Tampilkan postingan dengan label PERSONA JIWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERSONA JIWA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2013

Imam Husein



Imam Husein: Pewaris Yesus Kristus
Refleksi Hari Assyura
Oleh Sulhan Yusuf
Sabtu, 26 Desember 2009 | 22:08 WITA

Yesus menggerakkan dan membangkitkan rakyatnya menentang para penindas tetapi dia tidak mau mempersenjatai dirinya sendiri maupun para pengikutnya. Perlawanan non-kekerasan yang dilakukannya mencerminkan sebagai pendakwah cinta kasih

Setidaknya, di bulan Desember ini ada beberapa momen penting-historis kemanusiaan yang patut untuk diapresiasi. Di antaranya, tahun baru 1431 H bagi umat Islam, Natal bagi kaum Kristiani dan syahidnya Imam Husain pada 10 Muhaarram di Padang Karbala atau Assyura.
Tulisan ini saya hadirkan untuk mengapresiasi momen-momen itu, guna mencari titik-titik temu di antara umat Islam dan Kristiani, khususnya pada ranah realitas kejuangan bagi kemanusiaan, yang merupakan manifestasi Ilahi di muka bumi.Yesus Kristus  atau Isa al-Masih  adalah figur historis yang telah mempersembahkan jalan hidupnya bagi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan.
           Menurut Ziaul Haque, yang menulis buku Revelation and Revolution Islam ( Wahyu dan Revolusi, 2000), bahwa Yesus adalah: Pertama, seorang nabi-revolusioner, seorang guru yang bertaqwa, seorang hamba kebenaran yang memberontak terhadap korupsi dan eksploitasi yang dilakukan oleh kaum penindas dan memimpin kaum lemah dan miskin melawan para penindas.
           Dia memerintahkan kaumnya untuk mengikuti jalan ketakwaan dan kebenaran, jalan lurus Allah, dan menjauhkan diri dari semua kejahatan dan kepalsuan.
Kedua, Yesus memberontak terhadap sistem sosial yang palsu dan cara hidup yang munafik, termasuk para pemuka agama yang menggunakan agama sebagai topeng untuk kepentingan duniawi. Mengorbankan segalanya demi sebuah masyarakat baru yang adil berdasarkanpada kebenaran dan kesetaraan.
           Ketiga, Yesus menggerakkan dan membangkitkan rakyatnya menentang para penindas tetapi dia tidak mau mempersenjatai dirinya sendiri maupun para pengikutnya. Perlawanan non-kekerasan yang dilakukannya mencerminkan sebagai pendakwah cinta kasih.
Dia hidup sebagai manusia biasa yang sederhana, jujur, dan rendah hati. Memikirkan orang lain, hidup-menderita-mati untuk orang lain.
           
Pewaris Yesus
           Lalu bagaimana dengan nilai-nilai kemanusiaan yang diperjuangkan oleh Yesus di kemudian hari?  Setelah perjalanan panjang-berabad-abad lamanya, ternyata situasi sosial itu hadir kembali. Dan itu berarti butuh figur historis lagi, agar panji-panji kemanusiaan bisa ditegakkan kembali. Adakah pewaris Yesus? Pada konteks inilah urgensi menghadirkan figur historis lain semisal Imam Husein, yang telah menorehkan drama perjuangannya, yang berpuncak  pada syahidnya di Padang Karbala.
           Realitas historis yang dihadapi Imam Husein sehingga ia bangkit untuk menentang penguasa pada saat itu, amat mirip yang dihadapi Yesus. Seperti, terjadinya penyimpangan di bidang kekuasaan politik berupa rusaknya lembaga kekhalifahan, penumpukan harta karena makin banyaknya rampasan perang sebagai konsekuensi dari semakin luasnya kekuasaan Islam.
Ada diskriminasi dalam masyarakat antara bangsa Arab-non Arab, korupsi yang merajalela dan masyarakat tidak berdaya di hadapan penguasa, bid'ah berubah menjadi sunnah yang berarti kemunduran akhlak yang luar biasa dan kembalinya pola-pola jahiliah.
      
     Imam Husein yang melihat realitas seperti itu tidaklah tinggal diam. Tapi apa dayanya?  Ia nyaris tidak punya apa-apa. Kakek (nabi Muhammad SAW) dan sahabat-sahabat kakeknya sudah pada tiada, termasuk ayahnya (Imam Ali) telah terbunuh. Begitu juga saudaranya (Imam Hasan) sebagai benteng terakhir telah ditaklukkan oleh Muawiyah. Apalagi tentara untuk berperang, yang bisa angkat senjata tiada pula. Ia hanya punya pengikut, sahabat-sahabat dan keluarga yang jumlahnya sekitar ratusan orang yang akan menghadapi ribuan tentara profesional bersenjata lengkap di Padang Karbala.
            Apa yang terjadi? Pembantaian kemanusiaan yang sangat dramatis dan memilukan sepanjang sejarah. Menjadi menarik mengajukan pendapat salah seorang Cendekiawan Kristen Arab Suriah, Antoine Bara, yang menulis tentang Imam Husein dalam bukunya yang berjudul Husain Fi Fikril Masahi (Pewaris Yesus-Husain Dalam Kristianitas, 2009) bahwa; Pembantaian manusia mana pun dalam sejarah, baik sejarah klasik maupun kontemporer, belum pernah mendapatkan kekaguman, pelajaran, dan simpati seperti yang terjadi pada pembantaian di Karbala.
           Pembantaian ini merupakan peristiwa yang paling menyentuh perasaan umat Islam, dan sangat berpengaruh terhadap perjalanan akidah Islam. Sekiranya hal itu tidak terjadi, niscaya Islam hanya berupa agama yang tampak lahiriahnya saja tanpa akidah terpatri di dalam dada dan keimanan yang memenuhi emosi setiap Muslim.
            
Menghancurkan Kesesatan
          
Apa dampak yang berupa ibrah, yang ditimbulkan oleh revolusi yang dilakukan oleh Imam Husein? Lebih jauh Antoine Bara menulis,  revolusi Husein bin Ali adalah yang pertama, karena dalam bingkai keagamaannya, revolusi tersebut merupakan revolusi pertama yang tercatat dalam sejarah Islam dan sejarah-sejarah agama samawi yang lainnya pada tataran prinsip-prinsip dan nilai-nilai akidah.
           Kedua, revolusi itu sebagai pelopor karena menjadi pembuka semangat revolusi, dalam hal revolusi spiritual, yang terpatri di dalam dada kaum Muslim. Revolusi itu mengingatkan mereka, ketika tidur atau duduk-duduk, tentang makna kemuliaan dan tentang makna bahwa seorang mukmin merupakan gunung yang kokoh di hadapan para penyebar fitnah yang mengatasnamakan agama dan para pembuka jalan-jalan kemusyrikan serta kesia-siaan yang mengatasnamakan aqidah.Revolusi itu merupakan ajakan lantang guna menghancurkan tonggak-tonggak kesesatan, dan menghadapi tujuan korup orang-orang yang menyimpang dari jalan syariat.
           Ketiga, revolusi itu tiada tandingannnya, dikarenakan revolusi itu menghujam ke dalam batin kaum Muslim, dengan meninggalkan pengaruh-pengaruh ideologis yang sangat besar. Setiap aktivitas orang-orang yang berpegang kepada ajaran Islam dan yang memutuskan perkara atas nama Islam membutuhkan suatu terapi kejut, dalam bentuk suatu pengorbanan yang heroik.
Ketika itu, hal tersebut menghasilkan efek kejut  yang membangkitkan dan mengalirkan cinta dalam batin generasi-generasi berikutnya.
           Keempat, revolusi itu abadi, sebab pada awal dan akhirnya, revolusi tersebut bersifat manusiawai, keluar dari diri manusia dan kembali lagi ke dalam diri manusia dengan dilumuri darah yang suci dan disucikan melalui kesyahidan yang ideal. Dengan begitu, maka revolusi ini bersifat moral, yang dengan moralitas kemanusiaan inilah yang akan mengabadikan dan memandu setiap gerakan revolusioner pada sejarah yang akan tercipta di masa depan.
           Bagaimana dengan realitas kekinian kita saat ini? Dimana korupsi menjadi gaya hidup, jarak sosial hidup kehidupan si kaya dan si miskin semakin menganga, para pemimpin negeri yang masih sangat sibuk memperkaya diri.Keadilan masih merupakan angan-angan, kesejahteraan masih berupa janji-janji, para pemimpin agama hanya sibuk berdakwah secara simbolik dan melupakan pesan-pesan substansial agama. Adakah secercah harapan di antara kita untuk menjadi pewaris Yesus, pewaris Husein?***
*Oleh Sulhan Yusuf Direktur Paradigma Institut Makassar

Rabu, 09 Januari 2013

IQBAL: SANG RAUSHAN-DHAMIR


IQBAL: SANG RAUSHAN-DHAMIR
Oleh Sulhan Yusuf  (Direktur Paradigma Insitut Makassar)


            Kurang lebih 75 tahun yang lalu, Muhammad Iqbal seorang pemikir, penyair dan sekaligus filosof dari India-Pakistan, pernah bersabda;  I have no need the ear To-Day. I am the voice of the poet of To-morrow (Aku tak butuh telinga angkatan kini. Aku suara penyair masa akan datang). Mengapa Iqbal berharap pada generasi masa depan untuk mendengar sabdanya, dan masihkah sabda-sabda itu relevan dengan kekinian kita, dan lebih dari itu, adakah kita salah satunya dari sekian banyak orang yang mampu mendengarnya?
            Sir Muhammad Iqbal lahir pada 9 Nopember 1877 di Sialkot dan wafat di saat puncak kemashurannya pada 21 April 1938 di Lahore. Sialkot merupakan kota yang terletak di perbatasan Punjab dan hanya beberapa mil dari wilayah Jammu dan Khasmir, yang saat ini menjadi lahan sengketa antara India dan Pakistan. Masa kana-kanak Iqbal sama dengan anak-anak kelas menengah miskin pada umumnya, suka berolahraga, menyukai ayam hutan, burung merpati, yang hingga akhir hayatnya, masih memeliharanya.
            Intelektualisme Iqbal, khususnya bakat kepenyairannya mulai terasah ketika mulai bersekolah di Scoth Mission College dengan memilih studi ilmu-ilmu humaniora. Apalagi setelah bertemu dengan  Sayyid Mir Hasan (1844-1929)—yang mampu mengingat di luar kepala ribuan syair para empu kesusastraan Arab, Parsi dan Urdu -- seorang guru yang pertama kali menemukan bakat puitis Iqbal. Dan pada tahun 1895, oleh guru dan orang tuanya mengirim Iqbal ke Government College di Lahore.
            Di usia 20-an tahun, reputasi kepenyairan Iqbal sudah menjadi sorotan publik, apatah lagi ketika bertemu dengan salah seorang gurunya Sir Thomas Arnold, yang dikemudian hari cukup banyak mempengaruhi pemikiran Iqbal. Dari guru inilah Iqbal banyak mendapat pengetahuan yang luas tentang  filsafat Barat dan pengertian mendalam atas kebudayaan Islam dan Kesusteraan Arab. Dari perpaduan pengetahuan Timur-Barat inilah yang membantu perkembangan intelektual Iqbal.
            Selanjutnya, Eropa menjadi tujuan Iqbal. Ia belajar di Inggris dan Jerman. Di London masuk pada Lincoln’s Inn untuk gelar pengacara, dan Trinity College, serta di Cambridge Unibersity untuk sarjana Muda. Pada saat yang sama Iqbal juga menyiapkan desertasi doktor bidang filsafat di Universitas Munich Jerman, sebagai kelanjutan dari gelar master yang telah diraih pada Universitas Punjab di Lahore. Desertasi doktor di Munich ini mengkaji “Perkembangan Metafisika Persia”.
Ada keputusan sangat penting dari Iqbal ketika di Eropa, yakni mengubah karya-karya, puisi-puisinya dari bahasa Urdu menjadi bahasa Parsi. Meskipun karya-karya berbahasa Parsi Iqbal itu tidak sama dengan karya Parsi Kontemporer, dan kaum modernis Iran pun membaca bukan karena keindahan  ekspressinya. Alasan utama dibalik keputusan itu adalah karena bahasa Parsi menjadi salah satu bahasa pengetahuan dalam dunia Islam. Dan dari sinilah kemudian karya-karya Iqbal banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia Islam.
           
Karya-karya Iqbal

Reputasi Iqbal sebagai pemikir, penyair, dan sekaligus seorang filosof tidak diragukan lagi hingga saat ini. Tidak kurang dari seorang Sayyid Ali Khamenei (pemimpin spiritual Iran) memberikan apresiasinya pada saat penyelenggaraan seminar untuk menghormati Iqbal di Iran. Khamenei berkata:  ...terus terang saya akui inilah hari yang paling berbahagia dalam hidup saya. Melalui puisi-puisi dan ajaran filsafatnya terhapuslah hari-hari mendung dari kita, dan sebuah gambar masa depan yang cerah tampak di hadapan kita.
Masih menurut Khamenei, bangsa kita adalah rujukan utama, namun sayangnya kita terlambat mengenalnya. Maklum ketika Iqbal masih hidup, keadaan politik yang dikendalikan kolonial Inggeris tidak memungkinkan ia mengunjungi Iran. Penyair besar ini, yang menulis puisi-puisinya sebagaian besar dalam bahasa Parsi bukan dalam bahasa ibunya, tak pernah menghirup negeri Iran yang begitun ia cintai.
Bukan hanya itu, politik kolonial yang ia perangi sepanjang hayatnya tak memperkenankan gagasan-gagasan, ideologi, dan ajaran filsafatnya sampai ke telinga bangsa Iran yang sangat ingin menerima pesan-pesannya. Iqbal adalah salah seorang tokoh utama dalam sejarah Islam. Kepribadiannya begitu mendalam dan kental, sehingga sulit diukur melalui satu dimensi darim kehidupannya. Ia seorang ilmuan dan filosof, dan pada saat yang sama penyair besar, demikian pernyataan Khamenei.
Karya-karya Iqbal adalah karya multidimensi. Setidaknya, seperti yang diutarakan oleh salah seorang cendekiawan ternama, Annemarie Schimmel, bahwa karya Iqbal merupakan pintalan berbagai nuansa yang menarik yang berkisar dari fundamentalisme Islam sampai teori-teori ilmiah yang paling mutakhir dari Barat, dari penerbangan-penerbangan mistikal ke dalam Hadirat Tuhan sampai analisis-analisis rasional tentang fenomena spiritual.
Hal tersebut terpatri dalam karya-karya Iqbal semisal; ‘Ilm Al-Iqtishad (tentang ekonomi), The Development of Metaphysics in Persia: A contribution to the History of Muslim Pholosophy ( tentang metafisika Persia), Stray reflections ( berisi catatan-catatan reflektif), Asrar-i Khusi (Rahasia-Diri), Rumuz-i Bekhudi (Misteri Ketiadaan Diri). Payam-i Masyriq (Pesan dari Timur), Bang-i Dara (Lonceng Kafilah), Zabur-i ‘Ajam (Mazmur Persia), The Reconstruktion of Religious Thought in Islam (Rekonstruksi Pemikiran dalam Islam), Javid Nama (Kitab Keabadian), Musafir (Sang pengembara), Bal-i Jibril (Sayap Jubril, Pas chi bayad kard ay aqwam-i Sharg? (Apa yang Harus dilakukan Wahai Masyarakat Timur?), Zarb-i Kalim (Pukulan Tongkat Musa), Armaghan-i Hijaz (Buah Tangan dari Hijaz), Surud-i Rafta (Nyanyian yang Hilang) dan kumpulan ceramah, artikel, pernyataan serta surat-surat Iqbal.

Raushan dhamir

Dengan bentangan karya yang begitu kaya dimensi, wajarlah ketika Iqbal berpesan kepada generasi masa depan untuk senantiasa sudi mendengar sabdanya. Representasi dari pesan Iqbal tercermin ketika ia berpesan kepada anaknya, Javid Iqbal,  yang kala itu  usianya baru 14 tahun, tetapi Iqbal amat yakin akan masa depan anak dan generasi sesudahnya.
Iqbal berseru kepada Javid; Pendidikan tidak lagi mengenal tujuannya. Karena pupusnya kegairahan, terenggutlah jiwa dari keindahan alam, tiada bunga bermekaran di rantingnya. Lihat para arsitek, tidak tahu lagi apalagi yang harus dikerjakannya, kerjanya hanya menyusun batu buat menyeberangi selokan, anak-anak telah dididik menjadi itik! Bila ilmu tidak membawa kehangatan hidup, maka hati tidak akan menemukan kegembiraan dalam ilham yang dibawa ilmu.
Ilmu itu keterangan, dan uraian tentang tahap-tahap ruhani yang kau alami, ia tidak lain ulasan dari isyarat-isyaratmu! Mestinya kau bakar dirimu dalam api pengalaman, agar terpisah emasmu dari loyang. Untuk ilmu Ilahi, awalnya adalah mengalami sendiri, dan berakhir dengan berada, tapi akhir ini tidak terkandung dalam daya pikir, demikian Iqbal menegaskannya.
Mengapa Iqbal mampu berpesan untuk masa depan dan ingin mencipta sejarah masa depan? Karena ia adalah seorang raushan-dhamir. Menurut Abdul Hadi WM, seorang raushan-damir adalah seorang yang mampu melihat jauh ke lubuk peristiwa-peristiwa dunia, ke dalam hakekat segala ihwal kejadian.
Kemampuan seorang raushan-dhamir ada pada visionernya yang ia peroleh karena ia telah menjadin kasyf dengan upaya keruhanian yang sungguh-sungguh dan disadari, sehingga ia memiliki kekuatan yang menakjubkan dalam melihat dan membaca kejadian-kejadian. Karena ia mengetahui hakekat kejadian-kejadian dan rahasia “penciptaan”, maka ia tidak terlalu terpengaruh oleh gejala-gejala sesaat atau temporal.
Bagi sang raushan-dhamir, tidak ada belenggu masa kini yang bisa mengungkung penglihatan dan pemikirannya. Pandangannya jauh menembus ke masa depan. Kegelapan zaman dan masyarakat tempatnya tidak membuatnya sibuk mengeluhi kelemahan-kelemahan nasib buruk yang menimpanya. Sebaliknya ia bangkit mencari potensi terpendam  kebudayaan dan agama yang dianut masyarakat. Orang semacam itu menemukan bahwa kelemahan bukan terletak pada ajaran agama yang bersifat universal dan langgeng, melainkan pada kondisi yang meliputi umat dan pribadi mereka.
Dikarenakan Iqbal telah menjadi seorang raushan-dhamir, maka wajarlah kemudian ketika berpuluh juta orang  menjadikannya sebagai  bapak ruhani dalam menghadapi dan hidup di zaman sekarang ini yang penuh dengan kegilaan. Khususnya negeri ini yang telah menjadi negerinya para mafia. Ada mafia kasus, mafia peradilan, mafia pajak, mafia soal ujian nasional dan mafia-mafia lainnya, yang berseliweran diberbagi tingkatan berbangsa dan bernegara.
Kalau saja kita ingin menjadi salah seorang yang menyiapkan telinganya untuk mendengar sabda Iqbal, agar rintisan jalan menuju seorang raushan-dhamir tergapai, karena kelihatannya, yang dibutuhkan oleh bangsa dan negara ini adalah sosok-sosok seperti yang digambarkan oleh Iqbal, sang raushan-dhamir. Maka menjadi menarik untuk mencoba mengapresiasi petunjuk Iqbal dalam Asrar-i Khudi (Rahasia Diri).
Menurut Iqbal, guna mencapai kesempurnaan-diri, maka jalan yang harus ditempuh oleh setiap ego individual, paling tidak ada tiga tahap. Pertama, setiap individu harus belajar mematuhi dan secara sabar tunduk kepada kodrat makhluk dan hukum-hukum ilahiah, dimana hukum Islam adalah yang paling tinggi.
Kedua, ia harus belajar berdisiplin dan diberi wewenang untuk mengendalikan dirinya sendiri, melalui ketakutan dan cintanya kepada Tuhan serta ketakbergantungannya terhadap dunia. Ketiga, individu menyelesaikan perkembangan dirinya dan mencapai kesempurnaan spiritual. Maka ia dianggap telah memenuhi syarat untuk menjalankan perannya sebagai wakil Tuhan untuk memerintah dan menjadi guru dunia,  menampilkan sifat-sifat ilahiah dalam mikrokosmos. Wallahu ‘alam Bissawab


ALI SYARIATI: PEMIKIRAN DAN GERAKAN


ALI SYARIATI: PEMIKIRAN DAN GERAKAN
Oleh Sulhan Yusuf

Apa yang harus dilakukan ?
Adalah kata kunci dari pemikiran Syariati.
Darimana kita mesti mulai ?
Merupakan point penting dari gerakan revolusioner Syariati.


          Bagaimana umat Islam dapat hidup secara layak di dunia Modern? Inilah salah satu pertanyaan sentral yang telah banyak menarik umat Islam sepanjang abad ke-20, demikian kata Steven R. Benson, dalam salah satu artikelnya ketika menulis tentang Ali Syariati dalam kaitannya dengan perubahan sosial. Menjadi menarik kalau saya kutipkan petikan panjang artikelnya, bahwa;
“ Pertanyaan tersebut terkait dengan sejumlah pengalaman modern: industrialisasi, kolonialisme dan neokolonialisme, konsumerisme, kebebasan seks, teknologi angkasa luar, kebebsan berfikir, dan lain sebagainya. Sebagaian menanggapi persoalan tersebut dengan perasaan rendah diri dan malu karena bertahun-tahun terisolasi dalam pengalaman kolonial. Mereka menyaksikan bagaimana kultur tradisional dan agama menjadi penghambat kemajuan masa depan umat Islam, lalu mereka mengambil kapitalisme Barat atau ideologi-ideologi Marxis modern sebagai alat untuk memordernisasikan masyarakat mereka. Sebagian lagi, yang lebih tradisional, memandang semua bentuk kehidupan modern sebagai setan, dan dengan cara apa pun menolak berkompromi dengan pola tatanan modern serta lebih suka mengisolasi diri. Tetapi ada kelompok ketiga yang menempuh jalan berbeda. Mereka menilai eksperimentasi Barat telah gagal, tetapi menyadari perlunya menjadi bagian dari dunia modern. Mereka ingin membangun sebuah kebanggan baru tentang warisan Islam di kalangan Muslim dan menemukan solusi dalam warisan tersebut untuk memungkinkan umat Islam berpartisipasi penuh dalam dunia modern tanpa hanya meniru solusi dunia Barat, dan pada saat yang sama tetap berpegang pada kebudayaan dan keyakinan Islam. Seperti gambaran inilah sosok Dr. Ali Syariati. Dia dididik dalam dua tradisi –Barat dan Islam – dan memiliki kemampuan bertutur yang mengagumkan. Dengan cepat dia membina para pengikut yang sangat bergairah dari kalangan generasi muda Iran yang terdidik. Dengan penguasaan yang seimbang antara khazanah sumber-sumber Barat dan sumber-sumber Islam dan keberaniannya menginterpretasi keduanya secara bebas, dia memberikan jawaban yang tepat bagi krisis budaya di Iran.”
 
Siapa Syariati ?
          Adalah Mazinan, sebuah desa di pinggiran Masyad, di timur laut Khurasan, Iran, yang menjadi saksi tanah tumpah darah pertama dari seorang Ali Syariati. Tepatnya, pada tanggal 24 november 1933, Ali Syariati di lahirkan, dari pasangan Sayyid Muhammad Taqi’ Syariati dan Zahra. Syariati adalah putra sulung dari kedua pasangan keluarga tersebut. Latar belakang keluarganya cukup disegani di desa tersebut, sebagai seorang tokoh spiritual. Sebenarnya, nama asli Syariati adalah Muhammad Ali Mazinanin, tetapi ia merubahnya ketika akan meninggalkan Iran menuju London, pada tanggal 16 mei 1977, guna mengelabui petugas keamanan.
          Masa kecil dan remaja Syariati dijalani di desa tersebut bersama dengan sang ayah Dan bagi Syariati, guru pertamanya, yang sekaligus sangat mempengaruhinya adalah ayahnya sendiri. Seperti syariati tuliskan:
“Ayahku membentuk dimensi-dimensi pertama batinku. Dialah yang mula-mula mengajariku seni berfikir dan seni menjadi manusia. Begitu ibu menyapihku, ayah memberikan kepadaku cita kemerdekaan, mobilitas, kesucian, ketekunan, keikhlasan serta kebebasan batin. Dialah yang memperkenalkan aku kepada sahabat-sahabatnya – ialah buku-bukunya; mereka menjadi sahabat-sahabatku yang tetap dan karib sejak
tahun-tahun permulaan sekolahku. Aku tumbuh dan dewasa dalam perpustakaannya. Banyak hal yang sebetulnya baru akan kupelajari kelak bila aku telah dewasa, melalui rangkaian pengalaman yang panjang dan harus kubayar dengan usaha dan perjuangan yang lama, tetapi ayahku telah menurunkannya kepadaku sejak masa kanan-kanak dan remajaku secara mudah dan spontan. Aku dapat mengingat kembali setiap bukunya, bahkan bentuk sampulnya. Teramatlah cintaku akan ruang yang baik dan suci itu; bagiku ia merupakan sari masa lampauku yang manis, indah, tetapi jauh.”
          Setelah masa-masa remaja dilalui, pada tahun 1950-an, Syariati menjadi Mahasiswa di Primary Teascher’s Training College sambil mengajar. Lalu mulai belajar di Universitas Masyhad. Dan tahun ini juga Syariati menikah. Nanti pada 1958, Syariati meraih gelar BA dalam bahasa Arab dan Perancis, yang kemudian tahun selanjutnya 1959 lulus ke Sarbone University di Perancis. Di Sarbone inilah Syariati mendalami kajian sastra dan sosiologi, dan bertemu serta menelaah karya-karya seperti; Henry Bergson, Jack Berque, Albert Camus, A.H.D. Chandell, Franz Fanon, George Gurwitsch, Louis Massignon, Jean Paul Sartre, dan Jacques Schwartz.
          Pada tahun 1963, Syariati menyelesaikan program Doktornya di Sarbone, dengan desertasi yang membincang komentar kritis naskah Persia abad pertengahan Fadha’il Al-Balkh (“Les Merites de Balkh”). Dan setelah itu, Syariati pun kembali ke Iran, bersama isteri dan kedua anaknya guna mengabdi pada negaranya, rakyatnya dan agamanya, Islam. Namun diluar dugaan, begitu Syariati tiba di Bazargan –perbatasan Iran dan Turki – ia ditahan di hadapan isteri dan anak-anaknya dan langsung dipenjarakan. Selama pengasingan di penjara, Syariati tidak diperbolehkan bertemu dengan isteri dan anak-anaknya, termasuk ayahandanya, sang guru pertamanya sekalipun.

Pemikiran Syariati
          Pijakan terpenting dari pemikiran syariati adalah terletak pada cara memahami Islam. Bagi Syariati, persoalan cara atau metode menjadi sangat menentukan, karena dengan menggunakan cara atau metode kita dapat memahami Islam secara komprehensif. Salah satu cara atau metode memahami Islam adalah dengan cara melakukan perbandingan. Bagaimana mengenal Allah, dan membandingkannnya dengan sesembahan agama-agama lain. Mempelajari Al-Quran dan membandingkannya dengan kita-kitab lainnya. Mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkan beliau dengan tokoh-tokoh besar yang pernah hidup dalam sejarah. Dan terakhir, mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dengan membandingkan tokoh-tokoh utama agama maupun aliran-aliran pemikiran lain.
          Bertolak dari asumsi itulah, kita dapat menelusuri pemikiran-pemikran Syariati dalam pelbagi tema, seperti; agama, filsafat, etika, sosiologi, sejarah, sastra dan biografi. Sehingga, dalam berbagai karya Syariati, kita akan menemukan, bagaimana karakter Tuhannya Musa dan Isa di perbandingkan, maupun konsep-konsep Tuhan lain, dengan Tuhannya Muhammad
          Demikian juga halnya dengan pemikiran-pemikiran filsafat atau aliran-aliran pemikiran. Bagaimana Humanisme, Marxisme, Eksistensialisme diperbandingkan dengan Islam sebagai mahzab pemikiran. Dalam hal agama pun diperbandingkannya, bahkan secara internal agama Islam, maupun dalam mahzab Islam Syiah yang dianutnya, termasuk ritus-ritus keagamaan yang Syariati anggap keliru. Dan, selanjutnya bagaimana Syariati menulis tentang sosok seperti; Nabi Muhammad dan Imam Ali, Fatimah Azzahra, Imam Husain dan Abu Dzar Al-Giffari , yang tentu masih dalam kerangka perbandingan pemikiran dalam sejarah.

Gerakan Revolusioner Syariati
          Ali Syariati pernah berkata, “ Saya memberontak maka Saya Ada”, dan pada bagian lain ungkapaannya yang sangat terkenal, bahkan pada saat revolusi sosial Islam di Iran terjadi, dan ditulis dalam bentuk spanduk dan pamflet, “Setiap hari adalah Assyura dan setiap tempat adalah Karbala.” Meski Syariati tidak sempat menyaksikan jalannya revolusi, tetapi peranannya sebelum rvolusi tidak bisa diabaikan. Bahkan Syariati dianggap sebagai salah seorang arsitek dan ideolog Revolusi Islam Iran.
          Mengapa Syariati terlibat dalam gerakan revolusioner? Karena Syariati telah mendefenisikan bahwa bila merindukan perubahan, maka dibutuhkan Raushanfikr (orang-orang yang tercerahkan). Dan rupanya, julukan raushanfikr patut pula diberikan kepada Syariati, karena sang raushanfikr adalah ; individu-individu yang sadar dan tanggungjawab utamanya adalah membangkitkan karunia Tuhan yang mulia, yaitu “kesadaran diri” (khud-agahi) masyarakat. Sebab hanya kesadaran diri yang mampu mengubah rakyat yang statis dan bobrok menjadi suatu kekuatan yang dinamis dan kreatif.
          Keterlibatan Syariati dalam gerakan revolusioner, bukan hadir secara tiba-tiba. Tetapi sejak muda ia telah terlibat dalam berbagai macam gerakan revolusioner. Pada tahun 1940-an, Syariati telah bergabung dengan “Gerakan Sosialis Penyembah Tuhan” dan Pusat Penyebaranm Islam” yang didirikan oleh ayahnya. Di tahun 1950-an, Syariati kemudian aktif dalam gerakan rakyat dan nasionalis untuk nasionalisasi industri minuak iran, dan selanjutnya mendirikan “Persatuan Pelajar Islam” di Masyhad. Yang akhirnya di penjara karena aktivitas politiknya.
          Memasuki tahun antara 1959-1964, ketika sudah belajar di Sarbone University Perancis, Syariati aktif dalam kehidupan politik di Perancis bersama Mustafa Chamran dan Ebrahim Yazdi, mendirikan Gerakan Kebebsan Iran, di Luar Negeri. Lalu ikut dalam pembentukan Front Nasional Kedua, dan selanjutnya bergabung dengan gerakan Aljazair, yang kemudian dipenjara karena memberikan kuliah kepada mahasiswa revolusioner Kongo.
          Pada tahun 1964, Syariati kembali ke Iran, kemudian ditahan di perbatasan dan selanjutnya dipenjarakan selama 6 bulan. Setelah keluar dari penjara, Syariati kemudian mendirikan Husayniah Irsyad, dan menjadikannya sebagai basis pergwrakannya. Dan pada tahun 1972, Husayniah Irsyad menghentikan aktinitasnya, dan selanjutnya Syariati pun ditahan. Kemudian, pada tahun 1975, oraginasisi-organisasi internasional, kalangan intelektual Paris dan Aljazair membanjiri Teheran dengan petisi untuk kebebsan Syariati, akhirnya dibebaskan dari penjara. Tetapi, setelah itu, hingga tahun 1977 dikenakan tahanan rumah.
          Setelah dikenakan tahanan rumah, tepatnya pada bulan Mei 1977, Syariati
mampu meloloskan diri ke luar negeri. Setelah mampir di Paris, ia melanjutkan perjalanan menuju London, Inggiris, dengan maksud akan meneruskan perjalanan ke Amerika Serikat Dan sebulan kemudian, Juni 1977, Syariati meninggal secara misterius di rumah kerabatnya, dengan petunjuk-petunjuk kuat bahwa ia telah syahid di tangan Savak.
          Berdasarkan harapan dan keingininan Syariati, yang sering diucapkannya, untuk dikuburkan dekat kuburan Zaenab, saudara Imam Husain --yang menyaksikan peristiwa Karbala, dan menyiarkan kesaksiannya – maka jenazahnya di bawah ke Damaskus, Syiria dan dimakamkan di sana.
Dan pada tahun 1979, Syariati mendapatkan anumerta atas penerbitan kumpulan karyanya, yang hingga 1986, telah terbit 35 buah buku.
Sayangnya, Syariati hanya hidup dalam waktu yang singkat, 44 tahun. Padahal masih banyak yang dibutuhkan dari pemikirannya dan gerakan-gerakan revolusionernya. Tetapi seperti kata Abdul Aziz Sachedina :
“ Tidak mudah untuk menganalisa pribadi-pribadi seperti Syariati, yang dalam pemikiran-pemikiran dan perbuatan-perbuatannya tampaknya berdimensi banyak. Adalah merupakan fenomena yang hebat dalam sejarah orang-orang besar bahwa dalam karirnya mereka meninggalkan begitu banyak yang tidak terpecahkan, sehingga orang selalu mengiginkan kiranya mereka dapat hidup sedikit lebih lama guna memecahkan teka-teki yang banyak ini.”

Wallahu alam bissawab