Minggu, 12 April 2015

PENASEHAT


Ahad yang tak bergerak, menikmati damainya mukim, jeda tidak merayap kemana-mana. Semula sahaya takjub, bahkan sudah cenderung iri, terhadap beberapa orang di sekitar, sebab karena posisi sosial-ekonominya begitu agung, sehingga di mana-mana menjadi penasehat atas organisasi-organisasi sosial. Sampai-sampai terkadang tak diketahuinya lagi bahwa ia menjadi penasehat di organisasi tertentu. Pada gundah yang memoncer, Guru Han merapat di mukim, merapalkan nasehat: " Tiadalah guna menjadi penasehat di berbagai penjuru mata angin, kalaulah lupa menjadi penasehat atas mata diri. Paling penting menasehati diri, agar tidak merasa perlu untuk selalu menjadi penasehat. Diri yang ternasehati, sesungguhnya amat sehat untuk menyehatkan para penasehat yang lupa akan nasehat."

0 komentar:

Posting Komentar