Jumat, 01 September 2017

KURBAN

Selepas tunaikan salat Idul Adha, Idul Kurban, beringanlah Sahaya, Guru Han, dan Sang Guru, menuju tempat pemotongan hewan kurban. Sahaya bertanya, mengapa mesti hewan yang disembelih, selain daripada maksud menyembelih diri sendiri, memotong sifat hewani pada diri? Sang Guru lalu bersabda, “Sesungguhnya, yang lebih penting dalam pelajaran ibadah kurban ini, meng-Ibrahim-kan diri. Meluapkan cintanya pada Sang Mahacinta.” Tak terduga, Guru Han ikut menegaskan, “menjadi penting pula meng-Ismail-kan diri, memasrahkan diri pada ketundukan atas cinta pada Sang Ayah, sebagai manifestasi cinta pada Sang Mahacinta”. 

Kamis, 31 Agustus 2017

BUKA (PUASA)

Tibalah buka puasa bersama. Persepakatan awal pun terwujud. Sehabis berbuka, sahaya kesulitan bergerak. Sama sulitnya, tatkala matahari mulai tergelincir. Apatahlagi, ketika senja mulai meranum, lelahnya berlipat-lipat. Melihat keadaan itu, Guru Han berucap lirih, “begitulah akibatnya bila puasa masih sebatas menahan lapar dan haus. Buka puasa menjadi arena balas dendam. Loyo saat berpuasa, karena lapar dan haus, loyo pula setelah berbuka, sebab kekenyangan. Makan dan minumlah secukupnya, sesuaikan dengan kebutuhan tubuhmu”. Sang Guru menyambar umpan ucap itu, dengan sabda yang mencengangangkan,”kalian yang berbuka, tapi akulah yang kenyang. Sebab, keterpenuhan butuhnya tubuhmu, menjadi syarat kebutuahnku pada tubuh tunai”.         

Rabu, 30 Agustus 2017

ARAFAH

Hari ini, seluruh jamaah haji, berkumpul di Padang Arafah. Inilah puncak ibadah haji. Semacam muktamar, setidaknya, dalam dimensi keruhanian. Pada belahan jagat lain, bertemu pula, beberapa sosok yang sudah lama saling mencari. Tersebutlah, Sang Guru, Guru Han, dan Sahaya. Mereka tidak berhaji, namun sama-sama berpuasa di hari Arafah. Ajaibnya, pahalanya mirip-mirip ganjarannya. Pada persuaan inilah, kerinduan meleleh, ibarat bongkahan es yang mencair. Perjumpaan ini melahirkan kesepakatan, berbuka puasa bersama. Dan, putusan lain, yang cukup penting, ketiganya berjanji, untuk senantiasa bertemu, kapan dan di mana pun. Mau di jenjang langit, pelataran pikiran yang gelisah, serambi hati yang bergejolak, dan pada jiwa yang merindu. Dari situasi merekalah, urita akan perbincangannya, perlu dinanti.

Jumat, 07 Juli 2017

HABILIAN

aku telah memilih jalan Habil
jalan segenap penempuh cahaya
yang ujung jalannya bermandikan cahaya-Nya
Jalan Habil, jalan sekotah kekasih-Nya
para Nabi, segelintir Ma'sumin, dan sekaum Insan Suci
telah meniti di jalan lurus nan purba ini
Selaku pemamah jalan purba
belenggu kegelapan senantiasa mengintai
tergelincir pun meniscaya
selaku pengikut jalan cahaya
terungku bias cahaya selalu menawan
terjerumus pun memungkin
Bagi para pejalan di jalan purba nan bercahaya
kegelapan dan bias cahaya sama saja adanya
keduanya penjara yang berbeda tampakan
aku sesekali tergelincir dalam kegelapan
aku sudah seringkali diterungku bias cahaya
namun masih saja abai untuk memerdekakan diri
padahal, janji paling mula nan mulia
memilih jalan Habi; menjadi Habilian
jalan cahaya

Sabtu, 01 Juli 2017

BERGANDENGAN

kita sudah bersetuju, saling bergandeng tangan, menyimpai petak demi petak surga di bumi, yang sementara digossipkan datar dan bulatnya

kita telah seikat, melebur jiwa pada gerakan mencicil peradaban sebagai bekal, bakal warisan buat sekaum pewaris di jagat

batu bata kita susun, sebagai pagar kokoh, dari patok surga, pertanda buah gandengan tangan, menyata senyatanya dalam kesunyatan

Pada mustahaknya perikatan, kita bisa tergelincir di mulusnya jalan juang

petakpetak bangunan surga, akan runtuh berantakan, karena ulahku dan ugalmu, mencungkil sebiji batu batanya

satu bata memang soal sepele, tiada berarti manakala masih berupa gundukan, tapi, jika serupa susunan, pasti runtuh tatkala sebijinya tercungkil dari satuannya

bedalah gundukan dan susunan apik batu bata, satu nirrencana, lainnya penuh rekayasa

bukankah jerih payah tak sua lelah, mengubah gundukan menjadi susunan?

cegalah susunan itu, kembali meruntuh jadi gundukan

bila perlu, tanganku dan tanganmu, tangan kita yang bergandengan itu, putus karena menguatkan simpainya.

Minggu, 25 Juni 2017

PANGGILAN

bermil jarak kutempuh
berliter keringat kutumpah
beribu ayunan kaki kulangkah

datang memenuhi panggilanmu
yang semula kukira panggilan tuhan
kini kumengerti hanyalah panggilan tuan

salahku yang tak mungkin kumaafkan
sebab kebodohanku meyakini tuan sebagai wakil tuhan
memahamkan diri tentang wajah tuhan ada pada tuan
ternyata tuan menista wajah tuhan

Makassar, 2017.

MUARA

harihari ini, meluapluap
harihari kini, terbiritbirit
harihari dini, terburuburu

luapan katakata
belum juga surut
biritan tuturtutur
tak jua reda
buruan uritaurita
tidak pula nyata

sungai tak sanggup lagi
menampung luapan, banjirlah
bengawan nirdaya
melapang biritan, bahlah
kali tiada sudi
merela buruan, kayaulah

sungai, bengawan, kali
banjir, bah, kayau
sungai kebanjiran kata
bengawan kebahan tutur
kali kekayauan urita

hanyalah muara harapan terakhir
pada lautan semua berakhir

tapi jangan menari di permukaan gelombang laut
menyelamlah pada kedalaman samudera

permukaan selalu menawarkan riak
kedalaman menyajikan hening

Makassar, 2017