Jumat, 15 November 2013

DEGIL



handai toulan menyusup ke mukimku
ia lalu berujar

"pagi ini terasa terasa tenang
angin malas berhembus
burung enggan berkicau
awan cuma memendung
butiran embun masih nampak
pertanda apakah ini?"

batinku dililiti rasa tenang
terkenang akan sabda
jiwa yang tenang
mulai menggoda

semua menahan diri
angin burung awan embun
tenang damai
cakrawala tersenyum

namun ada segelintir insan
yang tak kuasa menahan diri
mereka marah
menyakiti kaum yang beda darinya

menghina perempuanya lebih rendah dari pelacur
menjambak jilbabnya
mementung kepala kaum lakinya
membusur badan kaum mudanya

mereka perampok di jalan Tuhan
perompak di perhelatan ruhani
pencuri ayat suci
pembajak kebenaran

lebih mulialah angin burung awan embun
sebab mampu menahan diri
menjamukan ketenangan
wujud ilahi di alam semesta

mereka adalah kaum degil
keras kepala
kepala batu
batu mati

mereka memiuh sabda ilahi
sesempit alam pikirnya
segersang ruhaninya
sedangkal jiwanya

mereka penyamun tradisi
mereka pengacau peradaban

0 komentar:

Posting Komentar