Minggu, 25 Januari 2015

PARA PEMBAKAR BUKU

Sebagai seorang penggiat dalam menumbuhkan budaya literasi, saya amat terkejut ketika membaca buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama, karangan Syaikh Idahram, terbitan Pustaka Pesantren, 2011. Pada halaman 107-108, dengan anak judul: Membakar Puluhan Ribu Buku-Buku Perpustakaan, saya kutipkan kalimat berikut ini:

“Selama Wahabi berkuasa di Jazirah Arab, sudah terlalu banyak perpustakaan Islam yang mereka bumi-hanguskan dan mereka bakar buku-bukunya, seperti pembakaran kitab-kitab para ulama klasik ketika mereka memasuki kota Makkah. Di antara buku-buku yang dibakar itu adalah kitab Dalail al-Khairat, Raudh ar-Rayyahin, buku-buku mantiq, tasawuf, akidah, dan lainnya, yang tidak sejalan dengan ajaran mereka. Inilah musibah besar ilmiah yang terjadi untuk ke sekian kalinya menimpa umat Islam.

“Di antara kasus pembakaran buku-buku, yang paling fenomenal adalah pembakaran buku-buku yang ada di perpustakaan Maktabah Arabiyyah di Makkah al-Mukarramah. Perpustakaan ini termasuk perpustakaan yang paling berharga dan paling bernilai historis. Bagaimana tidak, sedikitnya ada 60.000 buku langka dan sekitar 40.000 masih berupa manuskrip yang sebagiannya adalah hasil diktean dari baginda Nabi Saw kepada para sahabatnya, sebagian lagi dari Khulafaur Rasyidin yang empat, dan para sahabat Nabi lainnya. Di antara buku-buku dan manuskrip itu, banyak yang masih berupa kulit kijang, tulang belulang, pelepah pohon, pahatan, dan lempengan-lempengan tanah.

“Sebagaimana berfungsi sebagai penampungan ribuan buku-buku klasik, perpustakaan Maktabah Arabiyah itu juga menampung peninggalan Islam dan peninggalan sebelum Islam. Namun kini semua itu hilang dan habis dibakar oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan tidak menghendaki peninggalan Islam dilestarikan. Karena, menurut mereka, segala peninggalan itu akan menyebabkan kemusyrikan, dan ribuan buku warisan Islam tersebut akan menjadikan umat Islam berfaham sesat (baca: tidak sesuai dengan faham mereka). Oleh karenanya, buku-buku itu harus dimusnahkan dan dihilangkan jejaknya.

“Pada 1224 H, kembali terjadi musibah besar dalam hal warisan ilmu para ulama as-salaf ash-shalih. Tentara Salafi Wahhabi yang dipimpin oleh Ibnu Qamala melenyapkan perpustakaan Hadhramaut tanpa bekas, dengan membakar dan memberangus gedung beserta ribuan kitab-kitab yang ada di dalamnya. Kejadian tersebut mirip dengan penyerangan yang dilakukan Hulagu Khan terhadap perpustakaan yang ada di Baghdad.”

Lalu saya mencoba membuka literatur lain tentang ulah Hulaghu Khan ini, dan menemukan buku yang berjudul Imperium III, karangan Eko Laksono, terbitan Mizan, 2005. Pada halaman 64-65, tertulis:
“Ini adalah tragedi yang memilukan. Dua ratus ribu orang Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan dengan mudah memasuki Baghdad…. Baghdad dihancurkan. Gedung-gedung pemerintahan dan masjid dihancurkan. Gedung-gedung perpustakaan diratakan dengan tanah. Tidak hanya itu, semua buku yang sangat berharga yang ada di sana dilemparkan ke jalan dan ke sungai, begitu banyaknya sampai-sampai sungai itu penuh tertutup buku…”

Saya lalu membayangkan, kalau saja kaum Salafi Wahhabi – yang melanjutkan tradisi bakar buku-perpustakaan dari Hulagu Khan-Mongol—ini berkuasa, dan tiba-tiba gerombolan Salafi Wahhabi datang ke rumah saya, maka saya amat yakin dan percaya, rumah saya akan dibakar dan diratakan dengan tanah. Lho, apa salah dan dosa saya? Ya, tentu saja karena di dalam rumah saya ada ribuan buku koleksi di perpustakaan pribadi saya, ditambah puluhan ribu buku yang ada di toko buku saya, yang masih bergandengan dengan rumah saya. Mereka akan mendakwa buku-buku tersebut sesat dan menyesatkan, juga mendakwah saya sebagai orang sesat dan menyesatkan pula.

Tidak berhenti sampai di situ saja, Rumah Pengetahuan Boetta Ilmoe—sebagai basis gerakan menuju masyarakat literasi—yang ada di Butta Toa-Bantaeng pun akan jadi sasaran. Soalnya, di sana pun salah dan dosanya sama, yakni karena memiliki rumah baca dan toko buku yang koleksinya juga lumayan, ribuan buku. Bagi kaum Salafi Wahhabi, buku-buku tersebut akan menjadi pemicu kesesatan dalam beragama.
Moga-moga ini hanyalah bayangan dan hayalan saya saja. Namun Anda harus waspada terhadap kaum Salafi Wahhabi, jika Anda punya perpustakaan dan seorang pecinta buku. Sebab, saya sendiri sudah lebih dari tiga kali didatangi oleh seseorang, yang penampilannya seperti yang digambarkan oleh buku Syaikh Idahram dan mengatakan bahwa buku-buku saya berbahaya dan menyesatkan. Gawat! []

MASIH PERLU DIEDIT; FILM .. BUKU MUTAKHIR

0 komentar:

Posting Komentar