Tampilkan postingan dengan label CATATAN JIWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CATATAN JIWA. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 November 2015

Bersatunya Dua Sejoli Literasi

Hampir dua bulan lamanya saya tidak ke Bantaeng. Terhitung sejak acara launching buku Djarina, buah karya Atte Shernylia Maladevi, sebelum lebaran haji , hingga akhir pekan penghujung bulan Oktober 2015. Maklumlah, sejak saya kembali menggawangi Papirus Tokobuku Dan Komunitas, sepertinya saya masuk dalam sebuah “penjara” yang membatasi ruang gerak untuk bertandang seleluasa waktu sebelumnya. Yah..., saya diterungku olehnya, namun dari balik meja kerja, saya tiada henti memuntahkan peluru ujar-ujar sebagai terapi jiwa. Ibarat Arsenal yang bertubi-tubi menggelontorkan gol-gol indah dari meriamnya di London Utara.
Kuatnya rasa ingin segera ke Bantaeng, jujur saya katakan karena rindu. Ada sejenis desakan yang membuncah di bancuh hati dan pikiran saya. Mau bersua dengan kerabat, karib dan tentu saja segenap kawan di Komunitas Literasi Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan. Apatah lagi, beberapa hari sebelum berangkat, seorang sianakku dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Saleh Al-Fachry meminta saya untuk menjadi moderator pada acara diskusi publik dalam rangka Musda PKS Bantaeng, walau diurungkan sebab Bupati Bantaeng, Nurdin Abdullah berhalangan hadir.
Ala kulli hal, postingan Kepala Suku Komunitas Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, Dion Syaif Saen yang makin mengencangkan tekad saya untuk segera meluncur ke Bantaeng. Betapa tidak, Dion memposting berita dan gambar kebakaran di Bissampole yang menewaskan tiga orang anak. Kejadiannya malam Jumat, 29 Oktober 2015, sekitara pukul 20.00. Walau nanti esok harinya baru saya baca postingan itu. Dan, saya langsung telpon Dion tentang lokasi persisnya dan keluarga siapa yang korban. Ternyata korbannya adalah anak-anaknya Naping yang tiada lain adalah kawan sepermainan dulu waktu saya masih kanak-kanak.
Jumat malam. saya meluncur ke Bantaeng dengan mobil langganan. Sejak di perjalanan, sang sopir sudah berbicara sedikit informasi tentang kebakaran di Bissampole itu. Pukul setengah dua belas saya tiba di rumah, langsung istirahat. Esok harinya, bertemulah saya dengan Agusliadi, Dion Syaif Saen, Emha Alahyar dan Afdan di Warung Pojok Bissampole milik kakak saya. Banyak yang kami diskusikan, temanya menjalar kemana-mana. Dan pada waktu diskusi inilah Agus mengingatkan akan pesta pernikahan rekan kami, Kasma Kompable dengan Emilk Azis. Pesta digelar di kediaman Kasma hari Sabtu, 31 Oktober, sedang di rumah Emil keesokan harinya, Ahad 1 Nopember 2015.
Bersepakatlah saya dengan Dion Syaif Saen dan Emha Alahyar untuk pergi bersama, ke rumahk Kasma di Parammuloroa. Seperti biasanya, kalau ada karib saya yang amat dekat dengan tradisi literasi, maka saya selalu menyatakan kehadiran saya dengan sebuah kado: buku. Kali ini, di pesta Kasma pun saya bawa kado buku yang di halaman paling awalnya saya tuliskan tutur: “ Laki-laki eksis karena maskulinnya. Perempuan mengada sebab feminimnya. Dalam keluarga, maskulinitas dan feminitas bersatu.” Saya menikmati kebahagiaan kedua karibku itu, saya jabat tangannya Emil dengan erat, lalu saya panjatkan shalawat pada kanjeng Nabi, namun tidak saya jaharkan.
Pesta itu makin asyik, sebab rengekan saya pada Dion agar menyumbangkan lagu buat mempelai atas permintaan saya dipenuhinya. Maka tembang lawas Koes Plus pun membuai kami, Andaikan Kau Datang judul lagu yang dilantunkan Dion dan satu bonus tembang Makassar Ampe Ampea Rilino yang menghanyutkan para pendengar, terlebih lagi yang menyanyikannya. Bersama tembang Koes Plus, saya larut dalam perhelatan yang auranya masih terasa hingga kami pulang dan bersepakat untuk menikmati senja bersama-sama di pelataran Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan.
Sengaja saya tidak bikin janji dengan siapapun di malam minggu kali ini. Soalnya, saya ingin menyaksikan pertandingan bola liga Inggris. Lewat chanel Bein Tv, saya menonton Chelsea dipecundangi oleh Livervool di Stamford Brids, dan lanjut hasil seri antara Manchester United dengan Crystal Palace. Malam minggu ini agak larut baru saya tertidur, soalnya membayangkan bagaimana nasib Chelsea yang eksis di urutan ke-15 klasemen dan MU yang kurang beruntung serta kemenangan fantastis The Gunners, sang meriam London Utara, Arsenal. Benarlah yang dibilang Yusuf Kalla, “ bersentuhan dengan urusan bola, kita tidak bisa tidur nyenyak. Sebab kalau kita kalah maka akan dicerca sampai pagi dan kalau menang kita akan pesta sampai pagi.”
Tibalah pada hari Ahad, matahari beranjak meninggalkan subuh. Teriknya barulah semenjana saja, sehangat hati saya yang masih menari riang menikmati kejayaan Arsenal. Saya bertandang ke mukimnya Dion, guna janjian ke pesta pernikahan di rumahnya Emil. Walhasil, sepakatlah saya dengannya untuk berangkat siang sesudah shalat dhuhur. Sepulang dari mukim Dion, saya melewati lokasi kebakaran yang memang jaraknya hanya seratusan meter dari rumah Dion.
Saat berangkat, tiba-tiba HP saya berdering, darinya saya dikontak oleh Ahmad Rusaidi yang ternyata bermaksud sama untuk ke acara itu. Beringanlah kami, saya dibonceng Dion dan dipertengahan jalan, ikut pula Haedir Haedir Thumpaka yang punya tujuan sama, mentunaikan undangan pestanya Emil. Dengan tiga motor, berempatlah kami meluncur ke belakang kantor desa Bontojai, lokasi rumahnya Emil.
Oh.. ya... nyaris lupa. Sebelum saya berangkat meninggalkan rumah, saya dan Dion membungkus kado, satu dari Dion dan satunya lagi dari saya. Dua buku itu saya satukan saja dalam bungkusan kado. Pada buku yang saya kadokan, tutur-tutur pun saya tuliskan buat Emil dan Kasma, “ Dalam sebuah keluarga, hendaklah benih keilmuan tetap disemaikan. Dan, buku ini sekadar sebagai pengingat.” Kira-kira kurang lebih begitu yang saya tuliskan.
Di perjamuan pestanya Emil, banyak nian kerabat dan karib saya jumpai. Ada rombongan dari KPU Bantaeng, Balang Instute, pentolan FMBT dan banyak lagi yang kalau saya sebutkan satu persatu bakal panjang dan tidak ada jaminan pasti ada nama yang bakal luput. Baik pesta di rumah Kasma maupun Emil, tamu-tamu yang berpapasan dengan saya dominan dari kawan-kawan aktifis kaum muda Bantaeng yang terserap dalam berbagai corak kelembagaan. Ini menandakan dua sejoli ini, dominan domain perkawanannya dalam ruang lingkup aktivisme.
Saya sendiri mengenal Emil dan Kasma amat dalam. Bagi saya, keduanya adalah figur-figur terdepan dalam gerakan literasi. Hampir semua perhelatan di Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, keduanya selalu menjadi salah satu tekongnya. Dan, saya mencurigainya, salah satu tempat memupuk tali kasihnya adalah di Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan. Tentulah dugaan saya kurang akurat, tapi saya amat sering memperhatikannya, bahwa kelak dua sejoli ini bakal melarut dalam satu ikatan keluarga. Dan, doa-doa terbaikku selalu saya panjatkan agar dijabah oleh Yang maha Pengijabah.
Bagi saya, Emil bukanlah anak kemarin sore yang saya kenal. Sudah bertahun lalu saya mengenalnya, apatah lagi ketika Emil menjabat selaku Ketua Umum FMBT, saya selalu diajak untuk menjadi narasumber kajian, baik di forum formal maupun informal. Dan, rumah yang ditempati pesta itu adalah rumah yang pernah saya tempati kajian intelektual hingga larut malam, dan pernah pula menjadi tempat mampir makan kelapa muda sewaktu pulang dari survey untuk Kelas Inspirasi Bantaeng.
Dari interaksi yang begitu sering dengan Emil dalam kajian-kajian, batin saya biasa membetik, bahwa anak muda yang satu ini adalah seorang yang terdepan dalam berburu ilmu pengetahuan. Setiap buku referensi yang saya nyatakan sebagai buku yang layak dibaca, pasti Emil memburunya, memilikinya dan tentu membacanya. Sebab, saban waktu selalu saja Emil mengkonfirmasikan hasil bacaannya untuk dibincangkan. Dunia literasi menawannya, ilmu telah menerungkunya.
Demikian pula dengan Kasma, kini sudah menjadi isterinya, juga seorang aktivis yang tumbuh dalam dunia persyarikatan Muhammadiyah. Saat ini Kasma menjabat Ketua Nasyiatul Aisyiah. Dalam banyak persamuhan di berbagai forum yang melibatkan Kasma, saya yang juga hadir bisa menerka keberisian inteketual di pikirannya. Tidaklah mungkin warga Nasyiatul Aisyiah mendapuknya selaku ketua, jikalau tak menghitung kapasitas yang dimiliki oleh Kasma.
Bersatunya dua sejoli literasi ini dalam ikatan pernikahan, mewujud pada bangunan keluarga baru memberikan optimisme baru bagi saya secara pribadi. Selaku pegiat literasi, bagi saya ini adalah kesempatan emas untuk selalu mengingatkan pada keduanya agar tetap bersetia pada tradisi literasi yang dapat diinisiasikan lebih khusyuk lagi dalam otonomi keluarga. Saya membayangkan, Emil dan Kasma segera membuat sudut baca di dalam rumahnya, sepetak surga buat menyemaikan aura keilmuan yang bakal meninggikan derajat penghuninya. Surga bisa kita ciptakan dalam rumah, sesudut atau sepetak dan tentu saja kado buku dari saya dan Dion bakal menjadi salah satu penghuninya.
Di selingan lantunan irama kasidah-elekton yang mengiringi pestanya Emil, saya merengek lagi ke Dion, agar melantunkan tembang lawas. Tapi Dion angkat tangan, dan saya maklum sebab pengiring musiknya bergenre kasidah. Dan, pastilah Dion tak berdaya di hadapan para penyanyi perempuan yang berkasidah ria. Walau ada juga dua penyanyi perempuan yang bernyanyi bukan lagu kasidah tapi diiringi dengan irama kasidah yang salah satunya ternyanyikan, saat saya beranjak pulang, judulnya: Sakitnya tuh di Sini. Begitu beranjak meninggalkan pesta, saya menyapa Adam Kurniawan dan kawan dari Balang Institut, saya berucap pada mereka, kalau mereka yang nyanyi itu menunjuk hatinya yang sakit, kalau saya berkata sakitnya tuh di sini, sambil saya menunjuk kepala yang baru tiga hari lalu saya plontos. Tawa pecah di antara kami, pamit pulang dengan sejumput bahagia dari arena perjamuan, hingga tulisan saya torehkan, masih saja meluap-luap.

Selasa, 04 Februari 2014

RAHMAT ZAINAL: KEMBARA PIKIRAN



Adalah Rahmat Zainal, kawanku yang satu ini memang unik, dan itu pula yang sering kudengar dari kawan-kawan lainnya. Mengapa unik? Sebab, menurut banyak kawan, khususnya yang segenerasi dengannya, ia amat sulit dimengerti jalan pikirannya. Melompat ke sana ke mari, ibarat camar yang senantiasa bertengger di pucuk gelombang.

Saya bangga dan bahagia bisa mengenalnya, sebab darinyalah banyak belajar tentang hal-hal yang rumit, khususnya dalam banyak tema-tema pikiran yang berseliweran di alamatulhayat, jagat raya pengetahuan. Begitu saya menemukan beberapa tema-tema penting pemikiran yang sulit kumengerti, selalu saja salah seorang yang teringat adalah Rahmat Zainal.

Namun beberapa waktu tak bersua dengannya, mungkin kisaran dua bulan tak bersilat pikiran dengannya. Tiba-tiba kemarin, Selasa 4 Februari 2014, ia menelponku, dan menanyakan di mana posisiku. Dan saya pun menyahut, lagi di rumah, di Paradigma Ilmu. Ia pun berjanji untuk datang menjengukku. Kerinduan akan dengannya, akan segera terlunasi, ujarku membatin.

Setelah shalat Ashar, ia pun nongol dan seperti biasa, langsung ke belakang, ke pojok rumahku, sepetak surgaku, di ruang belajar-baca kediamanku. Saya menatapnya, terlihat masih seperti kemarin-kemarin unik dan agak liar hasratnya untuk segera berbincang. Dan persilatan pikiran pun mulai ditabuh gendrangnya.

Terlebih dahulu ia menanyakan keadaanku, yang amat sulit ditemui. Beda dengan waktu-waktu yang lalu. Dan saya pun nyatakan, bahwa sama sulitnya saya menemukanmu. Lalu saya pun mulai melakukan apologia, tentang sulitnya saya ditemui, karena seabrek kesibukan, khususnya di akhir pekan.

Saya bilang padanya, bahwa sudah hampir dua bulan terakhir ini, aktifitasku lebih banyak tercurah di Bantaeng, kampung halamanku. Aktitasku di Bantaeng makin meninggi seiring dengan makin kuatnya hasrat warga untuk semakin ingin menenggelamkan diri dalam pusaran gerakan literasi. Ditambah lagi dengan adanya program Kelas Inspirasi Bantaeng, yang oleh kawan-kawanku di Bantaeng mengamanahkan kepadaku sebagai koordinator.

Sebagai misal, tuturku, pekan yang lalu, Sabtu-Ahad, 1-2 Februari 2014, jadwalku amat padat. Jam 09.00 pagi berangkat ke Bantaeng, tiba siang 12.30. Istirahat sejenak, lanjut jam 14.00 mengisi acara dialog di FMB, hingga Ashar. Setelah itu, menjadi pembicara di acara Maulid Nabi di KOSKAR PPB, hingga malam mampir diskusi dengan panitianya, lalu pulang ke kota, tapi sebelumnya singgah dulu di kantor desa Rappoa, menemui Iwan Darfin, selaku kepala desa, agar beliau dengan sukarela terlibat sebagai relawan pengajar Kelas Inspirasi Bantaeng, dan alhamdulillah oke. Malam itu lanjut ke Boetta Ilmoe, ngobrol dengan kawan-kawan, lanjut nonton Liga Inggris dan tidur.

Esok harinya, hari ahad, jam 09.00, saya meluncur ke Tombolo guna mengisi perbincangan di Pesantren Literasi yang dilaksanakan oleh Rumah Baca Nusantara, hingga siang. Lanjut ziarah kubur di makam orang tuaku, lalu pulang, balik ke Boetta Ilmoe, sebab jam 14.00 siang harus rapat dengan relawan panitia Kelas Inspirasi Bantaeng, hingga Maghrib. Malamnya, ngobrol lepas di Boetta Ilmoe, dan subuh balik ke Makassar.

Saya membatin, sambil meraba rasanya, kelihatannya ia agak terpukau dengan ceritaku. Dan sebelum rasa pukaunya habis, pun saya paparkan lagi rencana akhir pekanku kali ini, Sabtu Ahad 8-9 Februari 2014. Bahwa Jum'at sore sudah berangkat ke Bantaeng. Pasalnya, hari Sabtu 8 Februari 2014, saya diminta untuk ceramah Maulid Nabi di sebuah Yayasan-Sekolah di Desa Bonto Tappalang, daerah pinggiran, yang letaknya sudah hampir berbatasan dengan Gowa. Dan itu berarti hingga sore, sebab kunjungan kali ini, baru pertama kalinya, dan ada keinginan untuk berkomitmen dengan sekolah itu untuk mengadvokasi tradisi literasinya.

Malam minggunya, ada rencana menarik bersama Dion dan anak-anak Komplen Bantaeng untuk ngumpul, nyanyi bareng-bareng, nge-Koes, sebagai cara untuk mengenang Murry Koes Plus yang wafat 1 Februari lalu. Esoknya, Ahad 9 Februari 2014, mulai jam 08.00 hingga 12.30 acara pelatihan literasi, Quantum Training bersama pelajar-pelajar SMA di Boetta Ilmoe, lalu jam 14.00 lanjut rapat relawan panitia Kelas Inspirasi Bantaeng. Rencana senin subuh balik ke Makassar. Makin terpukaulah Rahmat Zainal dengan ceritaku.

Lalu aku jedah bicara, maka ia pun segera menyambar waktu, untuk segera mengajukan jurus-jurus pikirannya, lewat silat teoritisnya yang bakal saya nikmati. Sebab seperti biasanya, selalu saja saya terbawa arus, ikut berselancar pada kedalaman lautan pengetahuannya. Persilatan pikiran pun makin seru, kembara pikirannya sulit saya hentikan. Banyak hal-hal baru merinsek pikiranku, menyaru tapak-tapak intelektualitasku. Sulit kutuliskan di sini bagian-bagian persilatan pikiran itu, namun satu kesimpulan yang ingin kudedahkan, bahwa kawanku yang satu ini tetaplah unik, kembara pikirannya belum berakhir, sesekali hanya bertengger di lakon-lakon padepokan pikiran yang tersebar di Makassar.

Saya baru sadar, bahwa kawanku yang satu ini, kembara pikirannya tak berbatas, hingga kampus-kampus pun tak kuasa memenjarakannya. Bayangkanlah, Rahmat Zainal telah tiga kali pindah kampus. Pertama di FISIP Unhas, lalu ke Bahasa UNM dan sekarang sementara berabuh di Aqidah Filsafat UIN Alauddin Makassar. Sekali lagi pindah kampus, hanyalah Universitas Jagat Raya yang bisa menampungnya.

Tak terasa, obrolanku dengannya, berlangsung hingga kurang jam 20.00 malam. Ia pamit, dengan segenap luka-luka dipikirannya, dan saya pun berdiam di rumahku, tentu dengan luka-luka pikiran yang sama. Ia memilih tetap mengembara, menelusuri lorong-lorong pengetahuan, untuk mengobati luka-luka pikirannya. Saya yakin dan percaya, luka-luka pikirannya akan segera sembuh, sebab sebelum kepulangannya, ia telah membawa beberapa buku resep obat yang bakal ia ramu, dan setelah itu ia akan berbagi denganku, hasil temuan ramuan resep pikiran itu. Di masa berikutnya, Rahmat Zainal, akan tetap kutunggu, guna bersilat pikiran, agar ada lagi luka-luka pkiran yang teraktuil. Luka di pikiran adalah bencana, tapi luka pikiran adalah rahmat dari-NYa, yang dimanifestasikan lewat Rahmat Zainal. 

Kamis, 03 Januari 2013

AKBAR FAISAL

Kurang Lebih 20 Tahun, Bersua Kembali.
Oleh Sulhan Yusuf


Kalau saja orang bertanya tentang siapa politisi yang cukup populer di DPR-RI Senayan, apatah lagi kalau ukurannya tampilan di media televisi, maka salah seorangnya adalah Akbar Faisal (Fraksi HANURA). Ia begitu populer karena selalu bicara, tampil dan bertingkah apa adanya, sekaligus berkarakter. Dan pertimbangan inilah yang mungkin menjadi latar dari penyelenggara Reuni HMI FPBS IKIP UJUNG PANDANG-UNM, sehingga beliau didaulat menjadi pembicara pada acara itu yang bertemakan Pendidikan Karakter.

Selain itu, karena ia memang alumni HMI FPBS IKIP UJUNG PANDANG, meski ia sendiri menyatakan dalam pemaparannya, bahwa ke-HMI-annya tidak terlalu kental, bahkan oleh sebagian anak-anak HMI – dalam berbagai kesempatan mengkonfirmasi tentang Akbar Faisal pada saya dan keanggotaannya—meski ia sekarang didaulat menjadi salah seorang penasehat Kahmi.

Cerita tentang Akbar Faisal dan HMI, hanyalah sepenggal cerita dari perkawanan saya. Sebab, setelah itu tidak ketemu lagi. Ia sudah jadi sarjana, dan langsung mengembara ke Surabaya, Bali dan Jakarta. Latar masuknya ia ke HMI ada cerita tersendiri. Waktu saya menjabat Ketua Umum HMI KORKOM IKIP UP, saya sering ditanyai oleh anak-anak HMI Komisariat FPBS, tentang ulahnya yang suka “mengganggu” anak-anak Kohati, padahal saya adalah kawan dekatnya.

Hingga sekali waktu, saya lama tidak ketemu, karena waktu itu saya menghabiskan waktu saya ti Sekretariat HMI Cabang Ujung Pandang di Bontolempangang, bersua di Kampus IKIP Gunung Sari. Dari ngobrol-ngobrol itulah, saya kemudian ajak masuk Basic Trainng HMI, tetapi bukan di Komisariat FPBS, di Bontolempangang. Dan ia sangat kritis dalam training itu, apalagi curhatnya pada saya tentang kualitas para instruktur yang kurang memahami jalan pikirannya.

Perkawanan baik saya dengan Akbar Faisal bukanlah saat di HMI, karena keburu menghilang itu. Tetapi sewaktu saya masih sangat aktif di organisasi Intra Kampus. Dari seluruh peristiwa yang sangat membekas, baik pada dia maupun saya, saat kami sama-sama aksi mogok makan di UNHAS, sebagai aksi solidaritas terhadap kawan-kawan mahasiswa ITB yang dipecat, diantaranya adalah Fajul Rachman (aktivis yang sangat vokal saat ini) Dan saat itu juga, di ITB berlangsung pula aksi mogok makan yang dilakukan oleh Ondos (saya agak lupa nama aslinya). Dari perjumpaan saya di acara reuni itulah, saya diceritakan olehnya, bahwa Ondos telah wafat karena kecelakaan, padahal ia juga anggota DPR-RI dari PDIP.

Satu hal yang saya salut dari Akbar Faisal, karena keberaniannya. Sejak sama-sama dulu di Kampus hingga saat ini. Juga kesederhanaannya. Awalnya saya agak ragu, apa ia masih ingat sama saya. Begitu nama saya disebut di acara reuni itu, karena memilih duduk di jejeran kursi belakang, maka ia pun menoleh ke belakang dan menyapa. Ternyata, kawan saya yang satu ini tetap seperti itu, tidak ada perubahan yang berarti. Dan di acara itulah, saya kemudian terlibat perbincangan yang cukup “romantis” tentang masa-masa “menggelandang” di Kampus dulu.

Sebenarnya ada yang saya tunggu dari acara itu, yakni Akbar membaca puisi, sebagaimana sering ia membacakanku puisi, setiap bertemu. Sebab, setiap ia membacakan puisinya di pelataran kampus Gunung Sari, salah satu pendengar terbaiknya adalah saya, meski bagi mahasiswa lain menganggap itu tidak lebih dari ocehan saja.

Pertemuan di acara reuni itu, meski singkat tapi sangat membahagiakan bagi saya, sebab selama ini, saya cukup gemas menyaksikannya di layar TV saja. Setelah pisah kembali, saya pun melayangkan SMS padanya: “Ass. Buat saudaraku Akbar Faisal: Teruslah bicara dengan hatimu, agar hati rakyat juga merasakan ketentraman. Dan janganlah bicara dengan mulutmu, sebab ia hanya sampai di telinganya saja. Selamat berjuang ... Wass.”