dengan cinta, jiwa kita merasa terangkat. Dan salah satu tanda jiwa terangkat adalah air mata yang menetes.

Dari sini timbul pertanyaan, apa yang membuat segelintir jiwa jadi demikian bercahaya. Di Timur dikenal reinkarnasi roh-roh suci yang turun ke bumi untuk berbagi cahaya. Di Hindu dikenal Avatara alias Tuhan yang turun ke bumi. Di Buddha Mahayana dikenal Bodhisattva yang bersumpah untuk terus menerus lahir sampai alam samsara ini kosong. Di Barat orang mengenal malaikat.

Entah itu bawaan dari alam sana, atau dikembangkan di sini di muka bumi, terasa sekali kalau dekat dengan jiwa-jiwa indah di sana-sini tercium aroma cinta. Seorang sahabat dekat pernah berjumpa YM Dalai Lama, hanya dengan melihat mukanya saja, sahabat ini sudah menangis. Mencermati bahasa tubuh serta pancaran mata YM Dalai Lama, tidak ada cahaya lain selain cinta.

Bahan renungannya kemudian, bisakah orang-orang biasa memiliki jiwa yang bercahaya? Para sahabat di dunia spiritual yang menekuni energi mengerti, energi itu menular. Sedihnya, energi negatif itu menular secara sangat mudah dan cepat, sedangkan energi positif menularnya susah dan lambat. Kendati demikian, tidak ada pilihan lain bagi jiwa-jiwa yang mau pulang terkecuali menulari diri dengan energi positif.

Itu sebabnya di dunia psikologi sudah lama terdengar saran agar seseorang mengelilingi diri dengan sahabat-sahabat yang bisa mendukung pertumbuhan jiwa kita. Sekolah sebenarnya diniatkan untuk mengisi kebutuhan seperti ini, keluarga juga serupa, demikian juga dengan kelompok spiritual. Sayangnya, niat tetap niat, ia jarang menjadi kenyataan.

Itu sebabnya penekun-penekun spiritual yang serius kemudian lebih berpaling pada keluarga di dalam. Serupa keluarga di luar yang terkotori lingkungan, keluarga di dalam juga terkotori. Dan bila tekun, tulus, tidak mudah menyerah, keluarga di dalam bisa diajak bertumbuh menuju cahaya.

Kemarahan, ketersinggungan, dendam adalah bentuk-bentuk energi di dalam yang terkontaminasi. Dan kesadaran (awareness) serta perawatan (carefulness) adalah energi murni di dalam yang bisa dibangunkan sebagai kekuatan pengimbang. Kapan saja energi murni terakhir lebih kuat dari energi kemarahan, di sana matahari mulai terbit di dalam diri.

Memaafkan adalah tanda-tanda awal terbitnya matahari di dalam diri. Menerima kehidupan apa adanya adalah tanda kalau matahari mulai terbit di dalam. Cinta adalah cahaya terang yang lembut mendekap semuanya. Sesampai di sini, cahaya tidak saja menjadi miliki Avatara dan Bodhisattva, ia adalah milik semua jiwa.

Ia sama dengan matahari terbit di pagi hari. Ia bukan milik segelintir orang, ia adalah milik semua orang. Bedanya dengan orang kebanyakan yang lapar begini kurang begitu, jiwa-jiwa yang bercahaya hanya memiliki sebuah kerinduan yakni kerinduan untuk senantiasa mencintai.

Di kalangan jiwa-jiwa bercahaya kerap terdengar pesan seperti ini: “Sementara orang biasa menunggu untuk dicintai, jiwa yang bercahaya terus menerus menanam bibit-bibit cinta”. Anehnya, ia yang kerap menanam bibit-bibit cinta melalui memaafkan, menerima, menolong, dialah yang jiwanya pertama kali mekar. Inilah yang disebut sebagai cinta mempercantik jiwa.
Penulis: Gede Prama

Gede Prama - PUSAT KEDAMAIAN



PUSAT KEDAMAIAN
Gede Prama

Ahli mitologi Joseph Campbell pernah berpesan dalam bukunya yang berjudul The Power of Myth: “Ada titik pusat kedamaian di dalam. Bila Anda kehilangan kontak dengan titik pusat ini, Anda mengalami kejatuhan”. Pertanyaannya kemudian, di mana letak titik pusat ini di dalam?

Kepala

Di zaman kita, banyak sekali manusia mencari cahaya di kepala dalam bentuk kepintaran. Sekolah dan universitas kita menghabiskan waktu lebih dari delapan puluh persen untuk mengeksplorasi kepala. Tidak seluruhnya jelek, banyak kemajuan yang dihasilkan. Tapi sulit mengingkari, ada banyak jiwa yang terasing di dalam tubuhnya.

Rumah sakit jiwa penuh, konflik dan perang tidak mengenal tanda-tanda akan berakhir, institusi keluarga mengalami keruntuhan, sekolah dan lembaga keagamaan mengalami defisit karisma. Ini hanya sebagian kecil contoh yang menunjukkan kalau kepintaran bukan segala-galanya.

Membenci kepintaran bukanlah hal yang disarankan tulisan ini. Ada cahaya di kepala tentu saja. Tapi kepala bukanlah pusat kedamaian. Terutama karena cara kepala bekerja sangat dualistik. Malam hanya bisa dimengerti kalau ada siang. Salah kelihatan kalau ada benar. Pertentangan-pertentangan seperti ini jauh dari kedamaian.

Hati

Ia yang sudah lama panas hidup di kepala biasanya mencari cahaya di hati. Ada yang panas oleh perceraian, kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang dicintai. Intinya sederhana, kepintaran tidak memberikan semua jalan keluar, dari sini kemudian mereka mencari di dunia rasa yang menjanjikan keindahan.

Bila kepala kaya akan pengetahuan, hati kaya akan rasa. “Rasa adalah bahasanya jiwa”, demikian orang-orang di kelompok ini menyebutkan. Di tingkatan inilah seseorang tersentuh oleh cinta, kebaikan, belas kasih. Bukan cinta yang diucapkan, tapi cinta yang dilaksanakan.

Ini yang bisa menjelaskan kenapa orang-orang yang penuh cinta mukanya bercahaya, jiwanya bercahaya, hidupnya juga bercahaya. Terutama karena ada cahaya di hati. Sedihnya, ini juga bukan pusat kedamaian. Di tingkatan hati, cinta masih memiliki lawan bernama kebencian. Kebaikan masih punya musuh bernama keburukan. Itu sebabnya sebagian pencinta hidupnya kecewa. Terutama karena setelah mencintai berharap agar ia juga dicintai.

Pusar

Jika kepala kegiatan utamanya adalah mengetahui (knowing), hati kegiatan utamanya adalah merasakan (feeling), beberapa titik di bawah pusar adalah titik pusat keberadaan (being). Sayangnya, di zaman yang mengagungkan kepala ini menjelaskan rasa saja sudah sulit, apa lagi menjelaskan titip pusat keberadaan dekat pusar.

Titik pusat dekat pusar ini hanya bisa dijelaskan dan dicapai secara tidak langsung. Seks adalah sebuah contoh. Alasan utama kenapa seks demikian indah karena saat seseorang berhubungan seks energi terpusat dekat dengan pusar. Saat kita jadi bayi, kita terhubung dengan ibu melalui tali pusar. Begitu lahir tali ini diputus. Dan nanti tatkala seseorang mengalami pencerahan, ada tali pusar yang muncul yang menghubungkan jiwa dengan ibu yang bernama keberadaan.

Titik terdekat dengan pusat keberadaan adalah hati. Untuk itu, sesulit apa pun teruskan mencintai. Tiap jiwa yang mendekati titik pusat keberadaan akan terguncang. Guncangannya bahkan hebat sekali. Tapi ini bukan alasan untuk berhenti mencintai. Kapan saja cinta seseorang menjadi tidak bersyarat, di sana ia mendekati titik pusat keberadaan. Sekaligus, inilah titik pusat kedamaian.

Penulis: Gede Prama

Gede Prama - Nonviolent Soldier of Islam

Nonviolent Soldier of Islam
Oleh Gede Prama

Seorang sahabat Muslim mengirim buku indah berjudul “Nonviolent Soldier of Islam“. Ia ditulis oleh penulis buku terkenal Eknath Easwaran yang pernah menulis Bhagavad Gita sekaligus Dhammapada. Begitu melihat pembungkus depan dan belakang buku ini saja sudah terasa hawa sejuk dan lembut. Perhatikan salah satu kalimat indah yang ditulis di bungkus belakang: “Ia yang kuat, memilih bertindak tanpa kekerasan”. Sederhananya, kelembutan, kesejukan adalah sahabatnya manusia-manusia yang di dalamnya kuat. Ini sesungguhnya bukan pesan baru, karena sudah diwartakan para suci jauh sejak ribuan tahun yang lalu. Tapi ia terasa menyirami karena peradaban kekinian penuh dengan hawa panas kekerasan.

Bayangkan, tempat-tempat yang pernah melahirkan buku suci dan Guru suci (India, Pakistan, Palestina, Israel) semua panas oleh kekerasan. Bali yang pernah disebut the last paradise, angka bunuh dirinya menaik terus. Thailand yang lama disebut land of smile oleh majalah Time diganti menjadi land of coup. Di Barat sana bahkan ada yang tega menyebut agama sebagai sumber kekerasan dan kejahatan.

Holy water of compassion

Sehingga di tengah percikan-percikan panas api ini, bahkan setetes air pun sangat menyejukkan. Dan buku otobiografi tokoh Islam bernama Badshah Kahn (sahabat seperjuangan Mahatma Gandhi di India) ini, adalah salah satu air suci sejuk yang pernah dipercikkan di taman bunga agama-agama. Sejenis air suci (tirtha) kasih sayang. Sehingga komentar Christian Science Monitor yang dicantumkan di bungkus depan buku ini sangat mewakili isi buku sejuk ini: “Intisari kisah Khan…bahwa hakikat Islam yang sejati adalah antikekerasan”.

Seperti menemukan intisari kenabian di zaman ini, di halaman 103 buku ini berpesan sederhana sekaligus mendalam: “Manusia memetik banyak pelajaran di sekolah penderitaan”. Di zaman ini, jangankan manusia biasa, bahkan Nabi pun dihaluskan oleh amplas keras bernama penderitaan. Sulit membayangkan ada perjalanan spiritual mendalam tanpa melalui lorong-lorong gelap penderitaan Bagi orang biasa, penderitaan adalah hukuman. Bagi penggali ke dalam diri yang mengagumkan, penderitaan adalah kilatan cahaya bahwa jiwa mulai melihat arah jalan pulang. Saat menderita, di dalam sini terasa ada yang takut dan ragu.

Keadaannya serupa dengan anak balita yang bermain terlalu jauh dari rumah, kemudian takut dan ragu. Dengan demikian, makna lain penderitaan, penderitaan menjadi masukan kalau jiwa bermain terlalu jauh dari rumah. Sekaligus menjadi panggilan terang bagi sang Jiwa: “pulang, pulang, pulang”.

Senjata tidak terkalahkan

Jangankan setelah pulang, bahkan tatkala jiwa baru melangkah pulang pun kehidupan sudah menyediakan kilatan-kilatan cahaya kedamaian. Perhatikan apa yang ditulis buku lembut ini di halaman 149: “Aku akan memberikan senjata yang tidak akan dilawan tentara dan polisi. Senjata Sang Nabi ini bernama kesabaran dan kebenaran”. Hanya jiwa yang dibimbing Cahaya yang berani mengambil “senjata” jenis ini. Dalam terang Cahaya, kegelapan kekerasan tidak dilawan dengan kegelapan kemarahan, tapi diterangi secara lembut menggunakan lentera kesabaran. Dengan penggalian sedalam ini. bisa dimaklumi jika Khan yang lahir di keluarga Islam sangat dekat luar dan dalam dengan Mahatma Gandhi yang lahir di keluarga Hindu.

Berkali-kali Khan mengakui di buku ini: “Tatkala Gandhiji mau memutuskan hal-hal penting, tercium jelas sekali kalau saya sedang berjumpa dengan seorang hamba Allah yang sedang memasrahkan dirinya secara total kepada Allah”.

Pandangan terang seperti ini, tidak mungkin bisa dicapai oleh sembarang jiwa. Ia hanya mungkin didaki oleh jiwa yang sudah melewati banyak penderitaan, tunduk sujud di depan penderitaan, menggunakan penderitaan sebagai kekuatan yang menghaluskan. Ini terlihat terang di halaman 129: “Bagi seorang Muslim, mengikuti jalan hidup tanpa kekerasan bukanlah hal yang mengejutkan. Jalan ini sudah dilalui empat belas abad silam di Mekah oleh Sang Nabi”. Pernyataan ini mengingatkan pada ungkapan tua di dunia Sufi: “Perilaku buku suci seperti calon penganten wanita. Ia hanya membuka baju pada calon suaminya”.

Suami buku suci

Seluruh isi buku ini bercerita terang kalau Khan sudah menjadi “suami” buku suci. Buktinya, buku suci sudah membuka bajunya. Kemudian memancarkan cahaya kelembutan, kesabaran, kesantunan. Dan tiba-tiba Sang Nabi yang memancarkan cahaya tauladan sempurna berabad-abad lalu menjadi teramat dekat di hati. Ini salah satu ciri manusia yang sudah menyembah rumah Tuhan yang dibikin tangan Tuhan. Dalam totalitas, buku indah yang diterbitkan oleh kelompok penerbit Bentang (2013) ini sangat layak dibaca, tidak saja layak untuk sahabat Muslim tapi juga bagi setiap penekun spiritual mendalam.

Tidak semua bagian agama-agama itu sama, tidak semua unsur agama-agama boleh disamakan, tapi bagian yang tidak sama itu bukanlah bahan bakar kekerasan, melainkan warna-warni yang sebaiknya dilukis menjadi pelangi keindahan. Dalam konteks inilah, umat manusia memerlukan lebih banyak orang seperti Eknath Easwaran, yang menulis buku Nonviolent Soldier of Islam yang indah, ia sama indahnya tatkala beliau menulis buku Hindu berjudul Bhagavad Gita serta buku Buddha berjudul Dhammapada. Kita membutuhkan lebih banyak Guru serupa Karen Armstrong yang menulis autobiografi Nabi Muhammad yang sama indahnya dengan autobiografi Buddha. Kita juga merindukan lebih banyak penulis mirip Deepak Chopra yang menulis buku The Third Jesus sama indahnya dengan novelnya berjudul Buddha.

Melalui karya-karya tokoh seperti ini, agama-agama kemudian berhenti masuk ke dalam kotak kekerasan, sebaliknya menjadi sumber air sejuk kelembutan dan kedamaian. Inilah yang dilakukan tokoh Islam bernama Badshah Kahn. Ini juga yang dilakukan Mahatma Gandhi, Bunda Teresa serta YM Dalai Lama.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Yudi Latif - Mengelola Negara Tanpa Melek Etika

Mengelola Negara Tanpa Melek Etika

Kompas, October 30, 2013 
Yudi Latif
Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

Dalam demokrasi beradab, hukum berenang di lautan etika, sehingga defisit undang-undang selalu bisa ditutupi kecukupan moralitas. Dalam demokrasi lemah adab, hukum berenang di lautan para perompak, sehingga surplus undang-undang tak membuat tertib hukum, malah semakin membuka peluang bagi aksi-aksi kejahatan manipulatif.
Persoalan yang menyangkut politik dinasti sebagai sarang korupsi dan tsunami yang menimpa Mahkamah Konstitusi (MK) adalah gunung es yang menyingkap persoalan besar republik ini. Akar terdalam kebiadaban penyelenggara negara itu bersumber dari paceklik etika politik. Padahal, etika politik menghubungkan hukum dengan ideal kehidupan sosial-politik, kesejahteraan bersama, dan keadilan sosial. Seperti kata Paul Ricoeur, etika politik adalah kekuatan reflektif untuk membongkar argumen yang melegitimasi kebijakan publik dengan menempatkan diri dalam posisi dan dimensi moral orang lain.
Tidak ada yang lebih sempurna menggambarkan krisis etika politik ini seperti musibah yang menimpa MK. Para hakim konstitusi mestinya sadar benar akan sebuah diktum yang menyatakan, “tidak ada konstitusi tanpa moral”. Diktum inilah yang melandasi pernyataan Prof Soepomo di akhir penjelasannya tentang Rancangan Undang- Undang Dasar 1945. “Segala sistem ada baik dan jeleknya,.. sistem mana saja tidak sempurna.” Lantas ia tekankan, apa pun rancangan Konstitusi Indonesia, untuk kesempurnaannya sangatlah ditentukan semangat moral penyelenggara negara. Bahwa “yang sangat penting dalam pemerintahan dan dalam hidup negara ialah semangat, semangat para penyelenggara negara, semangat para pemimpin pemerintahan. Meskipun kita membikin undang-undang yang menurut kata-katanya bersifat kekeluargaan, apabila semangat para penyelenggara negara, pemimpin pemerintahan itu bersifat perseorangan, undang-undang dasar tadi tentu tidak ada artinya dalam praktik.”
Alangkah tragisnya ketika ketidaksempurnaan konstitusi yang mestinya ditutupi moral penyelenggara negara, Ketua MK malah jatuh ke tangkup penguasaan tangan-tangan amoral. Namun, solusi atas kemelut MK yang ditempuh Presiden juga menggambarkan situasi yang lebih sinister. Krisis etika tidak ditutupi oleh solusi etis, tetapi oleh pelanggaran etis. Mengeluarkan perppu tanpa kegentingan yang memaksa selalu mengandung potensi susupan kepentingan lain dan melampaui batas etis.
Berbagai ekspresi ketidakpatutan etis yang diperagakan para pemimpin republik ini mengindikasikan meluasnya fenomena “buta moral” (moral iliteracy) yang melanda bangsa. Rendahnya tingkat melek moral inilah yang membuat para penyelenggara negara kekurangan rasa malu dan rasa kepantasan. Dalam kehidupan publik yang sehat, ada banyak hal yang tak bisa dibeli dengan uang. Namun, dengan menipisnya rasa malu dan rasa kepantasan, cuma sedikit yang masih tersisa. Hampir semua nilai, termasuk harga diri, bisa dibeli oleh uang.
Kehilangan terbesar bangsa ini bukanlah kemerosotan pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah, atau popularitas tokoh, melainkan kehilangan harga diri karena diabaikannya semangat moral kehidupan bernegara. Hilangnya harga diri dan prinsip kehidupan membuat para politisi dan penyelenggara negara tumbuh dengan mentalitas pengemis. Para pemimpin di segala lapis dan segi tak terbiasa lagi meletakkan tangan di atas, melainkan senantiasa di bawah. Mereka mengalami kemiskinan permanen karena tak pernah merasa cukup dengan yang telah ditimbunnya dari mencuri hak orang banyak.
Betapa banyak orang menyandang predikat pemimpin, tetapi dengan mentalitas pengemis. Dalih ketidakcukupan gaji sebagai pejabat negara dijadikan alasan terus menggelembungkan aneka tunjangan dan pencarian rente. Tabiat seperti ini melenceng jauh dari kesadaran etis pendiri bangsa. Di tengah impitan depresi ekonomi dan represi rezim pada dekade 1930-an, setegar baja Bung Hatta berkata: “Betul banyak orang yang bertukar haluan karena penghidupan, tetapi pemimpin yang suci senantiasa terjauh dari godaan iblis itu.”
Indonesia lahir karena perjuangan dan komitmen luhur memuliakan nilai dan martabat manusia. Dalam memperjuangkan harga diri manusia lewat kemerdekaan, Indonesia telah lolos dari berbagai ujian kemelaratan dan penderitaan. Namun, daya hidup dan karakter keindonesiaan itu justru goyah saat ketamakan dan kezaliman kuasa menari di atas penderitaan rakyat banyak.
Tanpa basis moral yang kuat, negara hukum Indonesia menyimpan banyak kemungkinan kebuntuan karena konstitusi memberikan kepercayaan besar pada moral penyelenggara negara. Pokok pikiran keempat Pembukaan UUD 1945 menyebutkan, “Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, mewajibkan pemerintah dan penyelenggara negara lainnya untuk memelihara budipekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur.”
Pejabat publik adalah representasi rakyat yang harus memiliki kepekaan etis. Kepekaan etis senantiasa menempatkan keadilan di atas hukum. Dalam rasa keadilan, pejabat negara dalam perilaku dan gaya hidupnya harus menenggang simpul terlemah dari jutaan rakyat kecil yang terempas dan terputus. Para penyelenggara negara dalam mengemban tugasnya tidak hanya bersandar pada legitimasi hukum, tetapi juga legitimasi moral.

Yudi Latif -Tantangan Idealisme Muda

Tantangan Idealisme Muda

Kompas,October 30, 2013 in
Yudi Latif
Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

Ada yang laju dan yang layu. Dalam rentang waktu 85 tahun sejak Kerapatan Besar Pemuda Indonesia (KBPI) II, 28 Oktober 1928, ada garis kontinuitas dan diskontinuitas antara generasi hari ini dan generasi Sumpah Pemuda.
Yang terus melaju adalah kualitas kecerdasan anak-anak muda negeri ini. Adapun yang melayu adalah kepeloporan politik kaum muda untuk merajut kecerdasan yang berserak menjadi kekuatan progresif.
Bayangkan, pada usia 25 tahun Bung Karno telah melahirkan pikiran-pikiran visioner untuk menyintesiskan antara “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme”, yang menjadi bantalan vital bagi perumusan dasar negara. Pada usia 26 tahun, Bung Hatta telah memikirkan dasar-dasar “Indonesia Merdeka” (Indonesia Vrije). Pada usia 25 tahun, Muhammad Yamin telah menyodorkan gagasan “Persatuan dan Kebangsaan Indonesia”, dalam KBPI II, dengan secara visioner melihat kemustahilan negeri seluas Indonesia hanya memiliki satu bahasa; sehingga yang dituntut oleh persatuan kebangsaan bukanlah berbahasa satu, melainkan “menjunjung bahasa persatuan”, bahasa Indonesia. Pikiran-pikiran cemerlang generasi muda pada dekade 1920-an ini mencerminkan kegeniusan respons minoritas kreatif yang sepadan dengan tantangan zamannya.
Kualitas pemuda saat ini
Dalam konteks yang berbeda, minoritas kreatif pemuda hari ini juga tak kalah cemerlangnya. Tanda-tandanya bisa dilihat dari keberhasilan delegasi seni dan sains Indonesia dalam kompetisi antarbangsa. Dalam berbagai ajang olimpiade internasional di bidang matematika, fisika, kimia, dan robotik, para pelajar dan mahasiswa Indonesia bukan saja bisa bersaing dengan utusan negara-negara terpandang seperti Amerika Serikat, Jepang, China, dan India, bahkan berulang kali memecundangi mereka. Ratusan genius muda Indonesia memainkan peran penting di pusat-pusat pengetahuan dan industri dunia.
Kantong-kantong kreatif negeri ini, seperti Bandung, Yogyakarta, dan Bali, juga seperti tak pernah mati akal, terus-menerus melahirkan kreativitas baru yang memberi nilai tambah. Bukanlah suatu isapan jempol apabila Prof Yaumil Agoes Achir (almarhum) pernah memperkirakan, sekitar 2 persen dari manusia Indonesia masuk dalam kategori genius. Lebih dari itu, Indonesia sebagai masyarakat multi-etnis tampaknya mengandung potensi multi-inteligensia dan multi-talenta, yang memberikan potensi kejayaan kepada bangsa.
Pada setiap generasi, kuantitas pemuda sebagai pemikir dan pelopor itu selalu merupakan minoritas kreatif. Tahun 1926, pada masa puncak aktivitas politik Perhimpunan Indonesia (PI), dari 673 lebih mahasiswa Indonesia di Belanda pada saat itu, hanya 38 orang yang menjadi aktivis PI (Ingleson, 1979: 2). Demikian pula hanya dengan situasi kepemudaan di Tanah Air. Menyusul berdirinya tiga perguruan tinggi pada 1920-an (THS, RHS, dan GHS), beberapa klub mahasiswa universitas bermunculan di Hindia, dengan arus utamanya bersifat rekreatif. Namun, di sela arus utama klub-klub berorientasi rekreasi, muncullah sekelompok kecil mahasiswa sadar politik yang mendirikan perkumpulan berorientasi politik dengan pengikut yang sangat terbatas, seperti Algemene Studieclub, yang dipimpin Soekarno. Sejarah mencatat, minoritas kreatif inilah yang menjadi pelopor perubahan, yang mengonseptualisasikan “Indonesia” sebagai simpul persatuan dan kemerdekaan.
Alhasil, tidak perlu terlalu diratapi jika kebanyakan anak muda hari ini lebih suka menghabiskan waktu dengan chatting di media sosial, bersenang-senang di pusat belanja, atau pelesiran ke tempat-tempat wisata. Toh, masih ada minoritas pemuda kreatif yang terlibat dalam kerja-kerja inovatif, kewirausahaan, dan aksi-aksi politik. Malahan, sesuai dengan struktur demografis Indonesia saat ini, minoritas kreatif masa kini jumlahnya jauh lebih besar dengan varietas bidang kreatif yang lebih beragam ketimbang generasi sebelumnya.
Struktur demografis Indonesia membengkak pada penduduk berusia muda. Jika definisi pemuda mengikuti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, yakni mereka yang berusia 16 sampai 30 tahun, maka jumlahnya pada saat ini menurut SUPAS 2005 sekitar 62,24 juta, atau setara dengan 25 persen dari total penduduk Indonesia. Jika satu persen saja dari total pemuda itu bersifat kreatif, kita akan mendapatkan gambaran pemuda kreatif dengan magnitude yang tiada tara dibandingkan generasi Sumpah Pemuda.
Letak masalahnya, jika minoritas kreatif pada generasi Sumpah Pemuda mampu mempertautkan dan mengorganisasi potensi-potensi kreatif yang berserak menjadi kesatuan generasi perubahan, generasi hari ini belum menunjukkan kesanggupan seperti itu dengan risiko bisa menuju “generasi yang hilang” (the lost generation). Pengertian generasi dalam sosiologi tidak sekadar merepresentasikan kolektivitas atas dasar kesamaan usia, tetapi juga kesamaan pengalaman, visi, dan panggilan kesejarahan yang membentuk kekuatan perubahan. Ron Eyerman menyatakan, “Konsepsi sosiologis mengenai generasi mengimplikasikan lebih dari sekadar terlahir pada masa yang hampir sama. Konsepsi itu menyatakan sebuah kesamaan pengalaman sehingga menciptakan sebuah dasar bagi cara pandang yang sama, orientasi tujuan yang sama, sehingga bisa mempersatukan para pelaku, bahkan meskipun mereka tak pernah saling bertemu.”
Dalam pandangan Karl Mannheim, sebuah generasi membentuk identitas kolektifnya dari sekumpulan pengalaman yang sama, yang melahirkan “sebuah identitas dalam cara-cara merespons, dan rasa keterikatan tertentu dalam suatu cara di mana semua anggotanya bergerak dengan dan terbentuk oleh kesamaan pengalaman-pengalaman mereka”. Tidak ada generasi perubahan tanpa usaha kesengajaan. Generasi Sumpah Pemuda secara sengaja merespons tantangan kolonialisme dan feodalisme lewat penciptaan ruang publik, wacana publik, dan organisasi aksi kolektif yang mempertautkan minoritas kreatif yang berserak menjadi blok nasional pengubah sejarah (historical bloc).
Dengan mendirikan rumah penerbitan, koran, studieclub, sekolah dan jaringan pergaulan lintas kultural, mereka membentuk ruang publik baru sebagai
wahana collective social learning. Ruang publik ini menjadi tempat pertemuan minoritas kreatif yang tercerahkan, ajang perseorangan terhubung ke dalam jaringan memori kolektif lewat komunikasi intersubyektif, dengan ikhtiar membebaskan diri dari dominasi kuasa dan uang. Di dalam kehadiran ruang publik baru ini, minoritas kreatif membangun agenda setting lewat pengarusutamaan agenda bersama sebagai wacana dominan di ruang publik. Melalui penciptaan ruang publik, wacana publik dan kekuatan nalar publik, terbentuklah suatu konektivitas kolektivitas yang dalam kekuatan artikulatifnya menjadi katalis bagi perwujudan politik perubahan.
Adapun minoritas kreatif generasi hari ini, ibarat matahari, rerumputan dan pepohonan yang bergerak dalam sunyi. Tanpa usaha sengaja untuk mengangkat partikularitas sel-sel kreatif menjadi komonalitas jaringan kreatif, kekuatan minoritas kreatif terpencar ke dalam unit-unit yang terkucil. Munculnya media sosial baru dengan kencenderungan individuasi yang sangat kuat semakin memperkuat tendensi ke arah atomisasi kekuatan-kekuatan kreatif. Sesekali jaringan kesadaran yang merambat melalui media sosial ini memang bisa melahirkan kekuatan korektif. Namun, kekuatan korektif ini, tanpa keberadaan agenda dan pengorganisasian bersama, sering kali hanya sekadar kekuatan reaktif yang akan segera padam begitu daur isu memudar.
Tampak jelas, kemampuan mengorganisasikan gagasan secara publik-politiklah yang bisa mengangkat partikularitas kekuatan kreatif menjadi kekuatan perubahan kolektif. Seperti kata Hannah Arendt, politiklah yang menjadi “ruang penampakan” (space of appearance) bagi ide-ide yang terpendam. Tanpa kesanggupan mengorganisasikan diri secara politik, kekuatan-kekuatan kreatif hari ini, betapapun besar jumlahnya, tak membuat ide-ide mereka terungkap secara publik; tak mampu membangkitkan inspirasi kreatif bagi banyak orang; dan tak mendorong pengikatan bersama kekuatan-kekuatan progresif untuk bangkit bersama membentuk generasi perubahan.
“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda,” ujar Tan Malaka. Masalahnya, setiap zaman memiliki tantangannya tersendiri yang menuntut respons yang berbeda. Seturut dengan itu, idealisme pemuda juga harus diletakkan dalam konteks tantangan zamannya.
Pemuda dan politik
Tantangan idealisme hari ini adalah bagaimana mentransformasikan individu-individu yang baik dan kreatif menjadi kolektivitas yang baik dan kreatif. Seperti kata Aristoteles, kebaikan manusia sebagai manusia tidak selalu identik dengan kebaikan manusia sebagai warga negara. Keidentikan antara manusia yang baik dan warga negara yang baik hanya bisa berlangsung dalam suatu negara yang baik. Karena dalam suatu negara yang buruk, manusia baik dan kreatif bisa saja menjadi warga negara yang buruk dan destruktif.
Negara yang baik memerlukan perpaduan antara warga negara yang baik dan institusi negara yang baik. Untuk yang pertama, tantangan generasi hari ini adalah memperjuangkan nation and character building melalui pendidikan kewargaan (civic education) yang baik. Untuk yang kedua, tantangannya memperjuangkan visi restorasi dan transformasi institusi-institusi kenegaraan lewat pendalaman dan perluasan demokrasi. Visi restorasi berisi konsepsi untuk memulihkan kembali kondisi bangsa agar bisa merasa lebih sehat, lebih kuat dan lebih bersemangat setelah mengalami kelemahan, kemurungan, dan keputusasaan, dengan cara menjangkarkan kembali pilihan-pilihan kebijakan dan pembangunan pada nilai-nilai luhur bangsa. Visi transformasi berisi konsepsi untuk mengubah keadaan dengan jalan menawarkan hal-hal baru yang lebih baik, lebih sehat dan lebih kuat, dengan tetap mempertimbangkan koherensinya dengan basis nilai kebangsaan.
Semuanya itu memerlukan keterlibatan pemuda secara politik. Politik dalam arti ini bukanlah politik sebagai bahasa teori “pilihan rasional”, bahwa rasionalitas kepentingan individual harus dibayar oleh irasionalitas kehidupan kolektif. Politik dalam konsepsi kaum muda merupakan usaha resolusi atas problem-problem kolektif dengan pemenuhan kebajikan kolektif. Mirip dengan pemahaman Aristotelian, politik dipandang sebagai seni mulia untuk meraih harapan dan memelihara kemaslahatan umum.
Peran politik kaum muda seperti itu kini dipanggil kembali oleh sejarah, ketika politik sebagai seni mengelola republik demi kebajikan kolektif mulai tersisihkan oleh apa yang disebut Machiavelli sebagai raison d’état (reason of state) yang berorientasi kepentingan sempit. Jika “politik” sejati memiliki kepedulian untuk mempertahankan kepentingan kolektif melalui perbaikan otoritas publik, reason of state memprioritaskan kepentingan elite dan kelompok penguasa dengan mengatasnamakan “kebajikan publik”.
Manakala elemen-elemen kemapanan menjadikan politik sebagai seni memerintah dengan menipu rakyat, pemuda-pemuda kreatif hari ini perlu secara sadar menghadirkan suatu creative destruction dengan menawarkan ide-ide progresif dalam semangat republikanisme. Tendensi menuju “generasi yang hilang” harus dicegat dengan secara sadar membangun kebersamaan pengalaman, visi, dan panggilan kesejarahan lewat penciptaan ruang publik, wacana publik, dan aksi publik yang mempertautkan minoritas kreatif yang berserak menjadi kolektivitas progresif generasi perubahan.
Di hadapan mahkamah sejarah, generasi muda hari ini dihadapkan pada “wajah janus” (janus face) keberadaannya sendiri. Kehadiran penduduk usia muda dalam jumlah besar, jika berhasil mengelolanya, bisa menjadi “bonus demografis” yang menjanjikan kejayaan bangsa; tetapi jika gagal meresponsnya secara kreatif bisa menjelma menjadi “bencana demografis” yang melumpuhkan bangsa. Dalam titik persilangan seperti itu, idealisme muda kembali dipanggil untuk “bersumpah”, seperti tekad yang pernah diikrarkan Bung Hatta: “Di atas segala lapangan Tanah Air aku hidup, aku gembira. Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang tersimpan dalam dadaku.”

Yudi Latif - Kematian sebagai Harapan

Kematian sebagai Harapan

Kompas, Okctober 30, 2013 in
Yudi Latif
Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

Kematian tidak selamanya bermakna kekelaman, tetapi bisa juga menandakan harapan. Kepergian Ustaz Jefri Al Buchori (Uje) sebagai tokoh masyarakat sipil dan Taufiq Kiemas sebagai tokoh politik, yang mengundang begitu banyak simpati dan apresiasi, menyiratkan masih ada pelita penerang dalam gulita perjalanan bangsa.
Tidak ada manusia yang sempurna. Namun, tidak ada pula manusia yang diciptakan untuk keburukan. Setiap pemulia memiliki masa lalu, dan setiap pendosa punya masa depan. Dengan segala kekurangan dan jejak nodanya, kedua tokoh itu berjuang menuliskan skenario kematian yang indah; berakhir husnul khatimah. Keduanya meninggal sebagai pelajaran bagi yang hidup, bahwa setiap orang bisa meninggal sebagai pahlawan. Yang diperlukan hanya niat baik, welas asih, sedikit pengorbanan, dan konsistensi.
Semuanya bermula dari diri sendiri. Dikatakan oleh Imam Ali kepada Malik al-Asytar, walinya di Mesir, “Barangsiapa diangkat atau mengangkat dirinya sebagai pemimpin, hendaklah ia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya dengan cara memperbaiki tingkah lakunya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lidahnya. Orang yang menjadi pendidik dirinya sendiri lebih patut dihormati daripada yang mengajari orang lain.” Mawas diri merupakan kewajiban pertama pemimpin. Lao Tze menyatakan, “Apa yang kuharap dari anakku, sudahkah kuberikan teladan baginya. Apa yang kuharap dari rakyatku, sudahkah kupenuhi harapan mereka.”
Bermula dari tobat, Ustaz Jefri mendayagunakan sedikit pengetahuan keagamaan yang dikuasainya untuk menebarkan kabar baik dan kasih sayang bagi yang lain. Pesan keagamaannya menyapa semua orang tanpa prasangka buruk; dengan tak kenal lelah blusukan mendatangi berbagai majelis taklim tanpa mempersoalkan tarif; dan menggalang solidaritas sesama dai sebagai simpul jaringan moral. Kehadirannya menjadi kritik bagi kemerosotan wibawa moral tokoh masyarakat sipil karena kehilangan kekuatan spontanitas pengayoman dan kesukarelaannya karena gerusan politik uang.
Bermula dari “kekalahan” dan keterpinggiran, Taufiq Kiemas (TK) berusaha menerima kekalahan dan penderitaan dengan menjadikan “musuh” sebagai mitra dan mengembangkan sikap positif pada yang beda. Pandangan hidupnya mengingatkan kita pada ungkapan James Allen, “Pemikiran mulia akan melahirkan pribadi mulia, pemikiran negatif akan melahirkan kemalangan.” Dengan mengembangkan prasangka baik, ia menjadikan dirinya sebagai jembatan komunikasi dan rekonsiliasi antarunsur kebangsaan; yang mampu mencairkan kebekuan dan melunakkan ekstremitas.
Meski pemikiran dan artikulasi politiknya terbatas, kekuatan perhatiannya cocok untuk mengeluarkan bangsa dari situasi limbung antara bayangan kelam masa lalu dan pesimisme masa depan. Gaya kepemimpinannya yang positive thinking dan merangkul semua kalangan menjadi kritik terhadap sikap kepemimpinan yang anarki (mengedepankan kepentingan pribadi), tradisionalisme (mendominasi dengan memarjinalkan yang lain), dan mengembangkan apatisme (demokrasi yang mengabaikan rakyat) menuju penciptaan pemimpin publik yang sadar. Dalam memperjuangkan politik harapan, TK menggunakan kekuasaan untuk memotivasi dan memberikan inspirasi kepada bawahan dan memberikan kesempatan kepada yang muda.
Kehadiran kedua tokoh tersebut memberikan tanda masih ada mutiara-mutiara pemimpin yang tersimpan di perut bumi bangsa ini, yang memberi kita secercah harapan akan masa depan bangsa. Tantangannya, bagaimana merangkai mutiara-mutiara positif bangsa ini menjadi rantai moral kolektif yang dapat membawa bangsa keluar dari kubangan krisis. Yang dikehendaki bukan sekadar kualitas moral individual, melainkan juga kemampuan politik untuk menginvestasikan potensi kebajikan perseorangan ini ke dalam mekanisme politik yang bisa memengaruhi tingkah laku masyarakat.
Untuk menjawab tantangan itu, Pancasila sebagai basis moral publik harus mengalami “radikalisasi” (pengakaran) dalam segala dimensinya: keyakinan (mitos), pengetahuan (logos), dan tindakan (etos). Pada dimensi mitos, radikalisasi Pancasila diarahkan untuk meneguhkan kembali Pancasila sebagai ideologi negara. Pada dimensi logos, radikalisasi Pancasila diarahkan untuk mengembangkan Pancasila dari ideologi menjadi ilmu.
Pada dimensi etos, radikalisasi Pancasila diarahkan untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan daya juang agar Pancasila mempunyai konsistensi dengan produk-produk perundang-undangan, koherensi antarsila, dan korespondensi dengan realitas sosial. Dalam kaitan ini, Pancasila yang semula hanya melayani kepentingan vertikal (negara) menjadi Pancasila yang melayani kepentingan horizontal, serta menjadikan Pancasila sebagai kritik kebijakan negara.
Dalam terang kesadaran itu, kematian Uje dan TK bukanlah pertanda akhir yang kelam, melainkan awal kehidupan yang penuh harapan, sejauh kita mampu meneruskan jejak langkahnya.