Tampilkan postingan dengan label ESAIKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ESAIKU. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juli 2016

Rayakanlah, Maafkanlah dan Bahagialah

Hari-hari usai puasa Ramadhan, beridul fitri pun menjadi puncak kemenangan bagi yang mencapainya. Menjadi juara karena telah berhasil menaklukkan diri sendiri. Bukankah, sari pati puasa adalah berlaga untuk mewujudkan sari diri? Seluruh perangkat pertempuran diarahkan pada diri, demi peringkat yang dijanjikan; taqwa. Tiada yang bisa membantah diktum suci dari Ilahi, bahwa orang yang beriman dan terpanggil menunaikan puasa, hasilnya adalah sosok taqwa. Hanya yang beriman nan bertaqwa, yang layak mengagungkan kejayaan diri. Ibarat pertandingan sepak bola, semisal Piala Eropa yang segera berakhir, cuma kesebelasan yang ikut bertanding, dan memenangkan babak demi babak yang bakal juara.
 
Menarik mengemukakan petuah Imam Ali bin Abi Thalib, tatkala ditanya oleh para sahabatnya, ketika pada hari raya, memakai pakaian dan makanan yang sederhana. Kala itu, sahabat-sahabatnya melihat keadaan beliau, mereka bersedih dan berkata; “Wahai Amirul Mukminin bukankah hari ini hari raya? Dan, Imam Ali bin Abi Thalib menjawab; “Ya benar, sekarang adalah hari raya dan setiap hari dimana ketaatanku bertambah, bagiku merupakan hari raya.”
 
Seraya mengucapkan lagi; “Hari raya bukanlah bagi orang yang memakai pakain baru, tetapi hari raya bagi yang bertambah ketaatannya. Hari raya bukanlah bagi orang yang memperindah dirinya dengan pakain dan kendaraan, melainkan orang yang dosa-dosanya mendapatkan ampunan. Bukanlah hari raya bagi orang menyantap makanan yang lezat, dan bersenang-senang dengan syahwat. Justeru, makna hari raya yang sebenarnya adalah bagi orang yang diterima taubatnya dan kejelekannya diganti dengan kebaikan.” Sayangnya, perayaan yang banyak dilakukan lebih banyak berorientasi pada luar diri, bersilaturrahim dan halal bilhalal.
 
Secara kultural, masyarakat kita cenderung mematenkannya dalam bentuk tradisi yang beragam adanya. Dan, yang nampak sekali, semisal pemenuhan hasrat konsumsi yang cenderung berlebihan, baik sandang maupun pangan. Seolah hari lebaran adalah ajang balas dendam dari kungkungan bulan Ramadhan. Bersilaturrahim ke seantero jagat, namun sekaligus menjadi ajang fashion, mempertontonkan kendaraan dan gawai terbaru. Jabat tangan dan ucapan selamat hari raya dan maaf, sebatas basa-basi pergaulan.
 
Padahal, dalam Qur’an suci, pada surah Ali Imran (3) ayat 134, telah mengidentifikasi tanda-tanda orang beriman, serupa sosok yang menemukan sari dirinya, yaitu orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.
 
Berinfak dan menahan amarah, telah mewujud di bulan suci. Tidak sedikit model berbagi dinyatakan, baik dalam bentuknya, berupa zakat, sedekah dan lainnya. Begitu juga dengan menahan amarah, berhasil ditaklukkan sesuntuk-suntuknya, sehingga puasa tidak lagi sekadar menahan haus dan lapar. Namun, yang tersisa adalah memaafkan. Adakah kesudian yang menyembul untuk memaafkan sesama, sebagai buah langka, yang bisa ditebarkan bibit-bibit kepengasihan dan kepenyayangan?
 
Firman suci membimbing seseorang untuk memaafkan, agar sari diri selaku sosok beriman menguar. Pada surah At-Taghabun (64) ayat 14 –meski ayat ini ditujukan untuk keluarga (isteri dan anak)– di sebutkan : …dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dalam ayat ini, ada tiga kata yang menarik dicermati, tatkala pembuktian keimanan itu dikedepankan, yakni ; memaafkan, tidak marah dan mengampuni.
 
Setidaknya, menurut Jalaluddin Rakhmat, dalam bukunya yang berjudul Jalan Rahmat, ketika mengomentari ayat tersebut –yang ketiga kata itu berkonotasi memaafkan– maka sikap yang akan dilahirkan oleh seorang insan, pertama, kita hapuskan dari hati kita segala luka, kepedihan, dan sakit hati yang diakibatkan oleh perbuatan orang lain pada kita. Kedua, memaafkan berarti melepaskan hukuman dari orang yang seharusnya menerima hukuman itu, meski kita punya kuasa untuk membalasnya. Ketiga, memaafkan berarti menutup aib, kesalahan, atau dosa orang yang kita maafkan. 
 
Memaafkan, forgiving merupakan tangga menuju kebahagiaan.Maksudnya, jika ingin berbahagia, maka salah pintunya adalah memaafkan. Meski tidak sedikit yang beranggapan bahwa memaafkan itu berarti kekalahan, bahkan menunjukkan kelemahan. Paling tidak, ada juga yang berpendapat bahwa rasa ingin membalas dendam, atau tidak ingin memaafkan sejenis karakter naluriah, yang melekat pada manusia selaku makhluk yang punya sifat pendendam. Yang pasti, tindakan memaafkan serupa pekerjaan yang amat berat untuk dilakukan, karena merupakan perwujudan tindakan keimanan.Jadi, memaafkan sangat dekat dengan keimanan. 
 
Arvan Pradiansyah menyebut tindakan memaafkan ini sebagai salah satu dari tujuh rahasia hidup yang bahagia. Sebagaimana pembabarannya dalam buku yang ditulisnya, dengan judul The 7 Laws of Happiness, mendapukkan forgiving sebagai law yang keenam. Menurutnya, begitu banyak mitos-mitos yang menghalangi untuk memaafkan. Namun, suatu tindakan memberi maaf bermakna melepaskan masa lalu, berusaha memahami orang lain, fokus pada kebaikan orang lain, menjadikan orang lain sebagai guru sejati dan memaafkan bukan berarti melupakan. Bila kelima makna tindakan memaafkan itu direalisir, maka kebahagiaan pun bakal menghidu diri.
 
Merayakan kemenangan dengan beridul fitri, sama pula dengan berlebaran, yang bermaksud meluaskan diri dari kesempitan pikiran dan kesumpekan hati. Pikiran yang sempit dan hati yang sumpek, penanda nyata ketidakbahagiaan. Memaafkan, memberi maaf pada orang lain, yang bertujuan memelihara diri, sesungguhnya merupakan tindakan menghadirkan sari diri. Sedangkan sari diri bagi seseorang, adalah wujud keimanan yang bermuara pada kebahagiaan. Maka, setiap orang patutlah merayakan kemenangannya, karena menaklukkan dirinya sendiri, lalu memaafkan orang lain, dan pastilah kebahagiaan menanti di gerbang kehidupan.
 
[ Edunews, 10 Juli 2016 ]

Kembali ke Sari Diri

Di pucuk nirmalanya bulan Ramadhan, pada pekan terakhir, bertanyalah seorang cilik pada bapaknya, tentang apa yang dibikin, sewaktu umur masih kanak-kanak, sepadan dengan usia sekolah dasar, tatkala bulan suci tiba? Sang bapak yang usia sekolah dasarnya, beredar antara tahun 70an dan 80an pun berusaha mengingat apa yang tersisa, sebagai serpihan kenangan indah, keceriaan yang tiada tanding. Masa termanis dalam hidup.

Berceritalah sang bapak, bahwa ketika kanak-kanak, bila Ramadhan hadir, liburlah sekolah sebulan penuh. Jadi, setiap anak punya waktu yang suntuk untuk menikmati gemerlapnya bulan kudus. Main petasan oke, tapi suaranya tidak keras amat. Ada kembang api, yang sebatas dipegang beberapa detik, lalu mati. Tak ketinggalan, meletuskan meriam bambu, membunyikan letusan-letusan yang terbuat dari busi motor, teralis becak dan sepeda atau motor, yang mesiunya dari korek api. Semua mainan dibuat sendiri. Ngaji di mesjid sambil mendengar kisah-kisah para nabi dan orang terdahulu.

Si cilik menyimak, rupanya mulai membandingkan dengan dirinya, yang di masa kiwari ini, lebih banyak bermain dengan mainan yang dibeli. Mulai dari petasan yang nyaris menyamai suara guntur, kembang api yang berusaha menyamai kerlap-kerlip bintang. Waima ada perbedaan dalam hal mainan, namun hakekatnya sama; bermain. Dunia cilik, memanglah dunia bermain. Segalanya dipandang sebagai mainan belaka. Tafsir seriusnya, dunia ini tempat bermain. Jagat hanyalah mainan belaka.

Lalu apa yang mesti dimaknai lebih khusyuk dari dunia kanak-kanak, sehingga ia memandang buana ini sebagai mainan belaka? Saya pun memahaminya dengan mengemukakan asumsi, karena terkait langsung dengan jiwa sang anak. Seorang anak yang belum akil baligh, niscayalah khalis jiwanya, mukhlis ruhaninya. Jiwa yang kudus, pastilah memandang jagat ini sebagai tempat bercanda, sarana bermain, sehingga segalanya menjadi bagian dari candaan dan mainan belaka. Makanya, karena jiwanya masih bersih, tidaklah berlaku hukum-hukum ilahi padanya. Sebab sang anak adalah manusia citra ilahi. Inilah sari diri, sosok yang azali bin purba dalam kehambaan.

Akan halnya ketika mulai memasuki masa akil baligh, dunia anak pun ditinggalkan. Mengadalah dunia remaja. Kesucian jiwa pun mulai buram. Yang benderang adalah gejolak meninggalkan dunia dalam -- kekudusan ruhani yang mikrokosmik-- bertualang memenuhi hasrat-hasrat dunia luar -- memoles kekotoran jasmani yang makrokosmik-- yang berwujud pada persaingan dalam segala bidang kehidupan. Pengejaran segala yang berbau duniawi menjadi tak terhindarkan. Dunia tidak lagi sebagai arena permainan, melainkan main-main dengan dunia. Karena main-main dengan dunia, maka dunia pun mempermainkannya. Menawannya, hingga terterungku begitu rupa dan sulit sekali membebaskan diri dari ikatan duniawi.

Terkisahlah seorang kerabat yang menghadiahi saudaranya yang lebih tua, kala usia sang kakak telah menghabiskan jatah melatanya 40 tahun, dengan sebuah cendramata yang bertuliskan: Life is Begin at Fourty , hidup dimulai pada usia empat puluh. Saya yang menyaksikan peristiwa itu, membatinkan kira-kira yang dimaksudkan dengan slogan kehidupan itu. Ronanya, itu adalah sejenis ajakan untuk menempuh jalan balik, setelah menghabiskan masa bertualang meninggalkan diri -- dunia dalam yang mikrokosmik -- jiwa yang kudus. Singkatnya, serupa ajakan untuk menjadi kanak-kanak lagi, mengarungi jiwa yang kudus, meski dengan balutan jasmani yang tidak cilik lagi. Kembali ke sari diri.

Bulan Ramadhan yang tinggal ratusan menit durasinya, mendorong si cilik agar sang bapak ikut lagi bermain di pucuk waktu yang tersisa. Suatu ajakan untuk menjadi kanak-kanak lagi. Sang bapak pun mengiyakan. Lalu terjadilah kolaborasi yang apik, antara si cilik dan sang bapak dalam mengkuduskan Ramadhan, sekaligus menyilakan pergi dan berharap setahun kemudian datang lagi. Mainan pun dibikin sedemikian rupa, guna mewujudkan permainan semangat kekanakan, yang menganggap semua yang di luar diri hanyalah mainan belaka.

Pada usia sang bapak yang sudah lebih empat puluh, menjadi kanak-kanak dalam pengertian yang lebih spiritual bukanlah perkara yang sulit. Sebab, memang sudah waktunya untuk merintis jalan pulang, setelah mengembara ke berbagai belahan jagat, mencari bekal kehidupan, agar tetap eksis melata di atasnya. Bila perjalanan meninggalkan sari dari porosnya dari kanak menuju akil baligh, maka jalan pulang, kembali ke sari diri, prosesnya dari akil baligh kembali ke kanak. Jadi, pada sari dirilah bertemu kualitas insan kamil -- antara si cilik dan sang bapak dalam kekanakan -- yang memandang jagat sebagai arena permainan atawa dunia sebagai mainan belaka. Raib dan adanya segala yang duniawi, hanyalah pergiliran semata.

Saatnyalah mengedepankan anjuran Muhammad Iqbal, seorang penyair - filosof anak benua India-Pakistan, pada kitab utamanya, Javid Namah, yang memandang dunia tidak lebih dari kedai, sejenis tempat singgah sejenak rehat. Atau mencerap kembali penggalan syair Maulana Rumi, sesosok sufi yang amat tersohor bagi para spiritualis, dalam karyanya, Mastnawi, yang mengandaikan suara merdu nan melengking seruling bambu yang menjerit, menyayat jiwa, karena rindu akan rumpunnya. Sebatang seruling yang ingin ke kembali ke jati dirinya, serumpun bambu.

Sudah waktunya, bekal hidup yang begitu banyak, sebagai hasil capaian prestasi dari akibat meninggalkan sari diri, semisal; gundukan harta, limpahan jabatan, diperas menjadi intisari hidup berupa amal. Mengkualitaskan yang kuantitas, menjiwakan yang ragawi, meruhanikan yang jasmani. Kembali ke diri yang azali, menyongsong perjanjian primordial dengan Ilahi, agar diperkenankan kembali menjadi makhluk ilahiat. Dan, Ramadhan yang tuntas ditunaikan, hanyalah sebentuk interupsi tahunan, yang bergulir untuk mengingatkan, agar tidak lupa pada diri terdalam, yang hakiki dalam kekanakan, sari diri. 

[ Edunews, 03 Juli 2016]

Selasa, 28 Juni 2016

Sepak Bola, Religiusitas dan Spiritualitas




Tidak ada yang lebih cermat mengatur waktu di bulan Juli 2016 M, yang bertepatan dengan bulan Ramadhan 1437 H, selain dari para pemburu pahala dan penggila sepak bola. Apa pasalnya? Pada bulan inilah bertemu dua perkara yang sama-sama membutuhkan perhatian tiada tara. Ramadhan dengan segala pernak-pernik ikutannya dan perhelatan sepak bola Piala Eropa, bersama ragam kintilnya, yang diikuti oleh 24 negara.

Bagi pemburu pahala, bulan ini menubuhkan bulan berkah, rahmat dan ampunan. Sementara, bagi penggila sepak bola, candra ini melukiskan pesta bintang-bintang sepak bola kawasan Eropa. Saya sendiri, menjadi bagian dari dua perjamuan ini. Sebagai seorang muslim, patutlah saya membenamkan diri dalam lautan janji pahala. Dan, selaku penikmat sepak bola, benar-benarlah ini peristiwa dua tahunan yang hanya terkalahkan oleh peristiwa empat tahunan, Piala Dunia. Terterungkunya saya dalam dua momen ini, sebab ada upaya menjadi seorang muslim yang makin religius, sekaligus penikmat sepak bola yang kian khusyuk.

Bertumbukannya waktu yang terpilih akan dua peristiwa ini, justru menimbulkan masalah tersendiri. Sebab, terkadang antara waktu ibadah dan siaran langsung pertandingan bersamaan adanya. Ibadah Ramadhan, semisal shalat tarwih berjamaah di masjid, bisa bertepatan waktunya dengan jadwal pertandingan yang pluitnya ditiup pada pukul 21.30. Pun, dalam semalam, biasanya ada tiga jadwal perlagaan; di awal malam, tengah malam dan dinihari jelang subuh. Jadi, pilihannya antara ibadah dan nonton. Betul-betullah menjadi dilema bagi para pengejar pahala dan penggendeng sepak bola.

Seorang karib yang amat religius, sekaligus maniak sepak bola membagikan tipsnya. Menurutnya, dalam semalam, kesemuanya bisa didamaikan dengan santun, yang penting cermat dalam mengelola waktu. Maka dipilihlah masjid yang menyelenggarakan shalat tarwih yang berakhir saat jelang pluit pertandingan pertama ditiup, lalu menonton pertandingan berikutnya hingga tengah malam, kemudian tidur dan bangun kembali ketika pertandingan dinihari mau kick off, tapi sebelumnya qiyamul lail (shalat malam) terlebih dahulu, plus mendoakan tim kesayangan. Dan, sahurnya di depan TV, nonton sambil bersantap dalam intaian waktu imsyak.

Kiat dari karib tersebut membuat saya mendaras kembali sebuah buku yang dianggit oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ: Spiritual Intelligent - The Ultimate Intelligent. Dalam buku ini dijelaskan perbedaan antara religiusitas dan spiritualitas. Dituliskannya bahwa, SQ (Spritual Intelligent-Kecerdasan Spiritual), tidak mesti berhubungan dengan agama (religion). Bagi sebagian orang, SQ mungkin menemukan cara pengungkapan melalui agama formal, tetapi beragama tidak menjamin SQ tinggi. Banyak orang humanis dan ateis memiliki SQ sangat tinggi; sebaliknya, banyak orang yang aktif beragama mempunyai SQ amat rendah.

Bagi Zohar dan Marshall, agama merupakan seperangkat aturan dan kepercayaan yang dibebankan secara eksternal. Ia bersifat top-down, diwarisi dari pendeta, nabi dan kitab suci atau ditanamkan melalui keluarga dan tradisi. SQ adalah kemampuan internal, bawaan otak dan jiwa manusia , yang sumber terdalamnya adalah inti alam semesta itu sendiri. SQ merupakan fasilitas yang berkembang selama jutaan tahun, yang memungkinkan otak untuk menemukan dan menggunakan makna dalam memecahkan persoalan. Kecerdasan spiritual serona kecerdasan jiwa. Ia mencorakkan kecerdasan yang dapat membantu kita menyembuhkan dan membangun diri secara utuh.

Jadi, kelihatannya dalam menghadapi dilema antara peraduan sepak bola dan ibadah Ramadhan, yang dibutuhkan adalah kecerdasan spiritual. Sudut pandang yang penuh aura spiritualitas. Sebab, bila saja yang dikedepankan sikap religiusitas, maka tidak menutup kemungkinan dilema itu bukan saja tidak mendapatkan solusi, malah bisa menjadi pemicu sikap yang memandang peristiwa sepak bola sebagai permanan anti agama, sehingga tidak sedikit yang mengistilahkan bahwa sepak bola telah menjadi “agama” baru di dunia ini. Bukankah amat mudah ditemukan, seorang yang kelihatan religius, memandang sepak bola sebagai permainan sesat dan menyesatkan?

Bagi seorang spiritualis, apapun realitas di dunia bisa dijadikan sebagai medium untuk mengaktuilkan spiritualitasnya, rasa dekat pada Tuhan. Termasuklah wujud persabungan sepak bola. Apatah lagi, dalam permainan sepak bola, di balik pertunjukan yang mengandalkan keterampilan ragawi, terselubung kekuatan jiwa yang cukup menentukan keberhasilan pertandingan. Sehingga, sepak bola di era kiwari ini makin berjiwa, tidak sekadar kompetisi yang akan menghasilkan pemenang. Tapi, bagaimana kemenangan itu diraih dengan spirit sedemikian rupa, bahkan kalaupun harus kalah, masih dalam kerangka spiritualitas, kalah terhormat.

Akhirnya, Ramadhan pun sebagai bulan yang dijanjikan sebagai bulan kemewahan akan kelimpahan pahala, tidaklah memadai bila hanya sekadar semangat religiusitas yang mengawalnya. Terjebak pada formalitas ibadah semata, sehingga puasa yang dijalani hanya berujung pada lapar dan haus, serta shalat tarwih dan qiyamul lail tidak lebih dari gerakan ragawi belaka, sejenis senam kesegaran jasmani. Nilai-nilai dalam bulan Ramadhan dan jiwa-jiwa yang menggerakkan permainan sepak bola, bisa bertemu dalam spiritualitas. Sebab, keduanya bisa dipandang sebagai titian untuk mengaktuilkan spiritualitas, mengajuk aura ilahiah.
(Edunews, 26 Juni 2016)

Pensucian Jiwa




Sekali waktu, Bung Karno mengutip seorang penyair besar dari Firinze, Italia, Dante Aligheri, lewat karyanya, Divine Commedia, tentang purgatorio, suatu tempat pensucian dari inferno (neraka) menuju paradiso (surga). Dalam karya imajiner Dante itu, seolah melakukan perjalanan dari kesaksiannya akan neraka dan tempat pensucian, lalu ke surga. Singkatnya, ada sejenis simpulan imaji, bahwa untuk sampai kepada kesucian, terbebas dari kekotoran, maka pensucian menjadi titian yang harus dilewati.

Bertolak dari gagasan imajiner itu, tentang pensucian agar sampai pada kesucian, saya ingin menyederhanakan soal pensucian ini lewat peristiwa sehari-hari. Sebagai amsal saja, ketika ada pakain kotor yang ingin dibersihkan, agar menjadi nirmala, maka haruslah disucikan lewat mekanisme pencucian. Mencuci pakaian itu. Dan, setidaknya, ada empat tahapan dalam mencuci pakaian kotor, baik lewat cara manual maupun melalui mesin cuci.

Langkah pertama yang mesti dilakukan, dengan merendam pakaian itu bersama diterjen. Setelahnya, dikuceklah atau diputar sedemikian rupa oleh mesin cuci. Selanjutnya, dilakukan pembilasan. Membilas pakain itu, hingga berkali-kali, sampai dianggap bahwa sudah tidak berditerjen lagi. Tindakan terakhir, mengeringkannya lewat mesin cuci atawa memerasnya lalu dijemur. Proses dari yang paling awal sampai akhir tindakan, mencerminkan perjalanan bagaimana selembar pakaian kotor, bila ingin dibersihkan, maka harus tunduk pada mekanisme pencucian ini.

Seperti halnya, tatkala seseorang ingin membersihkan dirinya, maka untuk sampai kepada kebersihan diri, haruslah memandikan dirinya. Mandi adalah sejenis tindakan membersihkan diri. Dalam proses pemandian, pun ada mekanisme yang standar. Paling tidak mengikuti empat tahapan, seperti halnya dalam mencuci pakaian. Setiap diri mesti lebih dahulu membasahi seluruh tubuhnya dengan air. Sesudahnya, digosoklah badan dengan memakai sabun, lalu membilasnya hingga busa sabun itu raib. Dan, paling akhir menegringkan badan dengan handuk atau yang sejenisnya. Mekaisme mandi ini, bakal menghasilkan tubuh yang bersih, segar dan bugar.

Analogi pencucian pakaian kotor atau memandikan badan dari setiap diri, dapat saya sepadankan, tatkala ingin mengedapankan cara membersihkan ruhani, mensucikan jiwa. Pensucian jiwa mesti dapat pula diajukan mekanisme dalam rangka mengkuduskannya. Bila putaran hidup selama setahun memangsa waktu dua belas bulan, maka ada satu bulan yang dikhususkan sebagai bulan pensucian di kalangan umat Islam. Bagi kaum yang memeluk Islam sebagai agamanya, bulan Ramadhan adalah sejenis fasilitas untuk mensucikan jiwa, guna mentahrirkan dirinya dari segala macam noda keruhanian.

Tak mengapalah bila saya mengadaptasi empat mekanisme pencucian pakaian atau pemandian jasmani ke dalam pensucian jiwa di bulan Ramadhan. Anggaplah selama bulan Ramadhan itu saya bagi menjadi empat pekan. Maka pekan pertama bersetuju dengan perendaman jiwa, agar jiwa menjadi lebih mudah dikucek sekaligus diputar pada pekan berikutnya. Pada pekan ketiga Ramadhan, selayaknya setiap insan mulai membilas jiwanya untuk mempersiapkan diri memasuki pekan keempat, guna menjemur jiwanya, agar di hari fitri, saat lebaran, benar-benarlah yang nampak adalah saridiri. Jiwa yang khalis bin mukhlis.

Pada konteks inilah, dalam bulan Ramadhan mendedahkan beberapa fasilitas pensucian yang disiapkan sebagai diterjen atau sabunnya, guna membantu pengkucekan jiwa. Tersebutlah, bahwa bulan Ramadhan ini adalah bulan berkah, rahmat, dan ampunan. Yang darinya membuahkan pengiring sebagai bulan berbagi, berkhidmat dan rekonsiliasi jatidiri.

Disematkannya bulan Ramadhan sebagai bulan penuh berkah, sebab di dalamnya segala macam perbuatan baik diberi ganjaran keberkahan, berupa kelebihan manfaat dari biasanya. Secara kuantitatif, pahala amal baik dilipatgandakan jumlah hitungannya. Karena memang sedarinya, pengertian berkah adalah adanya nilai lebih atas manfaat yang diberikan dari situasi umum. Tindakan biasa, namun membuahkan hasil yang luar biasa.

Pun ketika dititelkan pada bulan Ramadhan selaku bulan rahmat, karena pada bulan inilah sepatutnya rasa saling menyayangi sesama diumbar semaksimal mungkin. Bulan kasih sayang dimaknai sebagai upaya berbagi kasih sayang kepada yang amat membutuhkan. Orang-orang yang jauh dari sentuhan kasih, sedapatnya pada bulan inilah sebagai lahan untuk mendapatkannya. Insan-insan yang luput dari elusan sayang, sesungguhnya lewat bulan ini berhak meraih kesungguhan dari para penderma.

Dan, digelarinya bulan Ramadhan serupa bulan ampunan, lantaran Tuhan menggelontorkan ampunannya. Kewajiban insanlah memohon ampunan itu. melalui pertobatan. Melafazkan zikir dan doa, merapalkan serona mantra pembujuk pada Ilahi, agar siraman ampunan bertubi-tubi hadir mengada, dalam wujud jaminan keselamatan di dunia dan akhirat. Tiada yang lebih diimingkan oleh seorang budak pada tuannya selain dari ampunan kala bersalah. Begitu juga, tak ada yang bakal diidamkan oleh seorang hamba ke Tuhannya, melainkan terhapusnya dosa.

Insan yang terberkahi, dilimpahi rahmat dan diampuni, adalah insan yang berhasil meraih predikat takwa, sebagai buah dari kelulusan di madrasah ruhaniah pada bulan Ramadhan. Refleksinya, tercermin pada makin kuatnya keinginan untuk berbagi, pengkhidmatanya seolah tak terbendung dalam melayani sesama dan seraut wajah yang penuh pesona, serupa persona yang mampu merekonsiliasi dirinya. Jadi, bulan Ramadhan adalah titian pensucian jiwa agar dimensi keruhanian setiap diri menemukenali saridirinya.
(Edunews, 19 Juni 2016)

Minggu, 12 Juni 2016

Pendusta Agama



Edunews, 13 Juni 2016


(1) Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? (2) Maka itulah yang menghardik anak yatim (3) Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. (QS. Al-Maun, 1-3)


Realitas bulan suci Ramadhan 1437H/ 2016 M, sepertinya tidaklah berbeda dengan Ramadan tahun-tahun sebelumnya. Para produsen barang dan jasa yang memanfaatkan hasrat konsumerisme dari konsumen yang lapar dan haus, dengan segala macam godaan, lewat iklan di berbagai media: televisi, radio, koran dan dumay. Iklan seolah mengganti peran Iblis yang telah dibelenggu selama bulan suci ini. Betapa tidak, mulai dari saat menahan, kala imsak, hingga jelang buka puasa berondongan iklan konsumtif hadir bertubi-tubi.

Pun acara televisi, tayangannya disesuaikan dengan iklim Ramadan. Hadirlah sinetron religi, ajang hafids Qur’an, pentas dai cilik, para selebriti yang tiba-tiba menjadi sangat religius dan banyak lagi siaran yang senafas dengan itu, membuat televisi sebagai kotak ajaib selaku pengkhotbah yang tak tertandingi. Tak ketinggalan di media sosial. Semuanya turut larut dalam memeriahkan Ramadan

Demikian juga realitas sosial, nampaknya masih sama seperti Ramadan yang lalu. Tiba-tiba pengemis di perempatan lampu lalu lintas, sudut-dudut kota menyemut. Hadir pula peminta sumbangan dari berbagai panti asuhan, berbekal seamplop proposal permintaan zakat, infak dan sedekah. Kesemuanya muncul di bulan Ramadan. Ada kesan, bahwa menyemutnya pengemis dan peminta sumbangan, sekadar memanfaatkan momentum perburuan pahala dari para penyumbang, yang terprovokasi oleh para dai.

Ibarat gayut bersambut, para dai menjelaskan keutamaan berzakat, infak dan sedekah dengan ganjaran pahala yang berlipat-lipat. Para dermawan yang tergiur dengan janji pahala yang tak berbatas dan tentu kaum tak berpunya yang melihat momentum ini sebagai arena banjir rejeki. Bisa saja saya keliru, bila menyatakan bahwa apa yang sesungguhnya terjadi ini, adalah sejenis ibadah yang masih bersifat transaksional. Semua terjadi karena ada janji timbal balik, antara pemberi dan penerima, atas jasa baik dari para dai yang mempertemukannya, sehingga terjadilah transaksi pahala dan komoditas itu.

Sekali waktu, saya ikut duduk menyambangi kedai seorang karib. Dari pagi hingga sore, paling tidak ada empat orang yang datang ke kedai itu meminta sumbangan. Mulai dari sekadar menyodorkan tangan yang telapaknya menghadap ke atas, membawa kotak amal dari sebuah mesjid atau panti asuhan, hingga sejenis proposal yang kalau diamati secara seksama, model dan isinya sama dengan lainnya. Dan, menurut karib saya itu, sejak bulan Ramadan kejadian ini nyaris berlangsung setiap hari.

Sesungguhnya karib saya mulai jenuh dengan peminta sumbangan itu. Namun, ia terhantui dengan sebuah cerita, yang cerita itu juga pernah diceritakan pada saya oleh seorang tetua di kampung halaman. Konon, pernah ada suatu kejadian, seseorang menolak peminta-peminta yang bertandang ke mukimnya, bahkan dengan kasar tidak meladeninya. Beberapa waktu kemudian, terbakarlah rumahnya. Ternyata, barulah kemudian ia diberitahu bahwa peminta-minta yang ditolak itu, adalah nabi Khidir as yang menyamar. Kisah ini, tetaplah tertanam di dasar pikiran, bahkan cukup menghantui manakala berhadapan dengan peminta-minta.

Adalah nabi Muhammad SAW, yang terlahir dalam keadaan yatim. Dan, ketika usianya beranjak enam tahun, sang ibu pun meninggal, piatulah beliau. Ia pun diasuh oleh pamannya, Abu Thalib sebagai anak yatim piatu, dan di saat yang bersamaan, sang paman pun bukanlah orang yang berkecukupan. Yatim piatu dan kemiskinan, sudah akrab dengan Muhammad SAW sejak kecil hingga masa kenabiannya, bahkan sampai era berakhirnya risalah dari beliau. Jalan kehidupan dalam bingkai keyatiman, kepiatuan dan kemiskinan, menyebabkan ia sangat mudah berempati.

Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif, keyatiman dan kepiatuan serta kemiskinan dijelaskan cukup panjang, namun bisa disarikan bahwa anak yatim piatu dan orang-orang miskin disimpaikan sebagai kaum mustha’dafin. Orang-orang yang lemah, yang dibuat lemah dan sengsara serta ditindas adalah kelompok mustha’dafin. Kaum mustha’dafin adalah kaum yang hancur hatinya. Dan, perjalanan kenabian Muhammad SAW dihiasi dengan pembelaan kepada kaum ini, bahkan pengikut awalnya di Mekkah adalah dari kaum mustha’dafin.

Pada konteks inilah relevansi Al-Qur’an  Surah Al-Maun ayat 1-3 patut dikedepankan, ketika Tuhan bertanya lewat firmannya: Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Mengabaikan anak yatim piatu, menyepelekan orang miskin, berarti ikut mengukuhkan kaum mustha’dafin yang senantiasa tertindas dan ditindas. Padahal, sejak semula kaum inilah yang dibela seempatik mungkin oleh Muhammad SAW.

Masalahnya kemudian adalah ketika segelintir orang saling memanfaatkan slogan menyantuni anak yatim piatu dan kemiskinan. Tatkala seseorang mendefenisikan dirinya sebagai orang miskin dan menjadikan mengemis sebagai profesi, atau seseorang yang mengorganisir untuk tidak mengatakan memanfaatkan anak yatim piatu dan kemiskinan dengan berkedok pada topeng kelembagaan. Atau para dai yang sekadar memprovokasi para dermawan dan sang dermawan telah merasa kewajibannya juga telah terpenuhi, dan lagi pula mendapatkan pahala yang berlipat.

Boleh jadi, seseorang yang menjadikan mengemis  dan mengorganisir pengemis sebagai profesi, telah berdusta atas nama agama. Demikian juga dengan sang dermawan yang sudah merasa terbebas dari kewajiban dan setelah itu tidak lagi peduli setelah Ramadhan, patut didapuk sebagai peleceh agama. Mungkin juga para dai terlibat dalam pemaknaan agama yang dangkal, menggiring pengertian yang bersifat transakaional semata, disebut selaku pengabai kedalaman ajaran agama. Adakah mereka para pendusta agama? Kira-kira, sampai kapankah lingkaran masalah ini terhempas dari bulan suci Ramadan?


Jumat, 27 Mei 2016

Bu Lies dan Kelas Inspirasi


 
Usai sudah perhelatan Kelas Inspirasi Bantaeng (KI-B) jilid III digelar, yang Hari Inspirasinya terwujud pada Rabu, 25 Mei 2016, di 10 sekolah, pada 8 kecamatan di Bantaeng. Perayaan pun layak untuk dipestakan, dan bentuknya amat sederhana, menggelar sejenis acara refleksi di Tribun Pantai Seruni, atas apa yang telah dilakukan selama pelaksanaan KI-Bantaeng ini. Bagi saya, selaku Koordinator KI-Bantaeng merangkap KI-Sulawesi Selatan, perayaan ini serupa dengan hari lebaran. Ini lebarannya para sukarelawan KI-Bantaeng.
 
Seabrek catatan penting untuk dituliskan, sebagai penanda akan torehan peristiwa garib ini. Soalnya, KI-Bantaeng, hanya mampu menggelarnya sekali setahun. Dan tahun 2016 adalah tahun ketiga. Bolehlah saya tabalkan, bahwa perjalanan peristiwa ini, yang memangsa waktu kurang lebih tiga bulan, penuh dengan kejutan-kejutan. Baik kejutan itu menyenangkan maupun menyebalkan. Tetapi, justeru di situlah indahnya proses perjalanan akan suatu even. Terkadang, proses jauh lebih menarik dari hasil yang dicapai. Sebab, dalam proseslah sari diri setiap orang yang terlibat, khususnya para sukarelawan menemukan lahan tempaannya yang paling orisinil.
 
Sekadar peramsalan, sejatinya para sukarelawan KI-Bantaeng adalah sebuah tim. Bila saya ibaratkan sebagai tim sepak bola, yang siap bertanding, mulai dari pertandingan paling awal hingga final. Tentulah tidak bisa dihindari, adanya pemain yang hanya bisa bermain pada beberapa pertandingan, lalu cedera, tapi ikut lagi bermaian di pertandingan berikutnya. Ada juga, yang hanya main satu pertandingan, lalu dibelit cedera berkepanjangan. Pun, nampak pula bisa bermain di pertandingan final, tapi karena akumulasi kartu kuning, terlebih lagi dapat kartu merah sehingga tak boleh menyepak bola. Tapi, bagi saya, semuanya berkontribusi sehingga sukses menggelar pertandingan final, dan juara pula.
 
Pada setiap pertandingan, pastilah banyak kejutannya, bisa menegangkan segenap tim, walakin ujungnya sorak-sorai pun diumbar. Kadang pula, ada pertandingan kalah telat, pun terjadi di kandang sendiri. Tapi berbalas pula, di pertandingan tandang berikutnya, hujan gol di kandang lawan menderas, menyebabkan kiper lawan malas memungut bola, karena terlalu sering menghadap ke jala gawang. Makin dekat pada kompetisi berakhir, desakan kejutan pun bertubi-tubi. Ketegangan mewarnai rona wajah, tercermin pada raut muka yang terkadang membisu diam.
 
Demikianlah, jelang dua pertandingan terakhir, tiba-tiba saja ada kejutan. Stadion yang semulanya mau dipakai bertanding, dinyatakan tak boleh dipakai karena ada hajatan para petinggi, yang punya kuasa atas stadion itu. Tentulah pemindahan tempat bertanding itu menuai resiko bagi tim. Mulai dari strategi bermain, bentuk lapangan yang berbeda sebelumnya, psikologi para pendukung, akan memengaruhi jalannya pertandingan. Maka tidaklah mengherankan jikalau bentuk permaianan awal yang dirancang, mengalami perombakan, pengadaptasian agar pertandingan tetap berjalan.
 
Seperti itu pulah suasana yang dialami para sukarelawan KI-Bantaeng. Tempat briefing yang semula direncanakan akan ditempatkan di Balai Kartini, dan sudah dapat izin, tiba-tiba saja harus pindah ke Ruang Pola Bupati Bantaeng. Alasan diminta pindah lokasi, sebab akan dipakai oleh Pemda Bantaeng untuk acara Isra’ Mi’raj, sekaligus pelepasan Tim Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Gegara perpindahan ini, mengikutkan resiko yang tak sedikit. Mulai dari keharusan memberi tahu undangan yang ratusan orang, hingga perlengkapan kesuksesan acara yang dirancang untuk digunakan di Balai Kartini, pun ikut berantakan. Sebab, acara briefing ini membutuhkan ruang yang luas, bukan sekadar menampung orang yang ratusan. Sementara, Ruang Pola Bupati bukan berarti tidak memuat ratusan orang, tetapi bentuk ruangan itu diformat sebagai ruang rapat, yang kursi dan mejanya permanen posisinya.
 
Akibatnya, tidak bisa dihindari. Banyak laku yang sebenarnya tidak menjadi masalah di Balai kartini, menjadi masalah besar di Ruang Pola Bupati. Baik bagi para sukarelawan maupun penanggung jawab ruangan itu. Mulai dari administrasi yang tidak komunikatif atas perpindahan itu, antar jajaran di Pemda, maupun akibat yang ditimbulkan oleh para sukarelawan yang dianggap oleh pengelola sebagai ketidakwajaran. Dan, akibat dari semua itu, karena menyisakan buntut persoalan. Dengan kuasa yang dimiliki oleh pengelola, seenaknya saja menimpakan semua kesalahan itu pada KI-Bantaeng, terkhusus Ketua Panitia, yang mendapat cercaan yang berlebihan.
 
Seharusnya, bila kami melakukan pelanggaran atas penggunaan Ruang Pola itu, surati kami untuk bertanggungjawab secara formal, karena kami masuk secara formal. Itulah gunanya formalitas, bukan mencerca person tertentu. Saya selaku Koordinator KI-Bantaeng, masih sanggup untuk mempertanggungjawabkannya. Sebab, tercercanya seorang relawan panitia di KI-Bantaeng, sama saja mencerca secara keseluruhan.
 
Tibalah pada pertandingan final, Hari Inspirasi. Sejak sore hari, para sukarelawan yang ratusan orang itu, mulai berkemas untuk hadir di 10 Sekolah yang didapuk selaku tempat menginspirasi. Dari berbagai macam profesi, ada: Pengusaha, TNI, Polisi, Dokter dan Tenaga Kesehatan, Penulis, Pustakawan, Dosen-Guru, PNS, Politisi, dll. menghamburkan diri berdasarkan timnya di setiap sekolah. Saking militannya para relawan, nampak tim tertentu yang lokasinya di gunung nan terpencil, memilih bermalam di lokasi, agar esoknya tidak telat tiba disekolah.
 
Mungkin bagi sebagaian orang, kegiatan ini tiadalah arti. Bahkan, cibiran ikut terlontar. Tetapi bagi kami, itu hanya kejutan belaka, sebentuk kejutan yang menyebalkan, yang bakal berbalas dengan kejutan yang menyenangkan. Bagi kami, para sukarelawan, hadirnya sesosok profesional di hadapan anak didik, yang amat jarang menemukenali profesi tersebut, akan menjadi keajaiban. Sejenis epifani, yang bakal memantik cita-cita mereka. Sebab, beragamnya kaum profesional hadir, sama saja menyampaikan kepada mereka bahwa dalam kemelataan di dunia ini, begitu banyak jalan-jalan hidup untuk kehidupan.
 
Bayangkanlah, diri kita saat ini, yang usia sekolah dasar, punya cita-cita dan tentulah masih abstrak penuh tanda tanya. Tetiba ada sosok yang hadir di depan kita, mengkonkritkan yang abstrak itu, berbicara tentang perjalanan dirinya, mulai kesulitan, kesungguhan dan kerja keras, serta kejujuran untuk mencapainya. Pastilah, hanya nilai-nilai ideal dari profesi itu yang disampaikan. Dan, itu artinya memberikan nilai-nilai awal untuk membangun karakter seorang anak didik, yang dinubuatkan dalam cita-cita yang diimajinasikan.
Dengan begitu, segenap sukarelawan dari berbagai profesi, kehadirannya tak ternilai dengan ukuran apapun. Sebab, menjadi pemantik dari nyala api untuk membakar sesuatu, jauh lebih bernilai tinimbang dari api yang membakar itu. Soalnya, adanya api cita-cita yang bakal menyata, karena ada yang memantiknya. Sukarelawan telah menjadi pemantik cita-cita.
 
Kali ini, pada penyelenggaraan KI-Bantaeng jilid III, salah satu sukarelawan pengajarnya adalah Bu Lies Fachruddin, yang dikenal pula sebagai isteri Pak Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng. Kehadirannya selaku sukarelawan pengajar, sebenarnya adalah menunaikan janji yang ditabalkannya, sewaktu tim bersilaturrahim, bertemu mengkonfirmasi akan adanya KI-Bantaeng tahun 2016. Bu Lies Fachruddin hadir, tidak selaku pejabat atau isteri pejabat, melainkan hadir sebagai sukarelawan pengajar yang berprofesi selaku dosen. Saya pun yang bertemu di lokasi sekolahnya, SD Inpres Jagong, menyapanya selaku seorang sukarelawan. Ibaratnya, beliau adalah salah seorang pemain yang ikut bertanding di pertandingan final, dan ikut mencetak bola.