Jumat, 12 Februari 2016

Kopi, Pisang Goreng dan Al-Syifa


Pagi masih malas menyata. Awan berkuasa penuh di langit Ereng-Ereng. Sesekali butiran air hujan malu-malu melompat dari dekapan awan, beraninya cuma merintik. Saya mencoba berdamai dengan semuanya. Toh, kita sebagai sesama makhluk penghuni jagat, memang ditetapkan untuk saling bergilir unjuk takdir. Kalau saja semuanya saling menyila untuk menjalani ketetapan, maka damailah buana.
 
Demikianlah kiranya, kala saya tiba di Ereng-Ereng, sebuah kampung yang terdaftar dalam wilayah kuasa administratif, Kelurahan Ereng-Ereng, Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Bantaeng. Jarak tempuh dari kota Bantaeng, kisaran setengah jam lebih kalau ngebut, atawa kira-kira kurang lebih 15 km jauhnya. Di sinilah letaknya sebuah sudut baca yang bernama Sudut Baca Al-Syifa. Usia sudut baca ini, jelang tiga tahunan. Dan, kali ini, untuk kesekian kalinya saya mampir, jeda melepas dingin, mencari kehangatan bersama secangkir kopi, pisang goreng plus sambutan ramah pengelolahnya.
 
Sehari sebelumnya, saya sudah kontak bung Ahmad Rusaidi, seorang guru SMA di Takalar, yang sekaligus suami dari Elma Malewa sang penanggung jawab sudut baca. Mereka baru saja dikaruniai seorang putra, sebagai hasil dari pernikahan mereka, lebih dari setahun yang lalu. Saya ikut memprovokasi keduanya agar bersatu dalam ikatan keluarga, sebab keduanya adalah sosok yang konsern dengan tradisi literasi. Bagi saya, bertemunya sepasang anak keturunan Adam-Hawa ini, adalah perkawinan literasi. Dan, benar saja adanya, hingga kini sudut baca tetap eksis, apatah lagi dibantu oleh beberapa orang srikandi setia sebagai pengurus.
 
Pertelponan dengan bung Ahmad, saya sampaikan bahwa ingin mampir di sudut baca, sebelum melanjutkan perjalanan ke kampung berikutnya, Desa Labbo, guna meladeni permintaan pemerintah desa, melakukan pelatihan pengelolaan perpustakaan desa dengan spirit budaya literasi. Persinggahan ini, sejenis aji mumpung, sekadar mengamalkan pepatah lama, sambil menyelam minum air, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.
 
Hampir pukul sembilan pagi, saya sudah berada di Sudut Baca Al-Syifa. Di bawah kolong dekat tangga, senyum sumringah dan sapaan langsung menghidu saya. Menyilakan saya agar naik ke rumah. Memang sesarinya, sudut baca ini bertempat di sudut ruang tamu pada rumah panggung yang dihuni oleh keluarga besar bung Ahmad dan Elma Malewa. Srikandi yang menyilahkan saya itu, tiada lain adalah Analda Malewa Pazhak, adik dari Elma, yang juga sekaligus ujung tombak keberadaan sudut baca ini.
 
Pada sudut ruang tamu dari rumah yang disulap menjadi sudut baca, saya langsung melapangkan diri. Tuan rumah seolah memaksa saya agar duduk di kursi tamu. Tapi saya lebih memilih melantai di karpet sudut baca. Lebih rileks, dan sejatinya memang saya mampir untuk menikmati sepetak surga dari rumah panggung ini. Saya selalu menabalkan, bahwa ruang baca pada sebuah rumah adalah sepetak surga bagi penghuninya yang punya tradisi literasi.
 
Kehadiran saya di sudut baca ini, tentulah bukan sekadar melepas rindu atawa silaturrahim biasa. Melainkan, saya punya hidden agenda, agenda terselubung. Saya benar-benar ingin memastikan keberadaan beserta aktivitasnya. Dan juga beberapa kiat-kiat yang pernah saya rekomendasikan. Maklumlah, oleh pengelolah sudut baca, saya didapuk sebagai konsultannya. Sambil berbincang tentang capaian-capain program, penambahan koleksi buku, antusias pengunjung, tak lupa pula saya mengemukakan beberapa ancangan program yang mungkin bisa dilaksanakan ke depannya.
 
Tak terasa, hampir sejam saya berdiskusi dengan bung Ahmad, Elma Malewa, Analda Malewa Pazhak dan sesekali menikmati kesucian sang bayi yang dipangku secara bergilir, gara-gara seringkali ia tersenyum, tangannya melambai. Dugaan saya, senyuman dan lambaian tangannya, seolah ingin menegaskan pada saya bahwa kepala kita sama, plontos. Ya.. bung kecil, memang kita sama-sama plontos, dikau plontos sebab baru mengenal dunia, sementara saya plontos karena sudah hampir setengah abad melata di atasnya.
 
Ribuan detik yang saya habiskan di Sudut Baca Al-Syifa ini memang membahagiakan. jiwa raga saya terpenuhi. Berbincang tentang gerakan literasi, hasrat-hasrat keberaksaraan menyebabkan jiwa ini terasupi gizi kehidupan untuk semakin menguatkan jiwa kejuangan yang senantiasa pupus ditelan godaan pragmatisme. Pun hal yang sama bagi raga saya, disuguhi secangkir kopi pahit asli Ereng-Ereng, dengan penganan sepiring pisang goreng. Amboi nikmatnya, mengusik dingin yang bersetubuh dengan saya. Dan, lebih dari itu, saya dapat tambahan energi untuk melanjutkan perjalanan, ke tempat yang semestinya, Desa Labbo.

Kembali ke Labbo


Ini sekadar mengadaptasi judul tembang lawas Koes Plus, Kembali ke Jakarta, dengan mengganti Jakarta menjadi Labbo. Apa itu Labbo? Ia hanyalah salah satu desa di Kabupaten Bantaeng. Ya... Desa Labbo, saya kembali ke Labbo, setelah sekian lama tak mengunjunginya, sekitar tiga tahunan. Padahal, desa ini tersimpan rapi di peta batok pikiran saya dan terpahat kuat dalam sudut hati saya. Masih ingat tulisan saya bertahun yang lalu? Tentang desa ini, dengan tajuk: Mari Belajar ke Desa Labbo.
 
Pada tulisan itu, saya membabarkan perkembangan Desa Labbo, khususnya perestasi di bidang literasi, dimana perpustakaan desanya menjadi garda terdepan untuk dijadikan sebagai percontohan perpustakaan desa secara nasional. Dan, perpustakaan desa ini menjadi juara dua lomba perpustakaan desa se provinsi Sulawesi-Selatan. Menurut desas-desus, seharusnya juara satu, tapi ada faktor X yang mengganjalnya. Bagi saya, tidak penting berdebat posisinya, yang terpenting adalah perpustakaan ini masih eksis hingga detik ini.
Kembali ke Labbo, ya... saya kembali lagi atas ajakan kepala desanya yang baru, bung Sirajuddin Siraj. Beliau barulah setahun lebih menjabat. Dan, hubungan saya dengan beliau tergolong dekat, beliau adalah junior saya di organisasi daerah, Koskar PPB dan HMI-MPO Makassar. Seperti juga kepala desa sebelumnya, Subhan Yakub, juga junior saya. Jadi, untuk urusan melibatkan diri dalam membangun perpustakaan desanya bukanlah hal yang rumit.
 
Sesarinya saya menikmati liburan Imlek yang kali ini jatuh pada hari Senin, 8 Februari 2016. Tapi, karena permintaan untuk merevitalisasi kembali perpustakaan desa didapukkan pada saya, maka saya tangguhkan liburan Imlek ini. Saya meluncur ke Labbo, masih pagi sekali, dan sebelum sampai, singgah dulu di Ereng-Ereng, tepatnya di sebuah komunitas literasi, Sudut Baca Al-Syifa. Melakukan silaturrahim, berbincang dengan pengelolah, sambil minum secangkir kopi pahit asli Ereng-Ereng dan sepiring pisang goreng.
 
Sekitar pukul 10.00 pagi, saya sudah tiba di areal kantor Desa Labbo. Saya tidak langsung ke aula pertemuan, melainkan saya menyusup masuk ke gedung perpustakaan Fajar Desa Labbo. Memang demikian adanya, bangunan perpustakaan desa sudah terpisah dari kantor desa. Dulu, waktu pertama sekali saya datang, hampir sepuluh tahun yang silam, masih menyatu dengan bagian kantor desa. Belakangan, di periode kedua Subhan Yakub sebagai kepala desa, ia telah membangun gedung tersendiri. Dalam perpustakaan desa yang saya susupi itu, semuanya masih seperti pada kunjungan saya yang terakhir.
 
Bung Sirajuddin Siraj, sang kepala Desa Labbo, langsung menyambut saya dengan ramah, penuh senyum sumringah. Warga yang hadir pun demikian, menebarkan senyum ke saya sebagai penanda kebersediaan menerima kehadiran saya. Sebagian besar dari warga itu saya kenali, begitu pun sebaliknya, hampir semuanya mengetahui sepak terjang saya selaku pegiat literasi. Seperti yang saya tuturkan, bahwa kehadiran saya di Desa Labbo ini, atas undangan sang kepala desa untuk semakin memperkuat keberadaan perpustakaan desa, yang bakal membuka cabangnya ke enam dusun di wilayah administratif Desa Labbo.
 
Acara kali ini berbentuk pelatihan, dengan tajuk acara: Strategi Pengelolaan Perpustakaan Desa yang Berorientasi Budaya Literasi. Peserta yang hadir, kurang lebih 40an orang dengan latar belakang pustakawan desa, pustakawan SD, MTs dan MA yang ada di wilayah Labbo. Tak ketinggalan pengurus Karang Taruna dan beberapa kaum muda potensial Labbo, yang tergabung dalam berbagai organ kemasyarakatan. Jujur saya tabalkan, bahagia sekali rasanya berbagi pengetahuan dengan mereka, sebab saya menganggap bahwa mereka, para peserta itu adalah para penjaga peradaban yang bermukim di pelosok desa.
 
Hampir empat jam saya habiskan dalam pelatihan itu. Saya senang sekali, karena aparat desa, mulai dari kepala desa dan sekretarisnya, beserta aparatus lainnya ikut mendengarkan. Ini penting, agar nantinya, paska pelatihan banyak yang bisa dikoneksikan terkait dengan kebijakan-kebijakan yang bakal diputuskan, berkaitan dengan pengembangan Perpustakaan Fajar Desa Labbo. Saya mendedahkan materi sajian, mulai dari filosofi mengapa kita harus punya perpustakaan, isi atau koleksi perpustakaan, hingga program-program kerjanya.
 
Di pucuk acara pelatihan, saya sabdakan pada mereka, bahwa saya bakal datang lagi untuk mewujudkan program-program yang bisa kita tunaikan secara bersama. Sebut saja salah satu program yang akan saya wujudkan, Pelatihan Literasi, yang didalamnya akan memberikan sajian bagaimana membaca sebagai sebuah kebutuhan dan menulis sebagai terapi jiwa. Selain itu, saya juga menjanjikan kepada mereka hendak mendatangkan penulis, berdiskusi dengan pengarang, sambil membedah karya-karya mereka. Dengan begitu, saya berharap perpustakaan Desa Labbo ini selalu menjadi terdepan dalam unjuk tradisi literasi, seperti halnya motor Yamaha, yang selalu menyatakan dirinya terdepan dan semakin di depan.
 
Boleh saja di antara kita ada yang tidak percaya, bakal terwujudnya program-program itu. Namun, bagi saya, ada optimisme yang membuncah. Sebab, kapasitas tradisi literasi kepala desanya lebih dari cukup, ditambah lagi dengan fasilitas yang ada, sumberdaya manusia pengawalnya tersedia, semuanya mendukung proses perwujudan program perpustakaan desa. Apatah lagi, sebagai langkah awal, sang kepala desa telah menambah koleksi buku, melakukan pembelian buku lewat ADD, dan berjanji akan mengucurkan lagi dana untuk meningkatkan fasilitas pendukung perpustakaan.
 
Sekitar pukul 16.00, jelang sore, saya beranjak meninggalkan Desa Labbo. Kabut menampak, hujan rintik-rintik mengiringi kepulangan saya. Dengan motor yang dipinjamkan oleh seorang karib, saya menikmati liukan tikungan jalan penurunan. Banyak yang tersisa dari setiap tapak jalan yang saya lewati, kenangan demi kenangan berhamburan menyeruak, mengingat-ingat tahun-tahun silam, kala merintis tapak-tapak gerakan literasi di Labbo. Hujan yang mengguyur, apatah lagi kalau sekadar merintik, taklah kuat menghapus jejak literasi itu. Jejak literasi yang saya tapakkan, tidaklah seperti daki yang melengket di kulit, begitu mandi hilanglah pula.

Orang-Orang yang Bertandang ke Surga


Walhasil, telah tercipta sepetak surga di mukim saya. Penghuninya amat beragam, bisa saling berkawan, namun boleh pula bermusuhan. Mereka terkadang berdiri berhimpitan, sering pula tergeletak bertindihan. Jalan pikirannya beraneka, mulai dari yang rumit melangit, hingga hal sederhana sehari-hari. Fisik pun berbeda, ada yang besar, gemuk tebal, dan tidak sedikit yang kurus tipis. Di surga inilah, semuanya menjadi adem. Dari setiapnya, punya tempat masing-masing. Sangat boleh berbeda, tapi tidak saling meniadakan. Terkadang gaduh, ribut berdebat, saling tohok pikiran, tatkala diberi jiwa. Walakin sekali lagi, muaranya tetap tenang, damai bersemayam.
Teringatlah saya akan tutur bijak dari Marcus Tullius Cicero, yang disabdakan ulang oleh Muhary Wahyu Nurba, pada tulisannya yang berjudul Rumahku Surgaku, dalam buku Esai Tanpa Pagar, “ Jika Anda memiliki taman dan perpustakaan, Anda telah memiliki semua yang Anda butuhkan.” Atau apa yang dinubuatkan oleh Jorge Luis Borges (1899-1986), "I have imagined that paradise will be a kind of library." Bahwa apa yang diimajinasikan, suatu surga, layaknya seperti perpustakaan.
Di pekan kedua bulan Februari 2016, tepatnya tanggal sebelas, tiga hari setelah hari raya Imlek, pada siang setelah duhur, hingga jelang ashar, mukim saya disambangi oleh seorang jurnalis dan fotografernya dari sebuah media cetak, harian Fajar Makassar. Maksud kehadirannya, ingin menulis sebuah feature, sejenis liputan tentang orang-orang yang punya perpustakaan pribadi, para kolektor buku. Dan menurutnya, saya salah seorangnya. Maka, saya pun dengan tangan terbuka menyambutnya, lalu menggiring ke sudut rumah bagian belakang, melewati areal Toko Buku Paradigma Ilmu, pada sebuah ruang baca, yang sering saya sebut sebagai, “sepetak surga”.
Terjadilah percakapan -- sembari saya mengawasi pengunjung toko buku Paradigma Ilmu -- seputar awal mula koleksi buku yang jumlah kisaran 3000 judul. Bukan saja tentang jumlah, melainkan merambah pada koleksi-koleksi lama, cara mendapatkannya, tahun memulainya, jenis-jenis buku, tema-tema pemikiran dari setiap buku. Hasil perbincangan dengan sang jurnalis, Muhammad Nursam, kemudian dituangkan dalam liputan Metropolis harian Fajar, berjudul: Dominan Filsafat, Tak Bisa Bawa Pulang.
Sesarinya memang, judul tulisan itu amat tepat. Dominan buku-buku di pojok surga saya adalah filsafat. Meskipun begitu, tema-tema pemikiran lain semisal agama, sosial, budaya, sastra, motivasi dan keluarga-kepengasuhan bercokol pula. Kesemuanya bersatu dalam ruang baca, yang antara satu dengan lainnya bisa saling bertentangan. Saya terbiasa mengoleksi dan membaca buku yang saling bertentangan, sehingga sudut pandang akan satu persoalan bisa lebih komprehensif. Sebab, tidak sedikit muncul perbedaan pendapat yang intoleran, dikarenakan oleh tunggalnya sudut pandang, apatah lagi ditambah sikap ngotot benar sendiri.
Beragamnya pemikiran yang ada dalam perpustakaan keluarga saya ini, bukan tanpa resiko. Banyak orang di luar sana yang menganjurkan untuk tidak mengunjungi mukim saya. Menurutnya, ini salah satu tempat pesemaian bibit-bibit pikiran sesat dan menyesatkan. Tuduhan itu saya abaikan saja, karena saya lebih berpihak pada orang-orang yang datang untuk berdiskusi, membaca dan menulis. Lagi pula, kurang lebih enam bulan terakhir, pada ruang baca ini diselenggarakan program Kelas Literasi, Kelas Logika-Epistemologi dan Kelas Parenting di bawah bendera Paradigma Institute, sebuah lembaga yang saya dirikan sejak tahun 1994.
Riwayat pojok perpustakaan keluarga, sepetak surga saya ini cukup panjang. Saya mengumpulkan buku sejak tahun 1985, ketika mulai masuk kuliah. Masih teringat benar buku pertama dan kedua yang saya beli secara bersamaan, Biografi Empat Imam Mahzab dan I’tiqad Ahlu Sunnah Waljamaah, yang kedua-duanya telah raib, dipinjam tak kembali lagi. Dan, sebenarnya, lumayan banyak buku-buku saya yang terpinjam, tidak kembali sampai detik ini. Benarlah anekdot yang amat populer, “orang bodoh yang meminjamkan bukunya, tapi lebih bodoh lagi, orang yang meminjam lantas mengembalikannya.”
Selama menempuh kuliah yang lumayan lama, sehampiran tujuh tahun, saya sudah mengumpulkan buku ratusan judul. Dan sebongkah keberkahan datang menghampiri, tatkala di tahun 1993, saya menikah dengan seorang perempuan, Mauliah Mulkin, yang kecintaannya pada buku begitu khusyuk. Bersatulah minat yang sama dalam keluarga baru. Dari sinilah pertambahan koleksi buku kami menjadi berlipat. Ribuan buku menjadi koleksi perpustakaan keluarga kami. Salah satu perundingan yang memenuhi kata sepakat adalah ketika perpustakaan keluarga ini, kami beri nama Raushanfekran. Artinya, orang-orang yang tercerahkan. Terinspirasi dari istilah yang dipopulerkan oleh Ali Syariati, seorang intelektual asal Iran.
Perpustakaan keluarga kami, awalnya sangat bersifat pribadi, tepatnya perpustakaan pribadi. Tempatnya di ruang keluarga dan hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu. Saya biasa menyaksikan, bilamana para tetamu datang, hanya ngiler melihat buku-buku itu yang bisa diintip dari ruang tamu. Lamat-lamat seiring berjalannya waktu, sikap saya mulai melunak. Perundingan pun dengan seisi penghuni rumah dilakukan untuk menyepakati pola baru berkenan dengan akses terhadap perpustakaan pribadi ini, termasuk perubahan nama menjadi Miraculum, maksudnya keajaiban, karena kami begitu banyak mendapatkan keajaiban dari membaca buku-buku tersebut.
Hasil lainnya, lima tahun yang lalu, kami memindahkan ke ruang belakang, yang juga berfungsi sebagai ruang kerja merangkap ruang baca. Namun, tidak semua orang bisa mengaksesnya, hanyalah orang-orang tertentu yang boleh menikmatinya. Barulah dua tahun belakangan ini, aksesnya diperluas untuk siapa saja, seiring dengan dijadikannya sebagai tempat untuk menunaikan program-program yang diusung oleh Paradigma Institute. Walaupun sebenarnya, sudah lama rumah kami sebagai salah satu pusat diskusi, pesemaian pemikiran sejak 1994, seiring dengan berdirinya Paradigma Instute.
Kini, di waktu kiwari, lumayanlah orang-orang bertandang ke pojok perpustakaan kami. Sepetak surga yang saya siapkan buat orang-orang yang berkepentingan. Banyaklah mahasiswa, aktivis, kawan-kawan gerakan, kolega sering larut bersama di surga bikinan kami. Sesekali kedatangan orang-orang penting, tokoh pergerakan, pengarang buku, penulis untuk berbagi keprihatinan akan masalah hidup dan kehidupan. Membaca, menulis, berdiskusi, rapat terbatas, bincang lepas adalah lipatan-lipatan peristiwa yang tertabung di pojok surga ini. Dan, di atas segalanya, orang-orang boleh datang bertandang, namun tak boleh bawa pulang isi dari sepetak surga ini. Kalau ada yang ingin bawa pulang buku, silahkan ke petak yang lain, ruang sebelahnya, pada Toko Buku Paradigma Ilmu.

Jumat, 05 Februari 2016

TULEN



Ada persamuhan melepas rindu, sejenis acara temu kangen. Nostalgiapun sahut menyahut di antara para kisanak. Karena yang mengadakan acara ini adalah organisasi perjuangan, maka muncullah sosok yang mendapuk diri sendiri sebagai paling tulen sikap kejuangannya. Dicecarnya pandangan-pandangan yang menganggap bakal merusak arah perjuangan. Guru Han yang hadir mengamati, pun tak lupa membatinkan tutur: " Perlu dicek komitmen kejuangan orang yang paling merasa tulen sikap kejuangannya. Jangan-jangan, orang itu berlindung di balik serangannnya, guna bersembunyi dari ketidaktulengannnya. Cara paling efektif menyembunyikan ketidaktulengan adalah memindahkannya pada orang lain."

Kamis, 04 Februari 2016

ha-em-i


kita tidak lagi muda
walau belum tua benar
apatah lagi remaja belia

tapi mengapa para penyokong
bak orangtua bau tanah
menanti kematian?

atau para pegiatnya
semisal anak-anak kecil
berebut permen?

wahai para penyokong
berhentilah membabar kematian

duhai para pegiat
bijibiji permen bakal merusak gigimu

era celaka dalam sejarah
menunggu kematian
bersebadan sakit gigi

Sabtu, 23 Januari 2016

MAKANAN-MINUMAN


Di senja hari Sabtu, pada sore yang lembut, jelang terungku malam, kawan-kawan berkumpul di selasar mukim sahaya. Bermaksudlah mereka merancang malam mingguan, sejenis pesta yang simpleks. Maka perdebatan pun tak bisa dielak, tentang jenis makanan dan minuman serta tempat persamuhannya. Guru Han nampaknya punya jadwal sendiri, namun kali ini ikut mengalah. Walakin sebelumnya sudah menohok tutur: " Usahlah ricuh dengan urusan kelezatan makanan dan kenikmatan minuman. Hentikanlah sahut-sahutan, toh.... yang dimakan dan diminum semuanya bakal jadi fases (tinja) dan urine.(air kencing)."

Jumat, 22 Januari 2016

KEKELIRUAN


Sesosok aktifis mampir di beranda pengetahuan sahaya, ia mengerang akan ketidakmampuannya lagi menghambat laju kekeliruan yang dibabarkan oleh seorang pemimpin di daerahnya. Pemimpin itu hanya yakin dengan jalan pikirannya sendiri, walau kekeliruan  telah menyetubuhinya. Guru Han mendehem, penanda akan angkat tutur, disabdakannya kemudian: " Bila dikau tak kuasa lagi menahan laju kekeliruan yang dilakukan seseorang, sekelompok ataupun sebangsa, maka bikinlah sesuatu yang menandinginya, itulah terapisnya. Dan, bukankah kekeliruan senantiasa dibutuhkan untuk menunjukkan kebenaran? Sekaligus hukuman bagi si pembuat keliru?."