Selasa, 01 Maret 2016

Kopi, Literasi dan Labbo


Sepenggal janji saya telah tunaikan, mentandangi lagi Desa Labbo, setelah sebelumnya kembali menjamahnya beberapa waktu lalu. Cobalah ingat catatan saya yang bertajuk: Kembali ke Labbo, pada tulisan itu saya menabalkan janji untuk mewujudkan program, yang dirancang oleh Perpustakaan Fajar Desa Labbo, salah satunya adalah pelatihan literasi.

Perpustakaan Desa dan Karang Taruna Desa Labbo, berkolaborasi mewujudkan program pelatihan literasi ini, atas desakan saya, karena aji mumpung. Pasalnya, di hari yang sama, Senin 29 Februari 2016, saya akan menghadiri acara khitanan anak seorang karib, Sahar Addin, yang lokasi rumahnya cukup dekat dengan kantor desa. Maka, saya berinisiatif, jauh hari sebelumnya, mengontak bung Sirajuddin Siraj, sang kepala desa untuk bernegosiasi, guna mewujudkan janji saya.

Hasilnya, terwujudlah kesepakatan untuk melaksanakan pelatihan literasi, yang durasi waktunya, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 siang. Bertempat di aula kantor desa, yang kami format seperti suasana kafe. Inti dari pelatihan ini, membangkitkan minat membaca dan menulis, sebagai upaya untuk mencicil hadirnya tradisi literasi, dengan harapan kelak lahir budaya literasi.

Suasana pelatihan begitu santai. Saya pun bercuap-cuap tanpa beban. Soalnya, para peserta yang ikut rata-rata sudah saya kenal, apatah lagi di antara mereka sudah pasti saling kenal. Ada hal yang selalu menjadi penyemangat, tatkala saya berada di arena pelatihan ini, ketika kopi khas desa Labbo disajikan. Begitu salah seorang menyajikan di atas meja, saya langsung menyambarnya. Ibarat elang yang tak bisa menahan laparnya, saat melihat seekor anak ayam yang masih mengekor pada induknya.

Saya menuangkan kopi panas di piring alas gelas. Saya tiup-tiup perlahan, asapnya mengepul, meliuk, menari di selasar depan lubang hidung saya. Amboi, sedapnya. Maknyus kata slogan sebuah iklan kuliner di televisi. Sayangnya, kopi ini dicampur gula, padahal selera saya tanpa gula. Sebenarnya, panitia berniat mengganti jatah saya, meracik khusus kopi tanpa gula, tapi saya mencegahnya, bisa merepotkan jadinya. Namun, ke depannya saya tak bakal mentoleransi lagi, sudah harus tanpa gula.

Prihal minum kopi tanpa gula ini, saya sering dicecar tanya. Apa alasan serius di balik kopi nirmanis ini? Sesarinya, tidak ada alasan yang serius amat, cuma sering saya ungkapkan, bahwa saya ini, sudah terlalu manis untuk digulai. Pun juga saya acapkali menabalkan prinsip, jangan memperalat kopi untuk minum gula. Bukankah, cukup banyak di antara kita, keinginan latennya adalah rasa manis, namun berlindung di balik rasa pahit? Ah.... ini terlalu metafor, mungkin demikian adanya.

Sembari bercuap-cuap, berujung dan berpangkal, sesekali saya seruput kopi tubruk Labbo. Kalimat-kalimat saya bertabrakan dengan hawa dingin yang mulai merasuk. Kabut sesekali melintas di pandangan. Rintik hujan ikut bergegas. Walau begitu, badan saya tetap hangat, sehangat kopi yang sudah mulai menyentuh pantat gelas. Di pucuk waktu yang berbatas janji, jelang pukul 12.00, sebelum pelatihan diusaikan, saya mengusulkan kepada para peserta, pegiat di Karang Taruna dan pengurus Perpustakaan Desa, agar membuat group di facebook untuk menjadi ladang praktek menulis. Dan, dari group ini, saya akan memantau, sekaligus mengedukasi para anggota yang mengirim tulisan. Lalu lahirlah group Literasi Desa Labbo.

Pascapelatihan, saya pamit, ingin bergeser ke acara yang lain, tepatnya menghadiri undangan karib yang khitanan itu. Setiba di rumah hajatan, sambutan lagu-lagu qasidah, dari sebuah group electone, mendayu-dayu, ikut mengiringi langkah-langkah saya menaiki rumah panggung. Disapanya saya dengan ramah oleh tuan rumah, disilakan untuk mencicipi sajian makan siang yang berbahan daging kuda. Wow...ini sebentuk makanan langka bagi saya. Rasa lapar yang mendesak, tak perlu basa-basi, saya ceburkan diri dalam kelezatan santap siang. Sebelum beranjak dari acara khitanan karib ini, tak lupa saya menunaikan kebiasaan saya, memberikan kado, berupa buku, yang berjudul, Mencetak Anak Genius. Bagi saya, tindakan ini, masih merupakan wujud dari penggalan gerakan literasi.

Sehari setelah pelatihan literasi ini digelar, setiba di mukim, Kota Makassar, saya berselancar di dunia maya, menyelam masuk ke akun facebook saya, rupanya, gagasan akan group itu sudah diwujudkan. Kelihatannya dibuat oleh pegiat Karang Taruna, yang digawangi bung Chiwank To Barakka. Meski anggotanya belum banyak, namun postingan tulisan sudah mulai nampak. Puisi, berita, cerita singkat, ucapan terimakasih telah menghiasi beranda group ini. Saya lalu membatin, bila saja group ini dinamis dalam postingan-postingannya, tidak menutup kemungkinan, tulisan-tulisan yang berserak ini bakal bersatu dalam satu buku. Pikiran saya mekar, hati pun berbunga-bunga membayangkannya.

0 komentar:

Posting Komentar