Kamis, 03 Januari 2013

AHMAD SAHIDE



“API INGATAN SEJARAH”
Oleh Sulhan Yusuf

 
 Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tgl 7 mei 2011, Boetta Ilmoe kedatangan seorang penulis, Ahmad Sahide dari Yogyakarta, guna mendiskusikan bukunya yang berjudul: Kebebasan dan Moralitas. Dalam diskusi buku yang dihadiri kurang lebih 30 orang dari berbagai elemen kaum muda di Butta Toa –Bantaeng. Mereka dari unsur LSM, Koskar PPB, FMBT, Pentolan HPMB, Penggiat Sosial dan Guru. Diskusi buku di Rumah Baca Boetta Ilmoe, merupakan agenda rutin, di samping kegiatan lain, semisal pelatihan peningkatan minat baca-tulis.
            Ahmad Sahide dalam presentasi muatan pemikiran dalam bukunya, tak lupa pula menyisipkan kiat-kiat menulis, sehingga tulisan tersebut bisa jadi buku. Ada satu hal yang menghujam dalam pikiran saya, ketika Ahmad Sahide mengeluarkan suatu ungkapan, “api ingatan sejarah’. Menurutnya, hanya dengan menuliskan apa yang kita lihat, dengar dan rasakan, api ingatan sejarah dapat terdokumentasi. Terus terang ungkapan tersebut mencerahkan dan  menggairahkan saya untuk menulis kembali, sebagai suatu aktivitas yang dulu amat sering saya lakukan.
            Kata-kata sakti itu mengingatkan kembali pada seorang guru pencerah dalam dunia baca-tulis, yaitu Mas Hernowo, yang telah begitu produktif menulis banyak buku, selain juga sering memberikan pelatihan-pelatihan dalam hal baca tulis. Buku Quantum Reading, Quantum Writing, Mengikat Makna, adalah buku-buku yang beliau tulis sebagai buku how to  yang sangat mumpuni bagi  para peminat di bidang baca-tulis. Dan dari buku-buku tersebut di samping mengikuti trainingnya, saya banyak belajar untuk melakukan aktivitas pelatihan di bidang peningkatan minat baca-tulis.
            Keesokan harinya, saya mengajak Ahmad Sahide untuk mengunjungi sebuah pesantren di pelosok, tepatnya pesantren As’Adiyah Ereng-Ereng Tompobulu Bantaeng. Apa motif saya sehingga saya mengajak ke pesantren tersebut? Setidaknya ada dua hal. Pertama, ternyata Ahmad Sahide adalah salah seorang alumni dari pesantren tersebut. Kedua, dan ini yang amat penting bagi saya, karena terkait langsung dengan aktivitas saya dalam bidang pelatihan peningkatan minat baca-tulis. Saya ingin mempertemukan Ahmad Sahide sebagai seorang penulis dengan ‘binaan’ Boetta Ilmoe, yang setahun lalu saya melakukan pelatihan Quantum Training (Learning, Reading dan Writing) di pesantren tersebut. Hal mana, sebagai buah dari pelatihan itu, akan kami terbitkan sebuah buku memorian para santri untuk dipersembahkan kepada almamaternya. Dan  buku tersebut sudah kami terbitkan, lewat kerjasama antara Boetta Ilmoe, IKAKAS dan pesantren As’Adiyah Ereng-Ereng, dengan judul Bunga-Bunga Kertas.
            Acara jumpa penulis yang kami lakukan di pesantren As’Adiayh, yang dipandu oleh Ahmad Rusaidi – seorang alumni sekaligus guru dan motivator baca-tulis di pesantren-- rupanya disambut baik oleh pihak pesantren, terbukti dengan kehadiran salah seorang pembina sekaligus guru, yaitu ibu Najmah. Karena bagi saya, salah satu cara membangunn gerakan sosial peningkatan minat baca-tulis adalah dengan jalan memperlakukan penulis ibarat ‘selebriti’, harus dientertainkan, agar para remaja kita punya alternatif idola, berupa seorang penulis, sehingga tidak menutup kemungkinan ada diantara mereka para siswa yang ratusan jumlahnya itu, bercita-cita menjadi penulis.
            Dalam dialog dengan para santri As’adiayh, Ahmad Sahide tak lupa memberikan tips-tips menulis, terutama bagi penulis pemula. Respon dari para santri begitu menggelora, sehingga diantara mereka ada yang bertanya tentang beberapa hal dalam dunia kepenulisan. Dan saat yang tepat bagi saya untuk ‘membajak’ Ahmad Sahide agar menulis catatan pengantar untuk buku yang ditulis oleh para santri, yang juga tiada lain adalah adik-adiknya di As’adiyah. Rupanya jebakan saya berhasil, dan ia pun menulis catatan untuk buku yang kami terbitkan – Bunga-Bunga Kertas-- dengan judul, “ Memusiumkan  Secarik Pengalaman dengan Tulisan.”
            Setelah acara jumpa penulis di pesantren, kami pun bersantap siang di rumah Ahmad Rusaidi, ditemani dua orang kawan lama Ahmad Sahide sewaktu masih di pesantren. Nuansa nostalgia mengiringi perbincangan mereka,  dan saya pun menikmati canda tawa mereka yang cukup membahagiakan. Dalam hati pun saya berkata, bahwa masa sekolah adalah masa-masa yang membahagiakan, masa-masa ketika kita malu pada semut merah yang berbaris di dinding, kata Obby Mesakh. Melihat mereka berbahagia, saya pun turut merasakan kebahagiaan itu. Rupanya, energi positif berhasil mengalir dan menyebar saat itu.
            Usai acara tebar bahagia di rumah Ahmad Rusaidi, saya dan Ahmad Sahide meluncur ke desa Labbo, untuk melihat perpustakaan desa yang kini telah menjadi percontohan perpustakaan desa secara nasional. Setiba di desa Labbo, aura kebahagiaan segera menyelimuti kami –seperti telah saya tuliskan, “Mari Belajar ke Desa Labbo”—rupanya perjalanan hari itu dengan seorang penulis, bagi saya merupakan perpindahan dari kebahagiaan yang satu menuju kebahagiaan yang lain. Mendapatkan kebahagiaan, ternyata tidak harus mahal secara material, dan “api ingatan sejarah” pun saya telah torehkan.

0 komentar:

Posting Komentar