Selasa, 16 September 2014

API


aku bukanlah seorang pemuja api
walakin hasratku menggebu
untuk bertutur sepenggal cerita
tentang nasib api yang penasaran


baru saja negeriku usai hajatannya
perhelatan Porda XV dan Paralimpic III Bantaeng
diawali pengoboran api tanda mulai
pemadaman api sebagai akhir

api porda demikian nama ditasbihkan
adanya amat menentukan
awal dan akhir maksud

mulanya dilahirkan layaknya bayi
sepenuh hati membujuknya
mantra pemantik dilantunkan
biar lidahnya menjulur membakar tungku

jilat liar api meliuk
pesemaian pun digelar
pada sebuah wadah sakral
lalu disemayamkan menunggu perayaan

api porda api murni
hasil gesekan seorang empu
buah mantra leluhur
sederhana dalam laku

kala pengoboran disulut
api mengembang sesungging senyum
khalayak histeria
bagi api saat itu ibarat aqiqah baginya

sepekan gelaran hajatan bergelora
tibalah masa yang menggetarkan
menggetirkan bagi api
nasib apa yang menghadang di depan

perhelatan usai
api mesti dipadamkan
pesta harus diakhiri
sang api kelimpungan

minus ritus
tanpa mantra penjinak
nirlaku bujuk
ia dimatikan

riwayat api tamat
dipaksa mati meski penasaran
bersama kesetiaan senja yang pulang

aku sebagai makhluk
di dalam tubuhku ada kembaran api
kurasakan sedih tak terkira

apiku bergumam
setiap yang dipaksa mati
kelak nanti memberi warta
datang menagih janji

0 komentar:

Posting Komentar