Minggu, 28 Februari 2016
GILA
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
05.47
Ada seorang warga, yang mendatangi kendaraan dinas, berplat merah. Mobil orang no.1, berangka 1 di daerah itu. Warga lain menganggap orang tersebut gila, sebab saban waktu, tatkala bertemu oto itu selalu hormat padanya, walau orangnya tidak ada. Sahaya mencolek Guru Han, tutur pun melantun: " Orang itu tidak gila, dia orang yang paling sehat pikirannya, karena selalu menghormati sang kendaraan, bukan orang yang di dalam kendaraan itu. Makanya, amat banyak orang berebut kuasa untuk menaiki kendaraan itu, guna mendapatkan kehormatan. Bukankah siapa saja yang menaiki mobil itu pasti dihormati oleh orang ramai? Bahkan, tidak sedikit menjadi gila hormat karenanya? Jadi, mending hormati saja otonya, sebab gara-gara mobil itu, seseorang menjadi terhormat."
Senin, 22 Februari 2016
Catatan-Catatan Abba
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
01.47
Jujur, saya terperanjat, kaget bercampur haru, tidak menyangka mendapatkan ucapan selamat atas usia yang ke-49 tahun, di tengah berlangsungnya acara resmi sebuah organisasi. Tatkala sang Ketua BKPRMI (Badan Komunikasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia) Bantaeng, Sopyan Yasri, memberi sambutan pada acara launching program Gerakan Ayo Ke Mesjid, pada tanggal 20 Februari 2016 di Baruga Karaeng Latippa Pantai Marina Bantaeng, sang ketua mengucapkan selamat panjang usia, walaupun disambung dengan ucapan yang sama untuk dirinya sendiri. Karena memang, saya dengan beliau bertepatan tanggal dan bulan kelahiran, meski selisih usia tujuh tahun.
Sesungguhnya, saya bukanlah orang yang terlalu perhatian pada tradisi ulang tahun, baik untuk orang lain, terlebih untuk diri sendiri. Terkadang, saya lupa mengucapkan selamat ulang tahun pada keluarga terdekat, isteri dan anak-anak. Tapi, mereka semua maklum, sebab menurutnya, ulang tahun saya sendiri saja, lebih banyak lupanya. Saking kurang perhatiannya saya pada ulang tahun diri sendiri, saya tetap meninggalkan mukim di Makassar menuju Bantaeng, sehari sebelum ulang tahun saya dan nanti dua hari kemudian baru pulang. Itupun tak ada kue ulang tahun. Hanya peluk cium dari segenap anggota keluarga.
Seingat saya, memberi kesan pada ulang tahun diri sendiri sangat langka. Kalau lagi teringat, barulah saya memberi penanda. Dan, itu pun tidak merepotkan, baik untuk diri sendiri apatah lagi orang lain. Sebab, saya cukup beli sebuah buku, yang kemudian saya sekuat hasrat membacanya sampai tamat. Namun, ada yang saya ingat benar, ketika saya diberi hadiah oleh anak-anak di rumah, dengan mengkadokan sebuah dompet berlambang Arsenal, klub sepakbola pavorit saya. Saya terharu sejadi-jadinya.
Nantilah belakangan ini, tepatnya, sejak saya bergabung di media sosial, Facebook, barulah kemudian perkara ulang tahun ini menyita perhatian saya. Soalnya, yang paling setia mengingatkan saya dan juga memberi tahu semua teman-teman adalah media sosial ini. Tangkiyu mister feisbuk, atas budi dan jasa baikmu, yang telah bersusah payah memberi tahu semua teman saya di jejaringmu. He..he.. koq.... Facebook, maksud saya bung Mark Zuckerberg, sang pencipta media sosial ini.
Saking perhatiannya saya pada pasal ulang tahun ini-- dua hari setelah ulang tahun-- saya buka akun, alamak.... banyak nian pemberitahuan seputar ulang tahun ini. Panjatan doa, harapan dan kiriman tutur rahayu, mengantri untuk disahuti. Maka langkah praktis pun saya dedahkan, sekali bikin status, satu untuk semua, semua untuk satu. Kata orang Inggris, One for all, All for one, seperti semboyan dalam film Three Musketeers, yang soundtracknya ditembangkan oleh Brian Adams.
Lalu, apa kaitannya antara cerita ulang tahun dengan judul tulisan ini? Yang berlema, Catatan-Catatan Abba. Apa ini sejenis ulasan atas sebuah group band legendaris, ABBA , atau yang biasa disebut dengan panggilan Eybibi'e - (1972-1982),dengan tembang lawasnya Fernando, yang berasal dari tanah Swedia, seasal dengan bintang sepakbola tersohor, Zlatan Ibrahimovic? Bukan kawan-kawan. Tidak pula teman-teman, melainkan Abba yang saya maksudkan di sini adalah panggilan saya terhadap bapak saya.
Sesarinya memang, mungkin karena pengaruh usia yang makin menumpuk, soal ulang tahun ini, saya tak bisa abaikan lagi. Betapa tidak, ucapan rahayu yang saya terima, menyatakan umur semakin bertambah, padahal jatah usia saya melata di bumi ini makin berkurang. Bukankah, setiap hari saya berjalan pada arah kematian? Setiap waktu yang saya lewatkan, sama saja saya mengambil lagi jatah usia yang disediakan? Ini pula yang menyebabkan, seakan berburu waktu, atas apa yang mesti dibikin dengan limit kala yang dijanjikan.
Mulailah saya menelisik ulang, keakuratan tanggal, bulan dan tahun kelahiran saya. Apa memang benar adanya tanggal 20 Februari 1967? Kenapa begitu serius menyoalnya? Sederhana saja, betapa banyak orang yang tidak sepadan antara waktu kelahiran yang sesungguhnya dengan tempat tanggal lahir yang dicantumkan secara resmi. Itu semua bisa karena rekaan semata, atawa tujuan lainnya. Apalagi orang yang sepadan usia saya ini, 49 tahun, pastilah banyak yang tidak akurat.
Beruntunglah saya seuntung-untungnya. Prihal kelahiran saya benar-benar akurat. Ini semua karena Abba saya sadar literasi, sehingga mencatatnya dalam sebuah buku catatan, yang mungkin oleh orang sekarang menyebutnya diary. Sejak Abba saya wafat kurang lebih lima tahun yang lalu, saya sering menyempatkan diri masuk ke kamarnya, membongkar benda-benda peninggalannya. Ada beberapa buah buku, puluhan batu cincin permata, dan benda-benda pribadi lainnya.
Namun yang membuat saya betul-betul takjub, ketika mendapatkan dua buah buku catatan, yang tulisannya adalah tulisan tangannya sendiri. Tulisan-tulisan itu, ada yang beraksara Latin, Lontara dan Arab. Saya mendefenisikan tulisan-tulisannya sebagai catatan-catatan atas berbagai peristiwa, yang menurutnya, tentu sangat penting. Meski tidak beraturan, jauh dari klasifikasi, tetapi setiap item yang dicatatkan sangat jelas maksudnya.
Catatan-Catatan Abba saya, di dua buku tersebut mencantumkan berbagai peristiwa. Mulai dari peristiwa pribadinya, keluarganya dan lingkungan sosialnya. Sebagai misal, saya kutipkan: “ Peringatan!!! Pada tgl 2 Nopember 1955 saja djam tangan merek Royce harga Rp 375,- dan saja djual 14 Djuni 1956 dengan harga Rp 400,-”
Atawa saya kutipkan juga catatannya ini: “ Peringatan!!! Pada tgl 27-10-1956 ongkos akikat Muhd. Wildan sedjumlah Rp 875,- Ongkos akikat A. Umajja sedjumlah Rp 798,-" Dan, yang membuat saya lebih terperangah lebih dalam lagi, ketika saya menemukan rincian peralatan rumah tangga beserta harga dari setiap benda itu.
Peristiwa sosial pun dicatatnya, tak elok kalau saya lewatkan catatan ini: “ Dalam bulan Radjab malam Rabu tahun 1956 mulai kedjadian yang hebat pembakaran rumah2 diseluruh kab: Bonthain jaitu perbuatan dari Gorombolan! merugikan besar kepada penduduk negeri Bonthain! “
Dan, catatan-catatan yang paling mengharukan saya adalah dicatatnya semua waktu dan tempat kelahiran setiap anaknya yang berjumlah delapan orang dengan sangat rinci. Saya dan tujuh saudara saya dengan mudah mengkonfirmasi ke buku catatan ini. Baiklah, saya tuliskan catatannya mengenai kelahiran saya : “ Tjatatan. Pada tgl 20/2-1967 malam senin djam 1. 10 bulan Zulkaida dilahirkan anak laki-laki yang bernama Muh: Sulhan di Tompong Letta. Bantaeng.”
Pada buku catatan Abba saya, di bawah nama saya yang beraksara Latin, disertakan pula aksara Arabnya. Bagi saya ini penting, agar antara nama yang dicitakan dengan arti yang dimaksudkan sepadan. Dan, begitupun juga dengan semua saudara saya, selalu disertai dengan aksara Arab.
Jadi, makin yakinlah saya, bahwa waktu kelahiran saya sangat akurat. Seakurat ketika bung Sopyan Yasri mengucapkan ucapan selamat buat saya dan juga untuk dirinya. Keakuratan akan sebuah informasi, manakala diverifikasi keasliannya, salah satunya adalah pada catatan peninggalan. Pada konteks inilah, sekali lagi saya nyatakan, pentingnya sebuah tradisi literasi dalam keluarga, sesederhana apapun itu. Jujur, saya nyatakan lagi, guru literasi pertama saya, tiada lain adalah Abba saya. Lewat catatan-catatannya, spirit literasi itu, ibarat darah segar yang mengalir di setiap nadi saya. Alfatihah untuk Abba. Dan, ewako akan tradisi literasi.
Minggu, 14 Februari 2016
Javid dan Segelas Teh
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
04.02
Dari uminya Javid terlontar jawaban, prihal persediaan kopi yang makin menipis. Pada toples kopi yang sempat saya intip, memang sudah hampir mendekati dasar pantat toples. Berarti, besok kopi mungkin akan habis. Bagi saya, dan juga beberapa orang di rumah, ini sejenis "gempa" manakala persediaan kopi habis dan belum ada pasokan dari kampung. Memang sedianya akhir pekan ini aku mau ke Bantaeng, menuntaskan beberapa urusan, tapi urusan yang paling penting untuk saya bawa ke sana belum tuntas, maka saya surutkan hajat dan entah berapa hari ke depan baru bisa terwujud.
Memang ada masalah sedikit sebulan terakhir ini di rumah. Pasalnya, berjebah waktu yang lalu, aku hanya peminum tunggal kopi. Belakangan, mulai ada saingan. Uminya Javid mulai ikut menikmati kopi, nyaris sama dengan saya. Yang lebih dahsyat lagi, putri pertama saya pun sudah mulai menikmati kopi, bahkan nyaris lebih kental dari kopi saya. Ini benar-benar ancaman serius bagi saya selaku peminum tunggal. Dan, benar saja, jatah yang seharusnya saya siapkan untuk sebulan, dalam dua pekan terancam habis. Yang lebih menyulitkan lagi, sebab kopi saya ini, harus saya beli di kampung, namanya kopi Ereng-Ereng. Dalam petualangan saya meminum kopi, sisa jenis kopi inilah yang masih ramah dengan lambung saya, yang lainnya sudah menimbulkan efek samping, mual.
Akhirnya, solusi yang terpikirkan malam ini adalah segelas teh, agar esok hari dan sehari setelahnya masih bisa minum kopi, sambil menunggu pasokan dari kampung. Pada alternatif minum teh inilah yang tak terduga bagi saya. Ternyata, yang membuatkanku segelas teh adalah Javid, putra saya yang sementara masih duduk di kelas 3 SD. Dimasaknyalah air dan kemudian tehnya dimasukkan dan tentu pelengkapnya seiris jeruk nipis sebagai penyedap seperti permintaan saya. Walhasil, setelah Javid tuangkan dalam gelas, rupanya gelas itu tidak penuh. Taksirannya meleset antara air yang dimasak dengan besaran gelas yang mendekati jumbo.
Berkatalah Javid kemudian, " wah gelasnya tidak penuh". Saya kemudian mendekatinya, mungkin Javid merasa bersalah, atau paling tidak kurang sreg dengan buatannya. lalu ia sambung lagi tuturnya, sebagai usulan jalan keluar, "abi, kita pakai gelas yang lebih kecil saja, biar penuh." Sebuah jalan keluar yang cukup lantip bagi seorang anak seusia dia. Berhasil memenuhkan gelas, artinya tersedia segelas teh, dan pada saat yang sama berarti telah memenuhi harapan saya, segelas teh harum rasa kecut manis. Javid dan segelas teh seduhannya ini, menunjukkan dirinya sebagai anak lantip dalam mencari jalan keluar.
Sejatinya memang, kelantipan seorang anak mesti diberi ruang untuk tumbuh berkembang. Ibarat tanaman, perlu dipersiapkan lahan yang subur, memupuknya dan mencegahnya dari berbagai macam ancaman hama penyakit dan tangan-tangan jahil yang bakal mengkerdilkan pertumbuhannya. Suasana rumah yang memberi ruang kelantipan teraktuil, sesungguhnya, inilah salah satu tujuan dari hadirnya pendidikan informal yang bertumpu pada keluarga.
Akhirnya, pada pucuk-pucuk waktu yang menggelinding, ketukan-ketukan jam dinding berpacu dengan hentakan-hentakan suara keyboard, editan tulisan saya pun meluncur, lancar selancar peselancar yang berburu angin, secepat seruput tegukan teh yang mengalir ditenggorokan saya. Tindakan solutif dari seorang anak lantip dan hasil editan yang mewujud menjadi buku nantinya, bakal semakin melantipkannnya, tatkala Javid membacanya di masa datang. Kelak, kala usianya berlipat dua kali dari detik ini.
Jumat, 12 Februari 2016
KITA
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
19.49
kita telah berlayar
tepatnya dua puluh tiga tahun hari ini
hasil selisih tiga belas Februari
seribu sembilan ratus sembilan puluh tiga
dengan dua ribu enam belas
usia kita masing-masing berkepala empat
beberapa penyakit sudah minta jatah mukim di badan
sering dikau menyebut kolestrol, darah tinggi
namun takut ke dokter karena vonisnya
daku suka menggerutu tentang asam urat, pegalpegal
walau sama saja tak kunjung ke dokter
tabungan pengalaman hidup menggunung
sesekali kita melinggis, memacul dan mencangkul
karena di perutnya ada :
lahar panas kemarahan,
bijibiji kerikil keramahan
butir pasir kelembutan
sewaktuwaktu muntah menggilas
menghidu suasana sekitar
memayungi altar citacita
sebab letupan batuk keadaan
kadang didahului deheman gempa himpitan
desakan tuntutan kehidupan
menyapa semua itu
kita samasama menempuh jalan
dikau membadan pada dakuku
dakuku menubuh pada dikaumu
dakuku dan dikaumu melebur
menjadi kita
kita bukan bermaksud dikaumu raib
tidak pula bermakna dakuku gaib
pada pikiran dan hati kita
kaki dan tangan kita
lumat sekotahnya
tamat risalahnya
Bersatunya Dua Sejoli Literasi
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
16.44
Hampir dua bulan lamanya saya tidak ke Bantaeng. Terhitung sejak acara launching buku Djarina, buah karya Atte Shernylia Maladevi, sebelum lebaran haji , hingga akhir pekan penghujung bulan Oktober 2015. Maklumlah, sejak saya kembali menggawangi Papirus Tokobuku Dan Komunitas, sepertinya saya masuk dalam sebuah “penjara” yang membatasi ruang gerak untuk bertandang seleluasa waktu sebelumnya. Yah..., saya diterungku olehnya, namun dari balik meja kerja, saya tiada henti memuntahkan peluru ujar-ujar sebagai terapi jiwa. Ibarat Arsenal yang bertubi-tubi menggelontorkan gol-gol indah dari meriamnya di London Utara.
Kuatnya rasa ingin segera ke Bantaeng, jujur saya katakan karena rindu. Ada sejenis desakan yang membuncah di bancuh hati dan pikiran saya. Mau bersua dengan kerabat, karib dan tentu saja segenap kawan di Komunitas Literasi Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan. Apatah lagi, beberapa hari sebelum berangkat, seorang sianakku dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Saleh Al-Fachry meminta saya untuk menjadi moderator pada acara diskusi publik dalam rangka Musda PKS Bantaeng, walau diurungkan sebab Bupati Bantaeng, Nurdin Abdullah berhalangan hadir.
Ala kulli hal, postingan Kepala Suku Komunitas Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, Dion Syaif Saen yang makin mengencangkan tekad saya untuk segera meluncur ke Bantaeng. Betapa tidak, Dion memposting berita dan gambar kebakaran di Bissampole yang menewaskan tiga orang anak. Kejadiannya malam Jumat, 29 Oktober 2015, sekitara pukul 20.00. Walau nanti esok harinya baru saya baca postingan itu. Dan, saya langsung telpon Dion tentang lokasi persisnya dan keluarga siapa yang korban. Ternyata korbannya adalah anak-anaknya Naping yang tiada lain adalah kawan sepermainan dulu waktu saya masih kanak-kanak.
Jumat malam. saya meluncur ke Bantaeng dengan mobil langganan. Sejak di perjalanan, sang sopir sudah berbicara sedikit informasi tentang kebakaran di Bissampole itu. Pukul setengah dua belas saya tiba di rumah, langsung istirahat. Esok harinya, bertemulah saya dengan Agusliadi, Dion Syaif Saen, Emha Alahyar dan Afdan di Warung Pojok Bissampole milik kakak saya. Banyak yang kami diskusikan, temanya menjalar kemana-mana. Dan pada waktu diskusi inilah Agus mengingatkan akan pesta pernikahan rekan kami, Kasma Kompable dengan Emilk Azis. Pesta digelar di kediaman Kasma hari Sabtu, 31 Oktober, sedang di rumah Emil keesokan harinya, Ahad 1 Nopember 2015.
Bersepakatlah saya dengan Dion Syaif Saen dan Emha Alahyar untuk pergi bersama, ke rumah Kasma di Parammuloroa. Seperti biasanya, kalau ada karib saya yang amat dekat dengan tradisi literasi, maka saya selalu menyatakan kehadiran saya dengan sebuah kado: buku. Kali ini, di pesta Kasma pun saya bawa kado buku yang di halaman paling awalnya saya tuliskan tutur: “ Laki-laki eksis karena maskulinnya. Perempuan mengada sebab feminimnya. Dalam keluarga, maskulinitas dan feminitas bersatu.” Saya menikmati kebahagiaan kedua karibku itu, saya jabat tangannya Emil dengan erat, lalu saya panjatkan shalawat pada kanjeng Nabi, walakin saya tidak jaharkan.
Pesta itu makin asyik, sebab rengekan saya pada Dion agar menyumbangkan lagu buat mempelai atas permintaan saya dipenuhinya. Maka tembang lawas Koes Plus pun membuai kami, Andaikan Kau Datang judul lagu yang dilantunkan Dion dan satu bonus tembang Makassar Ampe Ampea Rilino yang menghanyutkan para pendengar, terlebih lagi yang menyanyikannya. Bersama tembang Koes Plus, saya larut dalam perhelatan yang auranya masih terasa hingga kami pulang dan bersepakat untuk menikmati senja bersama-sama di pelataran Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan.
Sengaja saya tidak bikin janji dengan siapapun di malam minggu kali ini. Soalnya, saya ingin menyaksikan pertandingan bola liga Inggris. Lewat chanel Bein Tv, saya menonton Chelsea dipecundangi oleh Livervool di Stamford Bridge, dan lanjut hasil seri antara Manchester United dengan Crystal Palace. Malam minggu ini agak larut baru saya tertidur, soalnya membayangkan bagaimana nasib Chelsea yang eksis di urutan ke-15 klasemen dan MU yang kurang beruntung serta kemenangan fantastis The Gunners, sang meriam London Utara, Arsenal. Benarlah yang dibilang Yusuf Kalla, “ bersentuhan dengan urusan bola, kita tidak bisa tidur nyenyak. Sebab kalau kita kalah maka akan dicerca sampai pagi dan kalau menang kita akan pesta sampai pagi.”
Tibalah pada hari Ahad, matahari beranjak meninggalkan subuh. Teriknya barulah semenjana saja, sehangat hati saya yang masih menari riang menikmati kejayaan Arsenal. Saya bertandang ke mukimnya Dion, guna janjian ke pesta pernikahan di rumahnya Emil. Walhasil, sepakatlah saya dengannya untuk berangkat siang sesudah shalat dhuhur. Sepulang dari mukim Dion, saya melewati lokasi kebakaran yang memang jaraknya hanya seratusan meter dari rumah Dion.
Saat berangkat, tiba-tiba HP saya berdering, darinya saya dikontak oleh Ahmad Rusaidi yang ternyata bermaksud sama untuk ke acara itu. Beringanlah kami, saya dibonceng Dion dan dipertengahan jalan, ikut pula Haedir Haedir Thumpaka yang punya tujuan sama, mentunaikan undangan pestanya Emil. Dengan tiga motor, berempatlah kami meluncur ke belakang kantor desa Bontojai, lokasi rumahnya Emil.
Oh.. ya... nyaris lupa. Sebelum saya berangkat meninggalkan rumah, saya dan Dion membungkus kado, satu dari Dion dan satunya lagi dari saya. Dua buku itu saya satukan saja dalam bungkusan kado. Pada buku yang saya kadokan, tutur-tutur pun saya tuliskan buat Emil dan Kasma, “ Dalam sebuah keluarga, hendaklah benih keilmuan tetap disemaikan. Dan, buku ini sekadar sebagai pengingat.” Kira-kira kurang lebih begitu yang saya tuliskan.
Di perjamuan pestanya Emil, banyak nian kerabat dan karib saya jumpai. Ada rombongan dari KPU Bantaeng, Balang Instute, pentolan FMBT dan banyak lagi yang kalau saya sebutkan satu persatu bakal panjang dan tidak ada jaminan pasti ada nama yang bakal luput. Baik pesta di rumah Kasma maupun Emil, tamu-tamu yang berpapasan dengan saya dominan dari kawan-kawan aktifis kaum muda Bantaeng yang terserap dalam berbagai corak kelembagaan. Ini menandakan dua sejoli ini, dominan domain perkawanannya dalam ruang lingkup aktivisme.
Saya sendiri mengenal Emil dan Kasma amat dalam. Bagi saya, keduanya adalah figur-figur terdepan dalam gerakan literasi. Hampir semua perhelatan di Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, keduanya selalu menjadi salah satu tekongnya. Dan, saya mencurigainya, salah satu tempat memupuk tali kasihnya adalah di Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan. Tentulah dugaan saya kurang akurat, tapi saya amat sering memperhatikannya, bahwa kelak dua sejoli ini bakal melarut dalam satu ikatan keluarga. Dan, doa-doa terbaikku selalu saya panjatkan agar dijabah oleh Yang maha Pengijabah.
Bagi saya, Emil bukanlah anak kemarin sore yang saya kenal. Sudah bertahun lalu saya mengenalnya, apatah lagi ketika Emil menjabat selaku Ketua Umum FMBT, saya selalu diajak untuk menjadi narasumber kajian, baik di forum formal maupun informal. Dan, rumah yang ditempati pesta itu adalah rumah yang pernah saya tempati kajian intelektual hingga larut malam, dan pernah pula menjadi tempat mampir makan kelapa muda sewaktu pulang dari survey untuk Kelas Inspirasi Bantaeng.
Dari interaksi yang begitu sering dengan Emil dalam kajian-kajian, batin saya biasa membetik, bahwa anak muda yang satu ini adalah seorang yang terdepan dalam berburu ilmu pengetahuan. Setiap buku referensi yang saya nyatakan sebagai buku yang layak dibaca, pasti Emil memburunya, memilikinya dan tentu membacanya. Sebab, saban waktu selalu saja Emil mengkonfirmasikan hasil bacaannya untuk dibincangkan. Dunia literasi menawannya, ilmu telah menerungkunya.
Demikian pula dengan Kasma, kini sudah menjadi isterinya, juga seorang aktivis yang tumbuh dalam dunia persyarikatan Muhammadiyah. Saat ini Kasma menjabat Ketua Nasyiatul Aisyiah. Dalam banyak persamuhan di berbagai forum yang melibatkan Kasma, saya yang juga hadir bisa menerka keberisian inteketual di pikirannya. Tidaklah mungkin warga Nasyiatul Aisyiah mendapuknya selaku ketua, jikalau tak menghitung kapasitas yang dimiliki oleh Kasma.
Bersatunya dua sejoli literasi ini dalam ikatan pernikahan, mewujud pada bangunan keluarga baru memberikan optimisme dini bagi saya secara pribadi. Selaku pegiat literasi, bagi saya ini adalah kesempatan emas untuk selalu mengingatkan pada keduanya agar tetap bersetia pada tradisi literasi yang dapat diinisiasikan lebih khusyuk lagi dalam otonomi keluarga. Saya membayangkan, Emil dan Kasma segera membuat sudut baca di dalam rumahnya, sepetak surga buat menyemaikan aura keilmuan yang bakal meninggikan derajat penghuninya. Surga bisa kita ciptakan dalam rumah, sesudut atau sepetak dan tentu saja kado buku dari saya dan Dion bakal menjadi salah satu penghuninya.
Di selingan lantunan irama kasidah-elekton yang mengiringi pestanya Emil, saya merengek lagi ke Dion, agar melantunkan tembang lawas. Tapi Dion angkat tangan, dan saya maklum sebab pengiring musiknya bergenre kasidah. Dan, pastilah Dion tak berdaya di hadapan para penyanyi perempuan yang berkasidah ria. Walau ada juga dua penyanyi perempuan yang bernyanyi bukan lagu kasidah tapi diiringi dengan irama kasidah yang salah satunya ternyanyikan, saat saya beranjak pulang, judulnya: Sakitnya tuh di Sini. Begitu beranjak meninggalkan pesta, saya menyapa Adam Kurniawan dan kawan-kawan dari Balang Institut, saya berucap pada mereka, kalau mereka yang nyanyi itu menunjuk hatinya yang sakit, kalau saya berkata sakitnya tuh di sini, sambil saya menunjuk kepala yang baru tiga hari lalu saya plontos. Tawa pecah di antara kami, pamit pulang dengan sejumput bahagia dari arena perjamuan, hingga tulisan saya torehkan, masih saja meluap-luap.
Literasi untuk TPA di Paradigma Institute
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
16.41
Assalamu alaikum.... assalamu alaikum..... Ustadzah... ustadzah... Ucapan salam itu, saban pagi senantiasa terlantunkan oleh anak-anak yang bertandang ke rumah saya yang sekaligus menjadi markasnya Paradigma Institute dan juga Toko Buku Paradigma Ilmu. Rumah buat mukim keluarga, markas kajian dan toko buku adalah satu paket bangunan yang sudah sejak tahun 1994 saya tinggali. Belakangan ini, tepatnya lima tahun terakhir makin ramai disambangi oleh para cilik dari santri Taman Pendidikan Al-Qur”an (TPA) Mesjid Babuttaubah dekat rumah.
Awal dari makin merapatnya santri-santri itu ke Paradigma, disebabkan oleh keterlibatan pasangan saya, Mauliah Mulkin menjadi pengajar di TPA tersebut. Pun, terlibatnya mengajar tidaklah dengan sebuah proses kesengajaan dalam artian melamar menjadi tenaga pengajar. Semuanya bermula hanya karena ikut bantu-bantu sebagai akibat dari kekuarangan tenaga pengajar. Dan yang lebih mendesak lagi oleh karena anak ketiga dan keempat kami ikut jadi santri di TPA itu.
Dari sekadar ikut bantu, menjadi sukarelawan, malah akhirnya diminta untuk menjadi pengajar tetap. Berundinglah kami akan permintaan pengurus TPA. Akhirnya, kami pun merestui permintaan itu. Apatah lagi, saya sendiri sejak datang ke kampung itu sudah menjadi jamaah mesjid, bahkan belakangan ikut menjadi pengurus selaku seksi dakwah yang salah satu fungsi vitalnya adalah menjaga stok dai khutbah Jumat dan ceramah bulan Ramadhan, serta imam shalat dengan status cadangan. Kayak pemain bola, berfungsi selaku cadangan yang sewaktu-waktu harus main kala para pemain yang dijadwalkan berhalangan.
Sebagai konsekuensi dari keterlibatan mengurus dan mengajar di TPA itulah, Mauliah Mulkin selalu dipanggil sebagai Ustadzah oleh para santrinya. Dan, panggilan itu pun juga menulari saya, karena oleh mereka pun saya dipanggil Ustadz. Apatah lagi karena sering menjadi pengganti khatib, penceramah dan imam. makin melengketlah gelar Ustadz. Sehingga, banyak karib, kerabat bingung, lalu berceloteh: “ ...bisa-bisanya dipanggil Ustadz.” Mungkin karena para karib dan kerabat tidak melihat pada diri saya sebuah profil seorang Ustadz, sebagaimana yang mereka sering lihat secara konvensional. Walau akhirnya, banyak di antara mereka ikut-ikutan panggil Ustadz.
Dalam perkembangannya kemudian, saya mulai diskusi dengan ustazah Mauliah Mulkin, tentang bagaimana caranya mengelolah TPA itu tidak secara konvensional, sebagai tempat belajar mengaji saja. Maka dengan segala macam pengetahuan dan pengalaman bersentuhan dengan anak-anak, lalu kami, khususnya ustzdah Mauliah Mulkin mulai memberikan sentuhan baru dalam mengajar santri, lebih variatif pendekatannya dan bernuansa parenting, kepengasuhan.
Sebagai instutusi, TPA Babuttaubah tentunya sudah punya standar pengelolaan. Dan, itu kami tidak mengganggunya. Tugas pokok mengajar santri baca-tulis Al-Quran adalah harga mati. Nanti di luar jadwal pokok itulah kami merancang beberapa paket kegiatan yang bernuansa literasi, sebagaimana visi kami di Paradigma Institute sebagai wadah gerakan literasi. Sebab, bagi kami gerakan literasi ibarat flashdisk yang bisa dicolok kemana saja, termasuk di TPA.
Kemitraan yang kami bangun tidaklah dituangkan secara formil, melainkan komitmen moril saja sebagai bagian dari kerelawanan untuk melihat para santri itu meningkat kapasitas literasinya, baca tulisnya yang tidak sekadar bisa baca tulis, terbebas dari buta huruf dan tulis. Peningkatan minat baca dan menulis bagi seorang cilik, bagi kami adalah sebuah lahan yang amat menggiurkan. Sebab manakala berhasil ditanam sejak dini, maka besar kemungkinan kebiasaan baca-tulis itu, menjadi tradisi literasi pada diri sang anak.
Sebagai wujud kongkritnya dapat dilihat pada setiap saban pagi. Setelah mereka para santri TPA itu selesai mengaji, maka bergrombollah ke rumah saya, markasnya Paradigma, di sela-sela rak buku dan halaman yang terbatas mereka memulai aktifitas yang kesemuanya dalam bingkai literasi. Mereka langsung saja mengambil buku-buku yang ada untuk dibaca, ada juga minta gambar untuk diwarnai atawa sesekali mereka dibacakan dongeng dan pada momen tertentu diputarkan film anak-anak yang memang bertujuan untuk menumbuhkan karakter pada diri anak-anak, santri.
Bahkan tidak sedikit dari para santri itu meminta bantuan untuk memahami pelajaran sekolahnya. Terutama Matematika dan Bahasa Inggris. Selain itu, dan ini yang lebih mendasar juga adalah sentuhan parenting yang diberikan. Seringkali masalah dialami di rumahnya mereka ceritakan pada Ustadzah Mauliah Mulkin. Dan, tentu ini akan semakin mengayakan selaku pengajar, sebab sang pengajar juga adalah seorang pegiat parenting di Paradigma.
Membaca, menggambar, mewarnai, mendengar cerita-dongeng, nonton film dan bermain di halaman adalah aktifitas saban pagi yang bergandengan dengan semanagt gerakan literasi. Ke depannya nanti, mereka sudah harus diarahkan untuk mulai menulis cerita. Cerita mereka sendiri yang mungkin akan sangat menarik untuk diceritakan di antara sesama mereka.
Saya pun kadang membatin kala menyaksikan mereka di saban pagi, mungkinkah 15 hingga 20 tahun yang akan datang, saat mereka harus memanggul tanggung jawab negeri ini adalah generasi yang dijanjikan sebagi bonus demografi buat negeri ini? Saya amat yakin, manakala mereka tumbuh bersama tradisi literasi, maka bonus demografi benar-benar menjadi berkah bagi negeri ini. Sambil berharap, moga di antara mereka ada yang jadi ilmuan, novelis, cerpenis, penyair dan penulis yang menuliskan di buku-buku dan karya-karya mereka bahwa, “ saya mulai bersentuhan dengan tradisi literasi sejak usia dini, masih belia sekali, kala sering menyambangi rumah, Paradigma Institute dan toko buku milik ustadzahku, Mauliah Mulkin beserta suaminya, dan semua kakak-kakakku penghuni rumah dan pegiat literasinya.”
Rumahku Duniaku
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
16.36
Hari Kamis, 14 januari 2016, pasangan saya, Mauliah Mulkin bermilad, ulang tahun yang ke-44. Selalu saja ada persembahan buatnya. Kali ini, sebagai bingkisannya, saya serahkan hasil editan bakal bukunya yang berjudul : Rumahku Duniaku untuk dikurasi kembali. Salah satu kebiasaan saya, saat ada anggota keluarga yang bermilad, selalu saja saya memberikan hadiah. Bentuknya macam-macam. Ucapan selamat, peluk cium, bait-bait puitis yang menyerupai puisi, atau apa sajalah yang menurut saya mengesankan.
Soal apa si penerima bingkisan-hadiah itu memahami atau tidak, bagi saya itu urusan belakangan. Pernah putri ketiga saya, kala miladnya, saya karangkan puisi buatnya. lalu saya tanya apa mengerti atau tidak, dijawabnya, “tidak mengerti, karena terlalu banyak majasnya.” Pun putra keempat, saya membuat yang serupa, sebongkah puisi yang saya tujukan padanya, pastilah dia belum mengerti, sebab usianya baru kelas dua SD, sementara puisi itu kira-kira dia bisa mengerti ketika umurnya dua puluhan tahun nanti.
Lain halnya dengan putri pertama saya, ia mengalami kegirangan yang meluap-luap, tatkala seorang kawannya membaca puisi saya yang ditujukan padanya. Ia awalnya tidak percaya, bahwa dalam buku sehimpun puisi yang saya bukukan memang ada satu puisi yang saya dedikasikan padanya. Hal mana puisi itu saya tulis ketika ia bermilad. Dan, saya tidak pernah memberi tahunya. Demikian juga dengan putri yang ketiga, saya pun tak luput menganggit satu puisi buatnya ketika ulang tahun. Ia merasa bangga karena ada namanya pada sebuah puisi yang terkumpul satu buku, yang terbit pada 2015, tepatnya ketika saya bermilad yang ke-48, dengan judul AirMataDarah.
Kembali pada soal miladnya pasangan saya. Seperti yang saya dedahkan di awal cerita, bahwa kali ini saya pun tetap menghadiahkan hasil editan yang bakal jadi buku. Perkiraan terbitnya, akhir Februari atau awal Maret. Sesarinya, hadiah penerbitan bukunya ini diniatkan bersamaan dengan milad ke-44 ini, tapi karena banyak aral yang melintang, sehingga baru hasil finishing editan yang saya mampu tunaikan.
Riwayat hadiah milad berupa penerbitan buku untuk pasangan saya, bukanlah baru kali ini. Di tahun 2012, kala ulang tahunnya yang ke-40, saya mengedit bukunya untuk diterbitkan. Buku itu berjudul: Dari Rumah untuk Dunia. Meski buku ini diterbitkan secara indie dan untuk kalangan terbatas, tetapi permintaan akan buku ini lumayan banyak, sehingga ada niatan untuk menerbitkannya kembali di waktu nanti. Gara-gara sering mengedit tulisan-tulisannya itu, pasangan saya menabalkan gelar sebagai special editor. Tak banyak yang tahu, bahwa saya bermekar-mekar bahagia dengan penabalan ini.
Saya pun pernah mempersembahkan sejumput puisi buat pasangan saya, di miladnya yang ke-41. Judulnya: Per-Empua-an. Puisi ini kemudian juga menjadi penguat di buku AirMataDarah pada halaman 128-129. Tak ada salahnya kalau saya tuliskan kembali, sebagai penghangat kasih.
Per-Empu-an
Buat Mauliah Mulkin, di hari ulangtahunnya. 14 Januari 2014.
Hanya ujar-ujar yang kupersembahkan pada miladmu kali ini. Sekadar bertutur untuk menegaskan hadirmu, di masamu pada kedinian dan kedisinian.
Di usiamu yang ke-41, mengalamatkan perjalanan sudah lebih separuh. Berarti, semakin berkuranglah jatah hidup, dan semakin dekat dengan keabadian.
Saatnyalah berburu dengan masa, pada sisa jatah usia yang masih ada untuk mengempu pada marcapada, alam dunia.
Mengempu bermakna menjadilah Empu. Sosok Empu, keberadaannya ada pada personanya, yang memesona lalu semesta terpesona. Sehingga ke-Empu-anmu menjadi nyata. Sebab, dikau telah menghormati, memuliakan, mengasuh dan membimbing di kisaran sekitar.
Bagiku, sebagai yang terpesona akan ke-Empu-anmu, sungguh-sungguh telah menjadi per-Empu-anku.
Per-Empu-an, menurutku adalah tempat kembali kala semesta mengusik pikir dan menggundah hati. Dan itu dikau telah nyatakan, lewat laku, sikap dan tindakan.
Meski aku bukan seorang lelaki yang hebat, terkenal dan paripurna, namun kutetap yakin bahwa di setiap lelaki yang berguna bagi kehidupan , ada sosok perempuan yang menjadi per-Empu-annya.
Pada keberhasilan anak-anak yang tumbuh menjadi manusia berguna, ada sosok ibu yang menjadi per-Empu-annya.
Rumahtangga yang di dalamnya beragamam karakter beredar, jika mau menjadi baiti jannati, tempat memancarnya aura kebahagiaan, hanya bisa mewujud manakala ada perempuan yang meleburkan segenap asa menjadi rasa, karena padanya ada sentuhan Empu di tungku per-Empu-an
Sedangkan memasuki usianya yang ke-43, saya pun tak luput mendapukkan bait-bait puitis, yang tetap kusebut sebagai puisi cinta untuknya, berjudul:
Mauliah Mulkin
di januari yang basah
genaplah usiamu empatpuluhtiga
tidaklah perlu berhenti
meneteskan airmata
sebab airhujan dan airmatamu
menghidu sajadah kehayatan
menjadi mataair
mengaliri altar kehayatan
Mungkin sebagaian orang bertanya pada saya, mengapa hanya buku dan penggalan-penggalan puisi yang dipersembahkan? Jawaban diplomatisnya sederhana saja, hanya inilah yang saya punya dan mampu saya serahkan. Apatah lagi, lima tahun terakhir ini, seabrek aktivitasku selalu saya biangkai dalam gerakan literasi (baca-tulis). Membaca adalah rumah batin saya dan menulis adalah ruang dunia saya. Gerakan literasi telah menjadi rumahku-duniaku. Dan, ini pula yang bakal ditegaskan oleh pasangan saya, dengan terbitnya nanti bukunya: Rumahku Duniaku.
Langganan:
Postingan (Atom)