Kamis, 22 Januari 2015

Memberilah dengan Sari Diri



Memberilah dengan Sari Diri

Sulhan Yusuf
Pegiat Literasi

Berikanlah yang terbaik dari milikmu, seolah yang akan menerimanya adalah dirimu sendiri. Pemberian mesti dimaksudkan sebagai titik temu antara kemampuan menyatakan kesanggupan dan keterbebasan beban bagi yang menerimanya. Dengan begitu, pemberian barulah maksimal manfaatnya bagi si penerima, sehingga si penerima tidak perlu lagi berfikir berkali-kali akan kegunaan suatu pemberian.

Sekali waktu, saya berada di sebuah toko buku. Sambil memerhatikan buku-buku yang akan saya beli, juga menguping perbincangan transaksional dari dua orang konsumen yang mencari buku untuk keperluan yang berbeda, namun dalam satu tujuan, ingin disumbangkan, sebagai bentuk pemberian untuk menyatakan kepentingannya.

Konsumen pertama, mencari buku yang sesuai dengan jurusannya. Tidaklah perlu tebal, harganya semurah mungkin. Sebab, maksud pembeliannya dalam rangka mendapatkan kartu bebas pustaka, sebagai prasyarat menjadi sarjana di kampusnya. Oleh penjaga toko buku, dipenuhinya kebutuhan sang konsumen, dan transaksi pun berlangsung. Sembari tersenyum simpul, si konsumen meninggalkan toko buku dengan perasaan lega. Apa yang dicarinya telah terpenuhi. Saya pun hanya memicingkan mata, membatinkan lebih jauh tingkahnya.

Di sudut lain, konsumen kedua terlibat percakapan serius dengan penjaga toko buku. Didedahkannya maksud membeli buku untuk sebuah keperluan, sebagai kado untuk kerabatnya yang akan menikah. Dimintanya penjaga toko buku untuk mencarikan buku yang terbaik bagi calon pengantin, yang sebentar lagi akan membangun rumah tangganya.
Oleh si penjaga, ditawarkannya sebuah buku yang cukup tebal, harga agak mahal. Namun si konsumen langsung saja mengiyakan. Transaksi pun terjadi, dan tak lupa ia meminta untuk dibungkuskan pakai kertas kado. Mata saya agak melebar, menyaksikan peristiwa itu.

Dua peristiwa tersebut, sama dalam tindakan. Ingin memberikan sesuatu kepada orang lain. Meski dengan motif dan tujuan yang berbeda. Intinya adalah pemberian. Pada konteks inilah menarik untuk diajukan penuturan Marcel Mauss, yang dipertegas oleh Parsudi Suparlan saat menerjemahkan dan menuliskan pengantarnya untuk buku yang berjudul Pemberian, yang judul aslinya bertitel The Gift, form and functions of  exchange in archic societies.

Bagi Marcel Mauss, pada dasarnya tidak ada pemberian yang cuma-cuma. Segala bentuk pemberian selalu dibarengi dengan sesuatu pemberian kembali atau imbalan. Dengan demikian maka yang terjadi bukan hanya pemberian seseorang kepada orang lain, melainkan tukar-menukar, saling memberi dan mengimbangi. Artinya, pemberian itu sesungguhnya adalah transaksi antara si pemberi dan si penerima.

Lebih jauh Marcel menandaskan bahwa suatu pemberian hadiah adalah sama dengan suatu pemberian mana atau sari kehidupan dari si pemberi kepada si penerima. Dengan diterimanya suatu benda yang diberikan maka diartikan bahwa si penerima pemberian tersebut telah menerima sari kehidupan si pemberi atau sama dengan diri si pemberi itu sendiri.

Marcel makin menukik dalam penjelasannya, ada juga pemberian yang tidak menuntut diberikannya imbalan atau pengembalian oleh si penerima, semisal sedekah. Jikalau diperhatikan lebih lanjut, akan tampak bahwa sedekah adalah sebuah unsur dari sistem yang lebih luas, memperlihatkan adanya hubungan di antara si pemberi dengan unsur ketiga, yaitu Tuhan, yang kedudukannya lebih tinggi daripada si pemberi maupun si penerima, yang akan memberikan pahala kepada si pemberi.

Bertolak dari uraian Marcel, saya ingin membingkai dua kejadian di toko buku tersebut. Tindakan konsumen pertama dan kedua, sama-sama dimotivasi untuk suatu tindakan memberi pada orang lain. Konsumen pertama, menyumbangkan buku demi mendapatkan imbalan, selembar kertas bebas pustaka. Sebentuk transaksi yang amat “telanjang” dimensi kepentingan materialnya. Si pemberi melakukan tindakannya, sebab adanya tekanan eksternal di luar dirinya. Situasi eksternallah yang memaksanya untuk memberi.

Adapun konsumen kedua, memenuhi tindakannya, disebabkan oleh inginnya memberi sari dirinya kepada kerabatnya. Tentulah dengan harapan agar kerabatnya itu menerima dirinya sebagai bagian dari sari kehidupan. Karena si pemberi memberikan buku yang terbaik buat kerabatnya, seolah ia merepresentasikan dirinya dalam sebuah cita ideal. Dalam konteks ini, si pemberi tidaklah menuntut imbalan berupa benda, melainkan cukup dengan memenuhi harapan cita ideal representasi dirinya pada buku tersebut. Dan, manakala si penerima mewujudkan cita ideal itu, maka Tuhan pun akan mengganjar si pemberi dengan pahala. Tindakan memberi dengan sadar – sari diri – muasalnya dari ruang internal diri, yang melampau batas-batas material. Nuansanya amat spiritual.

Lalu, adakah dampak yang serius dari sebuah tindakan memberi atau pemberian yang sifatnya transaksinal semata sebab tekanan eksternal dan pemberian bertolak pada motif sari diri karena dorongan internal sadar diri?

Ini sejenis rabaan saja. Tindakan memberi buku sebagai sumbangan buat perpustakaan, yang sekadar memenuhi kewajiban menyebabkan pemberian itu hambar. Dapat dibayangkan kualitas buku yang seadanya bercokol di perpustakaan kampus.
Akan halnya buku yang diberikan pada kerabat, dengan harapan adanya cita ideal sebuah bangunan rumah tangga yang bakal dijalani, pastilah berujung pada dampak yang jauh ke masa depan. Tidak saja bagi pasangan baru itu, tetapi setiap persona yang tumbuh dalam rumah itu, sebab buku itu bakal mempesona penghuninya.

Jadi, mengapa masih saja memberi dengan terpaksa, jikalau dampaknya sia-sia belaka? Meski pemberian disebabkan oleh tekanan eksternal, sebagai pemenuhan akan kewajiban, tetapi dalam menunaikannya sama seperti memberi karena dorongan internal, wujud dari sari diri maka hasilnya pasti akan sama. Berikanlah yang terbaik, seolah yang bakal menerima pemberian itu adalah dirimu sendiri. Sari dirimu mewujud pada diri lain.

0 komentar:

Posting Komentar