Sabtu, 12 Januari 2013

TAMUKU




Seorang tamu datang bertandang di tempat mukimku. Dua bolamatanya menari-nari mengitari ruang-ruang dan rak-rak, beserta isinya. Aku sangat yakin, ada yang ingin ditanyakan, namun ia tahan untuk kali ini.

Kedatangan berikutnya, tamuku ini mengamati perabot mukimku lebih detail. Kursiku, mejamakanku dan aksesori lainnya, ternyata di bawah standar menurutnya. Aku bisa menebaknya, karena tidak ada komentar tentang semua itu.

Bahkan, kalimat pertama yang sering kuucapkan pada para tamuku, “agar berhati-hati duduk di kursi ruang tamu itu,” sebab sudah jebol-reot, dan senantiasa bergoyang, meski tidak sedahsyat goyang ngebor dan ngecornya para penyanyi electon di kisaran kita.

Lalu berikutnya, barulah muncul tanyanya, tentang empat rak yang berisi ribuan buku.
Sambil geleng-geleng kepala, karena ia melihat judul-judul buku itu cukup serius, dan beberapa buku tebalnya pun seperti bantal bayi, dan harganya cukup mahal tentunya.

Dari sekian pertanyaan yang ia ajukan, ada satu tanya yang menohokku: ‘Apakah semua buku ini sudah dibaca?”, sambil melihat kepalaku yang mirip para pendeta Shaolin. “Belum sempat, bahkan masih ada yang tersegel plastik”, jawabku. “Lalu untuk apa semua ini dikumpulkan?” Lanjutnya.

Tanpa tedeng aling-aling, aku balik menohokkan jawabanku:”Untuk menakuti para tamuku, karena dengan terheran-herannya mereka, menandakan bahwa tamuku itu adalah orang yang tidak akrab dengan buku, dan dengan begitu aku bisa menakar kadarnya para tetamuku”. “Berarti termasuk juga aku?” Katanya. Dengan satu kata pamungkas, kujawab: “Mungkin”.


0 komentar:

Posting Komentar