Kamis, 03 Januari 2013

PENDAPAT(AN)





Amat membanggakan melihat anak negeri, telah menjadi elit itu, di gedung-gedung perwakilan anak negeri, berdebat tentang nasib anak negeri yang diwakilinya.

Adu pendapat, bahkan adu jotos. Berdebat, berargumentasi tentang masalah-masalah serius, tentang nasib negeri beserta anak-anaknya, yang hingga hari ini masih saja berkubang masalah, yang entah kapan usai kunjungannya.

Itulah awalnya. Tapi kuperhatikan secara seksama, dan mulai mempertanyakan , tentang samar-samar yang kudengar. Apakah telinga ini sudah budek, atau mulut mereka yang memang telah menghilangkan dan menambah beberapa huruf dari perkataan-perkataan mereka dalam perdebatan itu?

Mulai terdengar, ternyata mereka mulai berdebat tentang nasi. Nasi yang akan memuaskan hasrat perut, dan hasrat material lainnya. Dan aku pun keliru memahaminya, sebab semula kukira mereka berdebat tentang berbagai macam pendapat, tetapi sebenarnya yang mereka perdebatkan adalah pendapatan. 

Sayup-sayup memang terdengar, karena sengaja memang disamarkan suaranya. Hanya telinga-telinga normallah yang bisa mendengarnya, akan perbedaan antara nasib dengan nasi, antara pendapat dan pendapatan.

0 komentar:

Posting Komentar