Tampilkan postingan dengan label SANG GURU- GURU HAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SANG GURU- GURU HAN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 November 2017

WARISAN


Kini, usia sahaya sudah melata pada hitungan setengah abad. Raga mulai keok. Beberapa organ tubuh mulai menyerah pada ketuaan. Pikiran makin meluap-luap ambisinya. Jiwa seolah mencari jalan abadinya. Melihat keadaan itu, bertuturlah Sang Guru,"saat tepat bincangkan warisan.Apa yang bakal dikau wariskan pada anak keturunanmu? Jika bicara harta benda, wariskanlah secukupnya. Sebab, bila berlebihan, hanya pertengkaranlah yang sesungguhnya terwariskan. Kecakapan hidup jauh lebih penting untuk diwariskan". Pun, Guru Han nimbrung rasa, "itu barulah dikau mewariskan sesuatu pada keturunan biologismu. Lalu bagaimana dengan anak-anak ideologismu? Wariskanlah kepada mereka pikiran-pikiran besar tentang masa depan negerimu. Biarlah bertengkar sejadi-jadinya. Kualitas pikiran, bisa diukur, tatkala generasi berikutnu masih mempertengkarkannya, tepatnya, mempercakapkannya".

Kamis, 02 November 2017

JARAK

Sesosok karib bertandang ke serambi pikiran sahaya. Pun, bertanyalah ia tentang seberapa dekat pada orang penting di negeri, hubungan dengan pejabat. Soalnya, ada keperluan memuluskan kepentingannya. Tak terduga, sebentuk interupsi menyata. Menyahutlah Guru Han, "kepada seluruh makhluk ciptaan, wajiblah dikau berjarak. Sebab, hanya dalam jaraklah pertayaan-pertanyaan dapa muncul". Umpan tutur ini, langsung disambar ujar oleh Sang Guru, "pada pencipta, jangan coba=coba membuat jarak. Karena, cuma jawaban yang mesti dipersembahkan pada-Nya. Bukan pertanyaan yang ditodongkan. Seberapa jauh jarak dikau bentangkan, sebegitu dekat pula Ia menjangkaumu. Bukankah Ia, tak pernah secuil pun berjarak denganmu?"

Rabu, 01 November 2017

MODAL (2)

Tetiba saja, ajang percakapan menjadi arena menguar satir. Setelah tak mengiyakan tawaran kisanak, yang ingin mensurvei sahaya sebagai calon kepala daerah, berdepan-depanlah dengan Guru Han, meminta penjelasan tentang berlaga dalam politik. Maka, tutur pun meluncur, "modal sosial adalah kerja-kerja sosial yang kemudian dicitrakan sebagai kerja politik. Penampakannya harus diumbar sedemikian benderangnya. Bila perlu, tambahlah pencitraan, karena iklim politik, sebentuk perlagaan citra". Dan, masalah modal uang, biarlah Sang Guru yang menabalkan, bahwa, "uang diperlukan untuk menyewa kendaraan politik. Pun, sewa-sewa lainnya. Jangan lupa pula, sewa buat tukang doa dan zikir. Bukankah di era kiwari ini, ritus keagamaan telah ikut menjadi industri politik?".

Selasa, 31 Oktober 2017

MODAL (1)


Seorang kisanak mengajak sahaya melibatkan diri dalam perhelatan politik. Maksudnya, ikut menjejaki peluang menjadi kepala daerah. Biaya surveinya sudah disiapkan olehnya. Sebelum mengiya, tetiba saja Sang Guru, berfatwa duluan, "bagaimana mungkin dikau terjaring survei, manakala sepak terjang hidupmu selalu memilih jalan sunyi? Survei hanya cocok bagi insan yang memang suka memajang dirinya, sekaligus mempertontonkan apa yang telah dibikinnya". Karenanya, Guru Han tak ketinggalan menimpali tutur, "pun, dikau mesti menyiapkan modal perlagaan politik persaingan. Berupa, modal sosial dan modal uang. Tanpa keduanya, tiada guna tampangmu ikut nangkring di lembaga survei".

Kamis, 19 Oktober 2017

BERBAGI

Jumat Mubarak yang mekar benderang. Aura keberkahan menghidu segenap kemelataan hidup dan kehidupan. Hari, di mana berjubel insan ingin berbagi kebaikan, buat menandainya. Bersedekah, dan yang serumpun dengannya, menjadi pilihan perdana. Pengemis, peminta sumbangan dan panitia masjid beriang gembira. Sahaya berdepan-depan dengan Sang Guru, yang segera saja mengeluarkan titah, "bila ingin berbagi, carilah orang buta. Kalau mau memberi temuilah sosok bisu. Manusia buta dan bisu, mencegahmu dari puja-pujinya". Guru Han, yang sedari awal ikut bersila, pun unjuk tutur, "Jika berbagi, membisulah. Kala berbuat baik, membutalah".

Rabu, 18 Oktober 2017

SENANG-BAHAGIA


Tetangga kiri-kanan, depan-belakang sahaya sedang moncer bersaing menyuntukkan diri dalam mengaktualkan hobi, memelihara binatang piaraan. Burung, anjing, kucing, ular, ayam, dan ikan, hanyalah sebagiannya. Biayanya, bisa melebihi anggaran pendapatan dan belanja keluarga menengah ke bawah. Sesekali ikut menikmati kegemaran mereka. Hingga, sekali waktu Guru Han mampir menengok, tutur pun menguar, "betapa mahalnya sejumput kesenangan, padahal yang dibiayai itu adalah terungku diri.". Sebab, kata Sang Guru, "begitu piaraan-piaraan itu raib dari tuannya, keriangan pun ikut gaib. Kalut pikir dan rusuh hati menyata. Alamat tidak bahagia. Sekali lagi, kesenangan dan kebahagiaan unjuk nyata dalam perbedaan". Lalu, Guru Han mengunci, "kesenangan serupa ruang memiliki, kebahagiaan sebentuk ranah menjadi".

Senin, 09 Oktober 2017

MATA

Sahaya telah menggunakan dua biji mata buat melihat kesempurnaan atas apa yang dibikin. Tetapi, apa lacur, nampak saja ada orang lain menemukan kekurangan dalam bikinan itu. Karenanya, Sang Guru bersabda, "semestinya, dibutuhkan mata orang lain guna menyempurnakan buatan diri". Pun, disambarlah oleh Guru Han umpan sabda itu, dengan penabalan tutur, "mata orang lain, lebih tajam telisiknya pada diri, tinimbang mata sendiri. Jika ada insan yang memataimu, bersyukurlah".

Jumat, 01 September 2017

KURBAN

Selepas tunaikan salat Idul Adha, Idul Kurban, beringanlah Sahaya, Guru Han, dan Sang Guru, menuju tempat pemotongan hewan kurban. Sahaya bertanya, mengapa mesti hewan yang disembelih, selain daripada maksud menyembelih diri sendiri, memotong sifat hewani pada diri? Sang Guru lalu bersabda, “Sesungguhnya, yang lebih penting dalam pelajaran ibadah kurban ini, meng-Ibrahim-kan diri. Meluapkan cintanya pada Sang Mahacinta.” Tak terduga, Guru Han ikut menegaskan, “menjadi penting pula meng-Ismail-kan diri, memasrahkan diri pada ketundukan atas cinta pada Sang Ayah, sebagai manifestasi cinta pada Sang Mahacinta”. 

Kamis, 31 Agustus 2017

BUKA (PUASA)

Tibalah buka puasa bersama. Persepakatan awal pun terwujud. Sehabis berbuka, sahaya kesulitan bergerak. Sama sulitnya, tatkala matahari mulai tergelincir. Apatahlagi, ketika senja mulai meranum, lelahnya berlipat-lipat. Melihat keadaan itu, Guru Han berucap lirih, “begitulah akibatnya bila puasa masih sebatas menahan lapar dan haus. Buka puasa menjadi arena balas dendam. Loyo saat berpuasa, karena lapar dan haus, loyo pula setelah berbuka, sebab kekenyangan. Makan dan minumlah secukupnya, sesuaikan dengan kebutuhan tubuhmu”. Sang Guru menyambar umpan ucap itu, dengan sabda yang mencengangangkan,”kalian yang berbuka, tapi akulah yang kenyang. Sebab, keterpenuhan butuhnya tubuhmu, menjadi syarat kebutuahnku pada tubuh tunai”.         

Rabu, 30 Agustus 2017

ARAFAH

Hari ini, seluruh jamaah haji, berkumpul di Padang Arafah. Inilah puncak ibadah haji. Semacam muktamar, setidaknya, dalam dimensi keruhanian. Pada belahan jagat lain, bertemu pula, beberapa sosok yang sudah lama saling mencari. Tersebutlah, Sang Guru, Guru Han, dan Sahaya. Mereka tidak berhaji, namun sama-sama berpuasa di hari Arafah. Ajaibnya, pahalanya mirip-mirip ganjarannya. Pada persuaan inilah, kerinduan meleleh, ibarat bongkahan es yang mencair. Perjumpaan ini melahirkan kesepakatan, berbuka puasa bersama. Dan, putusan lain, yang cukup penting, ketiganya berjanji, untuk senantiasa bertemu, kapan dan di mana pun. Mau di jenjang langit, pelataran pikiran yang gelisah, serambi hati yang bergejolak, dan pada jiwa yang merindu. Dari situasi merekalah, urita akan perbincangannya, perlu dinanti.