Tampilkan postingan dengan label TUTUR JIWA 2016. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TUTUR JIWA 2016. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Mei 2016

DUGA


dikau telah menamparku dengan angin
maka badaiku akan mengejarmu
hingga binasamu tiba

daku percaya pada tangan ajaib
yang bekerja dengan sepenuh jiwa
menyeimbangkan tatanan jagat
yang dikau porakporandakan

seandainya dikau menaburkan bunga
daku rela mati menjemputku
taburan bunga di pusaraku
mendinginkanku kala terik mengganas

tamparan anginmu bisa terduga akibatnya
sebab datangnya dari satu arah
namun badaiku tak terduga
karena asalnya dari berbagai penjuru mataangin

Rabu, 25 Mei 2016

KEPANTASAN


daku tidak butuh jabatanmu
sebab itu tidak lebih dari daki

tak sudilah daku
menampung dakimu

jabatanmu serupa kepantasanmu
bila tuturtuturmu, telunjukmu
tak mewakili jabatanmu
sungguhsungguh nyatalah dakimu

tuturmu yang bau comberan
melukai berlaksa telinga

telunjukmu yang bertajam nanah
menyilet semesta batin

tutur yang dikau tabalkan
telunjuk yang dikau tohokkan
sepadan muntah kucing
jijik dan menjijikkan

Rabu, 18 Mei 2016

KREDO


Ini kredo seorang penjual buku:

Manakala ada buku yang dilarang oleh para tiran
maka menjadi kewajiban untuk tetap menjualnya


karena penjual buku adalah titian peradaban
maka menjual buku berarti memelihara peradaban

Jika sudah tidak demikian
maka tak layak menyandang titel penjual buku

tatkala rasa takut menerungku menjual buku terlarang
maka sesungguhnya dikau hanya penjual kertas

wahai segenap penjual buku
beda jual buku dan jual kertas

memang buku hanya lembaran kertas
tapi di dalam buku ada jiwa yang menghidupkan

 cara terbaik melawan tiran pelarang buku
adalah dengan menjual apa yang dilarangnya.

Selasa, 17 Mei 2016

BAKAR-BUKU


bakarlah pikiran dengan buku
bukan buku dibakar karena pikiran

pikiran yang terbakar karena buku
bakal menerangkan kebekuan pikir

pikiran beku cuma memikirkan
cara membakar buku

membakar buku alamat pikiran buntu
bila buntu pikiran buku akan membakarnya

di surga kelak akan ada perpustakaan
tentulah isinya berlaksa buku

di neraka nanti hanya  ada api
pastilah buku juga ikut terbakar

Jumat, 12 Februari 2016

KITA


kita telah berlayar
tepatnya dua puluh tiga tahun hari ini
hasil selisih tiga belas Februari
seribu sembilan ratus sembilan puluh tiga
dengan dua ribu enam belas


usia kita masing-masing berkepala empat
beberapa penyakit sudah minta jatah mukim di badan

sering dikau menyebut kolestrol, darah tinggi
namun takut ke dokter karena vonisnya
daku suka menggerutu tentang asam urat, pegalpegal
walau sama saja tak kunjung ke dokter

tabungan pengalaman hidup menggunung
sesekali kita melinggis, memacul dan mencangkul

karena di perutnya ada :
lahar panas kemarahan,
bijibiji kerikil keramahan
butir pasir kelembutan

sewaktuwaktu muntah menggilas
menghidu suasana sekitar
memayungi altar citacita

sebab letupan batuk keadaan
kadang didahului deheman gempa himpitan
desakan tuntutan kehidupan

menyapa semua itu
kita samasama menempuh jalan

dikau membadan pada dakuku
dakuku menubuh pada dikaumu

dakuku dan dikaumu melebur
menjadi kita

kita bukan bermaksud dikaumu raib
tidak pula bermakna dakuku gaib

pada pikiran dan hati kita
kaki dan tangan kita
lumat sekotahnya
tamat risalahnya

Kamis, 04 Februari 2016

ha-em-i


kita tidak lagi muda
walau belum tua benar
apatah lagi remaja belia

tapi mengapa para penyokong
bak orangtua bau tanah
menanti kematian?

atau para pegiatnya
semisal anak-anak kecil
berebut permen?

wahai para penyokong
berhentilah membabar kematian

duhai para pegiat
bijibiji permen bakal merusak gigimu

era celaka dalam sejarah
menunggu kematian
bersebadan sakit gigi

Senin, 11 Januari 2016

SALAM


(pada guruku: Abdul Salam Kari yang mengabadi hari ini)

keselamatan menantimu di padang syafaatnya
berlaksa shalawat telah dikau lantunkan
sepadan dengan namamu: Salam


mata basah di terik surya
kali ini tak ada puisi untukmu
pun baitbait epigram
apatah lagi seutuh esai

karena dikaulah:
puisiku
epigramku
esaiku
10.01.16

Rabu, 06 Januari 2016

BUNUH


walakin dikau mengangkangi tanah suci
taklah sudi kesucian menghidumu

apa istimewamu
jikalau hanya mengulang ulah Qabil
membunuh Habil?

memang tragedi paling purba
membunuh saudara sendiri

benarlah tutur seorang pewaris Habil
"membunuh satu orang, sama saja
membunuh seluruh manusia"

Kamis, 31 Desember 2015

2016


di pucuk dini

terompetku melemah bahananya
merconku nirsuara
petasanku tak menyalak
kembang apiku ditelan pagi


yang tersisa
serakan sampah
kuwariskan buat awal tahun