Tampilkan postingan dengan label AirMataDarah-Komentar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AirMataDarah-Komentar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2015

AirMataDarah

AirMataDarah

OLEH: M. Rajab

JELANG akhir pekan, saya janjian ketemu dengan seorang sahabat lama. Sebab, kesibukan masing-masing lama nian tidak berjumpa. Akhirnya disepakati untuk ketemu di kantor saya di sela-sela waktu dalam menjalankan rutinitas. Seperti biasanya, kopi dan sesekali kepulan asap rokok menyertai perjumpaan itu. Sahabat ini dalam kesehariannya senantiasa bergelut dengan buku-buku, baik sebagai penulis, pembaca, maupun sebagai penerbit. Sehingga, sebelumnya, saya sudah pesan untuk membawakan buku yang seyogyanya saya harus baca.
Sesaat sebelum jumatan kami bertemu. Dia menyedorkan buku kumpulan puisi: Air Mata Darah. Ditulis oleh seorang yang banyak kami jadikan sebagai referensi dalam pandangan dan pendapat. Buku yang berisi sehimpunan puisi yang ditulis oleh beliau rentang waktu tiga tahunan. Saya membolak balik bukunya, dan langsung membaca dan menghayati puisi: air mata darah. Sebagaimana judul buku itu.
Fikiran saya menangkap kata kunci dalam puisi ini: air mata, padang, pedang dan darah. Kata-kata ini mengarahkan kita pada perang-pedang di sebuah padang. Saking tragisnya peristiwa ini, sehingga digambarkan air matanya adalah air mata darah. Kesedihannya, adalah kesedihan yang paling dalam. Mungkin pada peristiwa itu, terjadi penganiayaan, terjadi pembunuhan yang tidak manusiawi, terjadi pembantaian, kebenaran dimatikan, sehingga Sang Penyair merasakan duka nestapa yang begitu dalam.
Seperti lazimnya, air mata identik dengan kesedihan, duka, nestapa, terharu atau juga terkadang kebahagiaan yang bisa mengalirkan air mata. Keadaan itu, menjadi efek dari suasana kebatinan seseorang. Kalau dirunut pada bait syair ini, menjelaskan bahwa air mata dalam puisi ini lebih karena kesedihan. Sebagaimana pada puisi berikut ini :
Airmataku airmatamu airmatakita
Dan darah mereka
Tertampung di danau kesedihan
Taklah pernah cukup
Membasahi padang itu
Walakin sang padang
Dengan lakon kibasan pedang
Akan bersaksi kelak
Airmata dari berbagai penjuru
Taklah lelah mengalir
Mencari darah selaku kembarannya
Padang tangisan airmata
Pedang cucuran darah
Airmatadarah
(sulhan yusuf)
Air mata itu adalah ekspresi kesedihan. Pada kehidupan kita, ketika kehilangan sesuatu yang kita cintai, atau kehilangan sesuatu yang begitu bermakna, maka manusiawi jika perasaan sedih itu muncul. Sebagaimana ketika ditinggal pergi orang tua, saudara, anak, sahabat atau tokoh yang diidolakan. Karena kecintaan kita, maka kehilangan mereka adalah kesedihan bagi kita.
Padang yang menjadi tempat peristiwa ini, kelak di kemudian hari akan menjadi saksi di hadapanNya. Semuanya terekam dengan jelas tanpa cacat, akan perlakuan, kekejaman dan penganiayaan yang dialaminya. Padang itu begitu sangat luas, sehingga darah mereka yang mengalir, darah korban pembela kebenaran, tak akan sanggup membasahi padang itu.
Peristiwa itu mengundang rasa simpati dan empati dari banyak pembela kebenaran, sehingga ketika peristiwanya dibacakan atau bahkan diperingati, air mata akan mengalir karenanya. Banyak manusia dari berbagai penjuru dan belahan bumi, merasakan duka dan sedih. Bahkan, diantara mereka ada yang bersedia menjadi pembela untuk mengorban jiwa dan raganya demi untuk membela pejuang kebenaran.
Padang ini adalah padang kedukaan, padang ini adalah padang bencana. Duka dan bencana terjadi tepat di atasnya yang kemudian hari padang ini akan menjadi saksi dengan peristiwa ini.
Pedang telah mengalirkan darah suci. Pedang telah merenggut nyawa pembawa kebenaran, airmata darah adalah kesedihan yang paling dalam.
Tiba-tiba dari balik jendela ruangan, terdengar suara azan jumatan memanggil. Saya dan kawan segera beranjak dari duduk lalu menunaikan kewajiban pada Dia Yang Maha Suci.
Makassar, 15 Maret 2015

Minggu, 10 Mei 2015

Herman Pabau

PEMBERONTAKAN ALA SULHAN YUSUF
Apresiasi Kumpulan Puisi “Air Mata Darah”
Komentator: Herman Pabau*
Sekitar dua bulan lalu saya di Lampung. Iseng berselancar di dunia maya, kudapatkan postingan menarik, foto cover buku “Air Mata Darah”. Penulisnya Sulhan Yusuf. Kutatap baik nama yang tertera di cover buku, ya benar Kanda Sulhan Yusuf. Teman, senior, sekaligus guru saya. Batinku menebak, ini pasti sejenis buku Panduan Revolusi atau setidaknya warming up untuk sebuah revolusi. Tebakan saya ini berasal dari fakta bahwa Kanda Sulhan Yusuf(selanjutnya saya singkat SY) sejak medio 80-an dan bersama saya awal 90-an sebagai aktivis, setahu saya beliau adalah pembelajar gigih yang merangkap pemberontak tangguh. Adalah Iswari Al-Farizi dan Isra’ Dg Magassing, pelopor pemantik demo real gerakan penjatuhan Soeharto 1998 di Makassar, disusul oleh yang lain, tidak luput dari hasil didikan SY. Dan masih banyak lagi “pemberontak” lain hasil provokasinya, menyebar dalam birokrasi maupun luar birokrasi. Ketidakpuasan terhadap status quo sangat kental dalam diri beliau. Anti kemapanan yang menindas kaum marginal. Diantara karakter SY inilah yang mengantarkan saya menebak bahwa buku Air Mata Darah(selanjutnya saya singkat AMD) merupakan Panduan Revolusi atau setidaknya sebagai pemanas awal untuk sebuah revolusi.
Tetapi tebakan saya itu serta-merta saya batalkan setelah tahu bahwa bukanlah buku serius semirip karya Karl Mark atau Ali Syariati. Ternyata AMD tidak lebih dari kumpulan puisi. Gumalan penyair tanpa realitas. Marahnya di sini, hanya di kata-kata. Menyumpahi banjir darah di bumi dengan cara duduk manis di langit mendung. Marahnya cuma di dada dan mulut tapi kaku-beku di tangan dan kaki. Kaki tak mampu bergerak, tangan tak mampu mengangkat senjata ke pundak untuk dipanggul. Sangat jauh dari impian memantik pelatuk memicu mesiu menohok jantung lawan. Memberontak dengan puisi semirip melempar kapas ke dalam badai melawan angin. Itulah gumam benakku setelah tahu AMD hanyalah kumpulan puisi atau mungkin dipaksakan jadi puisi dengan alasan kuat sejak zaman baheula: licentia poetica. Dengan dasar hukum tangan besi sastra ini, gambar batu keropospun bisa disebut puisi! Hehehe.
Minggu lalu saya ke Toko Buku Papirus. Salah satu tempat SY memprovokasi anak-anak muda untuk memberontak. Memberontak diri sendiri dan memberontak realitas. Juga memberontak status quo yang melanggengkan kemapanan zalim. Beruntung saat itu bertemu langsung dengan SY. Sang penulis AMD. Padahal setahu saya beliau sangat sibuk, sering ke Bantaeng mengasuh Komunitas Literasi Boetta Ilmoe dan memprovokasi anak-anak muda di sana. Serta, akhir-akhir ini rajin mengisi undangan kegiatan provokasi litarasi baik di Makassar maupun daerah. Di sudut meja segi empat kudapati tumpukan buku AMD. Kulirik sampulnya, warna gelap dan merah hitam. Hmmmm…. nuansa kemarahan pemberontak pikirku, tapi sayang cuma di sini, cuma di puisi! Hehehe.
Di pertemuan itu saya saya berbincang panjang-lebar dengan SY. Termasuk membahas tema-tema nostalgia saat intens aktif di HMI dulu. Juga hadir Alam Yin, yang juga sempat bersentuhan dengan SY, dipastikan juga pemberontak. Seingatku Alam Yin dan teman-temannya dulu punya komunitas pemberontak dengan nama “Komunitas Tanah Merah”. Ada juga sentuhan Ust. Zainal Abidin, pejuang kaum tertindas di Palopo. Alam Yin sekarang sudah jadi dosen di almamaternya. Semoga spirit “Komunitas Tanah Merah” tetap lekat dalam jiwa Alam Yin untuk membongkar kepongahan intelektual dalam dunia kampus yang hanya bersilat lincah di menara api dan angin tapi miskin ketawadhuan dan realitas menara air….. mirip-mirip dunia puisi, senangnya terbang ke langit sejuk, tidak betah di bumi realitas yang hingar-bingar. Hehehehe.
Sebagai mappatoto’E, sang penentu nasib, SY menetapkan saya untuk memiliki 3 eksemplar AMD dengan alasan logis berdasar jumlah…. Hehehe . Saya ikuti saja pentakdiran beliau. Setahu saya ada beberapa teman yang beruntung karena pentakdiran beliau. Ada yang jadi kepala desa, anggota dewan, guru, dan lain-lain. Siapa tahu dengan pentakdiran SY kepada saya untuk milki 3 AMD dapat keberuntungan tersendiri dari langit berkah. Kuikuti saja takdirku berdasarkan garis tangan SY. Hehehe.
Sesampai di rumah saya coba melembar-lembar halaman AMD. Teringat masa lalu. Saat 25 tahun lalu tulisan saya dimuat di Harian Pedoman Rakyat. Kolom kebudayan. Saat itu saya mengapresiasi puisi Jam Dua`Puluh Lima karya salah seorang penyair religius kesohor Mandar, Husni Djamaluddin, dengan arahan dosen saya di Sastra Unhas saat itu, Pak Fahmi Syariff. Terbitlah tulisan itu di Koran. Dengan sedikit modal pernah belajar ilmu sastra dan sedikit kedekatan dengan SY, saya mencoba sedikit seriusi telaah AMD. Dari ilmu sastra saya dekati AMD secara intrinsik dan dari kedekatan dengan SY dan realitas yang ada saya dekati AMD secara ekstrinsik. Sekedar untuk menguji kebenaran tebakan saya atas kandungan AMD karya SY ini. Untuk membuktikan apakah puisi-puisi SY ini termasuk benda-benda langit yang berkilau belaka atau makhluk hidup bumi yang memberontak membumikan idealisme. Hehehe.
(BERSAMBUNG)

Rabu, 29 April 2015

EMha Alahyar

LITERASI EKONOMI DALAM "AIRMATADARAH"
(catatan lagi bagi para pencari siapa dan dimana)
Literasi Perekonomian dimaknai sebagai keberaksaraan atas tindakan (aturan atau cara) berekonomi atau menjalankan suatu usaha sebagai bentuk aktifitas ekonomi. Untuk berekonomi maka sesungguhnya membutuhkan kemampuan “membaca dan menulis”.
Kata sebagai paduan aksara yang berhimpun menanda makna merupakan senjata gerak dalam dinamika sosial ekonomi dan sosial budaya. Kata yang merefleksikan keberaksaraan atas informasi, pengetahuan, dan kebudayaan ialah kata yang menghidupkan ataupun menggerakkan. Jejak kata tentang literasi perekonomian dalam buku AirMata Darah dapat ditemukenali, antara lain melalui puisi berjudul KATA. Puisi ini mengekspresi makna ke-literasi-an secara cerdas dan menggelorakan.
Dalam puisi KATA, perihal literasi ekonomi diuraikan secara puitis, dengan petikan berikut ini:
“ ...
Mereka butuh kata-kata // kata yang menghidupkan //
yang mempertahankan harkat //
yang memakai cangkul, rumput laut, biji jagung //
untuk menyatakan hidupnya // di depan dozer //
setia pada biji jagung // tidak dengan biji nikel “
Puisi di atas, sangat berpotensi untuk (ternyata) melahirkan pertanyaan “siapa dan dimana?”; puisi ini untuk dan tentang siapa, serta berada dimana? Apakah Sang Penulis Puisi termasuk orang yang “tidak dengan biji nikel”?; ataukah melalui puisinya, sedang memberi catatan kritis atas gerak dinamika sosial ekonomi yang ada dilingkungannya?; dan apakah Diri di dalam, di sini ataupun di sana, termasuk yang ikut menggerakkan laju negeri ini ke arah dinamika sosial ekonomi yang dituliskannya?
Jika kita memiliki keberaksaraan informasi, pengetahuan, dan kebudayaan yang cukup; maka sesungguhnya kita dapat memahami duduk perkara gerak ekonomi secara cukup pula, dan tidak hanya berhenti pada sikap setuju atau tidak setuju belaka. Jadi (mungkin) benarlah bahwa kita semestinya “terjun ke ranah mereka” untuk “ejakan huruf demi huruf dalam bingkai kata”. Francis Fukuyama —ekonom yang menulis pula tentang modal sosial dan penulis buku “The End of History and The Last Men”— dalam karyanya “Trust : Kebajikan Sosial dan Penciptaan Kemakmuran” menyatakan bahwa:
“...... ekonomi tidak pernah tumbuh di dalam ruang vakum. Ekonomi selalu mengakarkan dirinya dalam kehidupan sosial. Karena itu, adalah sebuah kemustahilan memahami ekonomi terpisah dari persoalan masyarakat dan nilai-nilai budaya.”
Saya, dan boleh jadi Sang Penulis Puisi, serta mungkin kita semua; sungguh sangat menyadari bahwa ketangguhan kinerja dan gerak ekonomi (setiap Diri dan/atau Daerah) sangatlah dibutuhkan, karena tata ekonomi yang tangguh akan menciptakan peluang penciptaan kemakmuran yang lebih besar. Meskipun demikian, gerak perekonomian dalam perikehidupan, serta ruang hidup bersama dan bersesama —dimanapun saja meruang— sudah sepatutnya dilajuarahkan secara seksama, terutama oleh para pemangku amanat atas kepentingan bersama. Dalam kaitan ini; sudahkah ada “terjun ke ranah mereka” untuk “ejakan huruf demi huruf dalam bingkai kata”, terutama guna menjelaskan tentang hasil tela’ah keseksamaan yang telah dilakukan? Hal ini penting, untuk menjembatani dan/atau membentengi perekonomian dengan akar diri kehidupan sosial ruang hadirnya. Bukankah literasi ekonomi telah menerangkan bahwa mustahil memahami ekonomi secara terpisah dari persoalan masyarakat dan nilai-nilai budaya?
Jadi “nama dan alamat” dari puisi yang berjudul KATA, sangat boleh jadi bukanlah sosok yang statis dan tunggal—perihal yang semestinya sangat berbeda keberlakuannya dalam NIK. Dalam sehimpunan puisi ini, sangat boleh jadi “nama dan alamat”nya bertempat di setiap ruang hidup yang akar sosialnya tak kongruen dengan gerak tumbuh ekonominya; atau bertempat pada setiap pribadi yang telah “melek perekonomian” yang mampu menunjuk diri dan lingkungannya secara seksama.
SALAM LITERASI

Minggu, 19 April 2015

Tetap Rusaidi


MELAWAN DENGAN KATA 

Daripada tidak punya aktifitas apa-apa, saya menyibukkan diri saja -lebih tepatnya berpura-pura sibuk- dengan membuat tulisan yang mungkin tak beraturan ini. Maklum, dalam keadaan gerah sebab belum mandi, dan aroma bau kotoran ayam dari kandang pemelihara ayam pedaging yang sangat mengganngu..mmm..apa hubungannya ya? Nantilah dicari hubungannya. Saya hanya ingin mereka-reka, meraba-raba dan mengira-ngira (wah sudah pemborosan kata ya, tapi biarlah. tak mengapa) tentang isi daripada buku yang berjudul AirMataDarah yang dianggit oleh Sulhan Yusuf. Kumpulan tulisan sebanyak 104 buah puisi ini, banyak membicarakan tentang kritik sosial (ini asli pendapat pribadi). Terutama kritik terhadap pemerintah yang menjalankan roda pemerintahan di kabupaten Bantaeng saat ini.(ah yang benar saja?). Mengapa kabupaten Bantaeng? Sebab Bantaeng adalah tanah kelahiran penulis buku tersebut. Dan yang tak kalah penting, di Bantaeng penulis bersama beberapa koleganya sedang mengembangkan sebuah gerakan yang disebut dengan gerakan membangun budaya literasi. Sehingga penomena-penomena yang berlaku di dalam masyarakat kabupaten Bantaeng akan coba direkam dalam bentuk tulisan. Tidak terlepas dari kinerja para birokrat yang menjalankan roda pemerintahan di kota mungil ini. Terlepas dari citra pemerintah kabupaten Bantaeng saat ini yang lagi bersinar di luar sana, bahkan konon katanya gaungnya sampai ke luar negeri. Saya fikir kehadiran buku ini tepatlah adanya. Tidak ingin membuat kita terlena dengan citra-citra yang beredar di luar sana, sehingga kita lupa membangun sebuah otokritik terhadap apa yang “menyimpang” di hadapan kita. Sehingga kehadiran buku ini bisa menjadi penyeimbang apa yang tersampaikan dan apa yang dirasakan. Khususnya bagi penulis buku ini. Puisi yang berjudul “KATA”. Khususnya pada bait terakhir yang berbunyi: “Untuk menyatakan hidupnya/Di depan dozer/Setia pada biji jagung/Tidak dengan biji nikel.” Menurut saya, pada bait tersebut adalah bentuk kritikan langsung kepada pemerintahan DR. Nurdin Abdullah selaku bupati Bantaeng yang dengan kebijakannya mengundang para investor asing untuk membangun pabrik smelter di kabupaten Bantaeng. Saya pun menjadi heran akan sikap pak Nurdin tersebut. Yang mencoba menghilangkan dan mencerabut kebiasaan masyarakat untuk bercocok tanam jagung dan menggantinya dengan pembangunan kawasan industri untuk pabrik smelter tersebut. Bukankah beliau seorang ahli pertanian? Apakah bapak bupati dua periode ini sudah lelah melihat rakyatnya dengan bercocok tanam jagung? Pemilihan kebijakan yang menurut saya sesuatu yang kontraproduktif. Mengapa beliau (bapak bupati) tidak memabngun sahaja pabrik pengolah biji jagung, coklat, kopi ataupun pabrik yang mendukung hasil pertanian di kabupaten Bantaeng. Bukankah dengan pembangunan pabrik-pabrik pendukung tersebut, telah ikut mendukung masyarakat untuk tetap percaya diri dengan produk pertanian yang mereka hasilkan, dari tanah-tanah subur di kabupaten Bantaeng. Jika pemerintah saja tidak mendukung dan menyokong mereka, maka siapa lagi yang bisa dipercaya untuk bisa membantu mereka dari kesulitan membangun pertanian masyarakat. Jika yang dibangun adalah pabrik-pabrik pengolah hasil pertanian petani Bantaeng sendiri, tentu bahan bakunya tak perlu diimpor dari daerah lain. Tetapi sebaliknya, jika pabrik smelter yang dibangun, maka bahan bakunya tentu saja semuanya didatangkan dari daerah lain.


Emha Alahyar

NAMA DAN ALAMAT SEHIMPUNAN PUISI:
catatan bagi para pencari siapa dan dimana.
Alhamdulillah, Saya termasuk orang yang ikut merindui lahirnya salah satu “anak” gerakan literasi yang istimewa ini; dan ternyata, buku AirMataDarah juga memang didedikasikan oleh Penulisnya kepada para penggiat literasi. Jadi nampaknya, seiringlah antara yang badani dengan yang spiritual. Keistimewaan buku sehimpunan puisi ini, bagi Saya, terutama terletak pada: pertama, Sang Penulis, Kak Sulhan yang adalah CEO Boetta Ilmoe, yang memimpin gerakan literasi dan membidani kelahiran sejumlah buku lainnya; serta kedua, muatan isi puisi yang sangat menggelorakan.
Salah satu muatan puisi, yang menurut hemat Saya, sangat menggelorakan, dapat dilihat pada untaian kata puitis berikut:
“ titel akademik ada padamu // tapi picik omongmu //
sorban terikat di kepalamu // namun bicaramu melilit pikirmu //
sujudmu menghitamkan jidatmu // walakin ceroboh mulutmu //
lelang saja titelmu // jual pula sorbanmu // lego sekalian jidatmu “
Dari puisi yang berjudul CULAS di atas, dan demikian pula pada puisi-puisi yang lainnya, ternyata melahirkan pertanyaan “siapa dan dimana?”; puisi di atas, tentang siapa dan berada dimana? Puisi yang ini tentang atau untuk siapa? Apakah muatan isi puisi berada di Bantaeng (tempat buku ini diluncurkan)? Puisi yang itu, sebenarnya sedang ditujukan kepada siapa dan dimana? Meskipun demikian, tentu tidak keseluruhannya; karena pada beberapa puisi telah diterakan jawabannya.
Jika kita percaya bahwa sehimpunan puisi dalam AirMataDarah merupakan puisi-puisi suluk, sebagaimana dijudulkan dalam Sekapur Sirih oleh Alto Makmuralto, ataupun telah me-suluk, atau paling tidak merupakan hasil “bersuluk dalam keramaian”; maka boleh jadi, puisi-puisi yang ada didalamnya memiliki makna yang “nama dan alamat”-nya tak mudah dinisbatkan secara konstan dan tunggal. Jika kita percaya bahwa “menulis adalah mencecap kesendirian, terjun ke ruang batin kita yang paling dalam” (Franz Kafka dalam Dul Abdul Rahman, pada bagian Prolog); maka sangat boleh jadi, masing-masing puisi, memiliki makna dengan “nama dan alamat” yang tidak konstan dan tidak pula tunggal. Termasuk pada puisi yang secara eksplisit “nama dan alamat”nya disebutkan ataupun dinotasikan dalam proses kreatif pembentuktulisannya.
Berkaitan dengan muatan yang sangat menggelorakan ini, berikut dengan pertanyaan dasar yang kemudian diajukan tersebut di atas; sesungguhnya pada tingkat pemaknaan bisa bersifat dinamis penisbatannya. Ruang makna yang terbuka dan multitafsir inilah, yang justru berpotensi untuk memperkaya jiwa dan memperluas cakrawala Pembaca dan Penyimak himpunan puisi ini. Makna dan/atau metamakna yang hadir dari AirMataDarah, sebenarnya dapat menjadi penggelora setiap manusia yang ber-Nama dan ber-Alamat untuk meng-gloria-kan daerah dan sejarah.
Semoga kita bersama semakin terbiasa untuk juga menujuk diri di dalam, bukan hanya diri di luar; bukankah yang demikian itulah suluk menuju keabadian dan kemuliaan?

Minggu, 05 April 2015

Kasman MacTutu

AirMataDarah dan Godaan Batu Akik

muhammad kasman | 10:17 PM | 0 komentar
[02.04.2015] Sebenarnya --ini rahasia loh, aku termasuk orang yang tak begitu paham dengan puisi. Jadi kalau ada yang merasa pernah aku ajari bagaimana membuat puisi yang baik, maka itu hanya efek dari kehendakku untuk dibilang hebat dalam dunia kepenulisan. Citra sok tahuku soal puisi juga kubutuhkan untuk melegitimasi kebiasaanku menyusun-nyusun kata dalam bait yang mirip puisi.
Bagiku, semua puisi itu indah, apalagi bila dibaca bersama anak sambil menikmati cemilan ringan yang dihidangkan istri tercinta. Aku memang mempunyai kebiasaan buruk, sering berleha-leha di ruang tamu atau teras rumah bersama anak-anakku sambil teriak-teriak mendeklamasikan puisi. Tak peduli apakah intonasi dan volume suaraku sesuai dengan irama puisi yang kubaca, atau tidak.
Maka ketika di sebuah siang, 10 Maret 2015 yang lalu, aku dihadiahi buku sehimpunan puisi bersampul merah hijau dengan judul AirMataDarah oleh penulisnya, Sulhan Yusuf, hatiku berbunga dan berguman riang, ada lagi tambahan bahan bacaan untuk mengisi waktu soreku. Buku yang berisi puisi-puisi dengan bait yang ringkas dan diksi yang pintas. Memang tepat dibaca di ruang tamu atau di teras rumah, tak terlalu riuh.
Apalagi, menurut Dul Abdul Rahman --novelis yang sudah lama tak kutemui untuk sekedar berbual soal hal ikhwal kepenulisan, buku ini mengajak kita untuk memasuki sebuah rumah: Rumah Kebahagiaan dan Rumah Keabadian. Rumah yang ditumbuhi jejeran pohon rindang yang menciptakan kesejukan. Tentu puisi semacam ini bisa menyejukkan rumahku yang tipe sangat sederhana di sebuah perumahan padat di pinggiran kota yang sesak, dan tanpa ruang terbuka hijau yang memadai.
Kehadiran buku anggitan Bang SulYus --demikian aku menyapa Sulhan Yusuf, juga makin membuatku bersemangat membacakan puisi kepada Aditya Panrita Tenri Angka Daeng Sibali --anak keempatku yang besok akan berusia 4 bulan, saban malam. Aditya punya kebiasaan untuk bermain di waktu malam, dia paling senang diajak bercerita. Dia akan riang bergerak, nyaring bersuara, dan sering tersenyum bila disapa di waktu-waktu itu.
Bila Aditya terjaga, dan mamanya pulas terlelap, maka akan kuraih AirMataDarah dari lemari buku, dan akan kubaca beberapa bait dengan gaya bertutur,

kutunggu wartamu di masa datang
joloklah bulan
genggamlah surya
lukislah pelangi
cungkillah gunung
barulah kau tergolong:
pemahat masa depan
(Tekad, hal. 161)

Mendengar itu, tangan Aditya menjangkau-jangkau, mungkin tengah memahat masa depan? Atau ingin segera mengabarkan warta masa depannya? Entahlah.
Atau kudaraskan penggal terakhir dari puisi berjudul Penyair (hal. 125). Empat kalimat singkat kubaca dengan suara berdesir, setengah berbisik,

Buah hatiku...
tataplah para penyair itu
dengar dan simak kata-kata mereka
kata yang menerangkan masa.

Mata Aditya tak berkedip, menatapku tajam, seperti bertanya, "Begitu pentingkah para penyair itu bagimu, Tetta? Atau haruskah aku jadi penyair, kelak?" Dan aku hanya tersenyum bahagia, melihat reaksimu.
Tapi diantara 178 halaman yang ada di buku tersebut, aku paling suka memperlihatkan halaman pertama pada Aditya dan para kakaknya. Halaman dimana tertera nama dan tanda tangan, Sulhan Yusuf. Kujelaskan pada mereka bahwa penulis puisi yang sering kubacakan pada mereka itu, adalah suhu yang karib, bukan sekedar hubungan mekanik antara seorang penulis dan pembaca buku.
Oh ya, selain kubaca untuk anak-anakku, AirMataDarah juga berkali-kali kubaca untuk mencoba meresapi beberapa puisi tertentu. Sebab menurut Alto Makmuralto --Direktur The Liblitera Institute, penerbit buku ini, di dalam puisi-puisi lelaki berkepala plontos ini, akan dijumpai kata-kata yang identik dengan dunia para pesuluk. Pernyataan Alto memantik curigaku, jangan-jangan memang Bang SulYus ini adalah seorang pesuluk yang sedang menyamar?
Aku memberanikan diri mencoba mendaras, beberapa puisi yang penggalannya dikutip oleh Alto dalam pengantarnya, selain karena penasaran, juga karena aku merasa mirip dengan Bang SulYus dalam hal kesukaan bermain facebook, dan mendengar nyanyian ngak ngik ngok Koes Ploes --meskipun aku belum sampai pada maqam penggila. Yang jelas berbeda karena aku penggemar Chelsea, bukan Arsenal, dan tak mencandu kopi pahit, lambungku tak tahan kopi sejak beberapa tahun terakhir.
Coba perhatikan yang ini,
ingin kujemur celana dalamku yang berjamur
janganlah sampai biji kehidupanku ikut berjamur
apalagi jika pohon hidupku turut berjamur
yang tak mungkin aku jemur
(Surya, 151)
Puisi yang didaku Alto sebagai puisi mistik, membuatnya hanyut dan menikmati, serta ikut mendesah-sedan karenanya, bagiku tak lebih dari hanya sepenggal kepornoan dalam wajah yang malu-malu. Banalitas ekspresi, terungkap dalam diksi yang dangkal.
Tapi memang demikianlah kiranya seorang penganut suluk Malamatiyah --seperti dakwaan Alto, terkadang mereka mengungkap kebenaran yang dikemas dalam balutan makna yang berlapis. Dan disinilah masalahnya, hanya para pesuluklah yang bisa mengelupas lapis maknanya. Maka aku sebagai seorang pembaca awam hanya bisa terkekeh menertawakan kemesuman penggalan bait dari puisi Surya di atas.
Hal lain yang membuat aku rajin membolak-balik AirMataDarah adalah hasratku untuk menemukan sepenggal dua penggal bait yang bisa dipakai untuk maggombal, dan menebar jala asmara ala generasi unyu-unyu. Ya, siapa tahu bisa dikutip oleh para hight quality jomblo --semacam Fajar Al Ghifary, untuk dijadikan status di facebook dan blackberry messenger, atau untuk bahan musikalisasi puisi pada pentasnya di panggung-panggung cafe. Namun sayang, tak ada bait-bait sedemikian.
Semoga Bang Sulyus bisa memahami kegirangan saya menertawakan diksi celana dalam berjamur, serta biji dan pohon kehidupannya. Maafkan juga kekecewaanku akan ketiadaan kalimat-kalimat gombal ala drama korea dalam himpunan puisi ini. Aku berharap agar Bang SulYus tak mengeluarkan kutukan padaku karena tulisan ini, sebab seperti ungkap Alto, kata-kata yang dilontarkan oleh seorang pesuluk musti selalu mengandung kesaktian.

Seperti ajaran Bang Sulyus, bila sebuah pembicaraan sudah menyerempet soal kelamin, dan gombal-gombalan, itu alamat pembicaraan harus segera dikhatamkan, sebab bila tidak, maka bisa saja kita semua terjebak pada kategori ahlul fitnah wal ghibah. Pun demikian dengan risalah singkat itu. Yang pasti, puisi-puisi dalam AirMataDarah bisa menjadi mantra pelindung dari godaan batu akik yang berkilau.

Selasa, 31 Maret 2015

DION-MONOLOG



NASKAH MONOLOG AIR MATA DARAH
Penulis Naskah       : Dion Syaif Saen
Pemeran                 : Atte Shernylia Maladevi
Sutradara              : Yudhi Asman Pasauri
Musik Pengiring      : Ashok Komplen, Irsan Komplen

SIN I
(Sambil menatap slide, dia menahan sesak akan kejadian – kejadian yang seolah memaksanya untuk bicara agar semua orang tahu tentang apa yang sedang berkecamuk dalam dirinya)
(Sesaat setelah proses penayangan slide)
Ini hari apa?
Ini pertanda apa? (bertanya ke penonton) apakah aku masih ingat akan kejadian memilukan di masa lalu?(mencoba bertanya pada dirinya sendiri)
Sepertinya………sepertinya, aku sudah mulai lupa semuanya. Yang tersisa hanya sepenggal tubuh leluhur…itupun hanyalah simbol belaka. Beserta sedikit ukiran – ukiran zaman yang sudah semakin dipudarkan pula. 
Apa nama peradaban ini?
Tolong bantu aku untuk mengingatnya, agar aku bisa mengabarkan pada kisanak yang juga sudah lupa akan tanah bertuah ini.
Apa nama hari ini? untuk apa kita sama – sama berada di hari ini?
Cukupkah hanya dengan melagukan dan mendentingkan lagu gugur bunga, lalu kita menangis haru bersama?
Tolong ingatkan aku, bantu aku untuk menyelesaikan kebuntuan ini. kebuntuan akan nama dan jargon yang semakin disuburkan sementara mengaburkan sesuatu yang lain.
(Duduk, sambil menggosok kedua matanya seolah ada yang menghalangi pandangannya)
Ada apa dengan mataku ini? ada apa dengan kedua bola mataku ini? bukankah aku telah banyak menyaksikan kejadian – kejadian di masa lalu, dan kemudian tiba – tiba aku hadir di sini tanpa tahu - menahu tentang hari ini.
Ini yang membuatku sangsi pada diriku sendiri, dan juga membuatku sedikit gengsi untuk mengakuinya.
Ada apa dengan mataku ini? kenapa pujian – pujian itu sulit untuk aku cerna, mengapa pujian – pujian itu sulit untuk aku tatap?
Sementara telah lebih dari sewindu lamanya aku menyaksikan sekumpulan ilalang mematung sepi, mereka hadir hanya sebagai pembeda yang selalu dibedakan.
Apakah harus aku manjakan pula kedua bola mataku ini? sementara ribuan mata memandangku nanar, ribuan mata memandangku tanpa mengerling sedikitpun seolah menelanjangiku.
Mereka menatapku dengan penuh kecemasan akan keterbatasannya yang kemudian akan menjadi petaka hidupnya.
Ada yang hilang mimpinya, ada yang dijamah kemudian dilupakan begutu saja. Seolah diberikan ruang kemudian dipuja. Itupun dengan pemujaan yang jauh dari kesan pemujaan keramat.
(Mencoba memperkuat pernyataannya )
Atau mungkin mending kita sama – sama menangis, agar kalian tahu betapa pahitnya air mata dan perihnya luka yang berdarah dan mengangah
(Berjalan dan kemudian menemukan kertas penuh darah)
Ini apa? Ini darah milik siapa?
Untukmu? Bukan… tentu saja bukan untukmu, karena ini untukku yang telah lama kering dengan air mata.
Ini darah yang sama dengan darahmu, darah ini adalah darah yang sama dengan darah yang mengalir di setiap lintasan nadi kehidupan. Kejujurannya sama dengan kejujuran nilai – nilai luhur para pendahulu kita.
Lalu mengapa yang tertinggal saat ini hanyalah nalar dan logika  kelas tinggi, nalar dan logika kelas elite yang suka pamer.
Hahahaha..
Ini hari apa? Ini zaman apa? (sambil tertawa sinis)

SIN II
(Berdiri dengan tegak sambil bertanya dengan penuh rasa khawatir)
Pantaskah kita tumbuh bagai ilalang yang mematung sepi? Tanpa kejelasan, tanpa komitmen yang bisa dijadikan penyanggah kehidupan yang sudah mulai kerontang ini, tanpa sepoi angina…… dan tanpa kau tengoooookkkkk lagiiiiiii.
Dan kemudian kisahmu akan terbit dalam halaman koran ternama, dalam artikel – artikel hebat, namaku kau tulis saja di sudut paling bawah dengan hururf – huruf kecil, lalu kubiarkan namamu yang terpampang jelas dan nyata dengan tulisan HURUF – HURUF KAPITAL yang TEBAL.
Dan dunia akan bersorak memujamu, lalu kami dis sini akan ditindih beban berat akan nama besarmu beserta ko..lo..ni..mu..
Atau mending begini saja, sejak kecil… semenjak kami kanak – kanak, kau giring kami ke tempat sunatan massal, lalu kau sunat kami beramai – ramai. Setelah itu kau suruhlah kami ikut lomba lari dan menunggui kami di garis finish. Dan kau berikan kami sebuah tepukan beserta sebiji permen untuk bersama. (sambil tertawa miris)
Hufftttttt… tenanglah diri..tenanglah (mencoba menenangkan diri)
Biarkan hari bergeser melipat rapi kebuasan, biarkan mereka memenjarakan pengetahuan, biarkan mereka mengerdilkan nilai, biarkan…biarkanlah..
Sebab kenapa? Sebab bagiku mereka hanyalah akan terbang mengepak bagaikan balon sabun, yang sebentar lagi akan hancur oleh RE TO RI KA dan TE O RI besar yang mereka buat sendiri

SIN III
(tiba – tiba menatap tajam ke penonton dan bertanya)
Apa ? apa katamu? Coba ulangi lagi ! (memasang telinganya dengan baik seolah ingin mendengar apa yang dikatakan penonton)
Kalian masih saja bertanya ini hari apa.. kalian masih saja bertanya ini pertanda apa?
Dengan lantang kukatakan bahwa hari ini adalah hari berkabung akan runtuhnya PENGETAHUAN.
(sambil menunjuk slide) lihat ini…. lihat ini pertandanya.
Masihkah kalian punya mata ? masihkan kalian punya rasa ?
Masihkah kalian punya sedikit rasa khawatir ? jika tidak, maka akulah orang yang pertama kali akan mengatakan bahwa KETIDAKWARASAN  ini sudah menjadi virus.
Virus yang telah membuat kita lupa akan kebiasaan – kebiasaan bersinergi dengan alam. Kebiasaan – kebiasaan bercengkrama dengan cakrawala, bersinergi dengan alam, dan kebiasaan – kebiasaan memunguti ranting demi ranting pengetahuan.
Bukan dengan memilih diam dan sama – sama menangis dengan mengeluarkan AIR MATA DARAH.

SIN IV
(dengan nada yang mempertegas)
Ya … AIR MATA DARAH, karena air mata bening sudah tidak ada, air mata bening sudah kering, air mata bening sudah habis (dengan penuh haru dan menangis menatap kedua tangannya)
Yang tersisa hanyalah kekuasaan yang berhamba, pertanda KE PU CA TAN SEJARAH.
Lalu apa pilihan kita?
Aku memilih menghiasi kepucatan itu dengan manik – manik ide dan cerita dalam setiap tegukan kopi yang kuminum di beranda literasi.
Seberapa dekatkah kita dengan dunia baca ? seberapa sukakah kita dengan dunia sastra ? dunia menulis ?
Apa yang kelak akan kita wariskan pada anak cucu kita?
Jangan hanya membangun raga yang indah dengan fisik yang tinggi menjulang, sementara bangunan jiwa kita lupakan. Bangunan jiwa anak cucu kita tidak terpinggirkan. Alangkah eloknya jika jiwa mereka dibangun dengan nilai – nilai luhur para leluhur yang harus dilestarikan dan dipertahankan di tanah bertuah ini.
Peradaban ini sudah lama, peradaban ini sudah tua dan hampir punah. Seiring dengan runtuhnya ingatan kita tentang pau – pau turiolo yang termuat dalam kitab LONTARA BILANG.
(sambil diiringi pukulan gendang TUNRUNG TALLU)
Dikisahkan percakapan To Manurunga dengan tujuh Kare yang pada saat itu tengah melamar To Manurunga menjadi Karaeng Bantaeng
To Manurunga berkata : “Ero’ja nuangka’ anjari KARAENG, mingka I nakke pa anging na I kau leko’ kayu, I nakke pa je’ne’ massolong na I kau sampara mamanyu’”
Ni ta’goki kananna To Manurunga ri Kare Bissampole, na na paumi : “Kutarima Pa’pala’nu, mingka kualleko pammajiki tangkualleko pangngodi, kualleko tambara’ tangkualleko racung.
Lalu tersungkurlah Kare Bissampole sambil berlutut ke tanah, di tariknya SELE’ nya sambil berkata “ inne kanangku lanjari sabbi riallo ri boko, I nai ampilari kananna I nakke ka iareka I kau. Na punna I kau inne cappa’na sele’ ku a’ribbaki mange ri kau, na punna I nakke, inne cappa’na sele’ku a’ribbaki antama’ mange ri nakke”

Tamat ………………….

Minggu, 29 Maret 2015

MATANG


Di beranda rumah tua, sisa peninggalan negeri yang makin menua, sahaya menatap tajam pada sepohon mangga yang usianya lebih tua darinya. Bebera biji buah mulai menguning kemerahan, penanda kematangan akan kualitas buah yang matang di pohon. Guru Han menyalip dalam khusyuk yang mendalam dengan sebongkah tutur: " Buah yang matang di pohon mengalamatkan puncak kedewasaan nasib sebiji buah. Pohon akan rela ditinggal buah, aneka burung pemakan buah bersantap ceria karena kenikmatan tiada tara. Dan, dikau pun akan merasakan kemudahan kala menikmati sang buah, sebab tidaklah perlu dikarbit guna mematangkannya. Kedewasaan seorang insan, ibarat buah yang matang di pohon akan mengenakkan segala yang membutuhkannya."

Kamaruddin

Sulhan , Puisi, dan Butta Toa
Hari ini, 27 Maret 2015, buku kiriman kak Sulhan Yusuf tiba di rumahku. Buku ini terbang beribu-ribu kilometer dari makassar ke Pulau Biak di Papua. Aku pantas mengucap syukur karena tiga hal.
Pertama, buku ini sedikit mengobati kerinduanku pada kak Sul, demikian ia akrab disapa. Lelaki berkepala plontos ini adalah mentor terbaikku dulu ketika masih menjadi aktifis mahasiswa. Dari tutur dan teladannya aku dulu belajar berorganisasi, bernegoisasi, dan berakulturasi. Bergabung dalam kafilahnya saat itu sukses melejitkan rasa percaya diriku sebagai mahasiswa miskin dari kampung dan kesulitan mencapai IPK tinggi. Meski, disatu titik, perbedaan pemahaman politik diantara kami membuat kami harus berpisah di persimpangan jalan, hingga saat ini, kak Sul tetaplah mentor terbaikku.
Kedua, buku ini mengembalikan ketertarikanku pada puisi. Selama bertahun-tahun terakhir ini, aku malas membaca apalagi menciptakan puisi. Padahal, tanpa bermaksud sombong, sejak masih mahasiswa dulu aku cukup akrab dengan puisi dan karya sastra lainnya. Aku cukup akrab dan bisa menikmati karya-karya Abdul Hadi WM, Danarto, Sutardji Chalzum Bachri, juga terjemahan karya Jalaluddin Rumi, Ali Syariati. Bukan hanya itu, aku juga pernah mengkritik para penulis puisi yang menurutku hanya pandai memainkan kata tapi puisinya tak mampu memantik kesadaran pembacanya untuk menemukan hakekat penciptaannya. Kritik itu dimuat di harian Fajar tanggal 14 Pebruari 1993 dalam bentuk esei berjudul Puisi dan "Puisi". Tulisan itu sebenarnya buah dari kebencianku saat itu pada beberapa teman dari komunitas kesenian di makassar yang jago membuat puisi atau syair yg religius tapi setelah itu asyik masyuk dengan kemaksiatan dan meninggalkan shalat. Selanjutnya,aku tak seberuntung kak Sul dan teman-teman lain yang bisa tetap hidup dalam semangat literasi dan komunitas yg mendukung. Sementara aku harus merantau jauh ke tanah terjauh di timur negeri ini. Sebuah negeri yang masih tertatih mengecilkan angka buta aksara penduduknya. Membaca buku air mata darah ini membuncahkan gairah yang lama terpendam. Diriku ibarat biji yang menyudahi masa dormansinya karena menemukan miliu yang cocok. Meski tak serta merta puisi menjadi menarik,tapi aku sadar betapa banyak ayat-ayat Tuhan yang luput aku renungkan. Begitu banyak pertanda ilahi yang enggan aku tafakkuri. Begitu keringnya sujudku selama ini karena hanya fokus pada kaifiyat dan bacaannya. Alhasil, buku ini menyadarkan bahwa kata bukan sekedar alat komunikasi, tapi juga sarana berkontemplasi.
Ketiga, buku ini menjadi asbab aku bisa beramal karena menurut kak Sul seluruh hasil pembelian buku ini akan didedikasikan untuk aktifitas literasi di bantaeng. Bantaeng adalah tanah kelahiranku, tanah kelahiran ibu, kakek, buyut dan generasi awalnya. Meski jauh dan tak pernah tinggal di bantaeng, pesona tanah ini selalu terasa memanggilku pulang. Pantai, sawah, dan gunungnya tetap jadi pantai, sawah, dan gunung terbaik yg pernah aku lihat dan rasakan. Mungkin sudah saatnya aku berpikir untuk pulang ke Butta Toa, tempat dimana para "antoaku" lahir, hidup, berbakti, dan mati. ( biak, 27 Maret 2015 )

Senin, 23 Maret 2015

Idham Malik

IRONI POLITIK DALAM AIRMATADARAH
 
Pada sadarnya, sebuah puisi adalah sebuah penemuan. Atau kalau diartikan dalam bahasa latin menjadi poetic, suatu kebaruan. Walau pun mungkin hanya bersifat minimal atau semacam pengulangan-pengulangan yang kreatif. Pada sadarnya pula tak ada yang asli di dunia ini, kita selalu meniru, kita selalu menculik, kita selalu meminjam apa-apa yang sudah ada. Tapi, penemuan kita adalah ketika kata-kata yang lazim itu kita formulasi dan membuatnya menjadi bermakna. Tentang makna itu sendiri, dalam puisi tidak ada yang dapat mengklaim makna general, tapi setiap pembaca dapat memaknai sesukanya atau arbiter.
Sebuah puisi dapat memperkaya wawasan atau nurani kita akan makna, yang sumbernya berasal dari hubungan kata dengan kata, kalimat dengan kalimat. Ketika kata dengan kata itu menimbulkan efek makna, tanpa kita menghiraukan konteks, di situlah kekuatan sebuah puisi. Yaitu pada interteksnya.
Membaca puisi-puisi dalam buku mungil “air mata darah”, membuat kita untuk mengerti banyak hal. Paham tentang nilai-nilai, yang tampaknya dengan sengaja diselipkan oleh penulis pada sebagian besar sajaknya. Saya menduganya, karena penulis mengawali karirnya sebagai aktivis, lalu menjadi pedagang, kemudian menjadi sastrawan. Jadi, level-level itu, kadang-kadang menyetir pesan yang ingin disampaikan. Ia ingin mengutarakan sesuatu yang kritis, namun dengan cara puitis, begitulah kira-kira.
Coba kita simak puisi di bawah ini :

Bantaeng
Butta Toa julukanmu
Dimasa silam
Adamu sudah 759 tahun
Tapi kemanakah
Kami melacak ketuaanmu?
Sebagai alamat kematangan jiwa?
The New Bantaeng jargonmu
Bantaeng baru sloganmu
Di waktu kiwari
Banyak yang baru
Tapi apa guna kemasan baru
Jikalau insan kerdil yang melata di atasnya?
Saya mencoba membayangkan rasa dari puisi ini, dan saya menemukan rasa prihatin penulis, yang tidak lain adalah warga Bantaeng yang aktif. Pembaca yang bukan warga Bantaeng pun dapat merasakan paradoks-paradoks dari rententan teks puisi itu, yang maknanya dapat ditangkap secara general, bahwa sesuatu yang baru di Bantaeng belum tentu berguna bagi masyarakat kecil. Dan bertambahnya sebuah umur belum tentu membuat sebuah kota menjadi lebih dewasa. Kota diandaikan seperti tubuh yang punya umur, atau seperti kesadaran yang senantiasa berkembang. Selain itu, orang kecil selalu menjadi perhatian penulis, yang dimana mewakili jiwa aktivisnya. Orang kecil diandaikan melata di atasnya, orang kecil seperti semut-semut yang dengan mudah disingkirkan, baik oleh pembangunan atau atas nama perbaikan suatu kota. 
Contoh lainnya ada pada puisi berjudul "Baru" : Apa yang baru di tahun baru, jikalau masih mukim di rumah yang reot? ....... Lalu apa arti rumah, bagi perumah yang tak bahagia di rumahnya, di tahun baru yang selayaknya punya rumah baru? Tidak butuh petuah dari yang berkutat pada kuasa, jikalau pencoleng, pencopet, perampok, pencuri, dan pembakar rumah masih mengintai dengan selaksa ancaman....... Pada puisi ini, kita dihantar untuk mengerti persoalan pada sebuah kota, yang sedang berpesta tahun baru, namun di tahun baru itu, rumah dipersoalkan. Saya tak tahu, apakah rumah ini adalah rumah dalam artian harfiah, ataukah rumah jiwa, ataukah gabungan antara rumah harfiah dan rumah jiwa?  
Hal itu juga terasa dalam puisi "Ironi", meski awalnya kita mengira tentang pelajaran-pelajaran tentang alam, yang dimana peristiwa alam yang menggetarkan dan kita tak tahu lagi bagaimana hubungan sebab akibat di alam karena kian kompleksnya, juga tercium aroma politik. “Benar-benar ironi. Hanya karena engkau melempar sebiji garam ke laut, engkau sudah merasa menggarami laut. Sehingga rasa asin dari laut itu, seakan hasil jerih payahmu. Padahal, sebiji garam itu adalah hasil memungut di ladang petambak garam.” Saya tidak tahu, apakah yang disinggung ini manusia pada umumnya, ataukah manusia khusus, yang punya kuasa di daerahnya, yang mungkin merasa hebat telah berbuat banyak di daerah kekuasaannya.
Puisi-puisi ini menyentil kekuasaan, saya tiba-tiba teringat pada sosok Rendra, yang juga berkeinginan untuk memberi warna baru pada seni, pada kebudayaan, sebuah kesadaran yang lebih progressif. Rendra juga berbicara politik. Dalam puisi-puisi politik Rendra, dan begitu juga ditemukan dalam puisi Sulhan, kesadaran politik diungkapkan dengan plastis dan estetis, meski dengan pengandaian-pengandaian atau metafora. Besar harapan, bahwa puisi-puisi ini mengguliti jiwa untuk sadar akan hak-hak, akan ketimpangan-ketimpangan, akan bagaimana sebuah negeri dikelola, sebuah kota dikelola, sebuah budaya dikelola.  
Penulis dalam hal ini Kak Sulhan adalah seorang aktivis yang menempuh segala cara untuk mewujudkan keinginan-keinginan idealnya. Beliau menginginkan sebuah komunitas masyarakat yang adil, yang damai, yang beradab. Begitulah memang keinginan-keinginan manusia-manusia humanis, yang selalu mendambakan kebebasan plus keadilan. Hal itu dilakukannya dengan membentuk komunitas-komunitas literasi, mendukung para penulis muda untuk terus berkarya, menjadi sosok bijak tempat orang berteduh dan meminta pendapat. Dalam perjalanannya, beliau membangun rumah jiwa itu, sebuah pabrik untuk menghasilkan menu-menu bagi jiwa, agar warga kota jadi seimbang hidupnya, dan dalam perkembangannya, Kak Sulhan justru ikut asyik di dalamnya, bersama anak muda anak muda kreatif. Untuk itu, Kak Sulhan bukan hanya tokoh dibalik membangun rumah, tapi juga berkontribusi membangun nuansa, aroma, keindahan-keindahan dalam rumah itu.
Catatan terakhir, bahwa puisi dapat dimanfaatkan untuk tujuan apa saja, bisa untuk menggoda kaum hawa, bisa untuk mengingatkan manusia, bisa untuk menyentuh sesuatu yang tak mudah disentuh (dalam hal ini jiwa), bisa sebagai refleksi tentang alam dan tuhan atau yang tak dikenali, dan bisa pula untuk menyadarkan pembacanya tentang ketimpangan dalam dunia sosial. Dan puisi-puisi Sulhan mewakili beragam lapisan dunianya, baik itu dunia rohani, dunia sosial, dunia pribadinya, dunia tentang alam, dan dunia politik.
Dan membaca puisinya, kita dapat mengambil apa saja dari dunianya yang begitu kaya.
 Makassar, 23 Maret 2015
Idham Malik

(Terimakasih atas bukunya)

Sabtu, 21 Maret 2015

Bahrul Amsal

21 Maret 2015

Airmatadarah dalam Tekad


Saya sebenarnya tak mengerti betul sastra, apalagi puisi. Puisi, yang kental dengan simbolisme itu seringkali membuat saya bingung. Sebab, dengan material katakatanya yang simbolis juga metafor tak pernah stabil merujuk pada satu pengertian yang pasti. Puisi, dengan gaya penuturan yang demikian, akhirnya hanya menjadi katakata yang pias makna dihadapan saya.

Puisi, dengan katakatanya yang metafor, sepengetahuan saya adalah cara untuk menangkap kenyataan yang tanpa tirai. Dengan kata, puisi ingin merekam apaapa yang murni. Puisi, jika disebut sebagai potret kemurnian, adalah media yang mengungkapkan katakata menjadi baitbait yang gamit.

Tapi justru kata tanpa tirai bisa bikin kenyataan jadi asing. Sastrawan menurut saya adalah orang yang punya semacam kemampuan membuat bahasa jadi lain. Katakata di tangan sastrawan menjadi bahan yang dilucuti dari penggunaan yang sudah umum. Di tangan sastrawan, katakata dibersihkan dari ruang tuturan umum yang sering membuat kata jadi banal. Katakata, di tangan sastrawan, seperti ditasbihkan kembali untuk dipakai seperti pertama kali dipergunakan menjadi kata yang perawan, kata yang binal.

Dengan kemampuan itulah sastrawan jadi orangorang yang punya kekuatan seperti al khemist, yakni orangorang yang punya kemampuan khusus untuk merubah sampah jadi emas. Melalui kemampuan khusus itulah, katakata yang sudah digunakan di tengah umum, yang kerap dipakai berulangulang hingga rombeng, jadi kata yang murni dan baru.


Sebab itu barangkali, katakata puitis seorang sastrawan bisa membikin sesuatu nampak jernih. Dengannya, kita dihadapan teks jadi orang baru yang lahir kembali. Di dalam filsafat, terutama fenomenologi, kita disebut menjadi seorang pemula.

Dengan menjadi seorang pemulalah kenyataan jadi nampak baru. Dunia jadi bendabenda yang tak ternamai dan transparan sehingga tak ada yang lain selain ketakjuban. Dari ketakjuban itulah lewat kata puitik sisi primordial disentuh.

Lewat katakata puisi, seorang sastrawan punya misi yang subtil, misi yang primordial. Dengan katakata, sisi afeksi setiap kita disepur dan dimurnikan kembali. Ini seperti mirip kata Lenin, yakni sastrawan memiliki tugas mengarsitekturi untuk membangun jiwa.

Kamis kemarin saya diberikan hadiah buku sehimpun puisi. Lengkap dengan tandatangan penulisnya. Buku yang tak sepenuhnya saya mengerti itu diberi judul airmatadarah. Saya tak tahu apa takdir buku itu diberi judul yang menurut saya tragedik. Yang mana airmata jika umum dipahami adalah serangkaian dari tindak kejiwaan yang misterium: sedih, bahagia, rindu, benci, marah, gundah dsb, adalah sisi dunia yang tak tembus. Airmata, dari takdir judul buku ini, adalah frasa misterius yang sulit saya tembus untuk menangkap maksud yang dikandungnya.

Dan di judul itu, darahlah yang jadi sisi paling sulit saya tebak. Dengan satu kata airmatadarah, saya menjadi orang yang nampak asing dihadapan kata itu. Darah, yang biologis dari tubuh kita, justru jadi sesuatu yang lain di judul itu. Darah yang identik dengan warna merah gelap itu, barangkali bisa jadi lambang suatu arti: pengorbanan.

Tapi sudah saya katakan airmatadarah adalah kata puitis yang jadi asing, makanya ia jadi frasa yang tragedik bagi saya. Juga kata itu menurut saya sudah dilucuti jadi suatu yang baru, maka itulah ia memang seperti kata yang baru pertama kali digunakan untuk merujuk kepada suatu pengertian, tetapi apa?

Dan biarlah itu jadi ruang kosong yang tak bertuan. Dengan begitu makna judul airmatadarah bebas untuk diberikan maksud oleh sesiapa pun. Bahkan sang penulis tak punya kuasa untuk membangun jalur rel makna di situ. Makna, ataupun maksud, dengan begitu jadi bebas tak bertuan. Dengan iman seperti ini, sang penulis memang sudah mati seperti didaku Roland Barthes. 

Dari tulisan ini jika saya diberikan pilihan untuk menunjuk satu pusi yang saya senangi, maka saya akan memilih Tekad sebagai puisi pilihan saya. Di puisi itu, seperti ada sebuah pertaruhan tentang sebuah akhir dari masa kini yang jadi titik permulaan. Ini seperti dua orang yang terlibat perjanjian untuk sebuah bukti di masa depan. Ini persis hukum kontradiksi Gramsci, bersamasama sekaligus menentang. Ini seperti dua anak manusia yang membusung dada di mana mereka saling menentang di saat kebersamaan kian mengental, tentang suatu akhir yang disebut masa depan.

Kutunggu wartamu di masa datang

Joloklah bulan
Genggamlah surya
Lukisilah pelangi
Cungkillah gunung

Barulah kau tergolong:
Pemahat masa depan

Di puisi ini, jika ini sebuah tafsir, ada sebuah kabar yang bermakna penantian untuk dapat dibuktikan. Tapi di hamparan waktu yang panjang, ketika suatu ruang pertaruhan di mulai, ada beberapa hal yang mesti dapat diatasi. Bulan, surya, pelangi dan gunung, adalah diksi yang dipilih untuk menunjuk suatu hal yang mesti ditaklukkan, yang sekaligus menunjuk pada bendabenda yang tinggi dan besar. Dan sebelum diksi itu diletakkan, katakata joloklah, genggamlah, lukisilah, cungkillah, adalah pilihan kata yang menunjuk kepada suatu sikap yang mencerminkan kehendak penaklukkan bendabenda yang tinggi dan besar itu.
Joloklah, genggamlah, lukisilah, cungkillah, sebenarnya adalah katakata yang akrab ditelinga kita seharihari. Banyak pekerjaan seharihari yang menggunakan katakata itu untuk mencerminkan usaha dari setiap pekerjaan yang dilakukan. Dari katakata kerja itu, kita bisa mengerti bahwa dari pekerjaan yang dinamai dengan kata itu, manusia membutuhkan suatu modalitas untuk memulai usahanya. Dan barangkali judul puisi itu; tekad, adalah modalitas yang dimaksudkan itu.

Dari sinilah saya menyenangi puisi ini. Tekad, tanpa menyebut kehendak, adalah unsur awal dari terciptanya sesuatu yang lahir dari cipta manusia. Dengan tekad, manusia merealisasikan dirinya untuk hidup kongkrit. Dengan tekad, jika meminjam Hegel ataupun Marx adalah awal dari perealisasian diri atas kerja.
Tekad, seperti mengajak sesiapa untuk berjudi dengan waktu. Di puisi itu, waktu jadi satusatunya yang tetap, yang tak berubah dari nasib yang dipertaruhkan. Di ujung puisi itu, dengan tekad, dengan usaha yang telah menaklukkan bendabenda yang tinggi dan besar, barulah seseorang disebut pemahat masa depan. Di sini kata pemahat, adalah cermin yang mengamit makna kerja, suatu tindak yang sama dengan jolok, genggam, lukis dan cungkil. Artinya, jika ini layak disebut tafsir, adalah suatu usaha yang tak pernah selesai. Yakni tindakan terus menerus untuk memahat masa yang akan datang.

Sehimpun airmatadarah adalah buku sekumpulan puisi pertama dari Sulhan Yusuf. Tapi di dalamnya, seratus tiga puisi adalah puisipuisi yang bukan pertama kali ditulisnya. Jika bisa dibilang, dari kumpulan puisi yang sebanyak itu, adalah juga cermin yang memantulkan gejolak kejiwaan yang sedang dihadapi dari peristiwaperistiwa sehariharinya. Saya tak tahu puisi apa yang ditulis pertama kali oleh Sulhan Yusuf yang mencerminkan pergulatan batin yang sangat. Tapi kita berharap puisipuisinya akan terus lahir seiring banyaknya pengalaman hidup yang dilaluinya

Dengan maksud yang tragedik, jika masa yang datang dalam Tekad itu dihadapkan kembali kepada Sulhan Yusuf, maka orang yang seharihari dinisbahkan sebagai mentor oleh saya itu, telah dikutuk untuk dapat terus menulis. Dan kutukan menjadi seorang penulis yang akrab dengan aksara, adalah pekerjaan yang getir sekaligus murung. Melalui dua hal inilah, masa depan diukir dan diabadikan. Namun mudahmudahan, getir dan kemurungan itu hanyalah hal yang nampak di dalam tulisantulisannya.

Syahdan, airmatadarah adalah buku puisi yang layak untuk dimiliki. Setidaknya dengan puisi, lewat buku ini kita diantar untuk menjadi seorang pemula. Orangorang yang kembali menengok dunia keseharian dengan cara yang berbeda.

Makassar, 25 Maret 2015
Bahrul Amsal

Rabu, 18 Maret 2015

Asran Salam

Dalam AirMataDarah Ada Pelajaran Diri
Beberapa hari yang lalu, kala hujan turun sekali deras. Makassar-Tamalanrea, di Toko Buku Papirus, Saya sengaja berkunjung ke sana. Lama rasanya tak melihat tempat itu. Tempat yang banyak menyimpan kenangan; perjumpaan dengan orang-orang baru, pemikiran baru. Tempat yang sederhana, namun memiliki sejuta semangat perihal peradaban literasi tetap abadi. Papirus, lama rasanya saya tak mencium aroma tumpuk buku-bukunya. Papirus, di situ saya beberapa tahun pernah menggantungkan hidup secara ekonomi. Papirus, pemiliknya Sulhan Yusuf adalah bos yang tak berlagak bos, karena lebih banyak menjadi guru, sahabat dan inspirasi hidup bagi saya.
Pada beberapa hari yang lalu itu, saya berkunjung ke sana dengan membawa kelipatan rindu. Yang pertama, rindu sebagimana kenangan-kenangannya. Yang kedua, rindu segera mendapatkan buku yang ditulis oleh sang pemilik Papirus; Sulhan Yusuf, bos yang tak berlagak bos itu. Dari Samata—Gowa, setelah menulusuri jalan-jalan yang padat dan bising deru mesin. Sekitar pukul 14.30 Wita, saya tiba di Papirus. Kak Sul (begitulah kami memanggilnya) menyambutku dengan senyum khasnya—tulus tanpa pretensi. Sebelum saya duduk, karena rindu ingin cepat melihat dan membaca bukunya, lalu saya meminta ke kak Sul untuk memberikan secepatnya—seperti orang yang memaksa—ke saya.
AirMataDarah begitulah judulnya, seketika sudah berada ditangan saya. AirMataDarah adalah sekumpulan puisi kak Sul. Jika ada yang bertanya mengapa AirMataDarah? Dalam buku itu, tak ada petunjuk yang jelas perihal tersebut. Satu-satunya petunjuk tentang judul AirMataDarah bahwa ia adalah salah satu puisi dalam buku tersebut. Buku AirMataDarah tidak hanya sekadar sekumpulan puisi, tapi bagi saya—jika tak terburu-buru menyimpulkan—adalah sekumpulan rekaman hidup; intelektual, spirirtual, sosial, budaya, politik dalam pelampauan ruang waktu.
AirMataDarah, dengan jumlah seratus tiga puisi, mengingatkanku pada sekumpulan puisi Muhammad Iqbal yang berjudul Asrar-i-Khudi. Dalam Asrar-I-Khudi, Muhammad Iqbal menjelaskan pandangan filsafatnya tentang diri pribadi dengan segala dimensinya. Apakah ada kesamaan AirMataDarah dan Asrar-I-Khudi? Entahlah, tapi AirMataDarah juga banyak bercerita tentang diri pribadi dengan segala dimensinya. Untuk satu contoh puisi pada AirMataDarah yang berjudul “DIRI” (hlm;61) di sana kita bisa menemukan bait-bait tentang pelajaran diri yang tertemukan:
“Usaikan dulu tentang pelajaran diri, kemudian
mulai belajar tentang yang lainnya. Sebab, insan
yang telah selesai belajar tentang dirinya, akan lebih
mudah mempelajari sesuatu yang beredar di luar diri”
Pada bait ini, sepertinya kak Sul memberikan kompas tentang diri bahwa tak ada pengenalan pada makrokosmos (alam semesta) tanpa sejak awal tak menyelesaikan pelajaran mikrokosmos (diri). Lalu di mana kita semestinya belajar menyelesaikan diri, Pada bait ke dua di situ kak Sul menjawab di sana; di sekolah kehidupan.
“Aku baru saja menyaksikan insan yang telah
menempu perjalanan,berproses untuk
menyelesaikan satu mata pelajaran tentang diri
di sekolah kehidupan”
Lalu sekolah kehidupan itu di mana? Kak Sul kemudian memberikan jawabanya pada bait berikutnya;
“Mata pelajaran diri, sumbernya boleh dari mana
Saja. Pola tingkah laku sosial, budaya, politik di
sekitar, bisa menjadi literaturnya. Sinar matahari,
cahaya rembulan, hembusan angin, desiran ombak,
aneka ragam tumbuhan dan binatang, akan dapat
mendukung proses itu”
Kemudian, kak Sul memberikan penanda kepada kita seperti apakah insan itu yang telah menyelesaikan pelajaran diri itu pada bait selanjutnya;
“Penanda insan yang telah selesai belajar tentang
Dirinya, insan akan selalu melihat dirinya pada
cermin diri makhluk lain. Tidak lagi bicara tentang
dirinya sendiri, tetapi selalu membincang keagunan
diri lain”
Pada bait terakhir, di sini sebuah konklusi perihal pelajaran diri yang telaj “selesai”. Saya seperti menemukan konklusi diri yang sama dengan apa yang pernah diutarakan oleh Muhammad Iqbal pada puisinya yang berjudul “Alam Semesta dan Kekuatan Diri”;
“Bila ke-pribadi-an bangkit mengatasi kesadaran
Diwujudkannya dunia ide dan pikiran sejati
Ratusan alam akan melingkup dalam intisarinya
Mewujudkan dirimu melahirkan yang bukan pribadimu”
Pada akhirnya, inilah pembacaan saya. Mungkin saja bagi pembaca yang lain menemukan yang lain pula. Ada teori yang pernah berbilang bahwa memang kita tidak pernah benar-benar bisa menangkap maksud pengarang seutuhnya. Kita tidak bisa menemukan makna sejati dalam artian makna pengarang pada teks yang tulisnya. Sebenarnya, apa yang saya tulis di atas yang mencoba mengurai salah satu puisi kak Sulhan Yusuf hanya sebatas penghampiran makna—kalau tak mau menyebutnya memproduksi makna sendiri....
Samata;
Dini hari, setelah pada senja hujan turun
Dingin tak terhindarkan
Untuk sang guru
Sang Inspirator
Sulhan Yusuf.

Makassar, 16 Maret 2015
Asran Salam

Atte Shernylia Maladevi

AIR MATA DARAH.
awal mendengar kabar tentang kelahirannya, bahagia tak terhingga.
Seolah menantikan kelahiran anak seorang karib, ya ..anak ruhani yg sudah sekian lama kami nantikan kelahirannya.
Setelah bertemu sang penulis, dengan senyum yg indah dan rasa bahagianya dia menyodorkannya padaku buah hatinya itu, sebuah buku berjudul AIR MATA DARAH.
Dengan mata berbinar karena haru, kuterima dengan penuh kebahagiaan dan rasa bangga. Apalagi langsung mendapatkan tanda tangan penulisnya beserta bonus doa di dalamnya.
Kami di komunitas Boetta Ilmoe merencanakan perhelatan buat si anak baru. Agar kelak kami bisa ingat masa - masa kelahirannya dan sebagai sebuah kebiasaan kami untuk merayakan setiap kelahiran anak ruhani dgn sebuah acara sederhana yang dibalut dengan rasa syukur yang luar biasa kepada Sang Pencipta.
Keberkahan demi keberkahan mengalir dari kelahirannya,
Aku yang dulunya mengalami kemunduran semangat dalam menulis akhirnya terpacu untuk menyelesaikan penulisan sebuah novel yg sdh setahun terbengkalai.
Tidak hanya itu,
Kesempatan pertama untuk membacakannya dalam sebuah perhelatan indah pun akhirnya diberikan padaku.
Ya, pagi itu aku membacakan 2 buah puisi dalam buku AIR MATA DARAH di dalam indahnya kedamaian hutan di Bantaeng.
Puisi berjudul Sampah dan Bumi.
Jelas terbaca maksud sang penulis, dia merunut kejadian demi kejadian yang terjadi dalam waktu yang berbeda.
Kalimat - kalimat yang diramu dalam pengalaman ruhaninya membuat pembaca seolah larut dan tidak jarang membawa akal dan rasa kita mencari tahu akan sosok siapa dan kejadian apa yang bersinggungan dengan kalimat dalam puisi - puisi itu.
Terlihat jelas kepandaian sang penulis dalam meramu katanya. Tidak membosankan dan berselera tinggi.
Kritikan - kritikan nya masuk akal, tidak berlebihan namun tepat pada sasarannya.
Di antara deretan puisi itu, ada 1 puisi yang sangat kuyakini itu untukku. Karena judulnya "titisan cinta leluhur" seperti judul novel pertamaku.
Ya, itulah pribadi sang penulis.. Selalu menghargai karya orang - orang terdekatnya. Selalu punya apresiasi untuk kami yang baru belajar menulis.
Hampir semua puisi bagaikan penanda akan kejadian dan hal - hal yang dialami dalam keseharian.
Dan puisi yang paling aku sukai adalah puisi yang berjudul PENDEKAR.
Disana sang penulis mengurai sosok seorang pendekar yang dibandingkan dengannya yang sangatlah jauh dari sosok pendekar yang di elu- elu kan banyak orang.
Aku mencium kritikan pedas penulisnya namun masih saja kalimatnya penuh etika dan sangat indah dimata dan telinga namun menusuk ke hati yang paling dalam.
Ya, sederhana namun luar biasa
Itulah AIR MATA DARAH
Seperti sosok penulisnya yang sangat jauh dari kesan WAH.
Namun memiliki kepribadian yang Megah buat kami.
Kanda Sulhan Yusuf,
Kami menanti karya - karya selanjutnya.
Salam hangat buat Sang Guru.
Barakallah.
Bantaeng, 17 Maret 2015
Atte Shernylia Maladevi