Sang cilik di mukim sahaya, mulai jatuh hati pada permainan bola. Apatah lagi, di bulan suci ini, saban sahur, salah satu sajian pengiringnya adalah pertandingan bola Piala Eropa. Di tengah keterbatasan nalarnya, sahaya lalu menyatakan, pentingnya fokus untuk mengamati permaianan para pemain tengah, yang bertugas mengalirkan bola dari pemain belakang, ke area lawan, untuk dituntaskan menjadi gol oleh pemain depan. Sebab, Guru Han sering bilang: “ berposisilah sebagai orang yang senantiasa menjadi penengah dari dua kutub. Berdiri di antara dua kutub, sama artinya penyambung dari dua kepentingan. Keberadaan penengah, harus siap mendengar dua kutub yang berbeda, lalu menentukan arah putusan yang harus dituntaskan.”
Sabtu, 25 Juni 2016
TANGIS
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
17.16
Sahaya bermusafir ke kampung kerabat di bulan Suci ini. Ikutlah pada peritusan ibadah shalat subuh. Pada subuh pertama, tampillah imam shalat yang aduhai suaranya. Laiknya qari peserta MTQ. Subuh kedua, imam lain tampil, rupanya ia memimpin shalat sembari menangis melantunkan ayat yang dibaca. Baik pada imam pertama, maupun imam kedua, tidaklah memengaruhi jamaah, termasuk tak ada yang meneteskan airmata. Subuh ketiga, tampillah imam shalat yang biasa saja, suaranya datar tak dibuat-buat, hanya getar-getar halus. Namun, dua tiga orang makmum meneteskan airmata, terisak. Bermaksudlah menanyakan pada sang makmun, tapi Guru Han mencegah, lalu membisikkan sabda: " Patutlah dikau mencurigai makmun yang menangis dan terisak itu, sebagai insan yang mendengar bacaan datar sang imam, yang seolah-olah ayat-ayat itu ditujukan padanya. Datarnya cara membaca ayat, bisa menggetarkan jiwa, tinimbang bacaan yang mendayu-dayu nan sedih, namun itu adalah jebakan keindahan suara, buat telinga semata."
Senin, 20 Juni 2016
TAKJUB
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
01.34
Seorang adik kelas menanyakan, apa pekerjaan sahaya? Bingunglah menjawab, sebab semua profesi yang ia sebutkan sebagai dugaannya tidak ada yang cocok. Berceritalah ia tentang pekerjaannya, yang saat ini sudah menduduki jabatan kepala. Tentu banyak yang digapai dari jabatan itu, termasuk pendapatan yang sudah pasti. Tak mengapalah mengadu pada Guru Han tentang soal ini, nasehat pun menguar: " Bila dikau tak mampu menetapkan pekerjaanmu, pastilah pendapatanmu tak menentu. Sementara, yang sudah pasti pendapatannya, sudah pasti pula sasaran untuk menghabiskan pendapatan. Dikau yang tidak jelas pendapatannya, penuh ketidakpastian, itulah kelemahannya. Tapi, di balik ketidakpastian itu, amat banyak peluang keajaiban yang tersaji. Kejaiban otomatis melahirkan ketakjuban. Keajaiban, semirip mukjizat. Jadi, dikau yang penuh ketidakpastian, akan memanen begitu banyak keajaiban, lalu sebentuk rasa takjub menghidu diri. Ibaratnya, orang yang pasti pendapatannya, bagai bola lampu yang sekadar menerangi. Sebaliknya, orang yang penuh ketidakpastian penghasilan, laksana kembang api yang penuh sensasi."
Selasa, 14 Juni 2016
HARTA
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
15.51
Tersebutlah seorang karib yang datang bertandang. Ia pun membabarkan resah-resahnya, tentang kekurangan harta yang melilitinya. Sahaya langsung bisa merasakannya. Sebab, hal yang sama menerungku sahaya, cuma lebih duluan menjalaninya. Saling curhat tak terhindarkan. Terkekehlah Guru Han, seolah mengejek kami dengan segenggam sabda: " Dikau masih sibuk saja bicara soal kekurangan material di bulan spiritual. Seharusnya, keberkekuranganmu itu adalah tirakahmu. Banyak kisanak yang tak punya jalan tirakat guna meningkatkan spiritualitasnya. Tentang harta, mana yang dikau pilih, harta atau pemilik harta. Bila harta, maka menjadilah dikau budaknya. Tapi, jika pilhan jatuh pada pemilknya, sungguh dikau menyata jadi hambanya. Sesosok tuan, pasti lebih tau kebutuhan hambanya."
Senin, 13 Juni 2016
PENGALAMAN
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
20.56
Terjadilah sahut-sahutan kata, yang sudah cendrung pada kengototan pendapat, tatkala seorang paruh baya membantai argumen sesosok yang lebih berumur darinya. Sahaya agak terbirit-birit dalam kekalutan pikiran menyaksikan silat pikiran itu. Oh... Guru Han, nyatalah dengan udar rasa, sebagaimana dedahan ujar sejauh ini: Maka meluncurlah tutur: " Menghormati orang yang lebih duluan merasakan sesuatu, jauh lebih penting. Sebab, padanya ada pengalaman. Bagi setiap orang yang mengalami, maka pasti akan merasakan keunikan, waima sulit dipercakapkan. Pengalaman itu unik. Sementara, pengetahuan cenderung menyeragamkan. Di dalam pengetahuan, sulit bicara keunikan."
Minggu, 12 Juni 2016
Pendusta Agama
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
21.13
Edunews, 13 Juni 2016
(1) Tahukah kamu orang
yang mendustakan agama? (2) Maka itulah yang menghardik anak yatim (3) Dan
tidak mendorong memberi makan orang miskin. (QS. Al-Maun, 1-3)
Realitas bulan suci
Ramadhan 1437H/ 2016 M, sepertinya tidaklah berbeda dengan Ramadan tahun-tahun
sebelumnya. Para produsen barang dan jasa yang memanfaatkan hasrat konsumerisme
dari konsumen yang lapar dan haus, dengan segala macam godaan, lewat iklan di
berbagai media: televisi, radio, koran dan dumay. Iklan seolah mengganti peran
Iblis yang telah dibelenggu selama bulan suci ini. Betapa tidak, mulai dari
saat menahan, kala imsak, hingga jelang buka puasa berondongan iklan konsumtif
hadir bertubi-tubi.
Pun acara televisi, tayangannya
disesuaikan dengan iklim Ramadan. Hadirlah sinetron religi, ajang hafids
Qur’an, pentas dai cilik, para selebriti yang tiba-tiba menjadi sangat religius
dan banyak lagi siaran yang senafas dengan itu, membuat televisi sebagai kotak
ajaib selaku pengkhotbah yang tak tertandingi. Tak ketinggalan di media sosial.
Semuanya turut larut dalam memeriahkan Ramadan
Demikian juga realitas
sosial, nampaknya masih sama seperti Ramadan yang lalu. Tiba-tiba pengemis di
perempatan lampu lalu lintas, sudut-dudut kota menyemut. Hadir pula peminta
sumbangan dari berbagai panti asuhan, berbekal seamplop proposal permintaan
zakat, infak dan sedekah. Kesemuanya muncul di bulan Ramadan. Ada kesan, bahwa
menyemutnya pengemis dan peminta sumbangan, sekadar memanfaatkan momentum
perburuan pahala dari para penyumbang, yang terprovokasi oleh para dai.
Ibarat gayut bersambut,
para dai menjelaskan keutamaan berzakat, infak dan sedekah dengan ganjaran
pahala yang berlipat-lipat. Para dermawan yang tergiur dengan janji pahala yang
tak berbatas dan tentu kaum tak berpunya yang melihat momentum ini sebagai
arena banjir rejeki. Bisa saja saya keliru, bila menyatakan bahwa apa yang
sesungguhnya terjadi ini, adalah sejenis ibadah yang masih bersifat
transaksional. Semua terjadi karena ada janji timbal balik, antara pemberi dan
penerima, atas jasa baik dari para dai yang mempertemukannya, sehingga
terjadilah transaksi pahala dan komoditas itu.
Sekali waktu, saya ikut
duduk menyambangi kedai seorang karib. Dari pagi hingga sore, paling tidak ada
empat orang yang datang ke kedai itu meminta sumbangan. Mulai dari sekadar
menyodorkan tangan yang telapaknya menghadap ke atas, membawa kotak amal dari
sebuah mesjid atau panti asuhan, hingga sejenis proposal yang kalau diamati
secara seksama, model dan isinya sama dengan lainnya. Dan, menurut karib saya
itu, sejak bulan Ramadan kejadian ini nyaris berlangsung setiap hari.
Sesungguhnya karib saya
mulai jenuh dengan peminta sumbangan itu. Namun, ia terhantui dengan sebuah
cerita, yang cerita itu juga pernah diceritakan pada saya oleh seorang tetua di
kampung halaman. Konon, pernah ada suatu kejadian, seseorang menolak
peminta-peminta yang bertandang ke mukimnya, bahkan dengan kasar tidak
meladeninya. Beberapa waktu kemudian, terbakarlah rumahnya. Ternyata, barulah
kemudian ia diberitahu bahwa peminta-minta yang ditolak itu, adalah nabi Khidir
as yang menyamar. Kisah ini, tetaplah tertanam di dasar pikiran, bahkan cukup
menghantui manakala berhadapan dengan peminta-minta.
Adalah nabi Muhammad SAW,
yang terlahir dalam keadaan yatim. Dan, ketika usianya beranjak enam tahun, sang
ibu pun meninggal, piatulah beliau. Ia pun diasuh oleh pamannya, Abu Thalib
sebagai anak yatim piatu, dan di saat yang bersamaan, sang paman pun bukanlah
orang yang berkecukupan. Yatim piatu dan kemiskinan, sudah akrab dengan Muhammad
SAW sejak kecil hingga masa kenabiannya, bahkan sampai era berakhirnya risalah
dari beliau. Jalan kehidupan dalam bingkai keyatiman, kepiatuan dan kemiskinan,
menyebabkan ia sangat mudah berempati.
Dalam sebuah buku yang
ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat, Islam Alternatif, keyatiman dan
kepiatuan serta kemiskinan dijelaskan cukup panjang, namun bisa disarikan bahwa
anak yatim piatu dan orang-orang miskin disimpaikan sebagai kaum mustha’dafin.
Orang-orang yang lemah, yang dibuat lemah dan sengsara serta ditindas adalah
kelompok mustha’dafin. Kaum mustha’dafin adalah kaum yang hancur hatinya. Dan,
perjalanan kenabian Muhammad SAW dihiasi dengan pembelaan kepada kaum ini,
bahkan pengikut awalnya di Mekkah adalah dari kaum mustha’dafin.
Pada konteks inilah relevansi
Al-Qur’an Surah Al-Maun ayat 1-3 patut
dikedepankan, ketika Tuhan bertanya lewat firmannya: Tahukah kamu orang yang
mendustakan agama? Mengabaikan anak yatim piatu, menyepelekan orang miskin,
berarti ikut mengukuhkan kaum mustha’dafin yang senantiasa tertindas dan
ditindas. Padahal, sejak semula kaum inilah yang dibela seempatik mungkin oleh
Muhammad SAW.
Masalahnya kemudian
adalah ketika segelintir orang saling memanfaatkan slogan menyantuni anak yatim
piatu dan kemiskinan. Tatkala seseorang mendefenisikan dirinya sebagai orang
miskin dan menjadikan mengemis sebagai profesi, atau seseorang yang
mengorganisir untuk tidak mengatakan memanfaatkan anak yatim piatu dan
kemiskinan dengan berkedok pada topeng kelembagaan. Atau para dai yang sekadar
memprovokasi para dermawan dan sang dermawan telah merasa kewajibannya juga
telah terpenuhi, dan lagi pula mendapatkan pahala yang berlipat.
Boleh jadi, seseorang
yang menjadikan mengemis dan
mengorganisir pengemis sebagai profesi, telah berdusta atas nama agama.
Demikian juga dengan sang dermawan yang sudah merasa terbebas dari kewajiban
dan setelah itu tidak lagi peduli setelah Ramadhan, patut didapuk sebagai
peleceh agama. Mungkin juga para dai terlibat dalam pemaknaan agama yang
dangkal, menggiring pengertian yang bersifat transakaional semata, disebut
selaku pengabai kedalaman ajaran agama. Adakah mereka para pendusta agama? Kira-kira,
sampai kapankah lingkaran masalah ini terhempas dari bulan suci Ramadan?
MOTIVATOR-INSPIRATOR
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
21.09
Entah apa di balik maksud seorang anak muda yang minta penjelasan tentang sosok motivator dan inspirator. Sahaya terkejut tiada tara, soalnya gampang susah menggambarkannya. Untunglah Guru Han langsung nyelutuk: " Motivator itu hadir dengan bicaranya,mulutnya bisa berbusa karena begitu banyak kata pembangun semangat yang disemburkan. Sementara, inspirator itu nampak pada lakunya. Perbuatannyalah yang bicara."
Langganan:
Postingan (Atom)