Senin, 17 November 2014

ABDI-ABADI



Seorang tokoh panutan di negeriku berpulang pada keabadian. Ramai nian pelayat, menyemut di mukimnya, mengular pengantar ke makamnya. Setiap orang ingin mengurus jasadnya, sebagai tanda pengabdian terakhir padanya. Di tengah pusaran takjubku, Sang Guru berbisik halus di relung batinku: " Han..., tokoh panutan itu memetik buah dari pohon kehidupan yang ditanamnya. Bukankah sepanjang hidupnya, ia telah mengabdikan hidupnya untuk mengabadikan kehidupan? Semasa hayatnya, tak lelah mengumpulkan khalayak, guna menerangkan jalan-jalan abadi. Kumpulan orang itu adalah penanda abadinya dalam pengabdian. Mengabdilah agar mengabadi."

0 komentar:

Posting Komentar