Sabtu, 03 Oktober 2015

PENGTAHUAN




Sore masih kerontang, walau mentari tinggal semenjana teriknya, pertanda  mau pamit, ingin damai dalam dekapan  malam. Seorang  kisanak, kawan lama seperguruan di padepokan pengetahuan,  mampir di semedi sahaya.  Sang kawan telah bertahun meninggalkan padepokan, lalu didedahkannya  segala resah tentang tiada gunanya  pengetahuan yang selama ini ditimba.  Pasalnya, antara pengetahuan yang disetubuhinya dengan realitas kehidupan jauh berlaksa jaraknya. Gagaplah berjalan dalam kenyataan hidup. Guru Han yang sedari awal adem, tiba-tiba menghela nafas panjang,  menyemburlah lahar kata-kata selaku tutur : “ Segala pengetahuan yang dikau tumpuk dulu, hasil timbaan dari berbagai macam universitas kajian, bukan lagi untuk diucap-ucap, diperdebatkan. Mestinya, semua  pengetahuan itu menjadi sari diri untuk memandu perjalanan kehidupan. Nilai guna pengetahuan yang melangit, ketika mampu  mengais masalah kehidupan. Ibarat elang yang terbang di angkasa, tapi makananya tetap  di bumi.”

0 komentar:

Posting Komentar