Tampilkan postingan dengan label SURAT JIWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SURAT JIWA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Februari 2013

46 

Wejangan Miladku, surat buat diri, 20 Februari 1967-2013

Empat Puluh Enam tahun sudah terlewati, makin dekat pada keabadian.
Ke depan baru itu yang pasti, di tengah ketidakpastian hidup

Karena raga makin lemah, maka kebutuhannya pun makin berkurang. Tubuh mulai memilih butuhnya.

Justeru jiwalah yang makin bergolak menuntut butuhnya yang menggila. Kelaparan jiwa mengancam diri, jika tidak disahuti.

Empat Puluh Enam tahun perjalanan, telah menjadi kepastian, sebab sudah terjalani, itulah kemestian hidup.

Tak perlu ada ratap, sebab itu miliknya masa silam. Yang paling mungkin, hanyalah mengambil yang perlu untuk perjalanan berikutnya.

Empat Puluh Enam tahun perjalanan, menjadi pupuk kehidupan bagi diri, jikalau ada hasrat baik untuk menerimanya, berkompromi dengan masa lewat.

Baik-buruk, di mata seorang pejalan, sama saja adanya, sebagai pemandu jalan agar tidak tersesat.

Diri hanya perlu dibujuk, agar makin mengerti bahwa di sisa usia adalah mencari kepastian hidup, meski yang dijumpai barulah penandanya. Alamat pastinya belum terasa, apalagi teraba.

Yang pasti, hanyalah janji pastinya keabadian pada masa dan alam berikutnya.

Empat Puluh Enam tahun sudah tunai dijalani, cukup memadai untuk menapaki jalan keruhanian, yang telah didedahkan oleh-Nya.

Senin, 14 Januari 2013

PER-EMPU-AN



Buat Mauliah Mulkin, di hari ulangtahunnya. 14 Januari 2014.

Hanya ujar-ujar yang kupersembahkan pada miladmu kali ini. Sekadar bertutur untuk menegaskan hadirmu, di masamu pada kedinian dan kedisinian.

Di usiamu yang ke-41, mengalamatkan perjalanan sudah lebih separuh. Berarti, semakin berkuranglah jatah hidup, dan semakin dekat dengan keabadian.

Saatnyalah berburu dengan masa, pada sisa jatah usia yang masih ada untuk mengempu pada marcapada, alam dunia.

Mengempu bermakna menjadilah Empu. Sosok Empu, keberadaannya ada pada personanya, yang memesona lalu semesta terpesona. Sehingga ke-Empu-anmu menjadi nyata. Sebab, dikau telah menghormati, memuliakan, mengasuh dan membimbing di kisaran sekitar.

Bagiku, sebagai yang terpesona akan ke-Empu-anmu, sungguh-sungguh telah menjadi per-Empu-anku.

Per-Empu-an, menurutku adalah tempat kembali kala semesta mengusik pikir dan menggundah hati. Dan itu dikau telah nyatakan, lewat laku, sikap dan tindakan.

Meski aku bukan seorang lelaki yang hebat, terkenal dan paripurna, namun kutetap yakin bahwa di setiap lelaki yang berguna bagi kehidupan , ada sosok perempuan yang menjadi per-Empu-annya.

Pada keberhasilan anak-anak yang tumbuh menjadi manusia berguna, ada sosok ibu yang menjadi per-Empu-annya.

Rumahtangga yang di dalamnya beragamam karakter beredar, jika mau menjadi baiti jannati, tempat memancarnya aura kebahagiaan, hanya bisa mewujud manakala ada perempuan yang meleburkan segenap asa menjadi rasa, karena padanya ada sentuhan Empu di tungku per-Empu-an.

Jumat, 04 Januari 2013

KOMPLEN


Buat karibku di Komunitas Pakampong Tulen (KOMPLEN) Bantaeng.
Secarik surat untukmu, menjelang usiamu yang ketujuh, 27 Desermber 2012.

Di usiamu yang ketujuh, aku sangat memahami, mengerti dan mengetahui, bahwa kalian tidaklah memiliki berlaksa biji batumerah, bergunung sak semen, dan berpulau pasir, buat membangun gedung-gedung, sebagai citra kemajuan raga di negeri ini.


Kalian hanya p
unya gendang, seruling, jimbe, gitar, pui-pui, biola dan kata-kata, untuk membangun jiwa negeri ini.

Dari persetubuhan alat-alat dan kata-kata kalianlah, memuncratkan harmoni bunyi, tembang-tembang puitis yang haromonis, mantra-mantra monolog yang menohok gerombolan pencoleng negeri.

Bunyi dan kata, mampu membunuh kehidupan jiwa, namun sekaligus bisa membangkitkan gairah jiwa kehidupan.

Maka semburkanlah bunyi yang indah dan tutur kata yang santun, agar jiwa kehidupan menyala dan kehidupan jiwa menghiasi negeri ini. Sebab, negeri ini sudah lelah dan tertatih-tatih dalam lesunya hidup berkebudayaan.

Negeri yang sudah lesu kehidupan budayanya, mengalamatkan sakit jiwa yang kronis. Hanya kematian masyarakat yang pasti, di langkah berikutnya.

Kamis, 03 Januari 2013

WARISAN





Aku tidak mengenal engkau secara mendalam, tentang seluk-belukmu. Sependek ingatanku, barulah sekali kita bertemu, sewaktu engkau menikahkan putramu.

Bahkan, namamu pun baru aku tau, ketika putramu mengirim pesan singkat padaku, bahwa engkau telah melakukan perjalanan menuju pada keabadian, Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Yang baru aku lihat selepas dari magribku di mesjid belakang rumah.

Sesungguhnya, aku ingin melihat jazadmu terakhir kali, tetapi jarakku yang cukup jauh, dan waktu yang begitu singkat untuk pemakamanmu, yang tidak sejodoh.

Aku hanya ikut mengabarkan berita duka, tentang wafatmu, sembari memohon kepada khalayak untuk memanjatkan doa dan bacaan fatiha untukmu.

Meski aku tidak mengenalmu lebih jauh, lebih dalam, akan sosokmu, tetapi putramu yang kau tinggalkan telah cukup bagiku untuk mengenalmu.

Sebab, bagiku itulah penanda yang paling jelas dari warisanmu. Aku banyak belajar dari putramu banyak hal tentang kehidupan.

Putramu seperti martabak, semakin dibanting semakin melebar. Putramu ibarat paku, semakin dipukul semakin menancap. Kesederhanaan dan ketabahan itulah hiasan hidupnya.

Putramu, ahli warismu, kini senantiasa bersamaku dalam pengabdian, sebagai seorang altruis, yang amat bersahaja, tawaddhu, bisa mengendalikan marahnya, walau kadang kelelahan, dalam menempuh perjalanan untuk sebuah cita bersama.

Dan, engkau kawanku, sebagai putranya, aku hanya bisa mengatakan kepadamu, bahwa di depan kita, yang pasti barulah keabadian. Marilah kita melepasnya, karena ia telah memilih mendahului kita, menyongsong kepastian itu, keabadian.

TIDAK




Masih segar dalam ingatan, kami belum pikun. Setelah kau robohkan raga kami, yang menjadi penanda bingkai jiwa.

Kami sebenarnya menjerit, hati kami sumpek-marah, pikiran kami jadi liar berantakan. Tapi kami maafkan untuk tujuan yang lebih besar, bahkan kami pun sudah menyatakan bahwa kami adalah daki bagi engkau yang mengutamakan penertiban untuk keindahan, agar ragamu kelihatan memesona.

Karena, raga kami yang dekil itu tidak lebih dari daki yang melengket pada ragamu, ketika kau bersihkan dengan cara yang amat primitif, dengan merobohkan, kami pun masih terima, dengan cara berdamai dengan diri agar kelihatan lebih beradab.

Kini kau datang kembali, meminta dengan penuh bujuk rayu, agar raga itu kami bangun kembali. Tapi kunyatakan tidak. Karena engkau hanya butuh raga kami untuk melengkapi ragamu yang ingin kau pertontonkan, agar memesona para penilai-juri  untuk sebuah kompetisi.

Sekali lagi kami nyatakan tidak, kami hadir bukan untuk kompetisi, kami hadir untuk membangun jiwa. Raga kami hanya untuk membingkai jiwa kami. Biarlah kami bicara atas nama diri kami sendiri, sebagai komunitas merdeka, termasuk merdeka untuk menyatakan tidak atas bujuk rayumu itu.

Kami hanya berharap pada engkau yang punya kuasa, belajarlah pada keledai yang tidak mau jatuh dua kali pada lobang yang sama. Karena kalau engkau terjatuh pada lobang yang sama, itu berarti engkau tidak lebih baik dari keledai.

RAGAM

Kutorehkan suratku ini, buat Nabila Az-Zahra dan generasinya.


Duhai anak-anak negeri yang berseragam putuh abu-abu, mengapa masih saja enggan meminum anggur kehidupan yang kutawarkan, walau hanya secawan. Ataukah madu pencerahan, walau hanya sesendok. Begitupun juga api kreatifitas, walau hanya sebagai pemantik.

Memang amat susah bagimu memilih, padahal ada sekian banyak pilihan. Engkau lebih suka pada yang serba seragam, seperti seragam yang engkau kenakan, putih abu-abu.

Padahal seragammu kini, hanyalah akumulasi dari seragam-seragam sebelumnya. Ketika engkau di Sekolah Dasar, engkau diseragamkan dengan putih merah. Ketika engkau di Sekolah Menengah, pun masih diseragamkan dengan putih biru.

Makanan, minuman dan tempat tujuanmu pun sudah seragam. Makanan pavoritmu, pizza. Minuman kesukaanmu, coca cola. Tempat pelesiranmu, mall.

Wajarlah kalau pikiranmu pun serba seragam. Engkau amat sulit menerima yang beragam. Kuingatkan kembali, bahwa hidup ini pijakannya adalah beragam dalam keragaman. Yang demikian itu adalah takdir kehidupan. Bukankah kita ditakdirkan untuk beragam, dan itu firman Yang Maha Penakdir.

Terakhir, masih saja ingin kutawarkan padamu, dan kunyatakan padamu, bahwa pelangi masih lebih indah dari warna seragammu. Meski engkau tumpuk mulai dari Sekolah Dasar, Menengah hingga Atas. Sebab, hanya selalu dua warna yang mengiringi pertumbuhanmu.

Orang-orang besar jiwanya, para utusan yang suci, aktor-aktor perubahan, tidak tumbuh dalam didikan dua warna, tetapi dalam banyak warna. Karena dengan mengenal banyak warna, mereka bisa membaca sekaligus menaklukkan warna-warni kehidupan. Dan yang lebih penting untuk engkau ketahui, mereka tidak pernah memakai seragam, apalagi berseragam dalam pikiran dan tindakan.

PANAHKU

Secarik larik untuk Nurul Aqilah Muslihah


Bagaimana mungkin aku memahamkan cakrawala kepadamu, jikalau sejak lahir, engkau telah bersatu dengannya?

Jiwamu telah dikerangkeng olehnya, bahkan akupun nyaris menghabiskan usiaku, hanya untuk menghalau godaannya.

Aku berharap masa ini adalah masamu untuk bersiap memisahkan dirimu dengan cakrawala. Sebab, engkau telah mewujud menjadi petualang. Engkau adalah anak panahku, yang sebentar lagi kutarik busurnya, lalu engkau akan melesat, melejit menembus langit harapan.

Harapan-harapanmu memang setinggi langit, meski agak sulit kepenuhi inginmu. Tetapi busur itu akan tetap kutarik sekencang mungkin, agar citamu tertancap pada langit harapan.

Anak panahku, maafkan aku, yang hanya bisa melesatkanmu pada dinding berbatas, yang kurasa mampu menghampirinya. Pahatlah inginmu, citamu, pada dinding harapan itu.

Selaku penarik busur, aku akan selalu menunggu warta, dari masa depan yang kelak engkau akan ikut melukisnya.

GENERASIKU

Selembar maklumat buat Saffana Mustafani


Anakku, hari ini abimu menulis surat untukmu, dan juga untuk generasimu, yang engkau bisa baca di masa depan. Tentang hal-hal masa kini, yang semoga saja tidak lagi engkau jumpai dizamanmu kelak. Sebab, cukuplah abimu yang menderita karenanya.

Anakku, hari  ini baru saja abimu menyaksikan dan merasakan kekecewaan tentang generasi anak zaman, yang mengelabuiku.

Anakku, abimu benar-benar terpedaya. Betapa tidak, abimu mengira dia seorang perempuan, tapi ternyata dia seorang waria. Wasengi ana’ dara, calabai ro paleng. Kuareki baine, kawe-kawe pale’.

Abimu mengira, dia itu pemimpin untuk generasinya, ternyata dia tidak lebih dari seorang pecundang. Abimu terpesona, karena pikirannya selalu merujuk pada teori-teori perangnya Tsun Tsu, menyatakan dirinnya bak seorang Samurai. Ternyata, dia tidak sanggup menegakkan kepalanya karena terlalu rumitnya teori-teori itu untuk dipraktekkan. Pedang samurainya, tak mampu dia tebaskan, karena dia tak pernah bisa, mengayunkan pedangnya.

Abimu menyangka, dia itu salah seorang yang akan menyebabkan cakrawala tenggelam dalam dirinya, tetapi ternyata, justeru dialah yang tenggelam dalam cakrawala. Berasyik masyuk bersama cakrawala. Bermabok ria tentang matinya kehidupan.

Karena sudah tenggelam dalam cakrawala, maka dosa dianggap sebagai ritus. Para pendosa didefenisikan sebagai teladan, perbuatan dosa sebagai suatu kewarasan. Para penentangnya dituduh sakit jiwa, gila dan picik.

Anakku, saat ini orang-orang sibuk menghias raga, mempercantik jasmani, lupa membenahi jiwa, apalagi mengurus ruhaninya. Orang-orang lebih memilih jalan ‘si jasman”, tinimbang jalan “si rohani”.

Anakku, abimu hanya berusaha sekuat tenaga untuk menahan laju kegilaan zaman ini, semoga tidak terseret pada arusnya. Agar engkau dan generasimu kelak, hanya menyaksikan kegilaan zaman kami lewat museum kehidupan.

LOGIKA




Javid Morteza, hari ini  di usiamu yang ke-7, Abimu ingin berwasiat kepadamu, tentang Kekuatan Logika dan Logika Kekuatan

Menjadilah manusia nomena, bukan manusia fenomena. Sebab, hanya manusia nomenalah yang sanggup menangkap kebenaran.

Gunakan kekuatan logikamu untuk membaca zaman yang gila ini. Dan bukan logika kekuatan, seperti yang sering diperagakan oleh manusia fenomena.

Javid, hanya dengan kekuatan logika, engkau bisa mendapatkan hikmah-ilmu, yang akan mengantarmu pada benar-salah. Sedangkan mengandalkan logika kekuatan engkau hanya meraih kekuasaan, yang akan menjebakmu dalam menang-kalah.

Hikmah-ilmu akan abadi, sebaliknya kekuasaan sifatnya sesaat. Hikmah-ilmu akan menjagamu, sedang kekuasaan kamulah yang harus menjaganya.

Para Nabi, Imam, Ulama, kaum cendekia mewariskan hikmah-ilmu, sementara para penguasa, tiran mewariskan dan berebut kekuasaan. Hikmah-ilmu akan menyelamatkanmu, sedangkan kekuasaan akan membinasakanmu.

Jadilah manusia abadi dan ridho, seperti nama yang kunisbatkan kepadamu: Javid, yang berarti keabadian dan Morteza nama belakangmu yang bermakna yang diridhoi.

Abimu akan berusaha sekuat tenaga untuk memahat kekuatan logika ini. Pada dinding ingatanmu, pada ranah batinmu, agar engkau menjadi tercerahkan pada fikiran (raushanfikr) dan tersingkap dalam batin (raushandhamir)

Meski usiamu saat ini, barulah memasuki  tahun ke-7, belumlah tentu engkau mengerti wasiatku ini. Tapi kelak ketika engkau baligh, ketika akalmu sudah memenuhi syarat untuk dihisab. Abimu sangat berharap untuk mengerti wasiatku ini.

Tidak ada yang lebih Abimu khawatirkan, ketika usiamu sudah cukup baligh, tetapi cara hidupmu, masih seperti anak-anak yang memperebutkan permen kekuasaan, dengan mengandalkan logika kekuatan. Seperti manusia fenomena yang makin banyak melata di negeri ini.

Pada ruang perpustakaan Abimu, di pojok kamar belakang rumah, tepat di usiamu yang ke-7, 30 Januari 2012, wasiat ini kutulis buatmu.

DION



DION DAN BUAH HATINYA.

Untuk Dion-anak Zaman, setelah kurang-lebih tiga tahun usia perkawinanmu, kau telah bersenggama dengan alam, bersetubuh dengan cakrawala, bersebadan dengan diri, akhirnya kehamilan pun berbuah sudah, menanti kelahiran anak ruhani, yang kelak akan kau beri nama: Narasi Cinta dan Kemanusian.
Sebuah nama yang indah, melebihi indahnya pelangi, cantik melampaui mawar, harum menenggelamkan melati, mekar mendahului anggrek. Maka bersiaplah menuju pada kematian, karena akan ada kelahiran.
Buah hatimu ini, akan memberi kesegaran bagi yang sempit hatinya, memberi kelapangan dada bagi hati yang beku, memberi siraman rohani pada yang iri hati. Menyodorkan secawan anggur pelipur lara bagi yang gundah gulana. Akan menjadi penghibur bagi para penikmat cinta. 
Cintanya mewarisi para pesuluk-pemunajat pada Ilahi. Kasihnya mewarisi Bunda Theresa. Sayangnya merupakan titisan Mahatma Gandhi. Keberaniannya meneladani Imam Husein di padang Karbala. Kecerdasannya tertambat pada Imam Ali sebagai pintu ilmu.
Ditangannya dunia menjadi sangat kecil, sekecil globe yang dipandang dan diputar-putar oleh anak sekolahan. Awan akan meminta ijin pada matahari agar sudilah kiranya memberi kehangatan atas bumi yang dipijak. Hujan akan mengatur irama derasnya agar tidak berlebihan hingga jadi bencana. Angin pun hanya ingin memberikan sepoinya agar kedamaian bukan lagi dambaan, melainkan kenyataan.
Maka rayakanlah buah hatimu ini, sesosok anak ruhani yang akan memandu peradaban. Peradaban yang sarat akan cinta dan kemanusiaan, seperti nama yang telah dinisbahkan kepadanya. Kehadirannya akan memberikan getaran dari sebuah negeri yang nyaris hilang dan terancam punah peradabannya. Jiwanya akan senantiasa menjadi sumber mata air bagi raga yang haus akan pedoman dalam bermusyafir.