Kamis, 03 Januari 2013

DION



DION DAN BUAH HATINYA.

Untuk Dion-anak Zaman, setelah kurang-lebih tiga tahun usia perkawinanmu, kau telah bersenggama dengan alam, bersetubuh dengan cakrawala, bersebadan dengan diri, akhirnya kehamilan pun berbuah sudah, menanti kelahiran anak ruhani, yang kelak akan kau beri nama: Narasi Cinta dan Kemanusian.
Sebuah nama yang indah, melebihi indahnya pelangi, cantik melampaui mawar, harum menenggelamkan melati, mekar mendahului anggrek. Maka bersiaplah menuju pada kematian, karena akan ada kelahiran.
Buah hatimu ini, akan memberi kesegaran bagi yang sempit hatinya, memberi kelapangan dada bagi hati yang beku, memberi siraman rohani pada yang iri hati. Menyodorkan secawan anggur pelipur lara bagi yang gundah gulana. Akan menjadi penghibur bagi para penikmat cinta. 
Cintanya mewarisi para pesuluk-pemunajat pada Ilahi. Kasihnya mewarisi Bunda Theresa. Sayangnya merupakan titisan Mahatma Gandhi. Keberaniannya meneladani Imam Husein di padang Karbala. Kecerdasannya tertambat pada Imam Ali sebagai pintu ilmu.
Ditangannya dunia menjadi sangat kecil, sekecil globe yang dipandang dan diputar-putar oleh anak sekolahan. Awan akan meminta ijin pada matahari agar sudilah kiranya memberi kehangatan atas bumi yang dipijak. Hujan akan mengatur irama derasnya agar tidak berlebihan hingga jadi bencana. Angin pun hanya ingin memberikan sepoinya agar kedamaian bukan lagi dambaan, melainkan kenyataan.
Maka rayakanlah buah hatimu ini, sesosok anak ruhani yang akan memandu peradaban. Peradaban yang sarat akan cinta dan kemanusiaan, seperti nama yang telah dinisbahkan kepadanya. Kehadirannya akan memberikan getaran dari sebuah negeri yang nyaris hilang dan terancam punah peradabannya. Jiwanya akan senantiasa menjadi sumber mata air bagi raga yang haus akan pedoman dalam bermusyafir.

0 komentar:

Posting Komentar