Minggu, 20 Januari 2013

PENDIDIKAN BERBASIS LINGKUNGAN



PENDIDIKAN BERBASIS LINGKUNGAN: PERSPEKTIF TEOLOGI-SOSIAL*)

Oleh Sulhan Yusuf**)

 “Bumi bukanlah milik kita, tapi titipan anak cucu”
           
Apa sesungguhnya yang terjadi dengan bumi, tempat kita berpijak bersama saat ini? Saya ingin mengawali tulisan ini dengan cerita ketika masih kanak-kanak dahulu. Dahulu, tepatnya sekitar tahun 70-an, saya menyaksikan di Kabupaten Bantaeng masih penuh dengan misteri. Kayu Lompoa, Allu, Borong Sapiria, Onto, Loka dan Lanying adalah tempat-tempat yang masih sangat hijau. Ada hal yang menarik, manakala hujan lebat terjadi maka bermunculan air terjun atau istilah dulunya “bantimurung” yang jumlahnya bisa sampai mencapai 7 titik.
Kalau hujan lebat, sehingga muncul “bantimurung” tersebut, seakan-akan memberi isyarat bagi kita yang berada di kota untuk waspada, karena tidak lama kemudian air sungai akan meluap-banjir. Dan kami pun, anak-anak akan segera menikmati wisata domestik, berupa mandi-mandi di sungai, karena akan ada liku ( air sungai yang mempunyai kedalaman yang cukup dalam) yang tercipta. Sehingga, ada beberapa liku yang cukup disegani, misalnya liku Tinggia dan liku Jalanjang. Dan pada saat yang sama, setelah air sungai normal, maka kami pun siap-siap mancing ikan (ombo-ombo, bua mata dan balanak) dan .annado doang ( menangkap udang).
Bila musim libur tiba, oleh orang tua, saya pun diajak bekerja di kebun, tepatnya di Ereng-Ereng. Apa yang menarik dari liburan-kerja tersebut? Saya banyak menyaksikan pohon-pohon yang begitu besar, tinggi dan rindang di antara pohon-pohon kopi. Satwanya apalagi, saya sangat menikmati indahnya burung-burung, semisal; Jarolli, Kille-Kille, Jalampiporo, Awu, Ballang Kallong, Bakowang, cikong-cikong, Pa’niki dsbnya.
Begitu juga, disela-sela kegembiraan itu, masih juga bisa menikmati laut dan pantainya di dekat rumah nenek, tepatnya di sekitar Tompong. Seperti pada umumnya anak-anak, main bola di pantai sambil mandi air laut, nangkap kalomang, abbolu-bolu (mencari bibit ikan bandeng dan udang) sambil menikmati tenggelamnya matahari sore.
Lalu apa yang saya lihat dan saksikan hari ini?  40 tahun kemudian? Tidak ada lagi misteri, semuanya sudah telanjang. Gunung yang dulunya hijau, kini berubah menjadi coklat karena sudah gundul. ‘Bantimurung’ tidak pernah muncul lagi, seakan gunung sudah tidak perlu lagi memberi isyarat akan datangnya banjir. Liku-liku yang bisa mengajari keberanian anak-anak untuk berenang sudah pada hilang, karena sungai menjadi dangkal. Wahai para burung dengan kicaumu, kemana kau pergi? Dan terakhir, dimana lagi bisa mandi air laut yang bersih dan main bola pantai?
Kehidupan sehari-hari pun kini berubah. Iklim yang tidak menentu, panas yang berlebihan, hujan yang tak terduga, dan hebatnya lagi Bantaeng pun menjadi salah satu daerah yang menjadi rawan banjir. Apa yang akan terjadi kalau keadaan ini berlangsung terus menerus dan tidak ada upaya untuk mengeremnya? Apalagi kalau keadaan di Bantaeng ini juga berlangsung di daerah lain? Dan itu sudah terjadi! Jawabannya sangat spektakuler, Indonesia menjadi negara rangking 4 perusak lingkungan, dan itu berarti kita pun akan masuk dalam perbincangan masalah lingkungan global, yang kemudian di kenal dengan istilah pemanasan global.

Pemanasan Global (Global Warming)

Cuaca yang panas, bencana alam, angin puting-beliung, semburan gas hingga curah hujan yang tak menentu, kesemua itu adalah tanda-tanda  alam yang menunjukkan bahwa ada masalah dengan bumi kita ini. Dan ini terkait langsung dengan isu lingkungan berupa adanya pemanasan global, yaitu peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi. Mengapa suhu bumi meningkat? Hal ini diakibatkan oleh adanya gas-gas rumah kaca (efek rumah kaca), yang dihasilkan oleh aktifitas manusia. Aktifitas seperti; Peternakan, pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, pabrik-pabrik modern serta pembangkit tenaga listrik  adalah aktifitas yang menyumbang gas-gas rumah kaca.
Apa yang dimaksud dengan gas rumah kaca? Atmosfer bumi terdiri dari bermacam-macam gas dengan fungsi yang berbeda-beda. Kelompok Atmosfer gas yang menjaga suhu permukaan bumi agar tetap hangat dikenal dengan istilah “gas rumah kaca”. Disebut gas rumah kaca karena sistem kerja gas-gas tersebut di atmosfer bumi mirip dengan cara kerja rumah kaca yang berfungsi menahan panas matahari di dalamnya agar suhu di dalam rumah kaca tetap hangat, dengan begitu tanaman di dalamnya pun akan dapat tumbuh dengan baik karena memiliki panas matahari yang cukup. Planet kita pada dasarnya membutuhkan gas-gas tesebut untuk menjaga kehidupan di dalamnya. Tanpa keberadaan gas rumah kaca, bumi akan menjadi terlalu dingin untuk ditinggali karena tidak adanya lapisan yang mengisolasi panas matahari. Sebagai perbandingan, planet mars yang memiliki lapisan atmosfer tipis dan tidak memiliki efek rumah kaca memiliki temperatur rata-rata -32o Celcius.
Kontributor terbesar pemanasan global saat ini adalah Karbon Dioksida (CO2), metana (CH4) yang dihasilkan agrikultur dan peternakan (terutama dari sistem pencernaan hewan-hewan ternak), Nitrogen Oksida (NO) dari pupuk, dan gas-gas yang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan (CFC). Rusaknya hutan-hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyimpan CO2 juga makin memperparah keadaan ini karena pohon-pohon yang mati akan melepaskan CO2 yang tersimpan di dalam jaringannya ke atmosfer. Setiap gas rumah kaca memiliki efek pemanasan global yang berbedabeda. Beberapa gas menghasilkan efek pemanasan lebih parah dari CO2. Sebagai contoh sebuah molekul metana menghasilkan efek pemanasan 23 kali dari molekul CO2. Molekul NO bahkan menghasilkan efek pemanasan sampai 300 kali dari molekul CO2. Gas-gas lain seperti chlorofluorocarbons (CFC) ada yang menghasilkan efek pemanasan hingga ribuan kali dari CO2. Tetapi untungnya pemakaian CFC telah dilarang di banyak negara karena CFC telah lama dituding sebagai penyebab rusaknya lapisan ozon. (http://www.worldwatch.org/node/6294).
Lalu apa dampak dari pemanasan Global?  Pertama, mencairnya es di kutub utara dan selatan, yang menurut publikasi dari Dr.H.J. Zwally, seorang ahli iklim dari Nasa, yang memprediksikan bahwa hampir semua es di kutub utara akan lenyap antara tahun 2008-2012. Kedua, meningkatnya level permukaan air laut. Sebagai akibat dari mencairnya es di kutub utara dan selatan maka permukaan air laut diperkirakan akan naik sampai sekitar 7 meter.
Ketiga, Perubahan iklim/cuaca yang semakin ekstrim. Hasil publikasi Nasa menunjukkan bahwa, pemanasan global berimbas pada semakin ekstrimnya perubahan cuaca dan iklim bumi. Pola curah hujan berubah-ubah tanpa dapat diprediksi sehingga menyebabkan banjir di satu tempat , tetapi kekeringan di tempat yang lain.
Keempat, gelombang panas menjadi semakin ganas, dan semakin sering terjadi. Kelima, Habisnya gletser – sumber air bersih, yang pada akhirnya mengancam ketersediaan air bersih, dan pada jangka panjang akan turut menyumbang peningkatan level air laut dunia.
Apa yang harus dilakukan ? dan dari mana mesti mulai? Agar bumi ini masih bisa eksis di masa depan? Sehingga kita benar-benar sebagai manusia yang hidup saat ini masih bisa dipercayai oleh anak cucu yang menitipkan bumi ini di pundak kita? Pada konteks ini, urgensi pendidikan dalam maknanya yang sangat luas (formal, informal dan non-formal) menjadi ujung tombak dalam mengkritisi dan sekaligus memberikan solusi. Setidaknya, tulisan ini menyajikan  perspektif pendidikan yang bersifat informal dan non-formal, dengan  pendekatan  teologis dan sosial.

Teologi Lingkungan

Cara memahami agama menjadi sangat penting, agar agama bisa turut berpartisipasi dan berkontribusi dalam menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan, include masalah lingkungan hidup yang sudah parah saat ini. Mengapa agama perlu dilibatkan dalam masalah lingkungan ini?
Melibatkan agama dalam mengurus lingkungan merupakan harapan besar bagi para aktivis lingkungan karena para pemimpin agama dapat memberikan arahan menggerakkan pengikutnya karena agama memiliki modal yang tidak dimiliki oleh lembaga dan institusi biasa.
Lebih dari itu, konstituen pemeluk agama adalah nyata. Di Indonesia seluruh penduduk memeluk enam agama: Islam, Kristiani (Katolik dan Protestan), Hindu, Buddha, dan Konghucu, dengan total pemeluk 240 juta. Di Asia saja ada 3 miliar manusia memeluk tiga mayoritas agama: Hindu dan Buddha di India, Konghucu di China, serta Islam di Asia Tenggara dan Asia Selatan.
Sebanyak 85% dari 6,79 miliar penduduk dunia ialah penganut berbagai agama dan aliran kepercayaan: 2,1 miliar pemeluk Kristen, 1,34 miliar pemeluk Islam, lebih dari 950 juta pemeluk Hindu, 50 juta-70 juta penganut Daoisme, 24 juta penganut Sikh, 13 juta pemeluk Yahudi (Atlas of Religion, Earthscan, 2007).
Dalam konteks perubahan iklim, mereka boleh jadi mempunyai peran penting karena kaum agamawan memiliki 7%-8% lahan bagi habitat di dunia, memiliki jaringan media, penyedia terbesar lembaga kesehatan dan pendidikan, serta mengendalikan lebih dari 7% investasi keuangan internasional. Dengan alasan-alasan inilah, para pemuka agama dinilai akan lebih berpengaruh besar, terutama apabila jaringan mereka dapat diikutsertakan dalam membangun kesadaran lingkungan.
Dengan bersandar pada pertimbangan di atas, maka menjadi sangat urgen untuk merumuskan semacam teologi – cara memahami agama—lingkungan. Mengapa? Karena agama paling tidak memiliki lima landasan  untuk ikut aktif dalam masalah lingkungan ini.
Pertama, agama mempunyai referensi, yaitu modal berupa rujukan akan keyakinan yang diperoleh dari kitab-kitab suci yang mereka miliki. Kitab suci dan ajaran agama memiliki wisdom kehidupan yang berpotensi untuk diangkat sebagai bekal dalam penyadaran lingkungan. Kedua, agama terbukti mempunyai modal untuk saling menghormati atau mampu memberikan penghargaan terhadap segala jenis kehidupan.
Ketiga, agama—selaras dengan gaya hidup yang ramah lingkungan—menganjurkan manusia untuk berperilaku hemat dan tidak boros serta mampu mengontrol pemanfaatan sesuatu agar tidak mubazir. Keempat, agama menganjurkan kita untuk selalu berbagi kemampuan untuk membagikan kebahagiaan, baik dalam bentuk harta, amal, maupun aksi sosial lannya. Kelima, agama menganjurkan kita untuk bertanggung jawab dalam merawat kondisi lingkungan dan alam. (Kompas, 26/12/2010)
Sudah saatnya kaum agamawan dalam ceramah-ceramah, khutbah-khutbah, fatwa-fatwanya  memberikan penegasan akan pentingnya masalah lingkungan. Janganlah seperti saat ini, yang banyak dibicarakan  dan diserukan adalah masalah-masalah yang bersifat ritus-ritus ibadah dan amat sangat tumpul ketika berbicara masalah social, terutama masalah lingkungan.

Kesadaran Individual-Sosial

Menjadi tidak bermakna wacana menjaga lingkungan hidup di bumi manakala masyarakat tidak bergerak untuk mewujudkannya. Mengapa masyarakat menjadi penting posisinya dalam masalah pelestarian lingkungan hidup? Karena masyarakat adalah sesuatu yang hidup dan senantiasa bergerak. Dan yang sangat menentukan dalam masyarakat itu adalah hadirnya individu-individu yang bertanggung jawab terhadap eksisnya suatu kehidupan bermasyarakat.
Maka dalam kaitan antara tanggung jawab individu-masyarakat terhadap kelestarian lingkungan hidup di bumi, memerlukan langkah-langkah konkrit sebagai sebuah tindakan nyata, yang sedapat mungkin berdampak pada munculnya sebuah gerakan individu-sosial secara menyeluruh.
Sebagai tindakan nyata, amat perlu melakukan hal-hal berikut sebagai suatu upaya penyelamatan bumi. Saya kutipkan tips dari Panin Peduli. Pertama, gunakan bola lampu jenis Flurosen alias Fluorescent Lights CFLs). Kedua, hemat listrik di rumah. Ketiga, jangan gunakan plastik. Keempat, maksimalkan penggunaan komputer. Kelima, beli produk lokal. Keenam, praktikkan prinsip 3 R. Reduce (kurangi konsumsi), Reuse (gunakan kembali barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan) dan Recycle (daur ulang bahan tetentu). Ketujuh, pelan-pelan singkirkan energi tak terbarukan. Kedelapan, matikan produk penghisap listrik. Kesembilan, kurangi pemakaian bahan kimia. Kesepuluh, hijaukan rumah anda.
Dan terakhir sekali saya ingin meringkas tulisan ini dalam dua judul lagu, yang menggambarkan realitas ideal, menuju ke realitas kerusakan.

Kolam Susu

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman (Koes Plus)


Kemarau

Panas nian kemarau ini
Rumput2 pun merintih sedih
Rebah tak berdaya
Diterik sang surya
Bagaikan dalam neraka
Curah hujan yang dinanti-nanti
Tiada juga datang meniti
Kering dan gersang menerpa bumi
Yang panas bagai dalamm neraka
Mengapa, mengapa hutanku hilang
Dan tak pernah tumbuh lagi (Rollies)

*)  Tulisan ini disajikan dalam rangka seminar pendidikan berbasis lingkungan yang diselenggarakan oleh KOSKAR PPB Bantaeng, 19 Mei 2010 bertempat di Gedung Wanita Bantaeng

**)  Penulis adalah Direktur Paradigma Insitut Makassar, sekaligus Ceo and Owner Toko Buku BOETTA ILMOE Bantaeng



0 komentar:

Posting Komentar