Seorang ibu rumah tangga, dengan khusyuk memeras kelapa yang
telah diparut, untuk mendapatkan santan dan menyisakan ampasnya, membuangnya
begitu saja. Di waktu yang sama, sahaya menonton televisi, yang menayangkan
acara perbincangan. Dalam tayangan itu, perdebatan seru terjadi, saling hujat-maki,
dan merasa benar sendiri. Guru Han yang mengada, mengajak untuk mengambil ibrah
dari kejadian itu, menurutnya: “ Hendaklah setiap diri lebih fokus untuk
mendapatkan santan, dan membuang saja ampasnya. Kebanyakan orang berdiskusi,
lebih fokus untuk mencari keburukan-kesalahan dan bukannya kebaikan-kebenaran.
Orang yang bersamuh dan fokus pada saling memojokkan, sama saja dengan
beroentasi pada keburukan-kesalahan. Dan, itu berarti identik dengan mengumpulkan
ampas, mengais-ngais sampah saja.”
Sabtu, 16 April 2016
Selasa, 12 April 2016
Pustaka Kopi Boda
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
01.43
Sesungguhnya, saya tak merencanakan ke Bantaeng di akhir pekan pada pekan pertama bulan April 2016 ini. Soalnya, saya ingin menyambangi Kelas Literasi dan Kelas Epistemologi Paradigma Institute, yang berlangsung setiap hari Ahad. Kalau saja saya menghitungnya, sudah empat pekan saya alpa mengada di persamuhan ini. Perkara utama sehingga empat pekan terakhir ini, setiap akhir pekan saya ke Bantaeng, karena “terikat kontrak” dengan BKPRMI Bantaeng dengan program Sepuluh Ribu Kader, lewat perkaderan Program Studi Islam (PSI) , dimana saya salah seorang narasumbernya, untuk item Belajar Dahsyat.
Pada hari Ahad, 10 April 2016, bertempat di Mesjid Jami Rahmah Bungeng, Desa Pattaneteang, Tompobulu. Seperti galibnya, saya hadir untuk unjuk bicara tentang materi perkaderan yang diamanahkan ke saya. Ini kali keenamnya saya nimbrung mengisi acara. Dan, satu hal yang syukuri, sebab di arena ini, saya bertemu langsung dengan kepala desa Pattaneteang, Lukman Bungdung, yang memang sejak lama ingin sua. Bahkan, beberapa waktu lalu, sudah sering bikin janjian, tapi barulah kali ini tertunaikan. Beliau pun hadir untuk membuka acara pelatihan, sekaligus mensupport kegiatan ini.
Sebelum saya bicara di forum, ada telepon dari karib saya, Juju Nurfajri, yang memberi tahu, bila pulang dari pelatihan, kiranya singgah di Kampung Kacidu, Kelurahan Lembang Gantarang Keke, Tompobulu. Telepon Juju Nurfajri membuat saya penasaran. Soalnya, dia menyampaikan bahwa ada warung kopi yang baru dibuat oleh seorang kawan, Iccank Jalarambang, mantan Ketua Umum HPMB Raya, yang konsepnya agak menantang, sebab selain sebagai tempat minum kopi, juga dirancang sebagai tempat baca. Jadilah namanya: Pustaka Kopi Boda.
Kala sementara saya mengisi materi acara, Lukman Bungdung pamit, untuk keperluan yang tak bisa ditunda, masih terkait dengan urusan warga. Dari tempat saya bicara, saya memberi isyarat akan restu minta pamit itu. Saya pun mendedahkan ujar-ujar yang terkait dengan materi pelatihan, tentang otak, cara memelihara otak agar tetap sehat, cara kerja otak, hingga kecerdasan majemuk atau multiple intelegence. Saya usaikan peresentasi saya tepat pukul 12.00, selanjutnya tanya jawab. Dan, sebagaimana kebiasaan saya, yang bertanya selalu saya ganjar dengan hadiah, sebuah buku sebagai penguat akan pentingnya membaca. Sebuah buku novel, Titisan Cinta Leluhur, karya Atte Shernylia Maladevi, saya donasikan.
Usai shalat Dhuhur, bersantap siang di rumah seorang karib, yang juga pengurus BKPRMI Bantaeng, Sahar Addin. Setelah ramah-tamah dengan tuan rumah, saya pun pamit untuk pulang. Baru seperauh jalan, hujan mulai bergegas turun. Perlahan tapi pasti, butir demi butir menggelinding. Saya mulai ragu, apa melanjutkan perjalanan atau singgah berteduh. Pasalnya, motor yang dipinjamkan ke saya tak dilengkapi jas hujan. Namun, dengan tarikan nafas yang memelas iba, saya membujuk hujun agar berdamai. Benar saja, saya dan hujan berjalan beriring, berkejaran. Kadang-kadang saya di depan tancap gas yang lumayan kencang, karena di belakang saya, hujan memburu. Tempo-tempo pula, saya di belakang hujan membuntutinya. Kalau terpaksa beriringan, saya berhenti sejenak, menyilakan duluan hujan jalan. Bagi saya, ini pengalaman unik, bersahabat dengan hujan.
Akhirnya, sampai juga saya di lokasi, anehnya, saya tiba bersamaan dengan hujan. Ibarat perlombaan lari, saya finish bersama hujan. Tepat di dekat rumah kebun Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng, nyaris berhadapan, rupanya di situlah letaknya warung kopi yang dimaksudkan Juju Nurfajri: Poros jalan Kacidu. Kampung Kacidu ini, menurut cerita, menyimpan kisah heroik -- nanti akan saya tuliskan -- tetapi yang paling melambungkan namanya, terkenal seantero Bantaeng, karena adanya rumah kebun itu, yang saban waktu ramai, jikalau ada tamu bupati yang diajak wisata kebun. Termasuk hari Ahad ini, ada sekaum orang yang beriang, bergembira dan bersenang-senang.
Saya langsung saja membaur bersama beberapa orang yang ada di warung kopi itu. Selain Juju Nurfajri, Iccank Jalarambang sang pemilik, juga ada anak-anak muda, yang semuanya saya sudah kenal, karena biasa jumpa di acaranya HPMB Raya, atau ketika Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan menggelar perhelatan, mereka juga kadang hadir. Tapi, saya tak menduga, bakal bertemu lagi dengan Lukman Bungdung, sang kepala desa Pattaneteang. Rupanya, beliau pamit ketika saya menyajikan materi di pelatihan, tujuannya adalah menghadap pada bupati, di rumah kebun Kacidu ini. Setelah menghadap, mampir pula di warung kopi Pustaka Kopi Boda ini.
Persamuhan sederhana pun digelar. Banyak yang dibincangkan, tapi saya simpaikan dalm dua ikatan simpul utama simpulan: kopi dan pustaka. Awalnya, Lukman Bungdung banyak mendedahkan beberapa masalah-masalah di desanya. Mulai dari APBD, program-program yang direncanakan, pertikain antar warga, dll. Namun, ujungnya adalah diskusi tentang kopi. Maklumlah, Desa Pattaneteang salah satu hasil komoditinya adalah kopi. Dari sinilah ditelisik permasalahan kopi dan segala yang terkait dengannya. Tentang harga, kualitas, pola pikir petani kopi, dan kopi Bantaeng yang butuh branding. Pada dasarnya, banyak yang bisa dilakukan atas produk kopi Bantaeng agar bisa bersaing dengan kopi Toraja misalnya. Saya sendiri ikut menghidu persamuhan itu dengan semangat berbagi pengetahuan akan kopi dan pengalaman berkebun kopi, sewaktu masih sering bantu orang tua. Hampir dua jam, bincang-bincang tentang kopi ini berlangsung. Nanti setelah Lukman Bungdung pamit, sesi omong kopi ini berakhir.
Saya dan Juju Nurfajri, beserta kawan lainnya masih bertahan, melanjutkan persamuhan. Temanya pun mulai merembet ke tema pustaka. Ini berarti sesi gerakan literasi akan dipercakapkan. Sambil saling bercakap, saya mulai melirik beberapa koleksi buku yang masih minim. Ada beberapa judul buku yang mencuri perhatian saya, antara lain: Islam Kiri, Dalam Diam Kita Tertindas dan beberapa lagi buku wacana pergerakan. Benderang sekali, bahwa warung kopi ini digawangi oleh kaum muda yang cukup kritis. Saya mulai gelisah untuk berbagi pandangan, tatkala mendapati kaum muda seperti ini. Makin bernafsulah saya, tenggelam dalam khusyuknya percakapan.
Di pucuk persamuhan, saya mengajukan sejumput tanya pada penggagas Pustaka Kopi Boda ini. Tentang peluang pasar, soalnya, letak warung kopi ini di pelosok, jauh dari keramaian. Pun, tentang dimensi pustakanya, siapa yang bakal disasar?. Mungkin terlalu dini saya mengajukan tanya ini, makanya saya endapkan dalam batin saya saja. Tapi, saya menabalkan ujar, bahwa yang perlu diapresiasi adalah latar belakang pemikiran yang mendasari penghadiran warung kopi ini. Bagi saya, bukan orang sembarangan yang membuat tempat persinggahan ini. Setidaknya, ada sebongkah keberanian untuk menyajikan sesuatu yang berbeda, unik dan istimewa. Dan, sesarinya memang, hanyalah yang keluar dari yang biasa bisa menjadi luar biasa, yang menjajikan harapan, seasa perubahan.
Waktu menunjukkan senja, sore ingin pamit, menyilakan malam bertahta. Saya dan Juju Nurfajri hendak pamit. Sebelum minta diri, saya tenggak kopi yang tersisa, seteguk lagi. Nikmatnya memuncak, ada sejenis orgasme dalam rasa di lidah, menjalar ketenggorokan. Mungkin karena kopinya memakai gula merah, dan inilah salah satu keunikan dan keistimewaannya, menyebabkan rasa berbeda dari secangkir kopi pada umumnya. Sebelum saya betul-betul pamit, saya tawarkan kepada kawan-kawan, agar segera melakukan perbincangan lagi di lain waktu, dengan seuntai topik: literasi kopi. Waima sebelumnya, saya sudah tawarkan agar menonton film atau membaca bukunya Dee, Filosofi Kopi. Mengadanya warung kopi ini, Pustaka Kopi Boda, sama saja telah memperpanjang tarikan nafas gerakan literasi.
Minggu, 10 April 2016
Exiurose
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
21.11
Sulhan Yusuf
Salah seorang putri saya,
yang masih duduk di sekolah menengah pertama, mengenakan seragam
porseninya, T-Shirt yang bertuliskan Exiurose. Semula saya menduga
itu adalah suatu slang yang belum ramah di pengetahuan saya. Maklum saja,
anak-anak muda sekarang cukup kreatif melahirkan istilah-istilah baru. Rupanya,
Exiurose adalah kependekan dari Experience
is Our Purphose, yang dimaknakan kurang lebih, pengalaman adalah tujuan
kami. Saya pikir, slogan ini jauh lebih berbobot dari jargon para caleg dan
cabub, yang sekadar memohon untuk memilihnya.
Dikarenakan kata experience yang berarti pengalaman
inilah, mengingatkan saya pada sebuah buku, Belajar dari Pengalaman, P3M
1986, yang merupakan buku panduan pelatihan untuk para aktifis gerakan,
terutama di kalangan aktifis Non-Govermen Organitation (NGO) atau
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Isi buku itu merupakan kumpulan pengalaman
pelatihan di berbagai tempat, lalu diakumulasi menjadi satu buku panduan, yang
digunakan untuk melatih para pelatih. Ada siklus pengetahuan yang ditawarkan
dalam buku ini, sebentuk lingkaran yang dimulai dengan merencanakan, lalu
mengorganisir, kemudian melaksanakan, selanjutnya mengendalikan lalu kembali
lagi merencanakan dan seterusnya. Dari situlah akumulasi pengalaman menjadi
pengetahuan yang dinamis.
Sesarinya, pengalaman merupakan salah satu sumber
pengetahuan. Waima subjektif sifatnya, tapi manakala setiap orang bisa punya
pengalaman yang sama atas suatu objek, maka pada saat itulah proses objektivikasi
memungkin dilakukan. Dalam sistem berfikir, sebagai rangkaian untuk mengambil
kesimpulan, dikenallah dengan istilah logika induksi, menarik kesimpulan
berdasarkan kesamaan pengalaman. Dan, pada tradisi keilmuan yang berbasis
spiritual, semisal para sufi, maka puncak tertinggi pengetahuan adalah
mengalami. Simpai sederhananya, pengalaman nyata atas kenyataan tak berbatas.
Pengalaman berarti proses mengalami. Makna terdalamnya
belajar pada alam. Alam sebagai objek untuk mengalaminya menjadi pengalaman,
maka tersedia bentuknya, yang merupakan ayatullah, tanda-tanda Tuhan.
Secara akademik sering dibagi menjadi tiga wujud – meminjam pembagian Emha
Ainun Najib – tanda Tuhan yang tertulis dalam kitab suci, yang memanifestasi
dalam semesta dan yang tersembunyi pada diri. Seluruh medium tanda Tuhan itu,
sedianya adalah tempat untuk belajar, menimba pengetahuan seluas mungkin. Makin
banyak mengalami persentuhan dengan ayatullah itu, maka makin dalam
pulalah hasil selaman pengetahuan.
Sebentuk diktum kepastian,
bahwa orang yang banyak mengalami alam dengan segala spektrumnya,
memungkinkan meraih tingkat kecerdasan yang tak terbatas. Otak sebagai basis
kecerdasan, cara paling jitu untuk merawatnya agar tetap sehat, adalah dengan cara
memperbanyak mengalami alam agar menjadi pengalaman. Pengalaman yang banyak
menyebabkan sambungan sinaptik pada otak lebih cepat, semakin rapat saraf-saraf otak . Orang yang berpengalaman,
berarti orang cerdas, bermakna pula orang yang rapat saraf-saraf otaknya.
Akumulasi pengalaman yang mengantarkan pada kecerdasan,
tentulah akan meninggikan derajat seseorang. Insan yang telah tinggi derajatnya
karena kaya akan pengalaman, pastilah tidak berkenan jatuh tersungkur menjadi
seekor binatang. Seekor binatang saja, dengan pengalaman yang sama, tidaklah
ingin mengulangi sebuah laku yang bakal merugikannya. Apatah lagi sebagai
manusia, bila saja ia terjatuh pada kenistaan, padahal sudah punya pengalaman
sebelumnya, maka benar-benarlah ia ternista. Bukankah sepenggal pameo cukup
mashur untuk diperpegangi, yang bunyinya: sebodoh-bodohnya keledai, tapi tak
mau jatuh pada lobang yang sama.
Dalam keisengan, saya lalu mencoba menyelami apa yang dimaksudkan oleh putri saya itu atas akronim di baju kaosnya itu. Melantunlah sepenggal asa, bahwa menurutnya, dan juga kawan-kawannya, semasa masih bersekolah sedapat mungkin menimba pengalaman sebanyak-banyaknya. Dan, porseni baginya adalah lahan yang subur untuk memetik pengalaman. Maksudnya, pengalaman menang sekaligus kalah. Bagaimana merasakan keriangan ketika menang dan keterpurukan kala kalah. Pengalaman itu akan memuncak pada sportivitas, dan objektvitas.
(Lembaran Kala, 10 April 2016)
Jumat, 08 April 2016
Sehari Membaca: Bermakna dan Menyenangkan
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
17.57
Bulan April masih dini usianya, barulah dua hari, saya sudah menjajalnya dengan mengiyakan suatu mata acara di komunitas literasi Sudut Baca Al-Syifa, Kelurahan Ereng-Ereng, Kecamatan Tompo Bulu, Bantaeng. Persamuhan yang digelar pada 2 April 2016 itu, bertempat di aula kantor lurah, bekerjasama dengan KKN UIN Alauddin Makassar, menghadirkan perwakilan siswa-siswi SLTP/SLTA dalam wilayah kelurahan.
Sehari Membaca: Bermakna dan Menyenangkan, demikianlah tajuk acaranya. Saya yang dikontak beberapa hari sebelumnya sebagai pembicara pun tak melakukan tawar-menawar atas waktu yang dimintakan pada saya. Entahlah, sulit rasanya menolak, jikalau sekelompok komunitas literasi mengundang saya terlibat dalam acaranya. Apatah lagi dengan Sudut Baca Al-Syifa ini, selalu ada sindikasi emosional yang menghidu persamuhan. Betapa tidak, inilah salah satu ujung tombak gerakan literasi berbasis komunitas yang cukup eksis dan seksis.
Pagi masih hangat, mentari pun masih semenjana teriknya. Berbekal motor pinjaman dari seorang sohib, Hamzar Hamna, saya lalu mengajak Dion Syaif Saen, sosok anak muda yang multiguna, maksud saya multitalenta di bidang seni,budaya dan sastra, guna menemani ke acara itu. Sebab, dalam imaji saya, selalu ada yang bisa dilakukannya bila sudah ikut bersamuh. Dan, benar saja adanya, dia benar-benar memberi manfaat yang manis, karena di sela acara, membacakan larik-larik puitis buat peserta. Saya yakin, haqqul yakin, para peserta yang didominasi pelajar plus mahasiswa KKN, pastilah jatuh hati, waima mereka masih mampu menyelimuti rasanya.
Tiba di lokasi, barulah satu orang yang hadir, bung Ahmad Rusaidi, selaku penanggung jawab acara itu. Saya lalu membatin, mungkin kami kepagian tibanya. Tapi jam menunjukkan pukul 08.30, berarti lebih cepat setengah jam dari waktu yang dijadwalkan, pukul 09.00. Perlahan tapi pasti, seorang demi seorang datang, kadang pula ada yang berkelompok, akhirnya ruangan pun terisi sesuai dengan yang diharapkan. Saya menaksirnya, besar kemungkinan kisaran 50 orang.
Sesungguhnya, saya berharap pak Lurah yang membuka acara, atau paling tidak ia nongol di acara itu, tapi apa lacur, hingga akhir acara tetap saja tidak muncul. Saya sendiri tidak menyoalnya lebih jauh. Cuma memang, bila saja beliau hadir, maka ada satu hal yang saya ingin desakkan, agar membenahi perpustakaan kelurahan, yang bangunannya sudah sangat memadai, tinggal isi dan pengelolahnya yang perlu diokekan. Dan, benar saja adanya, para peserta persamuhan, kelihatannya bakal membutuhkan perpustakaan itu, sebab di dalam pelatihan ini, saya memprovokasinya untuk meningkatkan tradisi baca dan menulisnya.
Membincang topik membaca dan menulis yang bermakna dan menyenangkan pada setiap pelatihan, tak terkecuali pada pelatihan kali ini, selalu saja saya mendedahkan ilmu-ilmu yang saya perolah dari seorang guru literasi saya, Mas Hernowo Hasim. Darinyalah saya mendapatkan begitu banyak jurus-jurus literasi, mulai dari yang amat dasar hingga yang paling anyar . Meminjam istilah dunia persilatan, mulai jurus paling awal, jurus mabok sampai jurus tanpa bentuk.
“ Ikatlah makna bacaan dengan menuliskannya”. Sabda itu selalu saya tabalkan, sisipkan pada setiap pelatihan literasi. Sejumput perkataan dari Imam Ali bin Abi Thalib itu, pertama kalinya saya suai dari Mas Hernowo Hasim. Bahkan, lebih dari itu, saya berani menyimpaikan sederet simpulan argumen bahwa dari sabda itu pula beliau melahirkan begitu banyak buku, yang sangat membantu begitu banyak orang untuk meng-up date tradisi literasinya, kemampuan baca tulisnya. Saya teringat kembali dengan buku-bukunya, diantaranya: Quantum Reading, Quantum Writing, Mengikat Makna (Up Date) dan Mengikat Makna untuk Remaja.
Tak terasa, waktu meenunjukkan pukul 11.00, saya pun harus mengakihiri pembicaraan, dikarenakan masih ada item acara lainnya. Sebelum acara beralih, saya meminta pada Dion Syaif Saen untuk menghangatkan suasana dengan bait-bait syairnya. Dan, sebelum saya usaikan jatah bicara, saya memberikan hadiah pada peserta yang sempat bertanya, berupa dua buku novel: Titisan Cinta Leluhur dan DJarina, karangan Atte Shernylia Maladevi. Hadiah ini amat pas dengan selera sang penerima, sebab ia seorang pembaca novel. Pun saya menghadiahkan pula buku puisi AirMataDarah pada salah seorang mahasiswa KKN yang baca puisi di arena itu.
Pascabicara saya, acara dilanjutkan dengan menulis sejenis resensi atas sebuah bacaan. Sesarinya, yang mau diresensi adalah bacaan dari buku, tapi mengingat waktu yang terbatas, maka diganti dengan membaca artikel, lalu diresensi, dituliskan pada lembaran kertas yang telah disediakan, dikumpul oleh penyelenggara. Tulisan resensi yang ciamik, akan diganjar dengan hadiah, yang pengumumannya dipaparkan pada acara perpisahan mahasiswa KKN nantinya.
Jarum jam tak jauh putarannya dari pukul 12.00, betul-betul acara difiniskan. Foto bersama, salam-salaman selalu saja menjadi bagian yang tak terlupakan. Bila sudah tiba momen semisal ini, biasanya tembang lawas Koes Plus, Kapan-Kapan atau Iwan Fals, Kemesraan ikut mengiringi. Namun, tidak kali ini, nirlagu. Apakah ini penanda akan tuna musik? Saya pikir, tidak juga. Yang pasti setelah bubar di aula, kami digiring ke sekretariat Sudut Baca Al-Syifa, yang jaraknya cuma seratusan langkah.
Di Sudut Baca Al-Syifa inilah, kami menuntaskan segalanya. Menyerahkan sumbangan buku, omong-omong tentang gerakan literasi, berbincang wacana yang tersebar di berbagai karya sastra, makan siang menu ala kampung, nenggak kopi plus pisang goreng, dan melecut keberanian Dion Syaif Saen agar segera menuntaskan keperjakaannya, diiyakan pula oleh nyanyian hujan yang mengguyur, tertidur sejenak, rehat yang maksimal.
Ba’da shalat Ashar, hujan masih merintik, kabut nampak malu-malu, berebut pengaruh dengan rinai hujan. Saya merasakan peraduan itu, lembut selembut lelembut di kelembutan jagat. Dion Syaif Saen menghidupkan mesin motor, saya naik di boncengan, melata laju pulang. Saya mendekap erat Dion, tapi segera saya kendurkan, takut digosipkan selaku pasangan setia. Padahal, saya dan dia memang sepasang lelaki yang bersetia pada gerakan literasi.
Rabu, 06 April 2016
Fahri Hamzah
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
20.25
Dunia politik selalu memberi kejutan. Tidak peduli, siapa saja bisa terkejut, termasuk para politisi yang terkejut atas nasib dirinya. Para politisi, terkadang lebih mahir menganalisis sesuatu yang di luar dirinya, tinimbang dirinya sendiri. Inilah realitas jagat berbangsa dan bernegara, wajahnya penuh ketidakpastian. Tak ada salahnya bila saya membenarkan sejumput ungkapan, bahwa dunia saat ini adalah kawasan yang terbirit-birit, sesiapa saja yang melata di atasnya, pasti ikut terbirit-birit.
Pekan pertama bulan April 2016, antara tanggal 1-3, banyak warga bangsa yang terkejut, termasuk saya yang amat awam dalam pengamatan perkembangan politik negeri. Betapa tidak, seorang politisi dipecat dari partainya, secara tumpas kelor. Dipecat dari seluruh struktur kepartaian, lewat secarik Surat Keputusan DPP PKS Nomor 463/SKEP/DPP-PKS/1437. Bahkan, dua hari setelah pemecatan itu, barulah benar-benar saya percaya bahwa Fahri Hamzah, seorang politisi yang karir politiknya cukup bernas, dipecat oleh partainya. Pemecatan ini, bagi saya, melampaui keterbiritan saya atas kasus yang menyetubuhi Lutfi Hasan Ishak sang mantan Presiden PKS, atawa Mohamad Sanusi dari Gerindra yang tersandung kasus korupsi, pun Setia Novanto dengan Golkarnya.
Dari peristiwa pemecatan Fahri ini, saya pun bergairah untuk ikut angkat pena untuk menuliskan catatan atasnya, tetapi tidak dengan menggunakan analisis politik. Saya takut salah analisis, dan bisa saja saya makin terbirit-birit karenanya. Kelihatannya lebih mudah jikalau saya membidiknya dengan logika analogi, tepatnya menggunakan permainan sepak bola sebagai analogi dalam membingkai nasib Fahri, waima saya pun bukan komentator bola, melainkan semata penikmat permainan sepak bola.
Sejatinya Fahri, ibarat pemain bola, Fahri adalah seorang pemain bintang. Karirnya dimulai saat masih berkuliah, ia adalah jebolan akademi (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), yang dalam banyak hal merupakan sumber kader potensial bagi Partai Keadilan (PK), yang belakangan hari berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Jadi, dalam tataran ini -- sekali lagi dengan analogi-- saya mengumpamakan KAMMI adalah sejenis akademi sepak bola yang memasok pemain ke PK/PKS, yang mendidik calon-calon pesepak bola profesional, yang kemudian akan melahirkan bintang-bintang sepak bola: para pesohor politik, politisi profesional. Meski demikian, relasi PK/PKS dengan KAMMI banyak perspektif yang menyertainya, tidak bisa dilihat secara hitam putih. Pun tidak selalu jebolan KAMMI otomatis menjadi politisi, apatah lagi menjadi kader PKS.
Sebagai pemain bola profesional yang masih muda kala itu, selepas dari akademi KAMMI, Fahri mulai terlibat dengan diskursus politik. Bahkan, di awal karir profesionalnya, Fahri terpilih menjadi staf ahli Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 1992-2002. Nanti kemudian PK dideklarasikan sebagai klub profesional, Fahri pun memilih habitat politik, yang amat senafas dengan latarnya, yaitu PK. Dan, sejak itu, Fahri terus bermain untuk klub PK hingga PKS, sampai akhirnya Fahri dipecat oleh klubnya sebagai pemain profesional.
Sepak terjang Fahri sebagai pesepak bola profesional -- eh... maksud saya, politisi profesional -- menorehkan begitu banyak prestasi. Fahri adalah salah seorang bintang yang mengantarkan klub PK-PKS menjadi klub papan atas. Bahkan, ketika hampir saja klub ini terdegradasi akibat ulah kapten klub, Lutfi Hasan Ishak, yang tersandung pengaturan skor, Fahri adalah salah seorang pemain garda depan, yang mati-matian pasang badan, bermain tanpa lelah, bila perlu bermain kasar, tidak takut kartu merah, apalagi kartu kuning, hingga larangan bermain sementara, semuanya dilabrak.
Kontribusi yang begitu signifikan atas klub, akhirnya membawa Fahri menjadi salah satu pemain kebanggaan klub. Memang Fahri tidak menjadi kapten kesebelasan, walau sesekali Fahri berfungsi sebagai kapten di saat-saat tertentu. Prestasi yang paling cemerlang selaku pemaian bintang, Fahri pun di dapuk selaku pemaian nasional, dengan posisi penting, gelandang serang di kesebelasan nasional, DPR RI, sebagai wakil ketua DPR. Bahu membahu dengan rekan sejawat dari klub lain, Setia Novanto (Golkar) dan Fadli Zon (Gerindra). Mereka bertiga sering disebut trisula pemenangan pertandingan, guna meloloskan kepentingan-kepentingan politik. Ketiganya memang solid satu sama lain, sebagai trio yang sekelas Messi, Suarez dan Neymar (MSN) di Barcelona.
Selaku pemain bintang, Fahri, tentulah tidak sepi dari kontroversi. Namanya juga bintang, yang jauh di angkasa, berkelap-kelip, membuat mata kita kadang tak berkedip, menyaksikan gaya atraktif yang dipertontonkan. Makin kontroversial seorang pemain, maka kebintangannya pun makin mengangkasa. Guna memelihara keperkasaan di angkasa, maka citra pun harus selalu dijaga, sebagai pemain kontroversial. Kadang bermain kasar, diving, memprovokasi pemain lawan, mengkritik kepemimpinan wasit dan menghardik inspektur pertandingan, membloon sesama pemain, hingga menyalahkan para penonton.
Kontroversi demi kontroversi didedahkan Fahri, membuat klub merasa tidak nyaman. Apatah lagi, selaku pemain bintang, cenderung bermain solo, ingin cetak bola sendiri. Padahal klubnya Fahri, memegang teguh filosofi sepak bola sebagai tim, yang tak terlalu mementingkan kebintangan. Dan, puncaknya tatkala terjadi pergeseran kepemimpinan di klub, pelatih berganti --maksud saya Dewan Syura-- juga ban kapten diserahkan pada kapten baru -- sebutan saya Presiden Partai -- yang kesemuanya menginginkan agar klub ini, PKS, kembali bermain seperti sediakala, santun dalam bermain politik, tunduk pada kolektivitas permaianan.
Akhirnya, dengan kebijakan klub yang baru itu tidak lagi mempan, untuk mengontrol kesoloan Fahri dalam bermain, karena kebintangannya, klub PKS pun kemudian memecatnya. Fahri terkejut, bahkan mulai terbirit-birit. Fahri mulai menyerang mantan klubnya, akan membawanya ke pengadilan yang bukan FIFA. Fahri kelihatannya sendirian menghadapi pemecatan ini. Tidak ada suara protes dari rekan seklubnya, Fahri hanya ditemani oleh pengacaranya yang menegaskan gugatan. Dan, segelintir suporter dari daerah pemilihan Fahri, di NTB.
Memang, setiap bintang yang jatuh dari langit, selalu menyisakan lubang besar di bumi. Jatuhnya kebintangan Fahri, membekaskan sesak di dada para pengagumnya dan amat pedih di jiwanya. Fahri kali ini amat layu berhadapan dengan kamera. Dan, saya yang melihatnya, mirip bunga yang diterpa terik dan kekuarangan air. Boleh jadi, kebintangan Fahri bisa bersinar lagi, bila saja ada klub-partai baru yang disinggahinya, atawa sekalian gantung sepatu lalu menjadi pengamat bola-politik, sambil berjuang melawan diri sendiri, merevitalisasi jiwanya. Jikalau tidak, maka kebintangan pun tinggal angan, dan hanya kebinatangan yang bersetia.
Selasa, 05 April 2016
Sinergi Gerakan Literasi
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
21.34
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali mengundang saya untuk ikut Focus Group Discussion (FGD), pada hari Kamis, 31 Maret 2016 bertempat di LPMP Sul-Sel. Ini kali kedua saya diajak selaku pegiat literasi yang berbasis komunitas. Dalam persamuhan yang dihadiri oleh kisaran 50 orang dari berbagai latar aktivitas, namun jika dikelompokkan hanya menjadi dua besarannya: unsur pemerintah dan masyarakat.
Unsur pemerintah direpresentasikan lewat aparatus yang berada di bawah jajaran Kemendikbud, semisal: LPMP, Lembaga Bahasa, Badan Pelestarian Cagar Budaya dan beberapa lagi unsur lainnya. Sementara dari unsur masyarakat, diwakili oleh komunitas, ormas dan lembaga pendidikan, diantaranya: Komunitas Literasi, Ikatan Guru Indonesia, Pemuda Muhammadiyah, HMI, dan beberapa komunitas yang bergerak di bidang pendidikan.
Gagasan mempertemukan unsur-unsur tersebut, yang dikawal langsung oleh tim staf khusus Kemendikbud, tujuan utamanya adalah membangun sinergitas antara unsur pemerintah dan masyarakat. Sebab, masalah-masalah yang dihadapai oleh bangsa kita, khususnya di bidang pendidikan tidaklah mungkin hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah saja. Saya termasuk orang yang punya pandangan yang sama, masyarakat harus terlibat dalam upaya menyelesaikan persoalan pendidikan.
Ketika forum diskusi berlangsung, yang sebelumnya didahului oleh presentasi program dari jajaran Kemendikbud, khususnya pihak LPMP, nampaklah satu program yang sangat seksis bagi saya: gerakan literasi. Rupanya, pemerintah cukup serius melihat problem tradisi literasi guna mewujudkan budaya literasi sebagai penopang dari kualitas sumberdaya manusia.
Selaku pegiat literasi yang berbasis komunitas, saya menjadi jemawa. Pasalnya, mengapa di lapangan nyaris tidak bersinggungan? Saya mulai meraba, mungkin karena setiap pihak sibuk dengan domainnya masing-masing. Birokrasi pemerintah berasyik masuk dengan kejar realisasi program. Pada konteks ini, kelihatannya pemerintah lebih mengutamakan program sementara di kalangan komunitas, khususnya yang saya kawal tenggelam pula dalam keindahan obsesi, yang dimungkinkan karena komunitas lebih mengedepankan dimensi gerakan.
Sebagai ilustrasi, tepatlah bila saya mengibaratkan dua jenis oto angkutan literasi. Pemerintah memakai sejenis bis kota yang besar, lengkap dengan tata tertib halte, dan tarif yang resmi. Sementara, bagi komunitas literasi, jenis mobilnya adalah pete-pete, yang relatif kecil, bisa menaikkan dan menurunkan penumpang seenaknya, dan tarifnya sesuai persepakatan. Akibatnya, dapat diduga, bus lambat jalannya, lalu pete-pete lincah menyerobot, zig zag dalam melaju.
Dua perwajahan demikian, oleh forum yang digagas oleh staf khusus Kemendikbud dimaksudkan untuk saling membuka diri. Pertanyaan utamanya, apa yang telah dilakukan dan apa yang direncanakan? Dengan begitu, ada kemungkinan kesamaan program yang bisa disinergikan. Tentulah dalam forum ini tidak bisa dihindari perdebatan dan umpatan kritik, maupun masukan yang didesakkan.
Walhasil, forum diskusi ini dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok multipihak. Maksudnya, di kelompok ini disinergikan gagasan, gerakan dan program yang memungkinkan dikerjasamakan dengan berbagai pihak, sehingga lahirlah aksi bersama. Kedua, kelompok mitratunggal. Diharapkan dari kelompok ini, lahir kerjasama antar unsur, yang disinergikan secara head to head. Dari dua kesimpulan yang ditawarkan kelompok ini, oleh staf khusus Kemendikbud akan dijadikan acuan untuk tindakan lebih lanjut oleh sang Mendikbud.
Pascadiskusi kelompok, lalu sharing hasil diskusi secara bersama, sebelum acara ditutup, jam menunjukkan pukul 15.00 Wita, diadakanlah pemilihan koordinator forum, yang tugasnya untuk senantiasa mengkonsolidasikan apa yang perlu dilakukan, sejenis follow up atas kegiatan ini. Terpilihlah bung Kasman McTutu secara aklamasi selaku koordinator. Dan, tepat pukul 15.30 Wita, acara FGD ditutup secara resmi, dengan ketukan palu, yang disambut dengan tepuk tangan dan derai hujan yang mengguyur lokasi persamuhan.
Sembari menunggu hujan reda, saya terlibat bincang-bincang ringan dengan beberapa kawan peserta FGD, yang sebenarnya telah cukup lama saya kenal sebelumnya. Salah seorangnya adalah sohib saya, Herman Pabau, yang mengantar pasangannya ikut diskusi, waima ia juga ikut nimbrung. Adalah bung Kasman McTutu yang memulai perkara, dikeluarkanlah sebuah buku yang berjudul, Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda, karangan Ernst H. Gombrich, terbitan Marjin Kiri, November 2015.
Kasman McTutu dengan segenap dayanya mendedahkan akan kedahsyatan buku tersebut. Saya ikut menyimak, namun yang lebih terpengaruh adalah Herman Pabau. Sampai-sampai ia menanyakan berapa harga buku itu, dan Kasman McTutu pun menyahut bahwa “harganya sewaktu ia beli sekitar sembilan puluh ribuan”. Oleh Herman Pabau dieksekusi dengan selembar uang merah, seratus ribu sebagai pengganti. Biar Kasman McTutu beli lagi.
Namun apa lacur, buku itu saya sudah pegang. Dan, dengan enteng saya tabalkan ucapan terimakasih pada sang sohib atas budi baiknya membayarkan buku itu buat saya. Beberapa kawan yang melihat peristiwa itu sebagai kejadian yang di luar kebiasaan. Ada yang terperangah, sebegitu mudahnya saya menyalib ulah guna mendapatkan buku itu. Banyak yang tidak menduga sebegitu jauh persohiban saya dengan Herman Pabau, bahwa sesungguhnya, ulah-ulah seperti itu, antara saya dengannya, ibarat tembang kenangan yang diputar kembali, “milikmu milikku jua”.
Minggu, 03 April 2016
Baca Buku, Baca Buku dan Baca Buku
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
23.33
Saya lagi mendaras bukunya Taufik Pram, yang bertajuk , Hugo Chavez Malaikat Dari Selatan. Lalu saya begitu terpesona pada Chavez, yang menurut buku ini, “Hugo Chavez adalah pemimpin yang suka membaca. Dari barisan kata-kata yang berderet rapi di dalam sebuah buku itulah dia tahu ada yang salah dengan dunia yang didiaminya. Kesalahan yang dibiarkan langgeng dan akut dalam periode yang terlalu lama. Melalui buku pulalah Chavez menuai banyak inspirasi, yang dibawanya untuk motivasi, metode, dan tujuan perjuangannya membebaskan seluruh manusia dan cengkaraman kanan – yang telah berubah makna menjadi sangat konotatif.”
“Sampai kematiannya 5 Maret 2013, dia suka menyimak karya sastra. Terutama karya-karya yang mengembuskan nafas Sosialisme; paham yang berhasil membuat El Commandante begitu terpesona. Tentang manusia-manusia yang harusnya bahagia. Tentang manusia-manusia yang harusnya tak diinjak. Tentang manusia-manusia yang berbagi. Juga memberi. Dari mana saja dia dapatkan semangat itu? Salah satunya, tak lain tak bukan, melalui inspirasi yang ditularkan sastrawan Prancis Victor Hugo, melalui Jean Valjean; tokoh karismatik yang dihidupkan dalam karya klasik Les Miserables.” Demikian torehan pena Taufik Pram.
Saya ingin mengutipkan apa yang diajukan oleh Raymond Samuel, dalam salah satu situs media online, berdikarionline.com, bahwa sejak berkuasa, Chavez sangat memperhatikan dunia pendidikan. Bukan hanya mendorong pendidikan gratis dan berkualitas untuk memastikan seluruh rakyat Venezuela bisa mengakses pendidikan. Tetapi juga memassalkan pengetahuan melalui produksi massal buku-buku gratis.“Baca, baca, baca, dan baca. Itulah slogan kita setiap hari,” kata Chavez saat meluncurkan gerakan membaca pada April 2009. Sejak itu, jutaan buku-buku gratis dicetak untuk disebarkan kepada seluruh anak negeri. Termasuk buku Don Quixote karya Miguel de Cervantes, Les Miserables karya Victor Hugo, dan Das Capital karya Marx dan Engels.
Kesukaan Chaves membaca buku, termasuk karya sastra, khususnya Les Miserables, membuat saya membatin, mengingatkan kembali pada seorang tokoh yang amat revolusioner, Ali Syariati, yang juga suka membaca, bahkan tenggelam dalam perpustakaan pribadi ayahnya, yang juga telah membaca Les Miserables, saat Syariati masih duduk di Sekolah Menengah.
Syariati dan Chavez telah mendaras buku Les Miserables dan buku lainnya. Kedua sosok ini telah berkontribusi bagi negeri yang dipijaknya. Syariati menjadi salah seorang ideolog Revolusi Islam Iran, yang menyebabkan Iran kemudian terbebas dari rezim monarkhi Syah Reza Pahlevi yang berkiblat ke Amerika. Dan hingga di masa kiwari ini, membuat Iran tetap menjadi negara yang disegani, sebab tidak mau didikte oleh Amerika, terlebih lagi ketika dipimpin oleh presiden Mahmoud Ahmadinejad, yang juga sahabat karib Chavez.
Adapun Chaves, membuat negerinya Venezuela menjadi negera yang berani melawan Amerika. Amerika dengan sekutunya, yang mengusung ideologi Neolib, berusaha sekuat tenaga menghancurkan Chavez, namun ia tak gentar. Sebab Chavez adalah malaikat pemberontak yang tak pernah rela jika manusia harus hidup tertindas.
Dunia yang timpang seperti sekarang ini, setidaknya pernah memiliki dua manusia yang berwajah malaikat, sebagai malaikat pemberontak, meski dengan sayapnya yang berbeda. Ahamadinejad dengan sayap kanan malaikat dan Chavez dengan sayap kiri malaikat, kedua sayap ini pernah bersatu, terbang bersama membawa bendera pembebasan melawan tirani Neolib. Ahmadinejad harus “berhenti” melawan Amerika disebabkan masa jabatan kepresidenannnya sudah selesai selama dua periode, sedangkan Chavez harus “mengakhiri” perlawanannya dikarenakan jatah usiaya telah habis, direnggut oleh penyakit kanker yang dideritanya.
Pertanyaanya kemudian adalah bagaimana dengan pemimpin-pemimpin negeri ini di berbagai bidang dan levelnya? Adakah mereka sosok-sosok yang suka baca buku? Lalu menjadikan buku sebagai santapan ruhaninya sehingga mereka layak memandu negeri ini, agar terbebas dari berbagai macam jenis tirani? Sederhannya, sudahkah kita membaca Les Miserables, buku-novel yang telah dibaca oleh Syariati dan Chavez itu? Kalau belum, marilah mendarasnya dan juga buku-buku yang menggelorakan ruhani lainnya.
( Lembaran Kala, 03 April 2016)
Langganan:
Postingan (Atom)




