Tampilkan postingan dengan label KALA-UNJUK RASA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KALA-UNJUK RASA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juni 2016

Ramadhan, Serona Festival Jiwa


 
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kama agar kamu bertaqwa.” (Al-Baqarah: 183)
 
Alkisah, ketika saya memelihara beberapa ekor ayam kampung di belakang rumah, bertahun yang lalu, saya benar-benar larut dalam kepengurusan ternak ini. Sehingga, mengerti dan sekaligus mengalami, detail dari proses bagaimana sang induk dikawini, bertelur, mengerami dan menetasnya telur, lalu anak-anak ayam menyata. Selama mengerami, yang memangsa waktu kurang lebih 21 hari, ada prilakunya yang membuat saya amat takjub. Sang induk sepertinya menjalani puasa, setidaknya persentase makan dan minumnya berkurang dari hari ke hari. Dan, selama mengerami telur, enggan melakukan senggama.
 
Selama masih bertelur, sang induk masih biasa saja. Setelah mengeluarkan telurnya, pun lalu bergaul seperti biasanya. Prilaku mulai berubah, tatkala sang induk mulai mengerami telur-telur itu. Pekan pertama, setiap hari masih meninggalkan telur-telur itu. Setiba di pekan kedua, makin jarang meninggalkan telur-telurnya. Sesekali saja cari makan dan minum. Pada pekan terakhir, nyaris tak meninggalkan lagi telurnya. Konsentrasi maksimal dijalani demi menanti tetasnya telur. Dan, hingga tiga hari berikutnya, sang induk belum juga cari makan dan minum, masih setia menghangati anak-anaknya yang baru lahir.
 
Bertolak dari proses ayam yang kawin, bertelur, mengerami telurnya hingga menetasnya telur, lalu mengadanya anak-anak ayam, saya lalu membatin, sepertinya sang induk menjalani tapa laku, sejenis puasa, yang makin hari makin intens, demi kelahiran sang anak ayam, selaku makhluk baru, yang bakal menjalani siklus kehidupan yang ditetapkan padanya. Ini sejenis penanda, bahwa manakala akan ada kelahiran makhluk baru, selalu diawali oleh ritus-ritus yang mengorbankan kenyamanan jasmani, demi kepentingan ruhani.
 
Berpuasalah agar kamu bertakwa. Buah dari berpuasa adalah takwa. Derajat takwa, serupa dengan kualitas spiritual. Dan itu bersetuju dengan dimensi keruhanian. Jadi, sejatinya puasa adalah mengabaikan jasmani demi pencapaian ruhani. Dalam menjalaninya, semua yang berbau jasmani dibatasi pemenuhannya. Mulut, lidah, kelamin, mata, telinga, tangan, kaki dan berbagai pernak-pernik jasmani lainnya direm penggunaannya. Makan, minum, berbicara, melihat, mendengar, melangkah, menggapai, dan bersetubuh diatur sedemikian rupa, demi peningkatan ruhani.
 
Semua perintah yang ada kaitannya dengan puasa Ramadhan, selalu berdimensi keruhanian untuk memelihara jiwa. Perbanyak membaca al-Quran, shalat malam, berzakat-infak-sedekah, memberi buka puasa, dan lainnya, selalu berdimensi jasmani namun bermuara ruhani. Jasmani yang bersifat ragawi itu, benar-benar berfungsi selaku titian untuk meraih keagungan jiwan dan mencapai kemegahan ruhani. Pendeknya, jasmani yang ragawi, hanyalah alat-- bukan tujuan-- untuk meladeni tuannya yang berupa ruhani nan berjiwa suci.
 
Akan halnya realitas Ramadhan, yang didalamnya aktivitas puasa menjadi ikonnya, bagi sebagian besar umat, justru yang mengemuka adalah mempertontonkan laku jasmani yang maksimal. Berpuasa, sekadar menggeser jam makan dan minum. Tontonan di berbagai media, jauh dari tuntunan, tak lebih dari hiburan sambil menunggu berbuka. Sepanjang malam, jauh dari bersepi-sepi, melainkan kegaduhan yang menyeruak. Singkatnya, jauh lebih sibuk mengurus jasmaniah, tinimbang ruhaniahnya.
 
Padahal, sesarinya Ramadhan adalah festival bagi jiwa untuk terbang menggapai dimensi keruhanian, agar di akhirnya nanti, bilamana puasa berakhir dan idul fitri menyata, lahirlah manusia yang kembali pada fitrahnya, manusia suci seperti baru dilahirkan kembali.Namun, apa lacur, di pucuk Ramadhan justru puncak kepengurusan pada jasmani makin mendesak. Maka, Ramadhan selaku festival bagi jiwa, mewujud menjadi festival pemenuhan raga. Ironisnya, malah di puncak penantian kelahiran makhluk baru, manusia dengan jiwa baru, pada hari lebaran, yang baru hanyalah busana dan yang serumpun dengannya.
( Lembaran Kala, 12 Juni 2016)

Minggu, 05 Juni 2016

Sang Tamu


Adakah kerinduan yang melebihi kerinduan seorang penanti, bila sebelas bulan kepergiannya akan datang bertamu lagi?  Begitulah Ramadhan, salah satu bulan yang dinanti bagi perindu. Jika tidak ada yang merintanginya – pastilah tak ada yang menghalanginya – pekan kedua bulan Juni 2016, sang Bulan, yang dinisbahkan sebagai bulannya umat Muhammad SAW, hadir menyata. Bukan saja yang bernama Ramadhan atau Ramadhani yang beriang bahagia, tapi sekaum penunggu akan mempersiapkan diri menyambutnya.

Aneka cara para perindu menyambutnya. Ada yang pergi rekreasi pada hari Ahad terakhir, karena menurutnya selama bulan Ramadhan, tak elok bersukaria. Pun, ada jua yang mulai menghitung anggaran pendapatan dan belanja selama Ramadhan, hingga prediksi lebarannya. Penjual songkok aneka model mulai bertebaran di seantero kota. Pengurus masjid membenahi segala macam asesori pendukung kegiatan bulan suci, termasuk menetapkan tarif buat penceramah tarwih. Segenap penceramah mulai memilih dan memilah, masjid mana yang akan disahuti undangannya. Pengelolah panti asuhan segera menggandakan proposal permintaan zakat, infak dan sedekah.

Namun, yang paling siap menyambut, bahkan sepekan sebelum datang sang tamu, prakondisi penyambutan sudah ditabuh gendrangnya. Tengoklah pasar-pasar tradisional, sampai mall-mall, sudah berlomba membentangkan iklan, akan janji kenyamanan dan harga diskon. Tengoklah saluran TV, lebih siap lagi dengan seabrek program yang ditawarkan, 24 jam, mulai dari buka puasa sampai buka puasa lagi. Dan, tak boleh disepelekan, para pengusaha kuliner dadakan, jajanan buka puasa, pun jauh lebih sigap memanfaatkan rasa haus dan lapar kaum yang berpuasa.

Selaku perindu, saya pun tak ketinggalan melakukan penyambutan. Dua atau tiga hari sebelum ketetapan Ramadhan diumumkan, saya akan melakukan ziarah kubur, ke makam kakek-nenek, abba-amma dan paman-tante, serta kerabat lainnya. Pun, tak lupa bersilaturrahim ke sanak keluarga, memohon maaf, saling mendoakan agar dalam menjalankan ibadah puasa, berberkah adanya. Dan, tak ketinggalan, suatu ritus yang sudah bertahun-tahun saya jalani, melibatkan keluarga kecil saya, berupa membeli seekor ayam kampung, disembelih sehari sebelum puasa, tepatnya, disantap pada saat sahur pertama secara berjamaah.

Sekali waktu, entah Ramadhan tahun berapa, saya sudah lupa. Ketika itu, salah seorang cilik di rumah bertanya pada saya, “mengapa mesti potong ayam kampung setiap menyambut bulan Ramadhan?” Pertanyaan semacam ini, cukup membuat kesulitan saya menjawab. Bukan karena saya tidak punya jawaban, melainkan bagaimana menjelaskan kepada seorang cilik -- yang sebenarnya amat suka pada ayam-- tentang ritus ini. Jawaban pun saya sederhanakan, bahwasanya Ramadhan itu selaku tamu agung yang mesti disambut penuh kebesaran jiwa. Dan, sebagai penghargaan pada sang tamu, selayaknyalah menyajikan menu terbaik, meski makanan itu, kita semua yang menyantapnya.

Prihal asal muasal ritus potong ayam kampung, sahur berjamaah dengan menu ayam ini adalah warisan dari keluarga pihak saya. Abba ( Ayah) dan Amma (Ibu) saya berlaku serupa tatkala  bulan suci ini tiba. Namanya kebiasaan, lalu menjadi tradisi keluarga, rasanya, agak ganjil bila tak melakukannya. Jadi, ini tidak ada kaitannya dengan perintah yang punya dalil keagamaan. Semata-mata menggembirakan diri, karena Ramadhan mengada lagi dan masih bisa bersua, menjalani berbagai suguhan festival ibadah yang dikandungnya. Sekaligus, sebagai salah satu cara mengenang kembali akan kebersamaan, tatkala orang tua dan sanak saudara masih berkumpul dalam satu keluarga lengkap.

Hari pertama Ramadhan selalu saja mengundang tanda tanya kapan kepastiannya, mengandung misteri penetapannya. Ini soal metode penetapannya yang masih menghargai perbedaan metode penetapan, sehingga perbedaan memulainya, memungkinkan ada perbedaan di kalangan umat. Yang pasti, Ramadhan akan datang sebagai tamu agung di tahun 2016, pada pekan kedua bulan Juni. Bagi cilik saya di rumah, tak soal kapan dimulainya, mau sama atau berbeda, toh selisihnya hanya sehari. Nanti  menjadi soal besar, bilamana tak ada menu ayam kampung di sahur pertama. Bisa-bisa tamunya ngambek, bersama si cilik, dengan lakon belum ingin berpuasa, sebab sang tamu enggan datang, karena tiada ayam di meja makan
(050616)

Minggu, 29 Mei 2016

Membaca Natisha Bersama Pinkola dan Campbell




Adalah Khrisna Pabichara, yang menganggit kembali sebuah novel  berjudul Natisha. Menurutnya, novel ini serupa dengan anak ruhaninya. Setelah sebelumnya, sudah mengarang novel, Sepatu Dahlan (2012) dan Surat Dahlan (2013). Novel ini, dirahimi selama 11 tahun, dengan mengalami dua kali “keguguran”, akibat dari disket yang basah dan laptop digondol maling. Proses akhir penulisan, setelah siuman kembali, hanya memakan waktu 2 bulan. Dan, novel Natisha ini, telah diakikah pada acara Makassar International Writers Festival (MIWF), 18 Mei 2016 bertempat di Fort Rotterdam Makassar.

Pascaakikah, Natisha diarak  ke berbagai daerah, khususnya di bagian selatan Sulawesi Selatan, Bantaeng (23 Mei), Takalar (24 Mei), Bulukumba (25 Mei) dan Jeneponto (26 Mei). Dipilihnya empat daerah ini, selain menjadi satelit program MIWF, juga merupakan basis dari akar kisah Natisha. Sebab, Natisha memang bersetting Turatea, daerah yang berbahasa Makassar, khususnya Jeneponto dan Bantaeng. Dan, ketika Natisha tiba di Bantaeng, saya didapuk sebagai pembincangnya, bersama Khrisna Pabichara dan representasi dari penerbit.

Membincang Natisha, saya ingin meminjam jalan pikiran dari  Clarissa Pinkola Estes dan  Joseph Campbell. Sesarinya, Pinkola adalah seorang  psikolog, yang memberi pengantar akan karya dari Campbell, The Hero with a Thousend Face, Pahlawan dengan Seribu Wajah . Pada buku Alwy Rachman, Ruang Sadar Tak Berpagar,  dengan sangat apik menukikkan buah pikir kedua scholar ini. Ditabalkannya, bahwa kisah tak pernah mati, ibarat sungai yang terus mengalir, memberi asupan pada sang jiwa. Setidaknya, demikian pendakuan Pinkola.

Menurut Alwy, kisah serupa dengan “tulang” yang memungkinkan “otot spritualitas” manusia dapat bergerak. Dengan  “kisah sebagai tulang dan “otot spiritualitas”, manusia mampu menegakkan kepedulian  dan keberanian untuk menghadirkan dirinya secara utuh. Bersama “tulang” dan “otot”, manusia bergerak dari satu episode masa lalu ke episode kehidupan mitosnya di masa depan.

Dari sudut pandang inilah, saya membidik Natisha. Sejatinya, Natisha adalah bentangan kisah, yang ditorehkan oleh Khrisna Pabichara. Penggalan-penggalan kisah, yang penyajiannya maju mundur, berdasarkan waktu yang dirujukkan, menyebabkan kisah ini menjadi hidup dan menghidupkan. Kisah-kisah yang ditumpangkan pada jiwa, menyebabkan kisah ini akan mengabadi, paling tidak makin panjang usianya, walau kisah ini sejenis daur ulang dari masa silam.

Akan halnya dengan Campbell, seorang antroplog, yang meneliti ribuan kisah, mitos-mitos kepahlawanan, dari era ke era, simpai pada simpulan bahwa seorang pahlawan adalah sosok pejalan. Didakukannya bahwa perjalanan seorang pahlawan melalu enam tahap. Tahapan itu dimulai dengan Innocens, setangga posisi sebagai orang biasa saja. Berikutnya, memasuki kondisi The Call, keterpanggilan akan penghadapan pada soal kehidupan, yang tidak bisa ditolak. Lalu, Initiation, suatu suasana yang diliputi banyak cobaan berat. Pun, setelahnya memasuki alam Allies, yakni adanya kawan-kawan setia yang menemani dalam menjalani cobaan, untuk  melakukan Breaktrough, pencapaian terobosan, guna mewujudkan Celebration, keberhasilan.

Membaca Natisha, sebenarnya membaca kisah kepahlawanan. Sosok pahlawan yang dimaksud dalam novel ini, tiada lain adalah Daeng Tutu. Jalan cerita Daeng Tutu menggambarkan, bagaimana ia semula hanya seorang yang biasa saja, lalu terlibat dalam permasalahan. Dari masalah inilah, kemudian Daeng Tutu terpanggil untuk ikut menyelesaikan soal-soal yang dihadapi. Bersama orang-orang terdekatnya, melakukan inisiasi-inisiasi sebagai jalan keluar. Dan, pada akhirnya sejumput kemenangan, yang patut didapukkan sebagai perayaan akan keberhasilan. Walakin di ujung kisah, masih menyisakan agenda soal yang memungkinkan daur ulang kepahlawanan pada kisah beriktnya.

Novel Natisha yang bersetting wilayah Turatea ini, memberikan begitu banyak deskripsi tentang kearifan lokal, local wisdom. Boleh pula disebut local genus, pengetahuan lokal, yang sesungguhnya secara substansial amat mondial kandungan pesan-pesan kearifannya. Kalau saja saya harus berpendapat, maka inilah cara Khrisna Pabichara, mewariskan beberapa mitos Turatea, melalui kisah yang dikontemporerkan pada situasi sosial politik era tertentu di negeri ini. Dan, Natisha telah mewujud untuk memberikan asupan jiwa, bagi generasi sekarang, agar tetap menengok dan mewarisi kisah kepahlawanan. Tentu, adaptasi kekiwarian selalu menjadi titiannya. (29/05/16)

Senin, 23 Mei 2016

Jalan Kerelawanan

 
Ada dua perhelatan yang saya anggap penting di bulan Mei 2016. Pertama, tanggal 18-21, hajatan Makassar Interbational Writers Festival (MIWF) digelar untuk keenam kalinya di kota mukim saya, Makassar. Para penulis berdatangan, baik dari dalam negeri-- penulis nasional dan lokal—maupun manca negara. Kedua, tanggal 25, merupakan Hari Inspirasi, yang didedahkan oleh Kelas Inspirasi Bantaeng (KI-B), yang menabalkan 10 sekolah untuk disambangi dalam berbagi inspirasi dari ratusan kaum profesional, berlangsung di kampung kelahiran saya, Butta Toa-bantaeng. Dua even tahunan ini, selalu menyita perhatian saya karena amat terikat secara emosional. Bila di MIWF, ikatan itu berwujud selaku pegiat literasi, maka KI-B berupa sebagai koordinatar relawan.
 
Sekali waktu, saya sudah lupa detail kejadiannya, yang pasti, tatkala saya menonton dialog di salah satu TV swasta, tentang representasi relawan Teman Ahok dengan salah seorang politisi senior. Dalam dialog itu, si politisi senior tak percaya bahwa ada relawan sejenis Teman Ahok. Menurutnya, yang mengaku relawan ini, pastilah dibayar. “ Mana ada orang semacam relawan?”, sergahnya. Meski dengan susah payah sang anak muda relawan itu menyanggah, tapi tetap saja si politikus tidak percaya. Saya yang menyimak perdebatan itu, hanya menggumam di kedalaman batin, memang susah si politisi ini memahami sepak terjang anak muda kekinian, sama susahnya dengan mencat es batu.
 
Dunia kerelawanan adalah dunia yang trend di masa kiwari ini. Dan, uniknya lagi, lebih banyak dimotori oleh kaum muda, yang sering dinubuatkan sebagai gelombang generasi Y-Z. Apa yang terjadi, perseteruan antara relawan Teman Ahok dan si politisi, sesungguhnya adalah wujud benturan antara generasi lama, generasi X dengan genarasi berikutnya, Y-Z. Generasi X gagal paham terhadap hadirnya generasi Y-Z. Padahal, baik relawan teman Ahok maupun para penggerak di MWIF dan KI-B adalah para relawan yang didominasi oleh kawula muda generasi Y-Z. Eksisnya dua perhelatan di awal tulisan ini, karena digawangi oleh sekaum anak muda.
 
Sejatinya, kerelawanan adalah sari diri bangsa ini. Apa yang sering kita sebut sebagai gotong royong adalah karakter terkuat suku-suku di Nusantara. Tidaklah mengherankan kemudian, ketika hampir semua masalah-masalah yang dihadapi oleh bangsa ini bisa selesai karena semanagat gotong royong. Perjuangan untuk kemerdekaan dapat terwujud karena tidak sedikit sukarelawan mengambil bagian di dalamnya. Bergulirnya reformasi tahun 1998, sebab di sana banyak sukarelawan yang bahu membahu memaksa penguasa untuk berhenti berkuasa. Atau, ketika terjadi bencana tsunami di Aceh. Begitu juga, munculnya solidaritas untuk memperkuat KPK dari ancaman pelemahan dan saat hadirnya Gerakan Kawal Pemilu 2014, yang melibatkan 700 sukarelawan.
 
Sayangnya, nilai gotong royong ini makin hari makin susut keberadaan penganutnya. Maka ketika muncul komunitas-komunitas yang melembagakan diri, merepresentasikan berbagai macam bentuk sebagai respon atas permasalahan sosial yang dihadapi bangsa ini patut disyukuri. Model-model kerelawanan dalam wadah komunitas-komunitas adalah gotong royong yang di-entertain-kan. Menariknya, gerakan-gerakan kerelawanan yang melembagakan diri secara lentur ini, didominasi oleh partisipan dari kaum muda, yang sering dituduh sebagai generasi yang abai terhadap soal-soal di luar dirinya dan lebih mementingkan dirinya sendiri.
 
Rasanya, amat penting saya ajukan hasil riset dari harian Kompas, Kamis 19 Mei 2016, tentang media dan gerakan kerelawanan. Disebutkannya bahwa kemunculan gerakan kerelawanan tidak terlepas dari media yang menjadi medium komunikasi ataupun wadah gerakan tersebut. Media ini berubah dari masa ke masa, dipengaruhi perkembangan teknologi. Sifat dan jenis media ini kemudian memengaruhi skala, wujud dan intensitas gerakan.
 
Jadi, karena era kehidupan sosial sekarang ini berbasis internet, maka beberapa hal menjadi ciri dari gerakan kerelawanan saat ini, diantaranya; Informasi, diseminasi pemikiran, dan pengorganisasian gerakan kerap menggunakan media online. Berlangsung cepat dan banyak. Daya jangkaunya luas. Ikatan kolektif cenderung longgar. Namun, bisa juga berubah menjadi gerakan “offline” kuat.
 
Karenanya, tidaklah mengherankan kemudian jikalau partisipan dari gerakan ini adalah orang-orang yang akrab dengan dunia internet. Tentulah kaum muda menjadi lumbung yang paling mungkin merespon akan gejala-gejala gerakan. Dan pastinya, 25 Mei 2016, dimana KI-B akan melaksanakan Hari Inspirasi di 10 sekolah pada 8 Kecamatan di Bantaeng, tidak terlepas dari para sukarelawan, yang kali ini telah memasuki tahun ketiga. Mereka ikut turun tangan, berkontribusi untuk masalah yang dihadapi bangsa ini, khususnya di bidang pendidikan. Inilah jalan kerelawanan, terwujud karena suka dan rela, mewujud pada diri sukarelawan.
( Lembaran Kala, Ahad, 22 Mei 2016)

Senin, 16 Mei 2016

Leicester, Attila dan Sang Whise




Pertandingan ke-38  Liga Primer Inggris di gelar pada tanggal 15 Mei 2016, menandai berakhirnya musim kompetisi 2015-2016. Sebelum pertandangan ini berlangsung, telah ada juaranya, Leicester. Sejak pertandingan ke-36, setelah Chelsea VS Tottenham Hostpur  meraih hasil imbang, Leciester pun dinyatakan sebagai juara. Publik sepak bola terhenyak, betapa tidak, klub ini statusnya sebagai klub promosi kemudian jadi juara. Leicester adalah klub yang tidak kaya dan tak punya pemain bintang, bakal berlaga di Liga Champion Eropa, yang lebih banyak diikuti oleh klub-klub kaya dengan para bintangnya. Ini sebuah keajaiban, semakin menandaskan bahwa bola itu bundar.

Pesta juara didedahkan sedemikian rupa, pasalnya Leicester harus menunggu waktu selama 132 tahun, sejak klub ini berdiri untuk menjadi juara. Klub yang dimiliki oleh seorang yang berkebangsaan Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha, yang diarsiteki oleh Claudio Rineri dengan sejumlah pemain perkasa, sejatinya adalah sekaum pahlawan. Rineri dan para pemainnya, tiba-tiba membalik asumsi-asumsi paten, bahwa untuk menjadi juara, klub harus punya banyak duit untuk membeli pemain bintang. Justeru di sinilah salah satu kekuatan Liecester, sebab mereka yang bertarung bukanlah para bintang, yang terkadang lebih mengedepankan sinarnya masing-masing. Mereka menjadi sekawan tim, yang bermain tanpa beban. Benar-benar mereka sebagai pahlawan bagi klubnya, yang akan dikenang hingga masa yang panjang ke depan.
***
Bilamasa jarum jam sejarah saya putar ke waktu silam, tepatnya antara tahun 434-454, kita akan tiba pada satu peristiwa yang hingga kini masih dikenang, sebagai salah satu kejadian penting di daratan Eropa. Menurut Jhon Man, sejarawan Inggris, dalam bukunya, Attila: The Barbarian King Who Challenged Rome, menyatakan bahwa dua puluh tahun yang penting awal abad ke-5, nasib kekaisaran Romawi dan masa depan negeri-negeri Eropa bergantung pada sepak terjang seorang lelaki barbar. Dialah Attila, raja bangsa Hun. Kekuasaannya membentang dari sungai Rhine hingga laut hitam, dari Baltik hingga Balkan. Ditopang kekuatan barbar yang sangat hebat, kekaisarannya segera menandingi Romawi.

Lebih jauh Jhon Man menukikkan goresannya, bahwa sejumlah serangan besar melawan Romawi melambungkan reputasi Attila sebagai sosok penghancur. Namanya menjadi pameo bagi barbarisme. Namun, yang melekat padanya bukanlah barbarisme belaka. Dia menggenggam kekuasaan juga berkat karakternya yang mengagumkan serta kecerdasannya memikat jutaan pengikut setianya. Bangsa Hun menganggapnya setengah dewa, dan suku Gothic serta kelompok nomadik lainnya memujanya.
***
Leicester di masa kiwari dalam dunia sepak bola merupakan ancaman bagi klub-klub mapan di Liga Champion Eropa. Serona di waktu silam, Attila merupakan momok menakutkan bagi para penguasa di daratan Eropa. Jadi, saya berasumsi, seolah ada kesamaan meski dalam bidang dan waktu kehidupan yang berbeda. Namun point penting yang ingin saya utarakan adalah sejumput tanya, apa faktor yang cukup signifikan untuk diajukan sebagai penyebab keberhasilan itu? Menjadinya para pemain Leicester sebagai pahlawan bagi klubnya dan kepahlawan Attila bagi bangsa Hun? Banyak asumsi analitik yang bisa dikedepankan untuk meretas tanya itu.

Pada konteks inilah saya ingin ajukan sejumput opini dari seorang Joseph Campbell, sesosok sarjana ahli dalam mitologi, bahwa hadirnya sosok pahlawan (hero), mesti nyata pula keberadaan seorang pembimbing kebajikan (whise) di sampingnya, selaku penasehat spiritual bagi sang pahlawan. Faktor keberadaan sang whise ini, amat menentukan sepak terjang sang hero. Bilasaja para hero dari Leicester itu hadir atawa Attila selaku hero bagi bangsa Hun, lalu siapa sang whise?

Pemilik Leicester yang dari Thailand adalah sosok yang dekat dengan para Biksu. Dan, sang Biksu inilah yang terlibat secara mistis dalm setiap perlagaan klub. Merujuk pada Footyjokes, biksu tersebut mencipratkan air ke bagian-bagian tertentu di stadion serta membacakan mantra pada para pemain. Hal itu dimaksudkan agar pemain tampil maksimal di dalam lapangan. Demikian pula Attila, dipandu oleh kekuatan magic dalam sepak terjangnya. Dalam Wikipedia dituliskan,  Attila adalah orang yang percaya pada takhayul. Ia percaya bahwa semua keberhasilannya tidak luput dari kedekatannya dengan ilmu sihir. Oleh karena itu sepanjang hidupnya ia selalu dikelilingi oleh ahli-ahli sihir.  Biksu pada Leicester dan Penyihir bagi Attila, sesungguhnya adalah sang Whise.






Minggu, 08 Mei 2016

Mi’raj dan Pembebasan




Bagi penyuka hari libur, angka merah – kadang juga hijau, tapi lebih populer dengan istilah “tanggal merah”-- di kalender adalah waktu yang paling dinanti. Dan, di pekan pertama bulan Mei 2016, benar-benarlah berkah bagi banyak orang. Soalnya, pada tanggal 5-6, diganjar sebagai hari libur nasional. Latar penetapan libur itu, dutujukan sebagai peringatan akan dua peristiwa besar, Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Kenaikan Isa al-Masih. 

Dua peristiwa bersejarah yang diperingati itu, merupakan momentum kilas balik yang menandai terjadinya perubahan peta peradaban umat manusia di kemudian hari. Dua hari libur ini, bertepatan dengan  hari Kamis-Jumat, bahkan sebagian orang libur juga di hari Sabtu, ditambah lagi hari Ahad, benar-benarlah libur panjang, sepenggal waktu yang disediakan untuk membebaskan diri dari rutinitas yang memenjara. Ini sebentuk keberkahan hidup.

Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa Isra’ perjalanan Nabi dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjidil Aqsa (Palestina), lalu  Mi’raj , naik menghadap memenuhi panggilan Allah SWT, adalah kuasa ilahi yang memperjalankan hambanya, Nabi Muhammad SAW, dengan segala perspektif dan dimensi yang bisa menjelaskannya. Latar peristiwa ini, berpijak pada kejadian demi kejadian yang memilukan bagi diri Nabi, sehingga Allah SWT memperjalankannya sebagai bonus pembebasan dari kesedihan. Betapa tidak, sebelum Nabi dimi’rajkan, ada peristiwa-peristiwa, yang cukup menyedihkan; seruan dakwah yang menemui penolakan, meninggalnya Sang Paman, Abu Thalib, yang mengasuh dan melindunginya, dan Sang Isteri tercinta, Khadijah binti Khuwailid, yang menyokong habis-habisan perjuangan Nabi.

Akan halnya Nabi Isa al-Masih, Yesus Kristus, bila menelusuri sajian kesejarahan yang didedahkan oleh umat Kristiani, bahwa proses Kenaikan Isa al-Masih, didahului oleh momen tragis. Penyaliban Yesus hingga wafat, lalu empat hari kemudian bangkit dari kuburnya (Paskah), selanjutnya menemui murid-muridnya, yang kemudiannya mengalami kenaikan ke sisi Tuhan. Penyaliban Yesus Kristus, yang menyebabkan kematiannya, adalah sebentuk tragedi kemanusiaan yang amat malang, penuh pengkhianatan, intrik dan konspirasi. Penyaliban (wafat), bangkit dari kubur (Paskah) dan Kenaikan (Mi’raj) adalah tonggak-tonggak kesejarahan dalam dunia Kristiani yang sangat monumental, sebab menjadi penanda utama dari kilas balik sejarah kekeristenan di masa-masa berikutnya.

Baik Nabi Muhammad SAW maupun Isa al-Masih, sama-sama mengalami Mi’raj. Dan, sebelum peristiwa mi’rajnya, ada prakondisi pendahuluan, kepiluan dan tragedi yang amat tragis. Tuhan, yang amat rahim pada kedua Nabinya, memberikan penghiburan, berupa pembebasan dari situasi yang paling rumit, yang sementara dialami dan menerungku jiwa. Kalaupun ada yang membedakan dari keduanya, nanti setelah mi’raj itu, yakni setelah Nabi Muhammad SAW menghadap dan dibekali seperangkat tanda hamba, penghambaan, serupa ritus ketundukan, shalat lima waktu, lalu kembali mensosialisasikannya untuk sarana pembebesan bagi umatnya. Sementara Isa al-Masih, masih saja di sisi-Nya, dan di akhir zaman, akan diturunkan kembali untuk menyerukan pembebasan dari berbagai terungku duniawi menuju dekapan selimut Ilahi.

Jadi, dari konteks Mi’raj ini, bolehlah saya tafsirkan bahwa ada dua jenis pembebasan. Pertama, adalah pembebasan yang dilakukan oleh Allah SWT atas dua sosok Nabi, agar terbebas dari tawanan kegundahan duniawi. Kepiluan, kesedihan dan kematian adalah penjara-penjara duniawi. Kedua, janji pembebasan dari kedua Nabiullah itu, baik yang sudah terwujud semisal yang telah dilakonkan oleh Nabi Muhammad SAW, maupun apa yang bakal dilakukan Nabi Isa al-Masih kelak di pucuk zaman.

Lalu apa yang mesti dipetik, sebagai hikmah dari peristiwa mi’rajnya kedua kekasih Allah itu? Setidaknya, ada segenggam pahaman bahwa, tragedi: kesedihan, kepiluan, keterpurukan, penderitaan dan berbagai rumpun cobaan lainnya, adalah piranti pemantik untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Singkatnya, manakala cobaan-cobaan telah datang pada diri seseorang, apapun bentuknya, apatah lagi bila sudah mencapai puncak-puncak penderitaan, sesungguhnya Allah SWT telah mengirimkan surat undangan-Nya agar seorang hamba datang menghadiri pertemuan, guna menerima apa yang bakal dititahkan, sebagai bekal melata di atas jagat ini. Makin tragis cobaan, berarti makin elitis bentuk undangan itu.