Aku memelihara beberapa ekor ayam, bahkan sudah beranak pinak. Sekali waktu, ada yang mati, sedih rasanya karena kehilangan. Tetapi berikut-berikutnya, selalu saja ada yang mati dan perlahan rasa sedih akan kehilangan tak ada lagi. Rasanya mulai kebal, kehilangan menjadi peristiwa biasa saja. Sang Guru menghentakku agar mengambil pelajaran darinya, dengan lembut Ia bertutur: " Han..., kehilanganmu itu masihlah kehilangan di luar diri. Cobalah resapi manakala kehilangan itu menyentuh hal-hal dalam diri, jatidiri. Kehilangan jatidiri, terkadang tidak sekaligus, perlahan jalannya. Semula mungkin pikiranmu, lalu akal sehatmu dan selanjutnya hatinuranimu. Saking terbiasanya kehilangan hal yang membentuk jatidiri, maka ketika jatidiri pun hilang, seperti tidak kehilangan apa-apa."
Jumat, 13 Juni 2014
KEHILANGAN
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
17.44
Aku memelihara beberapa ekor ayam, bahkan sudah beranak pinak. Sekali waktu, ada yang mati, sedih rasanya karena kehilangan. Tetapi berikut-berikutnya, selalu saja ada yang mati dan perlahan rasa sedih akan kehilangan tak ada lagi. Rasanya mulai kebal, kehilangan menjadi peristiwa biasa saja. Sang Guru menghentakku agar mengambil pelajaran darinya, dengan lembut Ia bertutur: " Han..., kehilanganmu itu masihlah kehilangan di luar diri. Cobalah resapi manakala kehilangan itu menyentuh hal-hal dalam diri, jatidiri. Kehilangan jatidiri, terkadang tidak sekaligus, perlahan jalannya. Semula mungkin pikiranmu, lalu akal sehatmu dan selanjutnya hatinuranimu. Saking terbiasanya kehilangan hal yang membentuk jatidiri, maka ketika jatidiri pun hilang, seperti tidak kehilangan apa-apa."
JILAT
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
01.41
Seorang kawan diskusiku nampaknya resah akan potret pemimpin negerinya. Betapa tidak, ia melihat pemipinnya berubah, sebab kebanyakan yang mengelilinginya adalah bekas musuh-musuhnya. Sang Guru ikut prihatin akan realitas itu, maka ia pun bersabda: " Han..., kalau saja dikau punya musuh, maka cara terakhir dari musuhmu untuk mengalahkanmu adalah dengan menjilat padamu. Dan, akibat pertama darinya, berupa tersingkirnya orang-orang terbaikmu. Sebab, orang terbaik bagimu tidak akan pernah menjilatmu. Menjilat itu, sejenis prilaku yang paling menjijikkan, akan menghabiskan segalanya, termasuk sisa-sisanya, demi menyenangkan tuannya dan memuaskan dirinya."
Rabu, 11 Juni 2014
KEHIDUPAN
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
18.54
Anak-anak negeriku saling cacimaki, aura negatif disemburkan bak lahar gunung berapi, membakar apa saja yang disuai. Kehidupan negeriku sangat kotor jiwanya, dan aku membatinkan diri akan semuanya, betapa kurang beruntungnya anak-anak negeri yang diasuh dengan keburukan. Sang Guru mendedahkan sabda, prihal kehidupan ini, tuturnya: " Han..., wajib mencintai kehidupan, apapun adanya, asalkan jangan tertawan di dalamnya, terterungku karenanya. Membebaskan diri adalah sebentuk cinta akan kehidupan. Mencintai kehidupan berarti menebarkan kebaikan di atasnya, dan itulah aura positif, energi kehidupan."
Senin, 09 Juni 2014
POLUSI
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
18.26
Pagi ini, aku menyandarkan harapan di pelataran jiwaku, berkompromi dengan selaksa kegelisahan, menyaksikan negeri yang sebentar lagi akan memilih pemimpinnya. Sang Guru rupanya amat paham akan gundahku ini, Ia pun menghibur dengan tuturnya: " Han..., sepintas memang dikau akan bingung. Sebab, demi perhelatan mencari pemimpin itu, banyak orang kehilangan jatidirinya, gara-gara terpaksa atau dipaksa memihaki calon pemimpin itu. Bahkan awan gelap berupa energi negatif menyelimuti negerimu. Aura cacimaki menyata, menjadi polusi bagi jiwa negerimu. Kesantunan menjadi barang langka, keteladan amat mahal dan kelapangan dada sangat sulit ditemukan. Memang polusi jiwa itu akan berlalu, namun bekas lukanya akan sulit dihilangkan, sebab ia telah menjadi penanda masih rendahnya keberadaban negerimu."
GERAK
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
17.56
pagi yang cerah
meski sisa gerimis subuh masih nampak
di beranda kududuk menerawang
memahami orang lalulalang
sunggukah mereka bergerak?
soalnya pemandangan ini berulang-ulang
sementara aku hanya duduk
namun jiwaku berkelana
sesungguhnya, siapakah yang bergerak?
Jumat, 06 Juni 2014
IMUN
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
16.20
Kali ini, benar-benar Sang Guru menohokku dengan ketajaman sabdanya: " Han..., beritahu pemimpin negerimu itu, jikalau ia sudah tidak ingin dikritik, berarti ia melemahkan dirinya sendiri. Kritik bagi seorang pemimpin negeri, sesungguhnya adalah proses imunisasi untuk mengebalkan jatidirinya dari kelupaan akan diri. Kritik memang menyakitkan, tapi dibutuhkan untuk menyembuhkan. Ibarat bayi yang diimunisasi, ia memang sakit demam, namun setelahnya ia akan imun terhadap berbagai macam penyakit."
Kamis, 05 Juni 2014
PEMIMPIN
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
14.52
Dalam suasana hingar bingar berbincang tentang pemimpin negeri, tiba-tiba saja Sang Guru menyata dengan tanya: " Han..., mungkinkah seorang pemimpin negeri yang mengatakan telah menyerahkan jiwanya, hartanya, tenaga dan pikirannya untuk membangun negerinya, namun di saat yang sama ia menyatakan pula tidak bahagia memimpin negerinya, bisa membahagiakan rakyatnya?"
Langganan:
Postingan (Atom)