Seorang kisanak mengajak sahaya melibatkan diri dalam perhelatan politik. Maksudnya, ikut menjejaki peluang menjadi kepala daerah. Biaya surveinya sudah disiapkan olehnya. Sebelum mengiya, tetiba saja Sang Guru, berfatwa duluan, "bagaimana mungkin dikau terjaring survei, manakala sepak terjang hidupmu selalu memilih jalan sunyi? Survei hanya cocok bagi insan yang memang suka memajang dirinya, sekaligus mempertontonkan apa yang telah dibikinnya". Karenanya, Guru Han tak ketinggalan menimpali tutur, "pun, dikau mesti menyiapkan modal perlagaan politik persaingan. Berupa, modal sosial dan modal uang. Tanpa keduanya, tiada guna tampangmu ikut nangkring di lembaga survei".
Kamis, 19 Oktober 2017
BERBAGI
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
17.34
Jumat Mubarak yang mekar benderang. Aura keberkahan menghidu segenap kemelataan hidup dan kehidupan. Hari, di mana berjubel insan ingin berbagi kebaikan, buat menandainya. Bersedekah, dan yang serumpun dengannya, menjadi pilihan perdana. Pengemis, peminta sumbangan dan panitia masjid beriang gembira. Sahaya berdepan-depan dengan Sang Guru, yang segera saja mengeluarkan titah, "bila ingin berbagi, carilah orang buta. Kalau mau memberi temuilah sosok bisu. Manusia buta dan bisu, mencegahmu dari puja-pujinya". Guru Han, yang sedari awal ikut bersila, pun unjuk tutur, "Jika berbagi, membisulah. Kala berbuat baik, membutalah".
Rabu, 18 Oktober 2017
SENANG-BAHAGIA
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
23.03
Tetangga kiri-kanan, depan-belakang sahaya sedang moncer bersaing menyuntukkan diri dalam mengaktualkan hobi, memelihara binatang piaraan. Burung, anjing, kucing, ular, ayam, dan ikan, hanyalah sebagiannya. Biayanya, bisa melebihi anggaran pendapatan dan belanja keluarga menengah ke bawah. Sesekali ikut menikmati kegemaran mereka. Hingga, sekali waktu Guru Han mampir menengok, tutur pun menguar, "betapa mahalnya sejumput kesenangan, padahal yang dibiayai itu adalah terungku diri.". Sebab, kata Sang Guru, "begitu piaraan-piaraan itu raib dari tuannya, keriangan pun ikut gaib. Kalut pikir dan rusuh hati menyata. Alamat tidak bahagia. Sekali lagi, kesenangan dan kebahagiaan unjuk nyata dalam perbedaan". Lalu, Guru Han mengunci, "kesenangan serupa ruang memiliki, kebahagiaan sebentuk ranah menjadi".
Senin, 09 Oktober 2017
MATA
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
23.52
Sahaya telah menggunakan dua biji mata buat melihat kesempurnaan atas apa yang dibikin. Tetapi, apa lacur, nampak saja ada orang lain menemukan kekurangan dalam bikinan itu. Karenanya, Sang Guru bersabda, "semestinya, dibutuhkan mata orang lain guna menyempurnakan buatan diri". Pun, disambarlah oleh Guru Han umpan sabda itu, dengan penabalan tutur, "mata orang lain, lebih tajam telisiknya pada diri, tinimbang mata sendiri. Jika ada insan yang memataimu, bersyukurlah".
Jumat, 01 September 2017
KURBAN
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
02.43
Selepas tunaikan salat Idul Adha, Idul Kurban, beringanlah
Sahaya, Guru Han, dan Sang Guru, menuju tempat pemotongan hewan kurban. Sahaya
bertanya, mengapa mesti hewan yang disembelih, selain daripada maksud
menyembelih diri sendiri, memotong sifat hewani pada diri? Sang Guru lalu
bersabda, “Sesungguhnya, yang lebih penting dalam pelajaran ibadah kurban ini,
meng-Ibrahim-kan diri. Meluapkan cintanya pada Sang Mahacinta.” Tak terduga,
Guru Han ikut menegaskan, “menjadi penting pula meng-Ismail-kan diri,
memasrahkan diri pada ketundukan atas cinta pada Sang Ayah, sebagai manifestasi
cinta pada Sang Mahacinta”.
Kamis, 31 Agustus 2017
BUKA (PUASA)
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
04.23
Tibalah buka puasa bersama.
Persepakatan awal pun terwujud. Sehabis berbuka, sahaya kesulitan bergerak.
Sama sulitnya, tatkala matahari mulai tergelincir. Apatahlagi, ketika senja
mulai meranum, lelahnya berlipat-lipat. Melihat keadaan itu, Guru Han berucap
lirih, “begitulah akibatnya bila puasa masih sebatas menahan lapar dan haus.
Buka puasa menjadi arena balas dendam. Loyo saat berpuasa, karena lapar dan
haus, loyo pula setelah berbuka, sebab kekenyangan. Makan dan minumlah
secukupnya, sesuaikan dengan kebutuhan tubuhmu”. Sang Guru menyambar umpan ucap
itu, dengan sabda yang mencengangangkan,”kalian yang berbuka, tapi akulah yang
kenyang. Sebab, keterpenuhan butuhnya tubuhmu, menjadi syarat kebutuahnku pada
tubuh tunai”.
Rabu, 30 Agustus 2017
ARAFAH
Diposting oleh
Sulhan Yusuf
di
15.11
Hari ini, seluruh jamaah haji, berkumpul di Padang Arafah.
Inilah puncak ibadah haji. Semacam muktamar, setidaknya, dalam dimensi
keruhanian. Pada belahan jagat lain, bertemu pula, beberapa sosok yang sudah
lama saling mencari. Tersebutlah, Sang Guru, Guru Han, dan Sahaya. Mereka tidak
berhaji, namun sama-sama berpuasa di hari Arafah. Ajaibnya, pahalanya mirip-mirip
ganjarannya. Pada persuaan inilah, kerinduan meleleh, ibarat bongkahan es yang
mencair. Perjumpaan ini melahirkan kesepakatan, berbuka puasa bersama. Dan,
putusan lain, yang cukup penting, ketiganya berjanji, untuk senantiasa bertemu,
kapan dan di mana pun. Mau di jenjang langit, pelataran pikiran yang gelisah,
serambi hati yang bergejolak, dan pada jiwa yang merindu. Dari situasi
merekalah, urita akan perbincangannya, perlu dinanti.
Langganan:
Postingan (Atom)