Selasa, 29 Maret 2016

Arsene, Arsenal dan Arsenik





Pada penghujung putaran kompetisi sepak bola di daratan Eropa, bulan Maret 2016 ini, salah satu klub sepak bola ternama, Arsenal yang bermarkas di London Utara, Inggris, negeri leluhur asal muasal sepak bola modern mengalami nasib yang kurang beruntung. Arsenal, yang dimanejeri oleh Arsene Wenger – yang digelari Profesor-- pelatih berkebangsaan Perancis, sesarinya adalah satu-satunya klub yang singgah di hati keluarga kerajaan, khususnya Sang Ratu. Arsenal sendiri, sedari awalnya merupakan klub sepak bola yang didirikan oleh para pekerja di pabrik mesiu, meriam milik Kerajaan Inggris. Dari latar inilah, segenap keluarga kerajaan jatuh cinta.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Arsenal diartikan sebagai:  bangunan permanen tempat penyimpanan, pembuatan, dan perbaikan senjata, amunisi, dan alat-alat perang lainnya. Entah takdir apa yang membawa Arsene Wenger ke Arsenal, yang namanya identik. Bahkan, kalau saja sejarah Arsenal di-delate, bisa-bisa banyak yang mengira bahwa Arsenal dimiliki oleh Arsene, yah... Arsene Wenger. Saya sendiri, sejangkau ingatan saya, pernah berasumsi semisal itu. Maklum saja, saya mulai jatuh cinta pada Arsenal, bersamaan dengan hadirnya Arsene Wenger di Highbury, markas lama Arsenal.

Tiada sosok yang lebih menderita dari Arsene Wenger, terutama di waktu kiwari ini. Musim kompetisi 2016, yang sudah menuju senja, hampir berakhir, sekotah perburuan trofi sisa menyisakan harap pada Liga Primer Inggris. Piala Champhion sudah lepas, disingkirkan oleh Barcelona, yang menurut Arsene sendiri adalah sebuah klub dari planet lain. Sebelumnya, klub papan bawah, Watford mendepak Arsenal dari Piala FA.  Demikian pula, sejak awal musim terpental dari Piala Carling. Trofi Liga Primer makin sulit diangkat oleh para pemain, pelatih dan ofisial lalu dirayakan oleh sekaum fans, para gooners. Selisih poin yang cukup jauh dari pemuncak klasmen, Leciester City, nyaris memustahilkannya. Sebab, perburuan juara bukan ditentukan sendiri oleh Arsenal, melainkan sejauh mana klub-klub lain mengalahkan Leciester.

Suara-suara protes dari para fans Arsenal, para gooners, mulai terbelah. Tidak sedikit yang menginginkan pergantian pelatih-manejer. Mereka meinginginkan Arsene hengkang dari Emirates Stadium, markas baru Arsenal. Padahal, selama dilatih oleh Sang Professor, perolehan trofi sudah terkoleksi sebanyak  3 Liga Primer, 6 FA, dan 6 Community Shield. Namun, semuanya seolah tak berbekas. Banyak yang memperkirakan, nasib Arsene bakal menysul Mourinho di Chelsea, dan pelatih-pelatih lain yang dipecat di musim ini.

Tapi, ada hal yang menarik, salah seorang pemilik saham terbesar Arsenal, Stan Kroenke, yang mensabdakan: “ Saya tidak membeli Arsenal, untuk memenangi trofi.” Setidaknya, penabalan ini mengamankan Arsene dari sisi manajemen klub. Dan, ini pula yang membedakan dengan para gooners, mereka membeli tiket pertandingan, lalu menuntut trofi.

Kekalahan demi kekalahan, absennya dari perburuan trofi, bagi sebuah klub sepak bola, termasuk Arsenal, apatah lagi bagi pelatihnya, ibarat di depan matanya tersedia arsenik, racun. Bubuk racun mesiu sering dinamai arsenik, yang sesungguhnya merupakan unsur nonlogam dengan nomor atom 33, berlambang AS,dan bobot atom 74,9216. Arsenik ini cukup ampuh sebagai racun pembunuh seseorang, konon Munir, sang aktivis HAM, mati karena sejenis arsenik.

 Kini, pada setiap pertandingan sisa bagi Arsenal, sang Professor Arsene, di samping mencak-mencak , berteriak-teriak di pinggir lapangan, sesungguhnya, bersamaan dengan itu, berondongan arsenik dari para penonton senantiasa siap ditembakkan. Kali ini, benarlah apa yang pernah diucapkan oleh Yusuf Kalla, kala berkomentar tentang memimpin sebuah klub sepak bola, “ kalau kita kalah dalam pertandingan, maka semalam suntuk hingga pagi kita akan dicaci, sebaliknya kalau menang, maka kita akan berpesta sejak malam sampai pagi. Menang kalah sama saja, sama-sama capek.”

Meriam London -- julukan lain dari arsenal – dengan mesiu arseniknya, kali ini menohok langsung sang arsitek, Arsene. Arsenik itu bunyinya, “Arsene thanks for the memories but it’s time to say goodbye.” Atawa yang lebih menohok lagi, “Time for change, Arsenal FC not Arsene FC, #WngerOut.”  Kelihatannya kemenangan yang pernah dipersembahkan Arsene, tinggal menjadi kenangan. Memang prestasi begitu sulit diraih, tapi kekalahan amat mudah didapat. Waima begitu, masih ada juga fans yang membentangkan spanduk bertuliskan,” We Trust Arsene”, termasuk saya, yang mengaminkannya di depan kotak ajaib.

(Lembaran Kala, 27 Maret 2016)

0 komentar:

Posting Komentar