Sabtu, 15 November 2014

HUJAN (1)


Ba'da Juma'at, kupacu kuda besiku ke arah selatan kota, guna memenuhi undangan bertukar pengetahuan dengan sekelompok kaum muda yang merumuskan masa depan organisasinya. Di tengah perjalanan, guyuran hujan menderas, mendaras aspal jalanan yang panas. Perjalananku terhambat, menepilah aku, berteduh pada sebuah gubuk di pinggir jalan. Api cemburu mulai berkemas menjilati jiwaku, melihat mobil lalu lalang tak terhambat oleh derai hujan, menerobos angkuh menantang hujan. Sang Guru menepuk pangkal kesadaranku, mecegatku dengan tutur: " Han..., padamkanlah api cembutumu itu, jiwamu akan mutung akibat jilatannya. Sebab, kudengar orang-orang di atas mobil itu berbincang tentang betapa beruntung dan bahagianya seseorang yang diberi waktu jedah, berteduh karena hujan, menyilahkan hujan menunaikan tugasnya, sambil menikmati keindahan mobil lalu lalang, yang keindahannya tak sanggup diresapi oleh orang yang berada di dalamnya."

0 komentar:

Posting Komentar