Minggu, 20 Januari 2013

APALAH ARTI SEBUAH BALIHO




Tulisan ini saya buat sebagai respon atas banyaknya tanggapan, terhadap postingan saya beberapa waktu yang lalu, berkaitan dengan baliho Boetta Ilmoe yang diturunkan oleh Satpol PP.
Baliho Rumah Baca Boetta Ilmoe (selanjutnya sebut saja baliho), bagi saya adalah sebuah tanda, sebagai sebuah penanda, yang ditandai. Sebagai sebuah tanda, berarti mengalamatkan sesuatu, bahwa pada dirinya terdapat hal yang begitu banyak representasi. Dengan demikian baliho, sebagai penanda, sesungguhnya mewakili begitu banyak keinginan, obsesi, cita-cita yang kemudian terumuskan dalam sebuah gerakan, yang ditandai dengan pentingnya menghadirkan simbol dari banyaknya representasi dan wujud gerakan. Dengan demikian, ketika simbol ini terganggu secara eksistensial, maka sesungguhnya, akan mengusik penanda, dan juga terhadap tanda, yang ditandainya, sebagai penanda.
Demikian juga sebaliknya, tindakan menurunkan baliho itu, dengan motif apapun, dan insiden apapun yang menyertainya, bagi saya menunjukkan bahwa ada tanda, sebagai penanda dari sebuah kuasa yang ditandainya sebagai tindakan. Sehingga, tindakan menurunkan baliho sebagai simbol kebijakan kekuasaan, sesungguhnya memberikan penanda bahwa didalamnya ada semangat berkuasa, sebagai tanda kekuasan itu amat mungkin sangat repressif.
Hadirnya sebuah simbol, sebagai bentuk konkrit dari sebuah tanda, mengundang begitu banyak persepsi, termasuk perlakuan apa yang diberikan kepada simbol itu. Maka, apalah arti sebuah baliho, itu amat bergantung pada persepsi yang kita miliki terhadap tanda, sebagai penanda yang ditandainya. Bagi saya, sebagai sebuah persepsi, baliho Boetta Ilmoe itu adalah representasi keberadaan diri dari begitu banyak keinginan, cita-cita, obsesi, semangat, yang ditandai dengan hadirnya sebuah simbol gerakan, dalam akumulasi kalimat: Butta Toa-Bantaeng Menuju Masyarakat Literasi, sebagai sebuah kelanjutan dari hadirnya Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan untuk pencerahan.
Saya tidak menuntut semua orang mempunyai persepsi yang sama seperti yang saya persepsikan, karena amat bergantung pada pahaman terhadap tanda, penanda yang ditandai oleh baliho itu. Yang saya tuntut adalah perlakuan yang sama terhadap sesama simbol-simbol, yang merupakan wujud kepentingan. Bukankah demokrasi sebagai asas yang dianut dalam bermasyarakat menuntut tindakan yang demokratis? Saya hanya menuntut tindakan yang demokratis, sebagai wujud dari keinginan bersama untuk menegakkan kesetaraan sesama warga dengan berbagai macam kepentingannya.
Terlalu berlebihan memang kalau tindakan menurunkan baliho itu dianggap menganulir seluruh prestasi dari pemerintah Kabupaten Bantaeng, tetapi meremehkan baliho itu sebagai sebuah pajangan semata, juga adalah tindakan kurang arif dan bijak. Sebab, kalau sebuah baliho dipersepsikan sebagai lembaran-lembaran pajangan saja, lalu mengapa begitu banyak uang yang harus dikeluarkan oleh seseorang, sekelompok kepentingan untuk memajang diri?
Saya ingin insiden ini kita persepsikan secara proporsional saja, sebagai pembelajaran berharga buat sesama anak negeri, bahwa di negeri yang kita sama-sama cintai ini, Butta Toa-Bantaeng, masih perlu kita benahi bersama. Ini berarti, amat banyak celah yang masih perlu kita carikan solusinya, tidaklah perlu menonjolkan diri lebih baik, lebih berkuasa, lebih mengerti, lebih berpunya, lebih cerdas, baik sesama warga, maupun pemerintah. Toh, kehadiran Boetta Ilmoe hanyalah salah satu bentuk kontributif pembangunan jiwa, dari keinginan untuk mewujudkan negeri yang lebih punya harkat dan martabat. Dan itu pun juga, masih ada bentuk-bentuk kontributif lain dari warga yang perlu diapresiasi.
Saya mengucapkan begitu banyak terimakasih atas perhatian yang luar biasa terhadap insiden ini, tidaklah perlu lagi saling menyalahkan hanya karena persepsi yang berbeda. Simpati, solidaritas, harapan, doa dan solusi yang diberikan amat membahagiakan saya, dan mudah-mudahan bisa saya tularkan kepada seluruh komunitas di Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan. Dan bagi saya, tumbangnya satu simbol, akan lahir begitu banyak simbol dalam bentuk yang lain.
Adapun solusi terhadap insiden ini, saya akan mengambil langkah-langkah berdasarkan masukan, saran dari berbagai pihak, yang akan saya komunikasikan kepada para penanggung jawab di setiap lini di Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan. (Sulhan Yusuf, CEO Boetta Ilmoe – Rumah Pengetahuan).

0 komentar:

Posting Komentar