Selasa, 28 Juni 2016

Pensucian Jiwa




Sekali waktu, Bung Karno mengutip seorang penyair besar dari Firinze, Italia, Dante Aligheri, lewat karyanya, Divine Commedia, tentang purgatorio, suatu tempat pensucian dari inferno (neraka) menuju paradiso (surga). Dalam karya imajiner Dante itu, seolah melakukan perjalanan dari kesaksiannya akan neraka dan tempat pensucian, lalu ke surga. Singkatnya, ada sejenis simpulan imaji, bahwa untuk sampai kepada kesucian, terbebas dari kekotoran, maka pensucian menjadi titian yang harus dilewati.

Bertolak dari gagasan imajiner itu, tentang pensucian agar sampai pada kesucian, saya ingin menyederhanakan soal pensucian ini lewat peristiwa sehari-hari. Sebagai amsal saja, ketika ada pakain kotor yang ingin dibersihkan, agar menjadi nirmala, maka haruslah disucikan lewat mekanisme pencucian. Mencuci pakaian itu. Dan, setidaknya, ada empat tahapan dalam mencuci pakaian kotor, baik lewat cara manual maupun melalui mesin cuci.

Langkah pertama yang mesti dilakukan, dengan merendam pakaian itu bersama diterjen. Setelahnya, dikuceklah atau diputar sedemikian rupa oleh mesin cuci. Selanjutnya, dilakukan pembilasan. Membilas pakain itu, hingga berkali-kali, sampai dianggap bahwa sudah tidak berditerjen lagi. Tindakan terakhir, mengeringkannya lewat mesin cuci atawa memerasnya lalu dijemur. Proses dari yang paling awal sampai akhir tindakan, mencerminkan perjalanan bagaimana selembar pakaian kotor, bila ingin dibersihkan, maka harus tunduk pada mekanisme pencucian ini.

Seperti halnya, tatkala seseorang ingin membersihkan dirinya, maka untuk sampai kepada kebersihan diri, haruslah memandikan dirinya. Mandi adalah sejenis tindakan membersihkan diri. Dalam proses pemandian, pun ada mekanisme yang standar. Paling tidak mengikuti empat tahapan, seperti halnya dalam mencuci pakaian. Setiap diri mesti lebih dahulu membasahi seluruh tubuhnya dengan air. Sesudahnya, digosoklah badan dengan memakai sabun, lalu membilasnya hingga busa sabun itu raib. Dan, paling akhir menegringkan badan dengan handuk atau yang sejenisnya. Mekaisme mandi ini, bakal menghasilkan tubuh yang bersih, segar dan bugar.

Analogi pencucian pakaian kotor atau memandikan badan dari setiap diri, dapat saya sepadankan, tatkala ingin mengedapankan cara membersihkan ruhani, mensucikan jiwa. Pensucian jiwa mesti dapat pula diajukan mekanisme dalam rangka mengkuduskannya. Bila putaran hidup selama setahun memangsa waktu dua belas bulan, maka ada satu bulan yang dikhususkan sebagai bulan pensucian di kalangan umat Islam. Bagi kaum yang memeluk Islam sebagai agamanya, bulan Ramadhan adalah sejenis fasilitas untuk mensucikan jiwa, guna mentahrirkan dirinya dari segala macam noda keruhanian.

Tak mengapalah bila saya mengadaptasi empat mekanisme pencucian pakaian atau pemandian jasmani ke dalam pensucian jiwa di bulan Ramadhan. Anggaplah selama bulan Ramadhan itu saya bagi menjadi empat pekan. Maka pekan pertama bersetuju dengan perendaman jiwa, agar jiwa menjadi lebih mudah dikucek sekaligus diputar pada pekan berikutnya. Pada pekan ketiga Ramadhan, selayaknya setiap insan mulai membilas jiwanya untuk mempersiapkan diri memasuki pekan keempat, guna menjemur jiwanya, agar di hari fitri, saat lebaran, benar-benarlah yang nampak adalah saridiri. Jiwa yang khalis bin mukhlis.

Pada konteks inilah, dalam bulan Ramadhan mendedahkan beberapa fasilitas pensucian yang disiapkan sebagai diterjen atau sabunnya, guna membantu pengkucekan jiwa. Tersebutlah, bahwa bulan Ramadhan ini adalah bulan berkah, rahmat, dan ampunan. Yang darinya membuahkan pengiring sebagai bulan berbagi, berkhidmat dan rekonsiliasi jatidiri.

Disematkannya bulan Ramadhan sebagai bulan penuh berkah, sebab di dalamnya segala macam perbuatan baik diberi ganjaran keberkahan, berupa kelebihan manfaat dari biasanya. Secara kuantitatif, pahala amal baik dilipatgandakan jumlah hitungannya. Karena memang sedarinya, pengertian berkah adalah adanya nilai lebih atas manfaat yang diberikan dari situasi umum. Tindakan biasa, namun membuahkan hasil yang luar biasa.

Pun ketika dititelkan pada bulan Ramadhan selaku bulan rahmat, karena pada bulan inilah sepatutnya rasa saling menyayangi sesama diumbar semaksimal mungkin. Bulan kasih sayang dimaknai sebagai upaya berbagi kasih sayang kepada yang amat membutuhkan. Orang-orang yang jauh dari sentuhan kasih, sedapatnya pada bulan inilah sebagai lahan untuk mendapatkannya. Insan-insan yang luput dari elusan sayang, sesungguhnya lewat bulan ini berhak meraih kesungguhan dari para penderma.

Dan, digelarinya bulan Ramadhan serupa bulan ampunan, lantaran Tuhan menggelontorkan ampunannya. Kewajiban insanlah memohon ampunan itu. melalui pertobatan. Melafazkan zikir dan doa, merapalkan serona mantra pembujuk pada Ilahi, agar siraman ampunan bertubi-tubi hadir mengada, dalam wujud jaminan keselamatan di dunia dan akhirat. Tiada yang lebih diimingkan oleh seorang budak pada tuannya selain dari ampunan kala bersalah. Begitu juga, tak ada yang bakal diidamkan oleh seorang hamba ke Tuhannya, melainkan terhapusnya dosa.

Insan yang terberkahi, dilimpahi rahmat dan diampuni, adalah insan yang berhasil meraih predikat takwa, sebagai buah dari kelulusan di madrasah ruhaniah pada bulan Ramadhan. Refleksinya, tercermin pada makin kuatnya keinginan untuk berbagi, pengkhidmatanya seolah tak terbendung dalam melayani sesama dan seraut wajah yang penuh pesona, serupa persona yang mampu merekonsiliasi dirinya. Jadi, bulan Ramadhan adalah titian pensucian jiwa agar dimensi keruhanian setiap diri menemukenali saridirinya.
(Edunews, 19 Juni 2016)

0 komentar:

Posting Komentar