Kamis, 03 Januari 2013

GENERASIKU

Selembar maklumat buat Saffana Mustafani


Anakku, hari ini abimu menulis surat untukmu, dan juga untuk generasimu, yang engkau bisa baca di masa depan. Tentang hal-hal masa kini, yang semoga saja tidak lagi engkau jumpai dizamanmu kelak. Sebab, cukuplah abimu yang menderita karenanya.

Anakku, hari  ini baru saja abimu menyaksikan dan merasakan kekecewaan tentang generasi anak zaman, yang mengelabuiku.

Anakku, abimu benar-benar terpedaya. Betapa tidak, abimu mengira dia seorang perempuan, tapi ternyata dia seorang waria. Wasengi ana’ dara, calabai ro paleng. Kuareki baine, kawe-kawe pale’.

Abimu mengira, dia itu pemimpin untuk generasinya, ternyata dia tidak lebih dari seorang pecundang. Abimu terpesona, karena pikirannya selalu merujuk pada teori-teori perangnya Tsun Tsu, menyatakan dirinnya bak seorang Samurai. Ternyata, dia tidak sanggup menegakkan kepalanya karena terlalu rumitnya teori-teori itu untuk dipraktekkan. Pedang samurainya, tak mampu dia tebaskan, karena dia tak pernah bisa, mengayunkan pedangnya.

Abimu menyangka, dia itu salah seorang yang akan menyebabkan cakrawala tenggelam dalam dirinya, tetapi ternyata, justeru dialah yang tenggelam dalam cakrawala. Berasyik masyuk bersama cakrawala. Bermabok ria tentang matinya kehidupan.

Karena sudah tenggelam dalam cakrawala, maka dosa dianggap sebagai ritus. Para pendosa didefenisikan sebagai teladan, perbuatan dosa sebagai suatu kewarasan. Para penentangnya dituduh sakit jiwa, gila dan picik.

Anakku, saat ini orang-orang sibuk menghias raga, mempercantik jasmani, lupa membenahi jiwa, apalagi mengurus ruhaninya. Orang-orang lebih memilih jalan ‘si jasman”, tinimbang jalan “si rohani”.

Anakku, abimu hanya berusaha sekuat tenaga untuk menahan laju kegilaan zaman ini, semoga tidak terseret pada arusnya. Agar engkau dan generasimu kelak, hanya menyaksikan kegilaan zaman kami lewat museum kehidupan.

0 komentar:

Posting Komentar