Kamis, 03 Januari 2013

FORUM LINTAS AKTOR



YANG TERINGAT DARI FORUM LINTAS AKTOR (FLA)
Oleh Sulhan Yusuf



            Ada keinginan yang sangat kuat untuk menuliskan sejumput catatan, atas suatu momentum yang cukup penting bagi perubahan yang digadang-gadang di Butta Toa-Bantaeng. Yakni, digagasnya sebuah Forum Lintas Aktor (FLA), yang kemudian dikonsolidasikan dalam sebuah acara Lokakarya, dan dilanjutkan dengan ekspose hasil lokakarya, dengan harapan ada tebaran spirit bagi berbagai elemen masyarakat, menuju perubahan, seperti apa yang diimpikan.
            Saya  sendiri kemudian terlibat dalam forum tersebut, dikarenakan oleh adanya anggapan bahwa saya termasuk salah seorang aktor perubahan di Butta Toa-Bantaeng. Benarkah demikian? Sebab tanya  saya ajukan, karena perubahan apa yang telah saya lakukan, sehingga predikat aktor perubahan dapat disandangkan pada saya. Terus terang ada pikiran galau dengan adanya penobatan itu.
Tetapi, semuanya bermula dari adanya memo yang diberikan oleh  Zaenal Asri (Manajer TB. Boetta Ilmoe), ketika saya tiba di Bantaeng. Dua baris tulisan pada secarik kertas bertuliskan nama Kr. Nini dan nomor kontak. Dan kata Zaenal; “Ada dari FLA yang mau wawancara”. Jujur saya katakan, saya acuh dengan info itu, karena tujuan waktu itu ke Bantaeng adalah menghadiri acara Isra’ Mi’raj dan penamatan santri-santri Pesantren As’adiyah Ereng-Ereng, serta launching buku Bunga-Bumga Kertas, yang kami terbitkan lewat Boetta Ilmoe.
Setelah pulang dari Ereng-Ereng barulah saya janjian ketemu dengan Kr. Nini untuk tujuan yang dimaksud, tetapi hingga waktu yang saya siapkan beliau tidak muncul, dan nanti agak larut baru ada smsnya, meminta maaf  karena rapat di FLA belum selesai. Esok harinya, saya pun balik ke Makassar, membawa rasa penasaran dan berbagai tanya, tentang maksud dari rencana wawancara yang batal itu.
Saat perjalanan balik ke Makassar, di atas mobilnya Codda-D2 – angkutan umum langganan saya—masih penasaran juga dengan FLA itu. Sejenis mahluk apa itu FLA? Akhirnya, saya coba-coba kontak seorang kawan, Dion Baharuddin – dedengkotnya Komplen—mengkonfirmasi dan sekaligus menanyakan mahluk FLA itu. Dari Dion lah saya kemudian mendapatkan gambaran awal bahwa FlA itu adalah Forum Lintas Aktor daeng !. Dan menurut Dion, oleh kawan-kawan di FLA saya dikagorikan sebagai salah seorang  aktor. Seorang Aktor, benarkah?
Tiba di Makassar, dengan pikir pendek, saya langsung kontak Kr. Nini mengkonfirmasi prihal bagaimana dengan jadwal dan teknik wawancara, bahkan saya usul, kirim saja daftar pertanyaannya lewat email dan nanti saya jawab. Tapi oleh beliau disyaratkan pentingnya ketemu secara personal, karena rupanya hasil wawancara itu akan dipublikasikan pada acara lokakrya. Dan kemudian, saya diberi no kontak seseorang yang bernama Andi Hera, yang akan mewawancarai di Makassar.
Masih dengan pikiran yang pendek, saya pun langsung kontak Andi Hera untuk mewujudkan acara wawancara itu. Dan beberapa hari kemudian, wawancara pun berlangsung di salah satu cafe di Makassar. Dari proses wawancara itulah, saya dapatkan gambaran tentang yang dimaksudkan dengan aktor. Dan dari kriteria-kriteria yang diajukan, amat sangat memungkinkan untuk mengkaatgorikan saya sebagai salah seorang aktor perubahan di Butta Toa-Bantaeng.
Gambaran tentang yang dimaksud dengan aktor perubahan adalah, mereka yang telah melakukan aktivitas-aktivitas perubahan, tetapi tidak dikenal, mereka bekerja tanpa founding (penyandang dana), dan gerakan yang dilakukan berpengaruh pada adanya perubahan pada level individu, kelompok, masyarakat dan warga. Lalu apa kaitannya dengan perubahan yang telah saya lakukan? Menurutnya, saya telah melakukan geraakan peningkatan minat baca-tulis, mendirikan rumah baca-taman baca dan perpustakaan serta melakukan pelatihan-pelatihan.
Rupanya, perbuatan saya itulah yang kemudian menyeret menjadi aktor perubahan, khususnya di bidang peningkatan minat baca-tulis (literasi). Sebab selain saya ada juga aktor-aktor lain, pada bidang semisal; perencanaan desa, lingkungan, kesehatan, kebidanan, kebersihan, yang kesemuannya berjumlah 35 Orang. Dan dari jumlah 35 orang ini, yang kemudian dikonsolidasikan lewat FLA, yang difasilitasi oleh ACCESS-AusaID untuk menyelenggarankan lokakarya, guna merumuskan apa yang akan dilakukan pada saat ekspose hasil-hasil lokakarya lewat perayaan para aktor.
Lokakarya yang berlangsung pada tanggal 16 Juni 2011 bertempat di  gedung Pertiwi Bantaeng, dengan fasilitator Haerullah Lodji (Oji). Lokakarya terselenggara seperti yang diharapkan, mengumpulkan para aktor untuk merumuskan Bantaeng yang diimpikan dengan berpijak pada apa yang masing-masing para aktor perubahan telah lakukan. Yang kemudian dibungkus dalam satu tema “Menebar Semangat untuk Mendorong TKLD yang Lebih Baik di Kabupaten Bantaeng”.
Mengumpulkan para aktor tersebut dalam satu lokakarya, sama halnya mengumpulkan para bintang perubahan, seperti kata Oji. Kalau saja boleh saya katakan, lokakarya itu akan melahirkan dream team, team impian. Ibarat dalam team sepak bola, mengumpulkan para bintang untuk melahirkan team yang tangguh, menyajikan permainan atraktif, memenangkan pertandingan dan menyihir para penonton. Kira-kira seperti Real Madrid lah wujudnya, dan Oji ibarat Jose Mourinhonya lokakarya itu.
Saya amat takjub pada Oji yang mampu menjinakkan para bintang itu di lokakarya, dan berhasil melahirkan dream team untuk ekspose pada hari selanjutnya. Mulai dari rumusan-rumusan topik, tehnik mengekspose-presentasi, durasi waktu yang digunakan, kebersamaan para aktor. Benar-benar para aktor dalam sehari bisa mewujud menjadi team impian, yang bermimpi tentang Butta Toa-Bantaeng yang diimpikan. Persis, seperti Real Madrid, dream team yang sudah siap bertanding, menjadi juara, dan berpesta, merayakan kemenangan.
Tibalah waktu yang dinantikan, ekspose akan dimulai, pagelaran akan dipertunjukkan, sihir mulai dipersiapkan mantra-mantranya. Tetapi, mengapa skenario permainan yang telah dirancang kurang berjalan dilapangan? Pertunjukan hanya 15 menit pertama menampilkan permainan sesuai dengan taktik yang telah ditetapkan. Pertandingan menit-menit selanjutnya, sepertinya hanya di atas kertas. Mengapa? Dream team, team impian, mulai kehilangan mimpi kolektif--mimpi sebagai sebuah team—para bintang sudah mulai main dengan mimpi-mimpinya sendiri.
Permainan solo, ego individu mulai muncul, semua pemain pada mau cetak bola, yang pada akhirnya penampilan dream team, team impian yang ditunggu-tunggu tidak tampil seperti yang diharapkan. Lalu apa yang salah dengan team impian ini? Rupanya kebintangan dari setiap aktorlah biang keroknya. Setiap aktor-bintang bisa seenaknya mengambil tindakan tanpa mempertimbangkan team yang telah dibangun dengan segenap energi kolektivitas pada sehari sebelumnya.
Lalu apa yang bisa diharapkan dengan kondisi team yang morat-marit di atas panggung pagelaran seperti itu? Bila berhadapan dengan panggung kehidupan bermasyarakat yang dimpikan pada Butta Toa-Bantaeng? Memang terlalu dini untuk melakukan evaluasi terhadap perayaan para aktor-bintang ini, karena nilai yang sesungguhnya sebagai buah dari evaluasi kegiatan berada pada sejauhmana ekspose itu menyihir para hadirin yang hadir, sehingga mereka bisa bersemangat dan mengikuti kerja-kerja para aktor perubahan. Menarik untuk diputar ulang film pendek yang disajikan Oji – tentang pria yang bernyanyi-musik, kemudian orang-orang yang diajak mengikuti iramanya—dalam memori kita masing-masing. Wahai para aktor, mari kita kembali bernyanyi lewat lagu: SEMPURNA.***  

0 komentar:

Posting Komentar