Kamis, 03 Januari 2013

WARISAN





Aku tidak mengenal engkau secara mendalam, tentang seluk-belukmu. Sependek ingatanku, barulah sekali kita bertemu, sewaktu engkau menikahkan putramu.

Bahkan, namamu pun baru aku tau, ketika putramu mengirim pesan singkat padaku, bahwa engkau telah melakukan perjalanan menuju pada keabadian, Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Yang baru aku lihat selepas dari magribku di mesjid belakang rumah.

Sesungguhnya, aku ingin melihat jazadmu terakhir kali, tetapi jarakku yang cukup jauh, dan waktu yang begitu singkat untuk pemakamanmu, yang tidak sejodoh.

Aku hanya ikut mengabarkan berita duka, tentang wafatmu, sembari memohon kepada khalayak untuk memanjatkan doa dan bacaan fatiha untukmu.

Meski aku tidak mengenalmu lebih jauh, lebih dalam, akan sosokmu, tetapi putramu yang kau tinggalkan telah cukup bagiku untuk mengenalmu.

Sebab, bagiku itulah penanda yang paling jelas dari warisanmu. Aku banyak belajar dari putramu banyak hal tentang kehidupan.

Putramu seperti martabak, semakin dibanting semakin melebar. Putramu ibarat paku, semakin dipukul semakin menancap. Kesederhanaan dan ketabahan itulah hiasan hidupnya.

Putramu, ahli warismu, kini senantiasa bersamaku dalam pengabdian, sebagai seorang altruis, yang amat bersahaja, tawaddhu, bisa mengendalikan marahnya, walau kadang kelelahan, dalam menempuh perjalanan untuk sebuah cita bersama.

Dan, engkau kawanku, sebagai putranya, aku hanya bisa mengatakan kepadamu, bahwa di depan kita, yang pasti barulah keabadian. Marilah kita melepasnya, karena ia telah memilih mendahului kita, menyongsong kepastian itu, keabadian.

0 komentar:

Posting Komentar