Kamis, 03 Januari 2013

RAGAM

Kutorehkan suratku ini, buat Nabila Az-Zahra dan generasinya.


Duhai anak-anak negeri yang berseragam putuh abu-abu, mengapa masih saja enggan meminum anggur kehidupan yang kutawarkan, walau hanya secawan. Ataukah madu pencerahan, walau hanya sesendok. Begitupun juga api kreatifitas, walau hanya sebagai pemantik.

Memang amat susah bagimu memilih, padahal ada sekian banyak pilihan. Engkau lebih suka pada yang serba seragam, seperti seragam yang engkau kenakan, putih abu-abu.

Padahal seragammu kini, hanyalah akumulasi dari seragam-seragam sebelumnya. Ketika engkau di Sekolah Dasar, engkau diseragamkan dengan putih merah. Ketika engkau di Sekolah Menengah, pun masih diseragamkan dengan putih biru.

Makanan, minuman dan tempat tujuanmu pun sudah seragam. Makanan pavoritmu, pizza. Minuman kesukaanmu, coca cola. Tempat pelesiranmu, mall.

Wajarlah kalau pikiranmu pun serba seragam. Engkau amat sulit menerima yang beragam. Kuingatkan kembali, bahwa hidup ini pijakannya adalah beragam dalam keragaman. Yang demikian itu adalah takdir kehidupan. Bukankah kita ditakdirkan untuk beragam, dan itu firman Yang Maha Penakdir.

Terakhir, masih saja ingin kutawarkan padamu, dan kunyatakan padamu, bahwa pelangi masih lebih indah dari warna seragammu. Meski engkau tumpuk mulai dari Sekolah Dasar, Menengah hingga Atas. Sebab, hanya selalu dua warna yang mengiringi pertumbuhanmu.

Orang-orang besar jiwanya, para utusan yang suci, aktor-aktor perubahan, tidak tumbuh dalam didikan dua warna, tetapi dalam banyak warna. Karena dengan mengenal banyak warna, mereka bisa membaca sekaligus menaklukkan warna-warni kehidupan. Dan yang lebih penting untuk engkau ketahui, mereka tidak pernah memakai seragam, apalagi berseragam dalam pikiran dan tindakan.

0 komentar:

Posting Komentar