Kamis, 03 Januari 2013

IRONI





Perjalanan merenda asa, aku terkesima dengan alam sekitar. Maka pelajaran hidup pun makin asyik untuk dikencani. Sebab, makna-makna kehidupan akan semakin mengalir pada diri, lewat keajaiban semesta.

Benar-benar ironi. Hanya karena engkau melempar sebiji garam ke laut, engkau sudah merasa menggarami laut. Sehingga semua rasa asin dari laut itu, seakan hasil jerih payahmu. Padahal, sebiji garam itu adalah hasil memungut di ladang petambak garam.

Betul-betul ironi. Hanya karena engkau meneteskan rasa manis pada gula, engkau sudah menganggap semua rasa manis itu adalah hasil buah pikirmu. Padahal, rasa gula setetes itu adalah hasil memalak kembang gula dari anak kecil yang lagi asyik menghisapnya.

Lagi-lagi ironi. Hanya karena engkau memantikkan sebatang korek, engkau berbicara telah membakar matahari. Sehingga sinar matahari yang menyinari alam adalah hasil pekerjaan tanganmu. Padahal, korek yang engkau gunakan hanyalah hasil meminjam dari para pecandu nikotin.

Tragis memang kehidupan, karena semua keajaiban-keajaiban yang terjadi di sekitar, engkau nyatakan dirimulah penyebabnya.

Seharusnya, malulah pada petambak garam, yang telah menghasilkan bermilyar biji garam, tapi tidak pernah merasa menggarami laut.

Sejatinya, belajarlah pada lebah, yang memproduksi madu manis , tapi tak pernah beranggapan memanisi gula.

Selayaknya, teladanilah bulan yang memantulkan cahaya, tapi tidak pernah berbicara sebagai pembuat cahaya, apalagi menampik cahaya matahari. 

Akan lebih elok, jikalau semangkok sayur rasa hambar, engkau beri sebiji garam agar lebih berasa.

Akan lebih indah, jikalau kepahitan hidup merajalela, engkau beri setetes rasa manis, sehingga hidup makin berarti.

Atau nyalakanlah sebatang lilin kala gelap gulita, supaya ada secercah cahaya sebagai penuntun.

Kesemua itu, akan jauh lebih baik dalam memberi makna pada kehidupan, daripada engkau menyatakan klaimmu atas semua keajaiban.

0 komentar:

Posting Komentar