Rabu, 06 April 2016

Fahri Hamzah



Dunia politik selalu memberi kejutan. Tidak peduli, siapa saja bisa terkejut, termasuk para politisi yang terkejut atas nasib dirinya. Para politisi, terkadang lebih mahir menganalisis sesuatu yang di luar dirinya, tinimbang dirinya sendiri. Inilah realitas jagat berbangsa dan bernegara, wajahnya penuh ketidakpastian. Tak ada salahnya bila saya membenarkan sejumput ungkapan, bahwa dunia saat ini adalah kawasan yang terbirit-birit, sesiapa saja yang melata di atasnya, pasti ikut terbirit-birit.

Pekan pertama bulan April 2016, antara tanggal 1-3, banyak warga bangsa yang terkejut, termasuk saya yang amat awam dalam pengamatan perkembangan politik negeri. Betapa tidak, seorang politisi dipecat dari partainya, secara tumpas kelor. Dipecat dari seluruh struktur kepartaian, lewat secarik Surat Keputusan DPP PKS Nomor 463/SKEP/DPP-PKS/1437. Bahkan, dua hari setelah pemecatan itu, barulah benar-benar saya percaya bahwa Fahri Hamzah, seorang politisi yang karir politiknya cukup bernas, dipecat oleh partainya. Pemecatan ini, bagi saya, melampaui keterbiritan saya atas kasus yang menyetubuhi Lutfi Hasan Ishak sang mantan Presiden PKS, atawa Mohamad Sanusi dari Gerindra yang tersandung kasus korupsi, pun Setia Novanto dengan Golkarnya.

Dari peristiwa pemecatan Fahri ini, saya pun bergairah untuk ikut angkat pena untuk menuliskan catatan atasnya, tetapi tidak dengan menggunakan analisis politik. Saya takut salah analisis, dan bisa saja saya makin terbirit-birit karenanya. Kelihatannya lebih mudah jikalau saya membidiknya dengan logika analogi, tepatnya menggunakan permainan sepak bola sebagai analogi dalam membingkai nasib Fahri, waima saya pun bukan komentator bola, melainkan semata penikmat permainan sepak bola.

Sejatinya Fahri, ibarat pemain bola, Fahri adalah seorang pemain bintang. Karirnya dimulai saat masih berkuliah, ia adalah jebolan akademi (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), yang dalam banyak hal merupakan sumber kader potensial bagi Partai Keadilan (PK), yang belakangan hari berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Jadi, dalam tataran ini -- sekali lagi dengan analogi-- saya mengumpamakan KAMMI adalah sejenis akademi sepak bola yang memasok pemain ke PK/PKS, yang mendidik calon-calon pesepak bola profesional, yang kemudian akan melahirkan bintang-bintang sepak bola: para pesohor politik, politisi profesional. Meski demikian, relasi PK/PKS dengan KAMMI banyak perspektif yang menyertainya, tidak bisa dilihat secara hitam putih. Pun tidak selalu jebolan KAMMI otomatis menjadi politisi, apatah lagi menjadi kader PKS.

Sebagai pemain bola profesional yang masih muda kala itu, selepas dari akademi KAMMI, Fahri mulai terlibat dengan diskursus politik. Bahkan, di awal karir profesionalnya, Fahri terpilih menjadi staf ahli Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 1992-2002. Nanti kemudian PK dideklarasikan sebagai klub profesional, Fahri pun memilih habitat politik, yang amat senafas dengan latarnya, yaitu PK. Dan, sejak itu, Fahri terus bermain untuk klub PK hingga PKS, sampai akhirnya Fahri dipecat oleh klubnya sebagai pemain profesional.

Sepak terjang Fahri sebagai pesepak bola profesional -- eh... maksud saya, politisi profesional -- menorehkan begitu banyak prestasi. Fahri adalah salah seorang bintang yang mengantarkan klub PK-PKS menjadi klub papan atas. Bahkan, ketika hampir saja klub ini terdegradasi akibat ulah kapten klub, Lutfi Hasan Ishak, yang tersandung pengaturan skor, Fahri adalah salah seorang pemain garda depan, yang mati-matian pasang badan, bermain tanpa lelah, bila perlu bermain kasar, tidak takut kartu merah, apalagi kartu kuning, hingga larangan bermain sementara, semuanya dilabrak.

Kontribusi yang begitu signifikan atas klub, akhirnya membawa Fahri menjadi salah satu pemain kebanggaan klub. Memang Fahri tidak menjadi kapten kesebelasan, walau sesekali Fahri berfungsi sebagai kapten di saat-saat tertentu. Prestasi yang paling cemerlang selaku pemaian bintang, Fahri pun di dapuk selaku pemaian nasional, dengan posisi penting, gelandang serang di kesebelasan nasional, DPR RI, sebagai wakil ketua DPR. Bahu membahu dengan rekan sejawat dari klub lain, Setia Novanto (Golkar) dan Fadli Zon (Gerindra). Mereka bertiga sering disebut trisula pemenangan pertandingan, guna meloloskan kepentingan-kepentingan politik. Ketiganya memang solid satu sama lain, sebagai trio yang sekelas Messi, Suarez dan Neymar (MSN) di Barcelona.

Selaku pemain bintang, Fahri, tentulah tidak sepi dari kontroversi. Namanya juga bintang, yang jauh di angkasa, berkelap-kelip, membuat mata kita kadang tak berkedip, menyaksikan gaya atraktif yang dipertontonkan. Makin kontroversial seorang pemain, maka kebintangannya pun makin mengangkasa. Guna memelihara keperkasaan di angkasa, maka citra pun harus selalu dijaga, sebagai pemain kontroversial. Kadang bermain kasar, diving, memprovokasi pemain lawan, mengkritik kepemimpinan wasit dan menghardik inspektur pertandingan, membloon sesama pemain, hingga menyalahkan para penonton.

Kontroversi demi kontroversi didedahkan Fahri, membuat klub merasa tidak nyaman. Apatah lagi, selaku pemain bintang, cenderung bermain solo, ingin cetak bola sendiri. Padahal klubnya Fahri, memegang teguh filosofi sepak bola sebagai tim, yang tak terlalu mementingkan kebintangan. Dan, puncaknya tatkala terjadi pergeseran kepemimpinan di klub, pelatih berganti --maksud saya Dewan Syura-- juga ban kapten diserahkan pada kapten baru -- sebutan saya Presiden Partai -- yang kesemuanya menginginkan agar klub ini, PKS, kembali bermain seperti sediakala, santun dalam bermain politik, tunduk pada kolektivitas permaianan.

Akhirnya, dengan kebijakan klub yang baru itu tidak lagi mempan, untuk mengontrol kesoloan Fahri dalam bermain, karena kebintangannya, klub PKS pun kemudian memecatnya. Fahri terkejut, bahkan mulai terbirit-birit. Fahri mulai menyerang mantan klubnya, akan membawanya ke pengadilan yang bukan FIFA. Fahri kelihatannya sendirian menghadapi pemecatan ini. Tidak ada suara protes dari rekan seklubnya, Fahri hanya ditemani oleh pengacaranya yang menegaskan gugatan. Dan, segelintir suporter dari daerah pemilihan Fahri, di NTB.

Memang, setiap bintang yang jatuh dari langit, selalu menyisakan lubang besar di bumi. Jatuhnya kebintangan Fahri, membekaskan sesak di dada para pengagumnya dan amat pedih di jiwanya. Fahri kali ini amat layu berhadapan dengan kamera. Dan, saya yang melihatnya, mirip bunga yang diterpa terik dan kekuarangan air. Boleh jadi, kebintangan Fahri bisa bersinar lagi, bila saja ada klub-partai baru yang disinggahinya, atawa sekalian gantung sepatu lalu menjadi pengamat bola-politik, sambil berjuang melawan diri sendiri, merevitalisasi jiwanya. Jikalau tidak, maka kebintangan pun tinggal angan, dan hanya kebinatangan yang bersetia.

0 komentar:

Posting Komentar