Kamis, 03 Januari 2013

KHRISNA PABHICARA



KHRISNA PABHICARA: BENAR-BENAR PABICARA
Oleh Sulhan Yusuf

Saya langsung saja mengiyakan, ketikan pesan pendek dari Kasman McTutu meminta kepada saya untuk berbicara pada Seminar Nasional tentang  gerakan literasi, yang bertajuk: Membangun Etos Writership di Kalangan Pemuda, yang dilakasanakan oleh  Pemuda Muslim Indonesia Takalar, pada hari Selasa, 19 Juni 2012, di Takalar. Salah satu kebiasaan baik saya adalah mengiya terlebih dahulu, kalau kegiatan itu berdimensi literasi. Maklum saja, saya lagi mendefenisikan diri sebagai pegiat literasi.Dan lebih penting dari itu, adalah sejenis komitmen bersama untuk merintis jalan terwujud poros gerakan lierasi di Selatan-Selatan, Takalar-Jeneponto-Bantaeng-Bulukumba-Sinjai Selayar.

Tapi yang lebih menarik lagi bagi saya adalah, karena pesan pendek itu disusul dengan pemberitahuan bahwa akan dipanel dengan Khrisna Pabichara, yang penulis novel best seller saat ini, yang berjudul: Sepatu Dahlan, terbitan Noura Books-Mizan Group. Saking lakunya novel ini, untuk bulan mei  2012 saja, sudah dua kali naik cetak. Saya hanya ingin katakan: Miracle, ajaib.

Sesungguhnya, kalau saja tahun yang lalu saya mengiyakan ajakan Kasman Mc Tutu untuk menjadi pembicara, ketika   mendeklarasikan Komunitas Pena Hijau di Takalar,  saat itu pula saya sudah ketemu dengan Khrisna, karena ia pun hadir pada acara itu. Namun, karena ada agenda lain, yang sama pentingnya di tempat lain, maka pertemuan itu pun tertunda hingga setahun  kemudian.

Akhirnya, waktu yang direncanakan pun tiba. Pada dini hari setelah menyaksikan Piala Eropa, antara Spanyol dan Kroasia (1-0), lalu shalat Subuh, setelah itu buat tulisan atas topik yang diberikan kepada saya untuk disajikan pada seminar itu. Sub tema yang diamanahkan kepada saya adalah: Menumbuhkan Writerprenur, Membangun Masyarakat Literasi. Alhamdulillah, tulisan itu selesai, jam 07.00 pagi, setengah jam kemudian berangkat ke Takalar dengan “kuda besi”, diiringi hujan yang lumayan deras, untuk pengendara motor seperti saya. Jam menunjukka 8.30, saya sudah tiba di lokasi, tapi sebelumnya saya mampir dulu di Mesjid Agung Takalar untuk bersih-bersih kaki yang belepotan.

Begitu sampai di Lokasi, Aula Bappeda Takalar, saya langsung mencari tau apakah Khrisna Pabichara sudah datang, ternyata  beliau sementara perjalanan dari Jeneponto. Rupanya beliau menginap di sana, karena memang orang tuanya masih mukim di Jeneponto, dan ternyata memang baru saya tahu bahwa ia adalah orang Jeneponto, asli lagi. Ini berarti tetangga bagi saya, sebagai orang Bantaeng.  Bagi saya, sebagai pegiat literasi, nama Bantaeng, Jeneponto dan Takalar  kali ini agak istimewa, khususnya dalam perspektif geo-literasi.

Seminar pun berlangsung, yang pesertanya di dominasi oleh pelajar, yang dihadiri paling tidak kisaran 50 orang. Sesuai dengan sub tema yang diberikan kepada Khrisna Pabichara, Menggali Potensi Writership Pemuda. Ia pun mulai mendemonstrasikan kepampuannya sebagai seorang pembicara dan sekaligus motivator  menulis. Terus terang, saya amat bahagia dan dapat menikmati presentasi itu. Saya amat larut dalam pusaran bicaranya, yang menurutku keluar dari hatinya, yang didasarkan pada pengalaman menulisnya, sehingga benar-benar saya kemudian menyimpulkan, beginilah orang yang bicara dari hatinya, yang dinisbahkan pada pengalaman, maka yang mendengar pun akan memakai hatinya untuk menangkap setiap pesan yang keluar dari tuturnya. Sehingga, hampir sejam ia bicara tidak terasa menjenuhkan.

Dalam hati saya membatin, mahluk yang satu ini benar-benar memukau, benar-benar pabicara (pembicara)  sesuai dengan nama yang disandarkan padanya, Pabichara. Amat sedikit orang, yang bisa menulis dengan baik, sekaligus menjadi pembicara yang baik. Bagiku, Khrisna Pabichara: Benar-benar pabicara. Adapun saya, lebih banyak mengambil posisi sebagai pelengkap pembicaraan pada seminar itu, karena forumnya kemudian lebih bergeser kepada semi-lokakarya kepenulisan, khususnya menulis novel. Sementara  saya bukanlah penulis novel, melainkan pembaca dan penikmat, sekaligus penyebar novel.

Kurang lebih 3 jam acara itu berlangsung, tidak terasa, apalagi hujan pun terus menjadi pengiring sebagai penanda acara itu penuh berkah. Dan di akhir acara, moderator meminta agar Khrisna Pabichara membacakan puisi. Permintaan itu pun dipenuhi, tetapi ia membacakan prolog dari novelnya, Sepatu Dahlan. Tidak terasa ada bening kristal di sudut mataku mengalir tapi tidak sampai ke pipi, karena keburu kutahan, agar masih bisa kusisakan saat nanti membaca novelnya.

Mungkin baru kali ini aku agak jahil, karena menodong Khrisna di akhir acara agar memberikan satu eksamplar bukunya kepadaku sebagai hadiah, sebagai tanda jumpa. Dan ia pun memberikan novelnya itu padaku, yang disertai catatan singkat: “ Buat Bung Sulhan, tetap berbagi semangat!, Khrisna Pabichara. Takalar, 19/06/2012.” Lalu kukatakan padanya, suatu waktu ke Bantaeng agar spirit literasi tetap menyala apinya. Dan ia pun menyanggupi.

Saya kemudian berpisah, tapi sebelumnya ia menawarkan tumpangannya ke Makassar, karena beliau pakai mobil bersama ponakannya dari Jeneponto. Tapi kukatakan terima kasih, saya naik “kuda besi”. Dan hujan pun kuterobos. Anehnya, dalam perjalanan pulang dikarenakan hujan agak deras, maka saya pun mampir di sebuah warung untuk mengisi kampung tengah, sambil menunggu hujan agak reda. Diluar dugaan, ia pun dan rombongannya mampir di warung  yang sama. Setelah itu, kami pun pisah, dan saya belum tahu momentum apalagi yang akan mempertemukan kelak.

Pada sisa perjalanan pulang, banyak hal yang melintas dalam pikiranku, saya pun membatin bahwa obsesi menggerakkan komunitas literasi menuju masyarakat literasi, adalah sebuah perjalanan panjang, yang masih lebih panjang  jaraknya dari Makassar ke Takalar, dan balik lagi dari Takalar ke Makassar, karena gerakan literasi akan senantiasa melintasi masa, dari generasi ke generasi.

Yang pasti  dalam benakku selama perjalanan pulang adalah saya akan menuliskan catatan perjalanan, sebagai bagian dari tradisi menulis untuk kepentingan gerakan literasi, dalam dua lema dengan judul,  KHRISNA PABICHARA: BENAR-BENAR PABICARA.
Pabbentengang-Makassar, 19 Juni 2012, pukul 22.05.

0 komentar:

Posting Komentar